
Kinara tersenyum puas setelah berhasil menerima satu lagi pesanan. Meksipun awalnya agak kesulitan, tapi berkat Sekala yang standby di sampingnya dan mengajarinya dengan sabar, Kinara jadi bisa lebih cepat beradaptasi.
Andanu sudah pulang sejak satu setengah jam yang lalu, setelah menghabiskan satu cup Caramel Macchiato dan dua potong Strawberry Pistachio.
Sekarang pukul delapan tepat, cafe semakin ramai hingga kini hanya tersisa satu meja paling pojok dekat jendela kaca yang masih kosong tak berpenghuni.
"Cafe biasanya memang seramai ini, ya, Mas?" tanyanya pada Sekala yang masih setia berdiri di sampingnya.
Sekala yang tadinya sedang mengecek sesuatu melalui ponselnya pun mengangkat kepala, lalu menoleh ke arah Kinara seraya meletakkan ponselnya ke atas meja counter.
"Nggak selalu, sih. Ada juga waktu di mana nggak ada satupun yang datang ke cafe ini selama berjam-jam setelah jam makan siang selesai."
"Oh, ya?"
Sekala mengangguk, seraya melemparkan pandangan ke arah pintu masuk kaca yang membuatnya bisa menilik jalanan di seberang yang masih ramai lalu-lalang kendaraan.
"Kok bisa?"
Sekala beralih menatap Kinara lagi. Kemudian, dia tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan gadis itu.
"Ardi nggak sengaja membalikkan tulisan Open menjadi Close. Alhasil, nggak ada pengunjung yang datang meskipun sebenarnya cafe masih buka."
Mengingat kembali kejadian beberapa minggu yang lalu itu membuat Sekala terkekeh geli. Mungkin karena terlalu banyak pikiran, atau memang sedang tidak fokus saja, Ardi tidak sengaja membalikkan papan penanda yang tergantung di pintu, membuat orang-orang yang hendak berkunjung ke cafe otomatis putar balik karena di penanda itu tertulis bahwa cafe sedang tutup.
Apakah Sekala marah karena Ardi sudah membuat cafe mereka kehilangan banyak pengunjung hari itu?
Jawabannya adalah tidak.
Pemuda itu malah menepuk pelan bahu Ardi dan menyuruh pegawainya itu untuk beristirahat. Dia berkata bahwa rejeki itu berputar sesuai dengan apa yang telah Tuhan atur. Sebagai manusia, kita hanya perlu mengerahkan usaha untuk membuat rejeki itu datang ke arah mereka sedikit lebih cepat.
"Mas Ardi ceroboh juga ya, ternyata." Komentar Kinara.
Sekala mengangguk, kemudian menatapnya lagi. "Bagaimanapun, dia tetap manusia biasa yang bisa berbuat kesalahan."
Kinara ikut-ikutan menganggukkan kepala. Bukan manusia namanya kalau tidak luput dari kesalahan. Hanya saja, dia percaya bahwa ada beberapa kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari kalau mereka mau menggunakan otak mereka sedikit lebih banyak. Seperti kasus Dahayu dan Atha, misalnya.
Ah ... kenapa dia jadi memikirkan dua orang itu lagi?
__ADS_1
"Mas Kala selalu datang ke cafe setiap hari?" tanyanya, berusaha mengalihkan fokusnya sendiri agar tidak kembali teringat pada hubungannya dengan Atha dan Dahayu yang memang sudah tidak bisa diperbaiki lagi.
"Kalau lagi nggak ada kerjaan lain, saya pasti standby di sini."
"Pantes,"
Sekala menaikkan sebelah alisnya. "Pantes kenapa?" tanyanya heran.
"Mas Kala tahu nggak kenapa cafe selalu ramai, dan kebanyakan pengunjungnya adalah mahasiswa dari kampus saya?"
Sekala tampak berpikir sebentar sebelum menjawab. "Karena makanannya enak, dan tempatnya nyaman untuk dipakai nongkrong ataupun mengerjakan tugas?" tebaknya, berdasarkan apa yang memang muncul dari hasil analisanya.
Tetapi, Kinara malah menggelengkan kepala sehingga membuat kerutan di keningnya muncul sedikit demi sedikit.
"Maksud kamu, makanan di sini nggak enak dan tempatnya nggak nyaman?"
Kinara menggeleng lagi. "Makanan di sini memang enak, dan tempatnya juga nyaman. Tapi ... " Kinara memberi jeda sebentar, hanya untuk merubah posisinya agar bisa berhadap-hadapan dengan Sekala seraya melipat tangan di depan dada.
"Orang-orang itu datang ke sini untuk melihat Mas Kala yang tampan dan memesona." Sambungnya, tanpa sadar telah berhasil membuat Sekala lagi-lagi merasakan gelenyar aneh di dalam dadanya.
"Ngawur," ucap Sekala sembari mengibaskan tangan di depan wajah Kinara, lalu kembali meraih ponsel dan menekuri benda itu.
"Alaaahhh nggak usah pura-pura, Mas. Mas Kala tahu kan, kalau Mas Kala itu ganteng? Makanya Mas Kala sering datang ke cafe biar orang-orang bisa menikmati kegantengan Mas Kala. Iyaaaa, kan?"
Duh ... boleh tidak kalau Sekala mengangkat tubuh kecil Kinara dan mengunci gadis cerewet ini di loker penyimpanan barang milik para karyawan? Karena semakin lama dia mendengar godaan yang dilontarkan oleh Kinara, Sekala merasa jantungnya hampir meledak.
"Kok nggak jawab, sih? Malu yaaa? Nggak usah malu, Mas Kala. Kan, saya udah bilang kalau Mas Kala itu memang ganteng. Ka-"
"Kin!"
Kinara nyaris terjengkang ke belakang karena refleks menghindar saat tahu-tahu Sekala menoleh ke arahnya dan membuat jarak tubuh mereka menjadi sangat dekat.
"Jangan godain saya terus, atau saya lempar kamu ke atas pohon Flamboyan itu, biar disangka kuntilanak sama pengunjung." Ancam Sekala, yang sayangnya tidak berhasil membuat Kinara takut.
Gadis itu justru terkekeh, kemudian dengan tampang polos tanpa dosa, seolah tidak pernah terjadi apa-apa, dia kembali ke belakang kasir untuk menerima pesanan dari seorang pelanggan yang baru saja datang.
Lalu setelah selesai menerima pesanan, Kinara kembali beringsut ke arah Sekala, yang masih menatapnya tajam.
__ADS_1
"Makasih, ya, Mas Kala." Katanya tiba-tiba, membuat tatapan tajam Sekala seketika berubah menjadi tatapan bingung.
"Makasih buat apa?"
"Makasih karena malam itu, Mas Kala udah mengajak saya bicara."
Malam itu ... ini pasti merujuk pada pertemuan pertama mereka di jembatan penyeberangan. Tapi, kenapa Kinara berterima kasih? Apakah gadis usil ini sebenarnya memang berniat untuk lompat dari atas jembatan penyeberangan waktu itu?
"Kamu nggak-"
"Enggak, Mas Kala ... " sela Kinara, yang seolah tahu apa isi kepala Sekala saat ini.
"Malam itu saya beneran nggak ada niat untuk melompat, kok. Saya masih mau hidup yang lama, untuk mewujudkan beberapa mimpi saya yang sederhana."
"Syukurlah kalau begitu," Sekala menarik pandangannya, melemparkannya jauh ke arah jalanan yang masih saja dipenuhi kendaraan.
Kerap kali Sekala bertanya-tanya, apa yang sekiranya orang-orang itu cari di dunia ini? Apakah mereka sama seperti dirinya, yang tidak punya rumah untuk pulang sehingga lebih suka mengembara di jalanan?
"Berkat Mas Kala, impian saya bertambah satu." Ucap Kinara, membuat Sekali kembali menoleh ke arahnya.
Tapi, kini justru Kinara yang terlihat melemparkan tatapannya ke arah jalanan.
"Saya mau menjadi seperti Mas Kala, yang mandiri dan menghidupi diri sendiri serta membantu segelintir orang mendapatkan cara untuk mencari nafkah."
Sekala mendengarkan omongan Kinara dengan sabar, sembari meneliti setiap sudut wajah tampak samping gadis itu.
"Karena Mas Kala telah membantu saya menemukan satu lagi alasan untuk bertahan hidup, saya berterima kasih."
Saat Kinara menoleh dan tatapan mereka bertemu serta bibir-bibir gadis itu terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman yang begitu cantik, Sekala diam-diam berbisik kepada dirinya sendiri. Mengatakan bahwa bukan cuma Kinara saja yang seharusnya merasa berterima kasih.
Sebab malam itu, kalau tidak bertemu dengan gadis ini, Sekala mungkin sudah mati.
Iya, bukan Kinara yang berniat lompat dari jembatan penyeberangan malam itu, melainkan dirinya.
Berat di kepala dan suara berisik yang terus mengganggu selama berhari-hari, membuat tidurnya tidak nyenyak dan apapun yang dia telan berakhir dimuntahkan kembali telah berhasil membuat Sekala berpikir bahwa mati mungkin akan jadi jalan yang terbaik.
Lalu muncullah Kinara, bagaikan malaikat yang dikirimkan oleh Tuhan untuk meyakinkan dirinya bahwa di dunia ini, masih ada hal-hal yang patut dia syukuri. Bahwa hidup tidak semenyedihkan itu, jika kita mau merubah sedikit saja sudut pandang kita terhadap alur hidup yang sedang kita jalani.
__ADS_1
"Saya juga berterima kasih karena kamu memutuskan untuk tetap hidup," ucap Sekala, ditutup dengan sebuah senyum manis dan sebuah tepukan pelan di kepala Kinara.
Bersambung