After The Rain

After The Rain
Dijemput


__ADS_3

Jam sepuluh tepat, cafe ditutup. Empat karyawan Sekala yang perempuan sudah Sekala perintahkan untuk pulang lebih dulu karena akan sulit menemukan kendaraan jika telat beberapa menit saja. Sementara dua karyawan laki-laki masih berada di cafe untuk membantunya beres-beres.


Kinara, tidak termasuk ke dalam empat karyawan perempuan yang telah disuruh pulang, berkeras hati untuk tetap tinggal dan membantu membereskan meja dan kursi. Padahal Sekala sudah mengomel dan menyuruhnya ikut pulang, tetapi gadis itu beralasan dia membawa mobil sendiri sehingga tidak perlu pulang lebih awal.


Pada dasarnya Sekala malas berdebat, jadi dia biarkan saja Kinara tetap tinggal dengan catatan gadis itu tidak akan melakukan pekerjaan yang berat selama proses beres-beres cafe.


"Kamu harusnya ikut pulang aja, Nara. Di sini kalau malam jalanan agak rawan." Bisik Dimas, satu dari dua karyawan laki-laki yang kini sedang mengayunkan sapu ke atas lantai yang berdebu.


"Saya mau bantuin beres-beres, Mas Dimas. Biar tahu proses tutup cafe kayak gimana." Kinara si ngeyel.


"Kamu pulang ke arah mana? Biar saya sama Dimas iring dari belakang nanti naik motor. Ngeri kalau masih di dekat-dekat sini," Jeremy, satu karyawan laki-laki yang lain, yang kini sibuk mengelap meja counter ikut menyahuti.


"Saya pulang ke arah barat, Mas Jer." Kinara sendiri sedang asik mengisi ulang tisu di tiap-tiap meja yang ada serta memastikan bahwa tidak ada lagi noda sisa makanan atau minuman yang menempel di meja-meja tersebut.


"Ya udah, nanti kami kawal kamu dari belakang." Pungkas Jeremy, sudah final pada keputusannya untuk mengekori Kinara walaupun sebenarnya dia dan Dimas pulang ke arah timur.


"Kinara biar saya aja yang kawal, kalian langsung pulang aja."


Ketiganya kompak menoleh dan praktis berhenti dari kegiatan masing-masing saat Sekala muncul dari baik ruangan staf, membawa empat botol air mineral dan beberapa bungkus makanan ringan. Bawaannya itu diletakkan di atas meja counter, lalu dia memberi kode kepada tiga karyawannya untuk mendekat ke arahnya.


Jeremy yang memang berada paling dekat dengan counter hanya tinggal menggeser tubuhnya saja sedikit untuk sampai ke samping Sekala. Sedangkan Dimas dan Kinara butuh effort lebih untuk menghampiri pemuda itu.


"Nih, minum dulu, habis itu langsung pulang." Sekala menyodorkan botol air mineral kepada mereka satu persatu. Khusus milik Kinara, dia sodorkan setelah dibukakan tutupnya, membuat Dimas dan Jeremy saling pandang lalu sama-sama mengulum senyum.


"Makasih, Mas Kala." Ucap Kinara sebelum menenggak air dari dalam botol.


Sekala cuma menjawab dengan senyum yang kelewat manis, yang lagi-lagi berhasil membuat Dimas dan Jeremy ikut tersenyum.


Wajar saja mereka seperti itu. Karena Sekala sebenarnya bukan tipikal orang yang sesering itu tersenyum. Sekala yang mereka kenal juga jarang sekali berinteraksi dengan karyawan perempuan, malah bisa dibilang pemuda itu terkesan menjaga jarak dengan semua karyawan perempuan yang bekerja di sini, baik yang full time maupun yang part time.


Tapi dengan Kinara, Sekala sepertinya telah membuat pengecualian.


"Bensin masih ada?" tanya Sekala, kepada Jeremy yang berdiri paling dekat dengan dirinya.


"Masih setengah penuh, Mas."


Tanpa mengatakan apa-apa, Sekala merogoh saku celana dan mengeluarkan dompet. Dari dalam dompet itu, Sekala menarik dua lembar uang pecahan seratus ribu dan diberikan kepada Jeremy.


"Kebanyakan, Mas. Seratus aja cukup," Jeremy menerima satu dari dua lembar yang Sekala berikan, dan mengembalikan selembar lagi.


Tapi tentu saja Sekala tidak menerima apa yang sudah dia keluarkan dari dalam dompet untuk masuk kembali ke sana. Jadi, Sekala mengulurkan satu lembar yang dikembalikan oleh Jeremy kepada Dimas.

__ADS_1


"Buat nambahin bayar kos," ucapnya.


Dimas terlihat melirik Jeremy sebentar, sebelum akhirnya menerima uang tersebut karena tahu Sekala tidak suka penolakan.


"Makasih, Mas."


"Sama-sama,"


Kemudian, Sekala mengalihkan perhatiannya kepada Kinara yang sedari tadi hanya diam. Gadis usil itu terlihat fokus memperhatikan interaksi antara dirinya dan dua karyawannya itu, seolah mereka bertiga adalah lakon dalam sebuah pentas dan Kinara adalah tamu undangan eksklusif yang disediakan kursi khusus untuk menonton.


"Beresin barang-barang kamu, saya antar kamu pulang."


Kinara menatap Sekala sebentar, kemudian meletakkan botol air mineral miliknya ke atas meja counter dan segera berlarian menuju bagian belakang counter untuk mengambil tas dan ponsel miliknya. Setelah dapat, dia kembali ke hadapan Sekala dan dua teman karyawannya.


"Kalian juga beres-beres, kita bareng jalan ke depan." Perintah Sekala kepada Dimas dan Jeremy, yang langsung dituruti oleh dua pemuda itu.


Beberapa saat kemudian, ketika mereka bertiga telah sama-sama selesai membereskan barang-barang, Sekala menuntun mereka untuk berjalan keluar dari cafe.


Sekala membukakan pintu untuk ketiga karyawannya, membiarkan mereka keluar lebih dulu dan dia keluar paling akhir sekalian mematikan beberapa lampu dan mengunci pintu.


"Kami pamit pulang, Mas." Pamit Jeremy, Sekala mengangguk dan mempersilakan pemuda itu berlalu bersama Dimas.


Setelah mereka berdua pamit dengan mengendarai sepeda motornya, tinggallah Kinara dan Sekala yang berdiri berdampingan di sebelah mobil Kinara.


Sekala refleks beringsut mendekat lagi ke arah Kinara dan berdiri di depan tubuh gadis mungil itu, berusaha melindunginya dari siapapun yang sedang berjalan ke arah mereka sekarang ini.


Seorang pria paruh baya berjalan mendekat, raut wajahnya tampak serius dan Sekala bisa menangkap bahwa tatapan pria itu jelas tertuju ke arah Kinara yang kini dia sembunyikan di belakang tubuhnya.


"Ada perlu apa ya, Pak?" tanyanya saat si pria paruh baya berhenti beberapa langkah di depannya.


Pria itu menaikkan pandangan sehingga tatapan mereka bertemu. Kemudian tak lama setelah itu, si pria kembali menurunkan pandangannya dan berusaha mencuri pandang ke arah Kinara.


Melihat itu, Sekala berinisiatif untuk semakin menyembunyikan tubuh Kinara di balik tubuh besarnya.


"Maaf, Pak, ada yang bisa saya bantu?" ulangnya.


Si pria mengangkat pandangannya lagi, kemudian tersenyum tipis sebelum menjawab. "Saya mau jemput putri saya, Mas."


"Putri Bapak? Siapa?" tanya Sekala bingung.


"Tuh, yang lagi Mas umpetin di belakang tubuh Mas. Itu putri saya." Kata si pria sembari menunjuk ke arah Kinara.

__ADS_1


Sekala yang tidak tahu apakah pria di hadapannya ini betulan ayahnya Kinara atau bukan pun menoleh untuk mengkonfirmasi hal tersebut kepada Kinara.


"Beneran ayah kamu?" tanyanya.


Kinara mengintip sebentar dari balik tubuhnya, kemudian kembali menatapnya dan mengangguk.


"Kalau dari gerak-geriknya yang agak aneh, sih, iya. Beliau ini bapak saya, Mas."


Sekala nyaris menjitak kepala Kinara karena gadis itu mendeskripsikan sosok ayahnya dengan cara yang tidak normal, namun dia urungkan dan malah menggerakkan tangannya untuk membawa Kinara berdiri sejajar dengannya.


"Bapak nggak salah lihat? Beneran yang ini putrinya?" tanya Sekala, sembari menunjuk Kinara menggunakan jari panjangnya.


"Kalau dari mukanya yang ngeselin, sih, bener. Dia putri saya, Mas."


Oh ... bapak dan anak sama saja. Batin Sekala.


"Papa beneran mau jemput Nara?" tanya Kinara, dan Papa pun mengangguk.


"Ngapain? Kan, Nara bawa mobil."


"Ini udah lewat jam malam kamu, dan sesuai perjanjian, kalau udah lewat jam malam, Papa harus jemput."


"Tapi, kan, Nara kerja, bukan main." Kinara memberengut, tetapi Papa terlihat tidak peduli. Lelaki itu tetap mengulurkan tangan, meminta kunci mobil kepada Kinara.


Tidak punya pilihan lain, Kinara segera menyerahkan kunci mobilnya kepada Papa dan lelaki itu segera melesat pergi ke mobil setelah menerimanya.


"Papa kamu lucu," celetuk Sekala sebelum mobil Kinara dikeluarkan dari parkiran.


"Lebih ke aneh, sih, Mas." Sahut Kinara.


Lalu, saat mobil sudah siap dan Papa menurunkan kaca, Kinara segera pamit kepada Sekala.


"Saya pulang dulu, ya, Mas."


"Hati-hati."


"Iya."


Kinara segera berjalan menghampiri Papa dan masuk ke dalam mobil. Sebelum mobil itu melaju, Papa sempat melambaikan tangan ke arah Sekala, yang anehnya dibalas saja oleh pemuda itu, seolah-olah mereka adalah teman lama dan prosesi perpisahan seperti ini memang sudah biasa.


Setelah mobil Kinara menghilang dari pandangan, Sekala terkekeh. Batinnya, pantas saja Kinara menyenangkan, rupanya menurun dari sang ayah.

__ADS_1


Lalu tidak lama setelah itu, Sekala berjalan menuju mobilnya dengan perasaan yang jauh lebih ringan ketimbang hari-hari sebelumnya.


Bersambung


__ADS_2