
Setengah sebelas malam, Kinara sudah bersiap untuk tidur dan hendak mematikan lampu ketika ponselnya berdering nyaring.
Kinara meraih ponsel di atas nakas untuk memeriksa siapa yang meneleponnya selarut ini. Dan keningnya dibuat berkerut saat menemukan nama Atha terpampang di sana. Dia heran, terlebih saat menemukan bahwa pemuda itu kini sedang meneleponnya melalui sebuah panggilan video.
Meskipun terheran-heran, Kinara tetap menggeser log hijau agar terlepon tersambung.
Dalam waktu kurang dari satu detik, wajah Atha sudah terpampang nyata di layar. Dari background yang terlihat, pemuda itu sedang berada di kamarnya, tepatnya di atas kasur dengan penerangan yang super duper cerah untuk ukuran orang yang sudah bersiap untuk tidur.
"Halo, sayang!" sapa Atha girang. Pemuda itu bahkan melambaikan tangan.
"Halo juga," Kinara membalas lambaian tangan Atha. "Ada apa telepon malam-malam? Tumben?" tanyanya sembari menyandarkan punggungnya di headboard ranjang dan menarik selimut sampai ke pinggang.
"Kangen kamu." Kata Atha sembari cengengesan. Dia awalnya duduk bersandar seperti Kinara, tetapi kemudian dia merubah posisinya menjadi tengkurap dengan menindih sebuah guling yang dia peluk erat-erat menggunakan satu tangan.
Kinara cuma tersenyum menanggapi perkataan Atha. Kalau sedang mode clingy seperti ini, berarti Atha sedang merindukan ibunya. Kalau mereka sedang berdekatan, Kinara biasanya akan memeluk pemuda itu erat-erat sembari mengusap kepalanya lembut. Tetapi berhubung mereka sedang berjauhan, Kinara cuma menawarkan telinga untuk mendengar keluh kesahnya.
"Kamu udah mau tidur, ya?" tanya Atha.
Kinara menggangguk. "Tapi nggak apa-apa, aku temenin kamu sampai kamu ngantuk." Katanya sebelum bibir tebal Atha memberengut.
"Nggak apa-apa?"
"Iya, nggak apa-apa. Kan, aku sayang kamu."
Setelah mengatakan itu, Kinara terkikik geli. Rasanya agak aneh mendengar dirinya sendiri berkata demikian kepada Atha. Mungkin karena love language yang dia miliki lebih ke arah quality time dan act of service, jadi dia juga tidak terlalu terbiasa mengungkapkan perasaannya melalui kata-kata.
"Ngomongnya sambil cekikikan, berarti nggak serius." Kata Atha, pura-pura merajuk. Padahal sebenarnya, dia sedang menahan diri untuk tidak salto di depan Kinara saking senangnya dia karena akhirnya pacar tercintanya yang susah sekali bilang sayang itu akhirnya mau membuka mulutnya untuk bicara sesuatu yang sudah lama ingin dia dengar.
"Biar kelihatan serius, aku harusnya gimana?" tanya Kinara dengan senyum yang mulai terukir.
"Harus diakhiri dengan senyum manis dan tatapan mata penuh cinta. Yang tadi kamu bilang itu kayak lagi bercandain anak TK biar berhenti nangis karena mainnya direbut sama temen sebangkunya."
Kinara manggut-manggut. Lalu, dia mencoba mempraktekkan apa yang sudah Atha ajarkan kepada dirinya.
__ADS_1
"Aku sayang kamu, Atharya Danapati yang paling ganteng se-fakuktas Teknik Universitas Neo City." Katanya, dengan suara lembut, dibubuhi senyum manis dan tatapan teduh yang lekat mengunci manik mata Atha yang berbinar cerah.
Tidak ada kekehan di akhir kalimatnya. Meksipun sebenarnya, dia masih agak merasa aneh untuk mengatakan hal-hal tersebut. Dia berusaha untuk memperlakukan Atha sesuai dengan apa yang laki-laki itu butuhkan. Sesuai dengan love language yang laki-laki itu miliki. Sebab, selama tiga tahun ini, Atha juga telah melakukan banyak hal untuk dirinya.
Bukan, ini bukan merupakan bentuk balas budi. Tetapi lebih kepada penerapan aturan give and take yang secara tidak langsung sudah menjadi aturan dasar dalam berhubungan dengan sesama manusia. Baik itu dalam hubungan pertemanan, percintaan, ataupun kepada sesama anggota keluarga.
"Ini baru namanya serius." Atha tersenyum puas. Kinara juga ikutan tersenyum. Karena, akhir-akhir ini, dia menemukan bahwa tidak ada yang lebih bisa menyentuh perasaannya selain melihat orang-orang di sekitarnya tersenyum.
Sejak kehidupan ekonomi mereka berubah dan Kinara mulai bisa menerima keadaan, dia mulai menyadari bahwa kebahagiaannya datang dari hal-hal yang jauh lebih sederhana ketimbang sebelumnya. Jadi, Kinara mau menikmati itu. Dia mau menikmati setiap momen indah yang masih Tuhan ijinkan untuk terjadi dalam hidupnya.
"Nara,"
"Ya?"
"I love you."
Lagi-lagi Kinara tersenyum. Akhir-akhir ini, dia juga menemukan Atha lebih vokal dalam menyatakan perasaannya. Pemuda itu jadi lebih sering mengatakan I love you bahkan di waktu-waktu yang tidak pernah dia duga. Di setiap akhir percakapan mereka di telepon, di akhir kalimat dalam pesan yang dia kirimkan, bahkan di tengah-tengah pembicaraan yang masih berlangsung seperti sekarang.
"And you know the answer would never change. I love you too, Atha."
Sebab, dia tidak tahu apa yang akan menyapa mereka esok hari. Bisa saja kebahagiaan yang berlipat-lipat, atau justru kehancuran yang datangnya sama sekali tidak mereka inginkan.
"Ra," panggilnya lagi.
Kinara cuma berdeham, tetapi tatapannya jelas tidak terlepas sedikit pun dari Atha.
"Besok aku jemput kamu, ya? Kita ke kampus bareng." Ajaknya.
Ajakan itu disambut dengan baik oleh Kinara. Gadis itu segera menganggukkan kepala, bahkan tanpa perlu berpikir dua atau tiga kali. Malahan, dia mungkin tidak berpikir sama sekali sebelum menganggukkan kepala. Seolah jawabannya sudah tersedia di otak dan tubuhnya cuma tinggal mengeksekusi apa yang otaknya telah perintahkan.
"Kelas pertama kamu jam berapa?"
"Jam sepuluh. Kamu?"
__ADS_1
"Aku setengah sebelas. Kalau gitu, aku jemput kamu jam tujuh, ya?"
Alis Kinara naik sebelah. "Kok jam tujuh? Nanti kita kelamaan dong di kampusnya."
"Kita nggak langsung ke kampus."
"Terus?" tanya Kinara semakin bingung.
"Temenin aku ke rumah Bunda dulu. Aku pengin ke sana dari kemarin, tapi nggak mau ke sana sendirian."
Ketika mulai membahas soal ibunya, tatapan Atha selalu akan berubah menjadi lebih sendu. Senyum yang terukir di bibirnya juga akan seketika berubah makna. Dan sebagai kekasih yang baik, Kinara akan selalu cepat tanggap.
Maka, tanpa perlu berpikir lebih lama, dia kembali menganggukkan kepala.
"Bunga matahari?" tanyanya kemudian.
Di seberang, Atha mengangguk sembari tersenyum. "Iya, bunga matahari. Kita bawa dua, ya. Satu dari kamu, satu dari aku."
"Iya, nanti kita bawa dua."
"Makasih, Nara." Atha berucap pelan dengan nada super lembut.
"My pleasure, dear." Kinara membalas dengan suara yang tidak kalah lembut.
Kinara tidak akan pernah tahu, bahwa apa yang dia lakukan kini telah berhasil membuat Atha jatuh cinta kepadanya berkali-kali lipat lebih hebat ketimbang sebelumnya.
"Ya udah, aku tutup teleponnya, ya. Good night, Kinara-nya Atha."
"Good night, Atha-nya Kinara. Nggak usah mimpi indah, cukup tidur yang nyenyak karena besok mau ketemu Bunda."
Atha menganggukkan kepala, memberikan sebuah flying kiss sebelum menutup sambungan teleponnya.
Setelah layar ponselnya kembali redup, Kinara segera meletakkan benda itu kembali ke atas nakas kemudian mematikan lampu lalu mulai berbaring.
__ADS_1
Sebelum memejamkan mata, dia tidak lupa membaca doa sebelum tidur, sekalian menyelipkan satu doa baik untuk Atha selaku laki-laki paling dia sayang setelah Papa. Kinara harap, kehidupan pemuda itu akan berjalan baik. Terus berjalan baik, bahkan jika suatu hari nanti, pemuda itu tidak akan berakhir bersama dirinya.
Bersambung