
Matahari sudah perlahan bergerak ke sisi barat ketika Kinara dan Lestari ditinggalkan hanya berdua saja di rumah. Papa dan Sekala pamit ke masjid untuk sholat Ashar berjamaah di sana, sedangkan Mama dan ibunya Lestari langsung melesat keluar setelah menunaikan sholat Ashar di rumah, katanya hendak membeli beberapa perlengkapan untuk persiapan membuka usaha laundry yang rencananya akan diresmikan minggu depan.
"Kakak," Lestari yang semula anteng menggambar di meja ruang tamu, tiba-tiba beringsut ke arah Kinara yang sedang duduk di atas sofa sembari menonton televisi dan nyemil biskuit Regal.
"Apa?" Kinara menoleh sebentar, kemudian kembali menatap layar televisi karena serial drama yang sedang dia tonton sedang menampilkan adegan yang seru.
"Kakak kenapa nggak pacaran sama Mas ganteng?"
"Uhuk!" Kinara tersedak remahan biskuit Regal saat pertanyaan polos itu meluncur begitu saja dari bibir Lestari. Dia terbatuk-batuk, gelagapan mencari air minum yang sialnya lupa dia siapkan sejak awal.
Masih dengan terbatuk-batuk dan hidung yang mulai terasa perih, Kinara berlari menuju dapur untuk mencari air minum. Biasanya dia tidak terlalu suka minum air dingin, tetapi karena panik, dia asal comot saja botol air dalam kulkas dan langsung minum dari sana tanpa mau repot-repot menuangkan air tersebut ke dalam gelas.
Batuknya tidak seketika itu juga berhenti setelah meminum air. Butuh beberapa waktu sampai batuknya sepenuhnya reda dan dia bisa mulai mengatur napasnya kembali. Untung saja remahan biskuit itu tidak masuk ke dalam saluran pernapasannya. Karena kalau sampai itu terjadi, akibatnya bisa fatal.
"Ngapain?" seru sebuah suara tiba-tiba, membuat Kinara terlonjak kaget sampai botol air minum yang dia pegang jatuh ke lantai dan seketika itu juga lantai dapur berubah menjadi becek.
"Astaghfirullah!!!" pekiknya. Antara terkejut akan kedatangan suara yang tiba-tiba itu, dan juga terkejut karena kulit kakinya tersiram air dingin yang tumpah.
"Astaga, Kin," keluh suara itu lagi.
Kinara membalikkan badan, langsung melotot pada sosok Sekala yang berdiri beberapa langkah darinya dengan tampang tak berdosa.
"Mas Kala ngagetin!" seru Kinara. Dia merasakan jantungnya nyaris copot, dan napas yang sudah sudah payah dia atur jadi kembali tidak beraturan.
"Kamu tuh yang melamun, saya sama Bapak dari tadi ucap salam, tapi kamu nggak nyahut." Sekala malah balik mengomel. "Terus itu juga kenapa kamu tinggalin Lestari sendirian di depan? Kalau dia diculik gimana?"
"Saya tadi keselek, makanya ke sini buat ambil minum." Meskipun kesal, Kinara tetap berakhir menjelaskan mengapa dirinya bisa ada di dapur, meninggalkan Lestari sendirian di ruang tamu dengan pintu depan yang terbuka lebar. "Lagian, nggak akan ada yang mau culik Lestari, dia cerewet," sambungnya, kemudian dia berlalu menuju kamar mandi, untuk kembali tak lama kemudian sambil membawa alat pel.
Ketika Kinara menyandarkan gagang pel ke meja makan kemudian berjongkok untuk mengambil botol air minum yang jatuh, Sekala berjalan mendekat lalu meraih alat pel tersebut tanpa sepengetahuan Kinara.
"Awas, biar saya aja yang pel," ucapnya, sembari menarik pelan lengan Kinara agar gadis itu segera berdiri dan menyingkir dari lantai yang becek dan licin.
__ADS_1
"Nggak usah, Mas Kala, saya yang tumpahin airnya, jadi saya yang harus bereskan." Kinara hendak merebut kembali alat pel dari tangan Sekala, tetapi tubuhnya malah berakhir limbung ketika Sekala menggerakkan tangannya untuk menyembunyikan alat pel itu ke belakang tubuhnya.
Alhasil, bukannya berhasil merebut kembali alat pel dari tangan Sekala, Kinara malah berakhir nemplok di tubuh Sekala.
Selama beberapa detik, tidak ada di antara mereka yang sadar bahwa kini tubuh mereka benar-benar menempel, sama sekali tidak ada sekat yang memisahkan. Sampai kemudian, ketika otak mereka sama-sama sudah kembali bekerja normal, mereka sama-sama bergerak mundur.
"Maaf," cicit Kinara, sementara Sekala yang sama-sama terkejut cuma bisa berdeham.
"Kamu ... kamu susulin Lestari aja deh, di depan." Titah Sekala, dengan tatapan yang jatuh ke lantai, sama sekali tidak berani beradu tatap dengan Kinara.
"I-iya," Kinara tergagap. Lalu sebelum suasana jadi semakin canggung, dia buru-buru berjalan kembali ke ruang tamu.
Duh, Kinara ... ceroboh banget sih jadi orang? Rutuknya kepada diri sendiri selagi kakinya melangkah menghampiri Lestari.
Baik Kinara dan Sekala sama-sama tidak tahu, kalau tadi sewaktu tubuh mereka bertubrukan, Papa sedang dalam perjalanan menuju dapur, dan lelaki itu terpaksa menghentikan langkahnya karena matanya menangkap adegan yang sinetron abis tepat di depan matanya.
Normalnya, lelaki itu akan mencak-mencak, buru-buru berlarian untuk menggeret putrinya menjauh dari laki-laki yang bukan pasangan sah-nya.
...****************...
Harapan Kinara untuk segera mengusir Sekala dari rumah setelah insiden tabrakan mereka seketika pupus tak bersisa saat Papa justru dengan entengnya menyuruh lelaki itu untuk tetap tinggal sampai nanti malam.
Alasannya sih supaya mereka bisa sholat Maghrib dan Isya berjamaah di masjid, padahal Kinara tahu ada maksud lain yang sedang coba Papa sembunyikan dibalik alasan sholat tersebut. Dia cuma tidak tahu saja apa alasan Papa yang sebenarnya itu.
Dan bagian tersialnya adalah, Sekala setuju. Lelaki itu menurut saja, dan langsung mengiyakan permintaan Papa tanpa perlu ada adegan negosiasi atau basa-basi untuk menolak secara halus.
Entahlah, kenapa koneksi antara dua laki-laki beda generasi itu bisa jadi sedekat ini hanya dalam waktu singkat.
"Kalau malam minggu, biasanya ada pasar malam di persimpangan jalan sana. Kamu mau ke sana?" tawar Papa setelah kembali dari dapur dengan membawa sekaleng kerupuk udang.
Kinara tahu persis pertanyaan itu tidak ditujukan untuk dirinya, melainkan untuk Sekala yang kini asik mengajari Lestari pelajaran matematika.
__ADS_1
"Pasar malam?" Sekala berhenti sejenak dari kegiatannya dan memfokuskan perhatian pada Papa yang kini duduk di atas sofa sembari nyemil kerupuk udang.
Papa cuma manggut-manggut karena mulutnya penuh.
Sekala tidak langsung menjawab, malah melirik ke arah Kinara yang duduk di sebelah Papa, seolah ingin meminta persetujuan.
Namun Kinara tidak bersaksi apa-apa, raut wajahnya pun terlalu sulit untuk dibaca. Jadi, Sekala kembali menatap Papa kemudian menganggukkan kepala.
"Boleh, sekalian ajak Lestari main," ucap Sekala, lalu dia menoleh kepada Lestari. "Kamu mau nggak?" tanyanya pada bocah itu.
Ditawari ke pasar malam, anak mana yang akan menolak? Maka Lestari mengangguk dengan semangat. Matanya berbinar terang dan senyumnya terbit begitu lebar.
"Oke, nanti malam kita ke sana. Aku traktir kamu sepuasnya," Sekala ikutan tersenyum, lalu menepuk-nepuk kepala Lestari pelan.
"Sekalian ajakin anak gadis saya, nih. Kasihan, kurang hiburan." Celetuk Papa tiba-tiba, membuat Kinara seketika menoleh dan melotot ke arahnya.
Sekala menjauhkan tangannya dari kepala Lestari dan kembali mencurahkan perhatian kepada Kinara. Senyumnya terkulum saat menemukan samar-samar pipi gadis itu bersemu merah.
"Boleh?" tanyanya, setelah kembali menatap Papa.
"Boleh, asal pulangnya nggak lebih dari jam sepuluh malam." Papa memberi ijin.
"Gimana, Kin? Mau?" pertanyaan itu dia tujukan kepada Kinara, yang meskipun gadis itu tidak mengatakan iya, tetapi dari sorot matanya jelas terlihat kalau tidak akan ada penolakan yang keluar dari bibirnya.
"Oke, nanti malam kita ke sana. Bertiga." Finalnya.
"Saya belum jawab!" seruan Kinara itu dia abaikan, dan dia kembali asik menekuri deretan angka yang tertulis di buku Lestari.
Lagi-lagi, gelenyar aneh ini mampir ke dadanya, membuat senyumnya tidak lagi bisa ditahan dan dia biarkan terkembang apa adanya.
Bersambung
__ADS_1