After The Rain

After The Rain
Deal, Kita Berdamai


__ADS_3

"Saya lagi di rumah sendirian, jadi nggak bisa ajakin Mas Kala masuk." Kinara muncul dari balik pintu sembari membawa nampan kecil berisi segelas air putih dan segelas es teh manis. Karena dia tidak tahu Sekala ingin minum apa, dan dia terlalu gugup untuk bertanya, jadilah dia membawakan dua gelas minuman itu agar Sekala sendiri yang memilih mau minum yang mana.


"Nggak apa-apa, lagian saya ke sini cuma mau anterin ini." Sekala menyodorkan dua kantong kresek bawaannya tadi kepada Kinara.


Meskipun kerutan jelas muncul di keningnya, Kinara tetap meraih dua kantong kresek itu setelah meletakkan nampan di atas meja.


"Yang satu isinya camilan, yang satu lagi mainan." Jelas Sekala, tidak menunggu sampai Kinara bertanya.


Kinara menatap Sekala keheranan. Ada angin apa bos-nya itu sampai rela datang jauh-jauh ke sini, plus di hari libur, hanya untuk mengantarkan camilan dan mainan untuk Lestari.


Iya, Lestari. Saat Sekala mengatakan bahwa salah satu kantong kresek itu berisi mainan, dia tidak perlu bertanya dua kali untuk tahu bahwa mainan itu ditujukan untuk Lestari. Karena sejak dia perkenalkan Sekala dengan Lestari beberapa minggu lalu, lelaki itu memang sudah terlihat tertarik pada bocah cerewet kesayangannya itu.


"Tapi Lestari lagi pergi, saya nggak tahu kapan pulangnya." Kinara meletakkan dua kantong kresek tadi di atas meja, kemudian duduk di kursi yang berseberangan dengan Sekala.


"Ya udah, kamu tolong simpan dulu, nanti kalau Lestari udah pulang, tolong kasihin." Seperti biasa, Sekala tidak mau ribet.


"Udah, gitu aja?" tanya Kinara, membuat Sekala menaikkan sebelah alisnya.


"Mas Kala beneran cuma mau anterin ini buat Lestari?"


Hening sesaat. Karena sebenarnya, mengantarkan camilan dan mainan untuk Lestari hanyalah alibi. Tujuan utama Sekala datang ke sini adalah untuk meluruskan kesalahpahaman perihal Astari. Hanya saja, dia bingung harus memulai dari mana.


"Mas?"


"Saya ..." keragu-raguan itu jelas terpancar dari mata Sekala, dan barangkali Kinara mampu membacanya.


Namun, gadis itu memutuskan untuk tetap memberikan Sekala kesempatan berpikir sebelum melanjutkan ucapannya. Karena mungkin saja apa yang akan Sekala katakan memang sesuatu yang penting, sehingga membutuhkan banyak pertimbangan.


Sekala mengembuskan napas keras-keras saat tidak ditemukannya diksi yang tepat untuk dia sampaikan kepada Kinara. Ketakutannya masih sama besar seperti kemarin, takut gadis ini akan salah memahami kalimatnya dan hubungan mereka berakhir runyam.


"Ngomong aja, Mas," Kinara berusaha meyakinkan melalui tatapan matanya yang dalam, juga senyum tipis yang dia ukir samar-samar, seolah ingin mengatakan kepada Sekala bahwa apapun yang akan lelaki itu katakan, dia akan siap mendengarkan.


Satu embusan napas lagi Sekala loloskan, kemudian dia memiringkan tubuhnya sedikit, agar lebih jelas menatap Kinara yang duduk si seberangnya. Manik matanya beradu dengan milik sang gadis, berkejaran selama beberapa saat sebelum akhirnya mereka sama-sama sampai di perbatasan yang akan menentukan apakah mereka akan berhenti, atau terus lanjut sampai kemudian mereka sama-sama terhanyut dan menghilang.


Lalu, Sekala dengan kepercayaan diri yang minim mulai membuka bibirnya untuk bersuara.


"Ini ... soal Astari," hanya sampai situ kalimat pertamanya berhasil keluar. Sebab dia ingin memeriksa reaksi Kinara terlebih dahulu sebelum melanjutkan kalimatnya.


Dan setelah dia rasa gadis di hadapannya ini tidak menampakkan reaksi yang terganggu, barulah Sekala melanjutkan.


"Saya cuma mau menjelaskan kalau apa yang kamu pikirkan tentang saya dan Astari itu hanyalah sebuah kesalahpahaman. Astari nggak menyukai saya seperti yang kamu dan Andanu pikirkan, dia cuma ... cuma ..." Sial. Bagaimana caranya Sekala menjelaskan kepada Kinara soal ini? Kenapa otaknya mendadak buntu, dan lidahnya terasa kelu untuk dipakai melanjutkan kalimat yang padahal sedikit lagi akan selesai?


"Saya nggak tahu gimana harus menjelaskannya kepada kamu, tapi yang jelas, perasaan Astari terhadap saya tidak seperti yang kamu pikirkan, Kin." Pada akhirnya, hanya segitu saja kemampuan Sekala untuk menjelaskan. Padahal dia punya lebih banyak stok kata di dalam kepala, tapi pada akhirnya yang berhasil keluar dari bibirnya memang cuma sebagian kecilnya saja.


Yah ... sekarang ini, Sekala cuma bisa berharap bahwa kinerja otak Kinara cukup baik, sehingga gadis itu bisa menerima informasi yang dia berikan dan mencernanya dengan sebagaimana mestinya.


Seandainya saja Sekala tahu kalau Kinara juga dibuat resah karena permasalahan ini...


Untuk beberapa saat, Sekala cuma bisa menunggu sambil menahan napas. Ekspresi wajah Kinara saat ini benar-benar tidak bisa dibaca. Dia tidak bisa menebak apakah gadis itu berhasil menerjemahkan ucapannya ke dalam sesuatu yang dia maksud, atau justru ucapannya tadi malah menimbulkan kesalahpahaman baru.

__ADS_1


Sampai kemudian, dia mendengar Kinara menghela napas panjang, dan hal itu membuat perasaannya semakin tidak keruan.


"Maaf, ya, Mas Kala," lirih gadis itu, seketika membuat satu sudut hatinya terasa dicubit. Kenapa harus minta maaf, pikirnya.


"No, saya nggak ngomong ini ke kamu untuk bikin kamu merasa bersalah, Kin. Saya cuma-"


"Saya tahu, Mas, makanya saya minta maaf,"


Bibir Sekala masih setengah terbuka, berniat menyahuti perkataan Kinara lagi, namun urung karena dia tahu gadis itu masih mau melanjutkan ucapannya. Maka dia mengalah, memilih untuk menyediakan telinga.


"Semalam, Mbak Astari ke sini, untuk membicarakan hal yang sama." Gadis itu mengawali.


Sekala cukup terkejut mendengar hal itu. Dia tidak menyangka kalau Astari akan bertindak secepat itu, bahkan sampai rela datang jauh-jauh ke rumah Kinara hanya untuk menjelaskan kesalahpahaman ini. Walaupun memang tidak bisa dipungkiri bahwa kesalahpahaman yang membuat banyak pihak merasa tidak nyaman ini memang sumbernya dari perempuan itu, juga dari semangat Kinara yang menggebu-gebu untuk menjodohkan mereka berdua.


"Saya pikir, saya adalah manusia paling peka sedunia. Jadi, dengan bangganya saya berpikir bisa membantu mendekatkan kalian, padahal kalian sama sekali nggak menginginkan hal tersebut," Kinara murung, air mukanya yang semula terlihat tak terbaca oleh Sekala, kini justru terlihat jelas menampakkan kesedihan yang entah di mana ujungnya.


"Maaf ya, Mas Kala, saya udah sok tahu banget dan jadinya malah bikin Mas Kala dan Mbak Astari nggak nyaman,"


Sekala tidak suka mendengar kata maaf, jika itu datang untuk sesuatu yang sebenarnya bukan merupakan kesalahan.


Jadi, sebelum Kinara kembali membuka mulutnya untuk menyampaikan permintaan maaf yang lain, dia cepat-cepat menyela.


"Nggak perlu minta maaf, Kin. Kamu nggak salah," senyum tipis diukir, niatnya supaya membuat suasana hati Kinara menjadi sedikit lebih baik.


Namun nyatanya, senyum itu justru membuat perasaan bersalah yang Kinara tumpuk sejak semalam malah semakin menjadi-jadi.


"Tapi saya salah, Mas Kala. Bikin orang lain nggak nyaman karena ke-sok tahuan saya itu salah," Kinara si keras kepala. Seharusnya, Sekala mengukir kalimat itu di kepala sebagai pengingat.


"Oke, kamu bersalah." Vonisnya. "Kamu bersalah karena udah bikin saya dan Astari merasa nggak nyaman," imbuhnya, untuk memperjelas bagian mana yang tadi Kinara anggap salah, supaya gadis itu merasa puas.


"Kamu bersalah, dan saya sebagai pihak yang terlibat, sudah memutuskan untuk memaafkan kamu. Jadi, kesalahan itu sudah gugur, sudah hilang nggak bersisa." Setelah kalimat itu selesai, Sekala mengulurkan tangan.


"Jadi, Kin, ayo kita berdamai sekarang."


Kinara terpaku cukup lama memandangi tangan Sekala yang terulur di hadapannya. Tangan yang seumur-umur pernah dia jabat sekali saat pertama kali dia datang melamar sebagai pekerja part time di Orion. Dia tidak menyangka uluran tangan itu akan kembali datang kepadanya, untuk menandakan sebuah perdamaian.


"Kin?"


Tatapan Kinara beralih, kini tertuju pada manik kelam Sekala yang memabukkan. Entah sejak kapan pastinya, tetapi Kinara selalu menemukan dirinya hampir tersesat di sana, kalau terlalu lama menyelam dan lupa untuk pulang.


Lalu, sebelum dirinya benar-benar tersesat dan hilang di manik kelam itu, Kinara meraih uluran tangan Sekala, menjabatnya cukup lama.


"Kita udah berdamai, oke?" ucap Sekala masih dengan tangan mereka yang saling menggenggam.


Lidah Kinara terasa kelu untuk sekadar digerakkan, jadi dia cuma menganggukkan kepala sebagai jawaban.


Dan ketika jabat tangan mereka terlepas, lalu senyum terbit begitu lebar di wajah Sekala, Kinara berani sumpah bahwa untuk pertama kalinya, dia berani meneriakkan dengan lantang di dalam kepalanya, betapa tampannya seorang Sekala Pranadipa. Senyum itu cantik, dan rasanya begitu pas untuk terbit di wajah Sekala. Karena kalau bukan Sekala, senyumnya tidak akan terasa sama.


Tiba-tiba saja, Kinara kembali merasa tersesat. Perasaan aneh merayap sedikit demi sedikit, bergerak naik sampai menembus ke ulu hatinya.

__ADS_1


Lalu, sebelum perasaan itu semakin menjadi-jadi, deru mobil yang baru saja memasuki pelataran rumahnya telah berhasil merebut atensinya dalam sekejap.


Seorang gadis kecil melompat turun dari mobil itu, berlarian ke arahnya dengan raut wajah gembira sembari merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.


"Kakak!!!" gadis kecil itu, Lestari, berseru dengan riang. Senyum lebarnya berkilauan, persis bongkahan berlian yang menyembul keluar dari gundukan tanah.


Dan kerika tubuh kecil itu akhirnya sampai di hadapannya dan langsung menghambur ke dalam pelukan, Kinara tidak bisa lagi menahan senyumnya.


Kinara membalas pelukan Lestari, lalu mengangkat tubuh mungil itu ke atas pangkuannya.


"Happy?" bisik Kinara di telinga bocah itu, dan si bocah mengangguk sebagai jawaban.


"Papa tadi beliin aku es krim," Lestari pamer, senyumnya kian lebar, matanya sesekali melirik ke arah Sekala yang ikut menyunggingkan senyum tulus ke arahnya.


"Oh, ya? Rasa apa?"


"Rasa coklat. Masih ada dua, nanti aku kasih ke kamu satu, ya."


"Iya, makasih, ya."


"Aku nggak dikasih?" Sekala iseng bertanya.


Lestari yang semula cuma berani melirik sedikit, kini sepenuhnya menatapnya. Bocah itu terdiam sejenak, tampak sedang berpikir.


"Ya udah deh, yang satu buat kamu aja." Kata Lestari dengan polosnya.


Sekala tergelak, tidak kuasa untuk menahan diri sehingga tangannya dia ulurkan untuk mengusak pelan helaian rambut Lestari yang halus.


Lalu, dia bangkit dari duduknya ketika ayah dan ibu Kinara beserta ibunya Lestari sampai di teras rumah.


"Siang, Pak, Bu, Mbak." Sekala menyapa mereka satu persatu, mencium tangan ayah dan ibu Kinara secara bergantian kemudian juga menyalami ibunya Lestari.


"Siang, bro!"


Sekala kembali terkekeh saat ayah Kinara menyapanya dengan sapaan akrab tersebut sembari menepuk-nepuk bahunya pelan.


"Udah lama, Nak Sekala?" itu suara ibunya Kinara.


Sekala menatap wanita paruh baya itu sembari tersenyum tipis. "Belum, Bu. Saya baru sampai, minuman yang Kinara kasih aja belum sempat saya minum," dia berucap sembari melirik ke arah Kinara.


Kinara yang kelupaan menawarkan air minum yang sudah dia bawa untuk Sekala praktis menepuk jidatnya, sementara Sekala cuma terkekeh ringan melihat reaksinya.


"Ya udah, kalau gitu masuk aja, yuk. Di luar panas." Ajak ibunya Kinara.


Sekala iya-iya saja, toh dia memang masih ingin berlama-lama berada di sini. Hitung-hitung sebagai perayaan atas berdamainya ia dengan Kinara.


Ayah dan ibu Kinara masuk lebih dulu, disusul dengan Lestari dan ibunya. Sedangkan Sekala sengaja masuk belakangan supaya dia bisa jalan berdampingan dengan Kinara.


"Nanti, jangan bilang sama Mama kalau saya lupa nawarin minum ya, Mas." Bisik Kinara ketika mereka sama-sama mengayunkan langkah.

__ADS_1


Sekala terkekeh sebentar sebelum menganggukkan kepala. "Iya, tenang aja." Lalu mereka buru-buru melanjutkan langkah ketika Lestari berteriak memanggil nama mereka berkali-kali.


Bersambung


__ADS_2