After The Rain

After The Rain
Menawarkan Bantuan


__ADS_3

"Dadah!"


"Bye!" Kinara membalas lambaian tangan Lestari sebelum melangkah meninggalkan pelataran rumah gadis kecil itu.


Di sepanjang langkahnya kembali menuju rumah, Kinara tidak henti-hentinya tersenyum. Kembali mengingat momen yang telah dia lewati bersama Lestari dan ibunya.


Dari percakapan yang terjadi di antara mereka selama hampir dua jam itu, Kinara mendapatkan begitu banyak pelajaran.


Sinta, ibu Lestari bercerita bahwa dia mengandung Lestari saat usinya baru sembilan belas tahun. Suaminya yang kala itu terpaksa menerima perjodohan mereka enggan tinggal di rumah dan lebih memilih tinggal di rumah pacarnya, sehingga Sinta terpaksa menjalani kehamilannya seorang diri. Dia seorang yatim piatu, kedua orang tuanya meninggal ketika dia masih di bangku sekolah menengah pertama dan dia tidak memiliki sanak saudara.


Sampai ketika waktunya dia harus melahirkan pun, Sinta melewati momen itu sendirian. Pihak keluarga dari sang suami tidak mau lagi ikut capur karena rupanya sang suami telah menghamili pacarnya dan pihak keluarga memutuskan untuk menikahkan mereka, di saat Sinta dan suaminya masih terikat pernikahan secara sah. Sejak pernikahan itu, Sinta sepenuhnya memutuskan hubungan dengan sang suami dan keluarganya, nekat memboyong Lestari ke Jakarta meskipun tanpa bekal apa-apa. Cuma modal nekat, melakukan pekerjaan apa pun demi menghidupi dirinya dan si bayi kecil Lestari.


Bertahun-tahun Sinta dan Lestari hidup hanya berdua di Jakarta, dengan status Sinta yang masih menjadi seorang istri yang tidak pernah dinafkahi. Sinta sama sekali tidak tahu lagi kabar sang suami, dan dia selalu kebingunan untuk menjelaskan kepada Lestari tentang di mana keberadaan sang ayah.


Beruntung (entah sebenarnya bisa dikatakan beruntung atau tidak) Lestari tidak pernah rewel menanyakan keberadaan ayahnya. Bahkan ketika dia hanya memberi tahu Lestari bahwa ayahnya pergi jauh, anaknya itu tidak pernah bertanya lebih. Seolah gadis kecil itu mengerti bahwa hubungan ayah dan ibunya tidak baik dan dia tidak ingin membuat sang ibu bersedih jika terus bertanya macam-macam.


Cerita yang Sinta sampaikan benar-benar sedih, tetapi perempuan itu tidak pernah berhenti menyunggingkan senyum di sepanjang ceritanya. Seolah, dia sudah lama berdamai dengan segala luka dan penderitaan yang Tuhan berikan untuk dirinya dan Lestari. Seolah dia tahu, bahwa Tuhan telah menyiapkan sesuatu yang baik di balik ujian yang dia terima.


Dari kisah hidup Sinta dan Lestari, Kinara belajar untuk menerima setiap ketetapan dan ketentuan yang sudah Tuhan gariskan untuk hidupnya, sembari terus berusaha melakukan yang terbaik dan tak henti-hentinya melantunkan doa dengan keyakinan bahwa selalu ada hal baik yang akan terjadi setelah ujian yang dia terima.


Kinara beruntung bertemu dengan Sinta dan Lestari. Seperti bagaimana dia beruntung bertemu orang-orang lain yang banyak mengajarinya tentang hidup.


Baru sampai langkahnya di pelataran, Kinara terpaksa berhenti mengayunkan kaki saat matanya menangkap satu mobil yang tidak asing sedang terparkir di halaman rumahnya. Itu adalah mobil Atha.

__ADS_1


Setelah terdiam cukup lama, Kinara melanjutkan langkah. Dia berhenti lagi di depan pintu, mengintip dari celah yang terbuka. Di sofa, ada Atha dan Dahayu yang duduk bersebelahan. Di atas meja sudah tersaji minuman dan camilan, tetapi tidak ada Mama di sana, entah ke mana perginya wanita itu.


Lalu, meskipun perasaannya kembali tidak keruan saat mengingat kejadian kemarin, Kinara tetap melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.


Atha dan Dahayu yang semula mengobrolkan suatu praktis berhenti dan secara serempak menoleh ke arahnya.


Tak butuh waktu lama, Dahayu langsung bangkit dari duduknya dan berlari menghampiri. Gadis itu menarik tubuhnya, memeluknya erat seperti ini adalah pertemuan mereka setelah sekian lama.


Kinara terdiam di tempat. Membiarkan pelukan Dahayu kian erat sementara tatapannya terpaku pada Atha yang masih duduk di tempatnya. Ekspresi yang tampak di wajah pemuda itu benar-benar sulit ditebak.


"Lo nggak apa-apa?" tanya Dahayu tepat setelah dia melepaskan pelukan.


"Apanya?" Kinara balik bertanya.


"Soal ... " Dahayu menggantungkan kalimatnya. Lalu dia menggeleng, menarik lengan Kinara dan mengajaknya duduk di atas sofa.


Kinara tidak lantas menjawab. Dia menghela napas panjang, melirik Atha yang duduk di sebelah kanannya seolah sedang menghakimi lelaki itu karena sudah menceritakan soal masalahnya kepada Dahayu. Kemudian, Kinara menoleh kembali kepada Dahayu dan menatapnya lekat-lekat.


"Nggak perlu bantu apa-apa, cukup *support *aku secara mental aja, itu udah cukup."


Mendengar jawaban yang sebenarnya sudah dia prediksikan itu tentu tidak bisa membuat Dahayu puas. Gadis itu lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tas yang tergeketak di sofa lain. Dalam sekejap, raut wajahnya berubah serius dan Kinara bisa melihat bibir gadis itu berkomat-kamit tanpa suara selagi jemari lentiknya menari-nari di atas keypad.


Tidak sampai satu menit kemudian, Dahayu kembali menyimpan ponselnya di atas meja lalu sepenuhnya mencurahkan perhatian kepada Kinara.

__ADS_1


"Ngapain?" tanya Kinara yang curiga kalau Dahayu baru saja melakukan sesuatu yang berkaitan dengan dirinya.


"Minta Haris cariin kerjaan buat bokap lo." Dahayu menjawab cepat, seolah tidak tahu kalau jawabannya itu hanya akan membuat Kinara mencak-mencak. Pikirnya, tidak ada salahnya untuk mencoba. Soal Kinara akan menerima atau menolak bantuannya, itu urusan belakangan. Yang penting dia sudah mengusahakan yang terbaik sebagai teman.


Dan seperti yang sudah dia duga, Kinara jelas menolak ide tersebut. Gadis itu menggelengkan kepala pelan, meraih ponsel milik Dahayu dan langsung menyodorkan benda itu kepada pemiliknya.


"Bilang sama Om Haris, papa aku udah dapat kerjaan." Pintanya kepada Dahayu.


Namun gadis itu malah terdiam dan melayangkan tatapan tidak peraya ke arahnya.


"Buruan." Desak Kinara.


Alih-alih menuruti keinginan Kinara, Dahayu malah meraih dan menyembunyikan ponselnya di belakang tubuh. Lalu Dahayu melipat kedua tangan di depan dada dan menatap Kinara serius.


"Sekali ini saja," ucapnya. "Cukup sekali ini aja lo terima bantuan dari gue."


"Ay," panggil Kinara pelan. Diraihnya tangan Dahayu, dibawa ke atas pangkuan dan dia tepuk-tepuk pelan punggung tangan halus itu. "Keberadaan kamu di samping aku aja udah merupakan sebuah bantuan. Jadi, kamu nggak perlu menawarkan bantuan apa-apa lagi karena kehadiran kamu aja udah cukup ."


"Tapi-"


"Jangan dipotong, aku belum selesai." Kinara cemberut, tapi sedetik kemudian, dia mengembangkan senyum. "Kamu dan Atha adalah bantuan paling berarti yang Tuhan hadirkan buat aku. Kalau nggak ada kalian, aku mungkin nggak akan bisa berdiri setegak ini sekarang. Jadi, tolong jangan berpikiran terlalu rumit untuk membantu aku. Cuz you've done the best for  me and that's enough."


Bukan cuma Dahayu yang dibuat terdiam dengan perkataan Kinara. Atha, yang sedari tadi cuma diam menyaksikan obolan sepasang sahabat itu pun semakin dibuat mengatupkan bibir rapat-rapat. Dadanya terasa sesak saat dia menyadari betapa baiknya hati Kinara, dan dia mungkin akan mematahkan hati itu karena kesalahan yang tidak sengaja dia perbuat.

__ADS_1


"Cukup kalian *stay *di samping aku, itu udah cukup." Kata Kinara sembari meraih tangan Atha. Kini, di dalam genggamannya ada dua tangan milik dua orang yang paling dia sayang setelah Papa dan Mama.


Bersambung


__ADS_2