After The Rain

After The Rain
Penjual Kelapa Dadakan


__ADS_3

Tepat ketika adzan subuh berkumandang, Kinara berhasil menjejakkan kakinya di teras rumah. Peluh bercucuran membasahi seluruh wajah dan tubuhnya karena dia nekat pulang ke rumah dengan berjalan kaki. Selain karena dia memang tidak membawa uang di saku jaketnya, jam segini juga masih terhitung susah untuk menemukan kendaraan umum.


Usai mengatur napasnya yang tersengal-sengal, Kinara membuka kenop pintu pelan-pelan, memastikan pintu kayu itu tidak akan menimbulkan derit yang bisa saja membangunkan Papa dan Mama yang mungkin masih terlelap.


Dari celah pintu yang berhasil terbuka sedikit, Kinara bisa melihat keadaan rumah yang masih gelap, pertanda bahwa lampu-lampu belum mulai dinyalakan dan itu menjadi indikator utama yang memungkinkan bahwa Mama dan Papa belum bangun dari tidurnya.


Kinara menghela napas lega lalu segera masuk ke dalam rumah. Pintu kembali ditutup dengan gerakan pelan. Saking tidak ingin menimbulkan suara, Kinara sampai rela membalikkan badan menghadap ke pintu untuk memastikan bahwa tekanan yang dia berikan ke pintu sudah cukup untuk membuatnya tertutup tanpa perlu menimbulkan kegaduhan.


Kinara pikir, aksinya menyusup ke dalam rumah secara diam-diam telah berhasil. Namun ternyata dia salah. Sebab ketika dia membalikkan badan dan hendak melanjutkan langkah, matanya menangkap sosok Mama yang sudah berdiri di depan pintu kamar, melemparinya tatapan keheranan.


"Kamu dari mana, Ra?" tanya Mama. Wanita itu berjalan mendekat setelah menekan saklar lampu hingga kini keadaan rumah seketika berubah menjadi terang benderang.


Kinara tersenyum kikuk karena merasa dirinya sudah tertangkap basah. Dia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal seraya berjalan menghampiri Mama sehingga mereka akhirnya bertemu di tengah-tengah ruang tamu.


"Habis cari angin." Jawab Kinara setelah berhadap-hadapan dengan Mama.


Mama tidak langsung berkomentar lebih lanjut. Wanita itu melipat tangan di depan dada dan mulai meneliti setiap bagian di tubuh Kinara, mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya.


"Cari angin atau cari keringat?" tanya Mama setelah tatapan mereka kembali bertemu.


Kinara nyengir kuda dan sekali lagi menggaruk kepalanya. "Dua-duanya." Jawabnya kemudian.


Mama menghela napas pelan seraya menggelengkan kepala beberapa kali. Lalu, wanita itu menarik pelan lengan Kinara dan menyeret putrinya itu menuju kamar mandi.


Sampai di depan pintu kamar mandi, Kinara dibuat kebingungan karena Mama tiba-tiba berhenti melangkah.


"Kenapa?" tanya Kinara.


Namun pertanyaannya itu tidak dijawab oleh Mama, tetapi oleh kemunculan Papa dari balik pintu kamar mandi yang memang semula tertutup. Ternyata, Mama berhenti di depan pintu karena tahu ada Papa di dalam sana.

__ADS_1


"Lah, kamu dari mana, Ra?" tanya Papa keheranan saat menemukan putrinya mengenakan sepatu dan jaket, setelan yang tidak mungkin digunakan untuk tidur.


"Joging," Kinara menjawab sembari cengengesan. Bukan karena ada yang lucu, tetapi karena dia perlu menyembunyikan kegugupannya agar Papa dan Mama tidak bertanya lebih lanjut.


"Ya udah, sana ambil wudhu, kita sholat berjamaah." Kata Papa, kemudian berlalu menuju kamarnya.


Kinara menurut, dia melepaskan lengannya dari tangan Mama dan masuk ke kamar mandi lebih dulu. Dia segera mengambil wudhu, membasuh setiap titik di tubuhnya yang memang harus dibasuh dengan teliti. Kemudian, setelah membaca doa, Kinara keluar dari dalam kamar mandi dan mempersilakan Mama untuk masuk.


Subuh itu, seperti biasa, mereka melakukan rutinitas sholat berjamaah seperti hari-hari sebelumnya. Bedanya, di akhir kegiatan itu, Mama dan Papa menahan Kinara sedikit lebih lama, hanya untuk memberikan usapan penuh kasih ke kepala anak gadis mereka meskipun mereka tidak tahu permalasahan apa yang sedang menimpa gadis itu.


...****************...


Selepas sholat subuh, Kinara menolak untuk kembali tidur. Lagipula dia ada kelas pagi jam sembilan, kalau dia memaksakan diri untuk tidur lagi, takutnya dia malah tidak akan bisa bangun.


Tidak seperti seseorang yang hanya tidur selama satu jam di malam sebelumnya, energi Kinara pagi ini terasa lebih penuh ketimbang hari-hari sebelumnya. Padahal semalaman dia menangis dan energinya seakan terkuras habis.


Mungkin ini efek dari menghirup udara segar di jam setengah tiga dini hari, di mana udara yang berputar di sekelilingnya masih murni dan belum tercampur dengan polusi dari kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya. Atau bisa jadi ini adalah efek dari pertemuannya dengan laki-laki bernama Sekala yang tiba-tiba saja menasehatinya untuk tidak mati bunuh diri.


"Hidungnya cantik banget," gumam Kinara tanpa sadar saat dia kembali teringat pada hidung tinggi Sekala yang serupa perosotan. Jarang-jarang Kinara melihat hidung yang bentuknya secantik itu menurutnya. Apalagi, hidung itu dimiliki oleh seorang laki-laki.


"Tapi, dia ngapain ya keluyuran di luar malam-malam begitu? Beneran niat mau bunuh diri?" tanyanya, entah kepada siapa.


Sekarang ini, Kinara sedang dalam perjalanan menuju pasar. Bukan untuk berbelanja seperti yang dia lakukan tempo hari, melainkan untuk menyambangi Lestari karena dia pikir bertemu dengan anak itu dan mendengarkan celotehannya mungkin bisa membantu mempercepat proses penetralan suasana hatinya.


"Ah, tapi masak sih dia mau bunuh diri? Kayaknya enggak deh. Aku aja yang lebay mikirnya." Kinara mengibaskan tangan di depan wajah, bermaksud untuk mengusir pemikiran random itu dari dalam kepalanya.


Lagipula, entah Sekala memang berniat untuk bunuh diri atau tidak, yang terpenting adalah pada akhirnya laki-laki itu tidak melakukannya, benar? Lebih dari itu, dia jadi punya teman baru.


Langkah yang diayun pelan-pelan akhirnya membawa Kinara sampai di pasar. Kios-kios di sana tidak seramai biasanya, mungkin karena ini sudah masuk tanggal tua atau para ibu yang biasa berbelanja masih memiliki stok bahan makanan yang cukup untuk satu hari ke depan.

__ADS_1


Kinara langsung melangkah tanpa ragu menuju kios tempat Sinta berjualan kelapa parut. Dari kejauhan, dia sudah bisa melihat perempuan itu sedang melambaikan tangan ke arahnya dengan senyum yang mengembang. Di sampingnya, Lestari ikut-ikutan melambaikan tangan, anak itu terlihat bugar dan matanya berbinar terang.


"Kamu mau beli kelapa?" tanya Lestari begitu Kinara sampai di hadapan mereka.


Kinara langsung menggeleng, karena memang bukan itu tujuannya datang ke sini.


Lestari mengerutkan kening, memasang wajah serius yang membuat Kinara merasa tergelitik dan akhirnya tidak bisa menahan kekehan.


"Kok kamu ketawa?" tanya Lestari yang semakin bingung.


"Aku ke sini buat bantuin kamu jualan kelapa." Jelas Kinara, namun Lestari masih terlihat tidak menangkap maksud perkataannya.


"Bercanda mulu kamu nih, Ra." Sinta ikutan nimbrung, mungkin karena sudah gemas melihat Lestari yang sok-sokan memasang raut wajah serius.


"Serius, Mbak. Nara ke sini buat bantuin jualan." Kinara berusaha menyakinkan.


Sekarang, bukan cuma Lestari saja yang dibuat bingung, tetapi juga Sinta. Sepasang ibu dan anak itu saling berpandangan selama beberapa saat, kemudian kembali menatap Kinara penuh tanda tanya.


Kinara cuma menanggapi kebingungan mereka dengan senyum manis madu. Kemudian, dia segera berjalan masuk ke kios dan mengambil posisi duduk di sebelah Sinta.


Berbekal dengan ke-sok tahuan yang dia miliki, Kinara berteriak-teriak menawarkan barang jualannya kepada ibu-ibu yang sedang berbelanja di kios sebelah.


"Kelapanya, Bu! Murah, cuma sepuluh ribu!" teriak Kinara dengan penuh percaya diri.


Sinta yang mendengar itu pun dibuat melongo, karena sebenarnya kelapa yang dia jual cuma seharga tujuh ribu rupiah per-buah. Dan dia semakin dibuat melongokkan saat ada tiga orang ibu-ibu yang datang menghampiri kios mereka dan memutuskan untuk membeli masing-masing satu buah kelapa.


Sinta dan Lestari kembali berpandangan untuk waktu yang cukup lama. Padahal, Kinara menjual kelapa dengan harga yang lebih mahal, tetapi mengapa ibu-ibu itu justru semangat untuk membelinya?


Gadis bernama Kinara ini ... sebenarnya punya daya tarik apa?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2