
Setengah sebelas malam, Kinara masih betah duduk di meja belajar. Matanya fokus menatapi layar laptop yang menampilkan berbagai lowongan pekerjaan dengan berbagai bidang dan gaji yang ditawarkan.
Sudah sejak satu setengah jam Kinara menghabiskan waktu untuk mencari iklan lowongan pekerjaan untuk dirinya. Tapi dari sekian banyak yang dia temukan di internet, tidak satu pun yang sesuai dengan bidangnya. Selain itu, kebanyakan dari mereka membutuhkan pekerja purnawaktu yang bisa bekerja selama minimal 8 jam dan selama 5 dari tujuh hari kerja. Sedangkan Kinara yang masih berstatus sebagai mahasiswa tentunya tidak dapat mengambil pekerjaan semacam itu karena akan mengganggu jadwal kuliahnya.
Kinara mendesah kasar. Mengusak rambutnya frustasi sembari memejamkan matanya erat-erat. Ia pusing, jujur saja. Pikirannya kembali terbagi menjadi beberapa bagian. Dan di tengah semrawutnya isi kepala, Kinara sempat terpikirkan sesuatu yang semakin membuatnya galau berat.
"Apa aku ambil cuti kuliah aja, ya?" gumamnya, menyuarakan isi kepala yang sedari tadi ribut minta dikeluarkan dari tempatnya.
Tapi sedetik kemudian, Kinara menggelengkan kepala kuat-kuat. Dengan tegas menolak ide itu karena kalau Mama dan Papa tahu tentang idenya ini, mereka pasti akan kecewa.
Papa bahkan sudah menyiapkan dana pendidikan untuk dirinya, walau pada akhirnya dia tolak dan dia bersikeras untuk membiayai kuliahnya sendiri mulai sekarang. Kinara tidak mau impian sederhana Mama dan Papa untuk melihatnya wisuda tepat waktu kandas begitu saja.
Lelah mencari dan tak menemukan jalan keluar, Kinara mematikan laptop dan juga lampu kecil di meja belajarnya. Dengan langkah yang diseret, Kinara berjalan menuju kasur.
Kinara duduk di tepian kasur sembari menarik dan membuang napas secara teratur demi mengusir keresahan yang mulai kembali menguasai dirinya. Lalu, di tengah usahanya itu, Kinara menyadari satu hal: bahwa hidup memang bisa jadi sesulit ini untuk beberapa orang. Dia terlalu terlena pada kesenangan dan kenyamanan yang Tuhan berikan selama ini, sampai-sampai lupa kalau dunia itu berputar dan ketika sampai di bagian di mana dia harus berada di putaran bawah, Kinara tidak mempersiapkan diri.
__ADS_1
Menghela napas menjadi satu-satunya hal yang bisa Kinara lakukan saat berbagai kalimat positif yang berusaha dia datangkan ke kepala sudah tidak mempan lagi. Larut malam memang waktunya pemikiran-pemikiran negatif datang menyerang, jadi dari pada dia terbawa oleh pikiran-pikiran negatif itu dan berakhir menjadi manusia menyedihkan, Kinara buru-buru merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Langit-langit di kamarnya masih tampak bersih. Nanti, kalau sudah ada waktu luang, dia mungkin akan memaksa Atha untuk menemaninya membeli beberapa stiker untuk dipasang di sana. Stiker bintang-bintang seperti yang Papa pernah belikan untuknya, atau sekalian saja stiker bergambar seluruh jajaran tata surya. Agar saat pikiran-pikiran buruk mulai datang mengerubungi kepalanya seperti saat ini, Kinara bisa setidaknya mencari ketenangan dari menatapi langit-langit kamarnya.
Detik jarum jam yang terdengar nyaring membawa Kinara semakin jauh dari alam sadar. Ketika malam semakin larut dan di luar hujan turun tanpa diprediksi, Kinara jatuh terlelap bersama dengan masalah yang masih harus dia cari jalan keluarnya.
...****************...
Pagi-pagi sekali, setelah menunaikan sholat subuh berjamaah dengan Papa dan Mama, Kinara melenggang pergi keluar rumah dengan setelan olahraga. Earphone terpasang di telinga, lagu-lagu energik penuh semangat langsung memenuhi rongga telinga, siap menemani Kinara membakar lemak-lemak jahat di tubuhnya sekaligus membantu mengenyahkan pikiran-pikiran buruk yang masih tersisa.
Kinara mengayunkan kakinya, berlari kecil mengelilingi komplek yang ternyata sudah ramai di jam 5 pagi. Ada banyak lalu-lalang kendaraan bermotor dengan muatan berbagai macam barang dagangan. Kinara berasumsi bahwa orang-orang itu adalah para pedagang yang sedang bersiap membuka lapak di pasar.
Kinara masih terus mengayunkan langkah. Lagu yang terputar dari ponsel miliknya semakin membantu membakar semangat di dalam dirinya yang kemarin sempat meredup.
Selagi lagu masih berputar dan terus berganti, jauh di dalam kepala, Kinara mulai menyusun satu persatu rencana baru. Dia mungkin bisa mencoba mencari pekerjaan paruh waktu dari cafe dan berbagai tempat makan yang tersebar di area kampus. Selain karena jaraknya yang dekat, Kinara juga bisa menyesuaikan dengan jadwal kuliahnya sehingga tidak akan ada yang tertanggu.
__ADS_1
Sebenarnya, Kinara mendapatkan ide itu dari Atha. Tadi sebelum ia menunaikan sholat subuh, lelaki itu sempat menelepon guna membangunkannya untuk beribadah. Atha memang serajin itu dalam mengingatkannya soal ibadah. Walau pun kelihatannya sedikit urakan, tetapi Atha tidak pernah lupa dengan kewajibannya bertemu Sang Pencipta. Itu juga yang menjadi salah satu alasan mengapa Kinara begitu menggilai seorang Atharya Danapati.
Sebelum telepon ditutup, mereka sempat mengobrol sebentar soal rencana ke depan yang akan Kinara ambil. Dan setelah serangkaian kerisauan yang Kinara utarakan kepada Atha, laki-laki itu mulai membagikan ide-ide yang tersimpan di dalam kepala.
Sebenarnya Atha sempat menawarkan bantuan untuk meminta lowongan pekerjaan kepada ayahnya, tetapi Kinara jelas menolak mentah-mentah ide itu karena dia masih mau mendapatkan pekerjaan dengan usahanya sendiri.
Sekitar dua puluh menit berlari, Kinara mulai merasa lelah. Tubuhnya mulai terasa panas dan bulir keringat mulai menetes membasahi wajah dan seluruh tubuhnya.
Akhirnya, Kinara memutuskan untuk berhenti sejenak. Ia duduk di trotoar sembari menyelonjorkan kaki. Mengibaskan tangan di depan wajah beberapa kali demi mengusir gerah yang menyergap tanpa henti.
Lagu yang terputar dimatikan, earphone dilepas dari telinga dan Kinara mulai sibuk menekuri ponselnya lagi. Dari sana, Kinara mencoba mencari info tentang cafe-cafe yang ada di sekitar kampus karena kata Atha, banyak juga mahasiswa di kampus mereka yang bekerja paruh waktu di sana. Ada yang menjadi barista, ada juga yang datang setiap malam minggu untuk mengisi live musik di sana.
Perhatian Kinara tertuju pada satu buah cafe yang letaknya agak menjorok ke dalam jika dibandingkan dengan cafe-cafe lain di sekitar. Tampak depan cafe itu memperlihatkan halaman yang luas sehingga bisa digunakan untuk parkir beberapa mobil dan motor.
Tidak seperti cafe-cefe di sebelah kanan-kirinya yang bergaya kekinian favorit anak muda, cafe tersebut justru tampak elegan dengan caranya sendiri. Di sekitar cafe itu berdiri tegak berbagai macam pepohonan hijau. Namun yang paling menarik perhatian Kinara adalah sebuah pohon Flamboyan dengan bunga-bunga kemerahan yang mekar dengan cantik. Sekali pandang saja, Kinara sudah jatuh cinta pada cafe tersebut.
__ADS_1
"Oke, kamu adalah target pertama aku." Ucapnya sembari menunjuk foto cafe tersebut. "Tolong berbaik hati, ya. Karena aku sudah jatuh cinta sama kamu." Sambungnya.
Senyum tipis terbit seiring dengan semangatnya yang kembali hidup. Demi Mama, demi Papa dan juga demi hidupnya sendiri. Kinara akan menjadi pekerja keras untuk memperbaiki hidup mereka.