After The Rain

After The Rain
Perdebatan Pagi Hari


__ADS_3

"Lo udah dari tadi di sini?" tanya si gadis berambut pendek itu setelah sampai di hadapan Kinara.


Kinara bergerak secara otomatis menggeser posisi duduknya guna memberikan ruang bagi gadis yang merupakan sahabat baiknya itu.


Gadis itu bernama Dahayu Maheswari, anak pengusaha batubara yang telah menjadi sahabat baik Kinara sejak mereka masih menjadi mahasiswa baru dua tahun lalu.


"Baru beberapa menit yang lalu." Kinara menjawab santai. Matanya masih tak lepas dari sosok Dahayu yang selalu terlihat memesona di matanya. Gadis itu memiliki bentuk wajah yang menurut Kinara merupakan standar kecantikan orang-orang jaman sekarang. Alis tebal, bulu mata lentik alami, manik berwarna cokelat terang yang tidak umum, hidung tinggi dan juga belah bibir yang tampak penuh serta merah alami. Sebagai sesama perempuan, Kinara merasa telah jatuh cinta pada pesona Dahayu.


"I see." Dahayu manggut-manggut. Kemudian, ia keluarkan ponsel dari dalam tas merk terkenal yang selalu menunjang penampilannya. "Gue baru baca postingan di base kampus. Gila, nggak nyangka banget, ya?"


Mendengar celotehan itu, Kinara jelas mengerutkan kening. Karena dia sama sekali tidak tahu menahu tentang kabar yang sedang viral di kalangan mahasiswa di kampusnya. Jangankan mengurusi gosip apa yang sedang hangat diperbincangkan, mengurusi hidupnya sendiri saja Kinara masih kewalahan.


Sadar tidak ada respon dari Kinara, Dahayu menolehkan kepala, sepenuhnya melupakan layar ponsel yang masih menampakkan deretan kalimat panjang disertai bebera foto.


"Ra, jangan bilang lo nggak tahu soal ini?" tebak Dahayu tepat sasaran.


Kinara yang merasa tertangkap basah cuma bisa menggeleng polos sambil tersenyum.


"Sumpah?!"


Kinara terlonjak di tempat duduknya saat tahu-tahu Dahayu menggebrak meja di depannya. Gadis itu bahkan nyaris bangkit dari duduknya. Mata cokelatnya tampak menggebu-gebu.


"Biasa aja, Ay." Kata Kinara berusaha menenangkan Dahayu yang terbakar semangatnya sendiri.


"Lo keterlaluan sih, Ra. Gosip sepanas ini lo sampai nggak tahu? Gila, selama liburan lo ke mana aja? Bertapa di goa?"


Menanggapi Dahayu yang nyerocos seperti bunyi mercon di acara nikahan, Kinara cuma terkekeh. Salah satu hal yang membuatnya betah berteman dengan Dahayu adalah karakternya yang cerah dan cenderung ceplas-ceplos saat bicara. Di banyak kesempatan, Kinara merasa sering diuntungkan karena Dahayu yang akan maju paling depan menjadi tameng saat ada orang yang berusaha mengusik dirinya di kampus.


"Emangnya ada gosip apaan, sih?" tanya Kinara setelah menyelesaikan kekehannya. Ia memajukan tubuh, berusaha mencuri pandang pada layar ponsel Dahayu yang masih menyala.


"Layla." Kata Dahayu.


Kembali kerutan samar muncul di kening Kinara. Layla? Anak fakultas kedokteran yang terkenal pendiam dan super super polos itu? Memangnya ada apa dengannya? Maksudnya, gosip apa yang bisa menimpa gadis solehah seperti Layla?

__ADS_1


"Layla kenapa?" tanya Kinara dengan tampang polosnya. Perhatiannya tidak lagi tercurah pada layar ponsel Dahayu, melainkan pada mimik muka sahabatnya itu yang terlihat begitu serius.


"Video mesumnya kesebar di internet dan langsung jadi bahan gosip satu kampus."


Mata Kinara membulat. Saking terkejutnya, ia merasa bola matanya bisa melompat keluar saat ini juga. Layla si anak solehah itu berbuat mesum? Mana mungkin?!


"Jangan bercanda, ah." Kata Kinara masih berusaha mengelak.


Tapi Dahayu justru berdecak sebal dan menyentil jidat Kinara demi membuat sahabatnya itu tersadar.


"Aw!" pekik Kinara sembari memegangi jidatnya yang baru saja mendapatkan sentilan maut dari Dahayu. Ia melotot ke arah Dahayu yang justru balik menatap tajam dirinya.


"Ngapain juga gue bercanda soal beginian! Lagian, bukan gue juga yang sebarin soal ini." Dahayu melipat satu tangan di depan dada. Sedangkan satu tangan yang lain masih memegang ponsel dan jemarinya mulai menggulir layar.


Kinara yang masih tidak percaya kembali mengintip ke layar ponsel Dahayu. Tepat ketika sebuah video dewasa yang melibatkan dua orang laki-laki dan perempuan sedang terputar.


Kinara membulatkan matanya. Bukan karena video yang sedang terputar itu atau karena dia menemukan sosok yang ada di dalam video itu memanglah Layla yang dia kenal. Tapi Kinara membulatkan mata karena Dahayu dengan sengaja mengeraskan volume video tersebut hingga beberapa mahasiswa yang kebetulan lewat serempak menoleh ke arah mereka.


"Ay!" Kinara mencubit lengan Dahayu sebagai tanda agar gadis itu mengecilkan volume videonya, tapi Dahayu tidak menurut dan cuek saja menonton video yang masih terputar itu sampai habis. Durasinya memang tidak sampai satu menit.


"Kamu gila, ya?! Itu kita dilihatin sama mahasiswa lain yang lewat!" Kinara mengatakannya dengan berbisik. Matanya menelisik para mahasiswa yang melayangkan tatapan aneh kepada dirinya dan Dahayu.


"Biarin aja. Mereka juga nonton kok." Dahayu menjawab santai. Khas sekali dirinya.


"Tapi, kan-"


"Nara!"


Mereka berdua serempak menoleh saat sebuah suara memanggil nama Kinara.


Di seberang, ada Atha yang berdiri di lorong sambil melambaikan tangan dengan senyum yang tersungging lebar. Di tangan laki-laki itu ada sebuah paper bag yang entah apa isinya.


"Hadeeeehhh, si bucin." Sindir Dahayu kepada Atha yang jauh di seberang sana.

__ADS_1


Kinara hanya terkekeh melihat Dahayu sewot terhadap sikap Atha. Sedari dulu gadis itu memang paling anti dengan yang namanya adegan romantis. Mungkin efek dari ketidakharmonisan keluarganya. Kinara berusaha memaklumi itu dan tidak pernah protes ketika Dahayu meledek cara berpacarannya dengan Atha.


Setelah Kinara membalas lambaian tangan Atha, lelaki itu berlarian menghampirinya. Senyumnya secerah matahari pagi yang bersinar terik di atas kepala. Kaus pas badan warna putih yang dikenakan tampak sedikit menerawang, membuat Kinara bisa mengintip otot-otot perut Atha yang tercetak jelas di balik kausnya.


"Oleh-oleh dari Jogja." Atha mengulurkan paper bag yang dia bawa.


Kinara menyambutnya dengan senang hati. Sebenarnya, ini agak terlambat jika Atha menyerahkan oleh-oleh setelah beberapa hari sejak laki-laki itu kembali ke Jakarta. Tapi tidak apa-apa, Kinara tetap akan menerimanya.


"Makasih." Kata Kinara lengkap dengan senyum manisnya.


"Sama-sama." Atha ikut-ikutan menyunggingkan senyum manis.


Sementara Dahayu yang menyaksikan kemesraan dua sahabatnya itu cuma bisa memutar bola mata malas sebelum akhirnya berkata, "Buat gue mana?" yang ditujukan kepada Atha.


Atha mengalihkan pandangan kepada Dahayu, kemudian tersenyum mengejek sembari berkata, "Nggak ada. Kan, lo bukan pacar gue."


"Dih, nyebelin banget!" protes Dahayu.


"Ya bodo amat." Atha menjulurkan lidah. Merasa senang bahwa tingkahnya berhasil membuat Dahayu kesal.


"Kurang ajar! Sini lo! Biar gue patahin lidah lo itu!"


"Nih, kalau bisa!"


"Atha!"


Kinara cuma bisa tertawa sambil menggelengkan kepala melihat perdebatan antara kekasih dan sahabatnya itu. Pemandangan seperti ini memang sudah biasa. Sedari awal berkenalan, dua orang itu memang tidak pernah akur. Selalu ada saja alasan yang membuat keduanya bertengkar.


Tapi justru itulah yang menyenangkan, karena Kinara jadi punya hiburan tersendiri atas perdebatan Dahayu dan Atha.


Ha... meskipun banyak hal telah berubah, setidaknya Kinara masih memiliki Atha dan Dahayu di sisinya. Bukankah setidaknya ia bisa bersyukur akan hal itu?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2