
Malam semakin merangkak naik, tapi keduanya masih enggan beranjak dari teras depan. Kinara masih menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Atha. Menumpahkan semua kesedihan yang ia tahan selama seharian ini tanpa berniat menyisakannya barang sedikit.
Atha, seperti biasa menyanggupi tangisnya dengan sabar. Tangan pemuda itu tidak henti-hentinya mengusap kepala dan punggungnya secara bergantian. Merelakan kausnya basah oleh air mata yang ia keluarkan.
"Keluarin semuanya, Nara. Nggak apa-apa." Bisik Atha pelan.
Mendengar itu, tangis Kinara makin pecah. Ia remas kaus Atha untuk menyalurkan sesak di dalam dada. Malam ini, Kinara benar-benar akan menguras semua air mata yang ia punya agar tidak ada lagi yang tersisa.
Sementara itu, di balik pintu, Mama menyaksikan bagaimana putrinya menangis meraung-raung di pelukan sang kekasih. Sebagai seorang ibu, hati Mama tentu saja sakit. Tapi Mama tidak mau menampakkan kesedihan itu di depan Kinara.
Jadi, yang Mama bisa lakukan hanya menghela napas berulang-ulang kali demi mengusir sesak yang mengerubungi dada. Sembari terus melantunkan doa semoga kehidupan mereka tetap akan baik-baik saja.
Tak jauh di belakangnya, Papa juga menyaksikan istri dan anaknya yang sedang meluapkan sedih dengan cara yang berbeda. Hatinya ngilu, sebab secara sadar ia tahu bahwa dirinya lah penyebab dari semua kekacauan yang terjadi dalam keluarga kecilnya ini.
Sebagai seorang kepala keluarga, Papa telah merasa gagal.
Tuhan... ampuni saya. Papa merintih dalam hati.
...****************...
Puas menangis, Kinara menarik diri dari pelukan Atha. Diusapnya pelan jejak air mata yang membasahi pipinya menggunakan punggung tangan. Matanya sudah bengkak dan sedikit memerah, membuat penglihatannya sedikit memburam.
"Udah?" tanya Atha sembari membantu Kinara mengusap jejak air matanya.
Kinara mengangguk. Sesak di dadanya sudah tidak begitu terasa. Masih tersisa sedikit, tapi ia yakin sesak itu akan hilang perlahan-lahan berkat kehadiran Atha di sampingnya.
Atha tersenyum melihat respon Kinara. Kemudian, ia meraih plastik berisi camilan dan es krim yang tadi ia bawa dan telah diletakkan di atas meja sebelum ia menarik Kinara ke dalam pelukan tadi.
Atha menyodorkan plastik tersebut ke hadapan Kinara dengan senyum tulus menghiasi wajah tampannya. Bibir-bibirnya yang tertarik ke atas membuat bolong di pipinya tampak, sesuatu yang Kinara sukai dan selalu bisa membuatnya mabuk kepayang.
"Ini apa?" tanya Kinara dengan suara serak khas orang habis menangis.
"Es krim rasa strawberry dan biskuit Regal kesukaan kamu." Senyum Atha kian terkembang. "Tapi kayaknya es krimnya mulai mencair, deh." Senyum Atha agak berkurang saat memikirkan nasib es krim yang meleleh di dalam bungkus.
__ADS_1
"Makasih, Atha." Kinara meraih plastik yang Atha sodorkan. Namun ia tak kunjung membukanya dan hanya berdiam diri untuk waktu yang cukup lama. Entah mengapa, hanya dengan memandang plastik itu saja sudah bisa membuat matanya kembali memburam.
"Kenapa, Ra?" tanya Atha bingung. Ia mulai panik saat melihat Kinara yang malah menundukkan kepalanya dalam-dalam. Senyum yang sedari tadi ia sunggingkan praktis luntur.
"Ra?" Atha menyentuh bahu Kinara pelan.
Tepat ketika tangannya menyentuh bahu sempit itu, Atha merasakan bahu Kinara bergetar.
Ya Tuhan... Kinara menangis lagi?
"Hei, kenapa?" Atha panik, diraihnya dagu Kinara dan ditarik pelan agar ia bisa melihat wajah ayu yang dia rindukan itu.
Benar saja, air mata sudah kembali mengalir bebas menuruni pipi pualamnya hingga menetes jatuh ke tangan Atha.
"Ra?"
Alih-alih menjawab, Kinara malah kembali menghambur ke dalam pelukan Atha. Kali ini, pelukannya bahkan lebih erat daripada sebelumnya.
"Maaf, Atha." Kata Kinara dengan suara sedikit teredam karena kini ia menenggelamkan wajah di dada bidang kekasihnya.
"Maaf karena aku sempat ragu sama kamu." Kinara menjauhkan wajahnya sedikit dari dada Atha. Pandangannya naik, memaku tatap dengan laki-laki yang telah menghuni hatinya sejak tiga tahun lalu itu.
"Ragu soal apa, sayang?" suara Atha melembut. Ditangkupnya pipi Kinara kemudian diusap pelan beberapa kali.
"Waktu kamu tiba-tiba matiin telepon, aku pikir kamu lakuin itu karena udah nggak mau berhubungan sama aku. Aku pikir... " kalimat Kinara tersendat karena isakan. Sejenak, Kinara memberi jeda untuk menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. "Aku pikir kamu akan ninggalin aku karena keadaan aku yang sekarang."
Atha meringis mendengar penuturan kekasihnya itu. Ternyata, ia memang belum sepantas itu untuk bisa dipercaya oleh Kinara. Sampai-sampai gadis itu pikir ia akan pergi hanya karena masalah seperti ini.
"Teleponnya terputus karena hp aku mati, Ra." Atha menjelaskan. "Maaf, ya, karena udah bikin kamu jadi merasa begitu."
Kinara menggelengkan kepala kuat-kuat. "Jangan minta maaf, kamu nggak salah." Lalu Kinara kembali masuk ke dalam pelukan Atha. "Aku yang salah karena nggak bisa berpikir positif soal kamu. Aku yang-"
"Kamu nggak salah." Sergah Atha cepat. Ia tidak ingin gadis yang dicintai terus meminta maaf untuk sesuatu yang bukan merupakan kesalahan. Dalam kondisi seperti ini, wajar jika Kinara merasa takut ditinggalkan.
__ADS_1
"Aku janji, Ra. Aku nggak akan ke mana-mana. Aku temani kamu sampai keadaannya membaik, oke?" Atha mengusap pelan kepala Kinara, kemudian mendaratkan sebuah kecupan di puncak kepala gadis itu.
Aroma sampo yang menguar dari helai-helai rambut Kinara berhasil menerobos masuk ke dalam indera penciuman Atha dan membuat hatinya perlahan-lahan terasa penuh.
Lubang menganga yang tercipta dari kesepian panjang itu perlahan-lahan mengecil setiap kali ia merasakan kehadiran Kinara di sampingnya. Tanpa gadis itu tahu, Atha telah kecanduan pada kehadiran sosoknya.
Orang-orang mungkin berpikir bahwa Kinara beruntung karena bisa berpacaran dengan seorang Atharya Danapati, anak konglomerat terkaya nomor dua di Indonesia yang bisnisnya menyebar di mana-mana. Atha juga populer di kampus karena otaknya yang cerdas dan wajahnya yang tampan. Bisa dibilang, tidak ada yang tidak mengenal Atha di lingkungan kampusnya.
Tetapi bagi Atha, keadaannya justru sebaliknya. Atha yang beruntung karena telah memiliki Kinara dalam hidupnya. Gadis yang lahir di keluarga kaya raya tetapi tidak pernah menunjukkan seberapa kaya orangtuanya karena dia sadar uang-uang itu bukan hasil jerih payahnya sendiri. Gadis cantik yang selalu bergaya seadanya dan tidak pernah berusaha menunjukkan bahwa dirinya lebih baik daripada siapa pun. Gadis cantik yang selalu bisa mengusir kesepian yang melanda dirinya.
Atha beruntung memiliki Kinara. Jadi, dia juga ingin membuat Kinara merasakan hal yang sama. Jangan sampai Kinara merasa sendirian, karena sumpah demi Tuhan, Atha akan selalu ada di sisi gadis itu.
"You're not alone, Nara. I'm here with you." Bersamaan dengan selesainya kalimat itu, hujan turun rintik-rintik. Meluruhkan segala pedih yang dirasa oleh hati dua anak manusia itu.
.
.
.
.
.
Hai, readers...
Untuk siapapun yang sedang dalam keadaan sedih, yang hidupnya sedang tidak baik-baik saja seperti Kinara, coba tengok ke samping kalian.
Aku yakin, ada sosok "Atha" versi kalian yang dengan senang hati mengulurkan tangan dan menyediakan sebuah pelukan.
Namun jika memang tidak ada, kemari, biar aku yang jadi sosok "Atha" untuk kalian.
Silahkan mengeluh, itu tidak dilarang. Tapi, tetaplah bertahan. Untuk hal-hal kecil sesepele makanan kesukaan dari restoran langganan, atau sinetron favorit yang kalian tonton setiap malam.
__ADS_1
Peluk jauh dariku,
Rain