After The Rain

After The Rain
Mereka Terluka


__ADS_3

Ketika matanya menangkap sosok laki-laki yang tadi menghajar Sekala keluar dari pintu ruangan, Kinara langsung menerobos masuk untuk memeriksa kondisi Sekala, untuk memastikan bahwa luka di wajah lelaki itu tidak bertambah sekaligus memastikan bahwa laki-laki yang barusan keluar itu tidak berbuat semakin jauh.


Sementara itu, Sagara masih melangkah dengan emosi yang meluap-luap di dalam dada. Dia masih tidak menyadari adanya Astari dan Andanu, yang kini melayangkan tatapan berbeda ke arahnya. Astari dengan tatapan kerinduan yang tidak bisa lagi disembunyikan, sedangkan Andanu dengan tatapan kebencian yang seolah bisa mencabik-cabik tubuh Sagara menjadi kepingan-kepingan kecil tak berarti.


"Tunggu!"


Sagara merasakan lengannya dicekal seseorang, jadi dia menoleh, hanya untuk dibuat terperanjat saat menemukan Andanu tengah menatap nyalang ke arahnya. Di samping pemuda itu ada perempuan yang dulu begitu dia puja, Astari, yang kini menatapnya dengan mata yang berair.


"Lo ada urusan apa sama Mas Sekala?! Kenapa lo mukulin dia, hah?! Apa hidup lo memang selalu untuk menghancurkan orang lain?!" rentetan pertanyaan Andanu itu sama sekali tidak Sagara gubris, sebab kini fokusnya benar-benar tertuju hanya pada Astari.


Tidak bohong, dia sangat merindukan perempuan ini. Bertahun-tahun tak bersua, perasaannya untuk Astari masih sama besarnya. Meksipun dia tahu, di hati perempuan itu mungkin sudah tidak ada lagi namanya.


"Jawab, bangsat!" Andanu menarik lengan Sagara agar lelaki itu mengalihkan perhatian kepadanya.


Namun, setelah tatapan mereka betulan bertemu, Andanu malah kehilangan kata-kata saat Sagara menepis kasar tangannya, lalu membalikkan badan dan segera mengayunkan langkah untuk pergi dari sana. Seolah ocehan yang dia lontarkan sejak tadi tidak berarti. Seolah kehadirannya hanya serupa butiran debu tak kasat mata.


"Bajingan! Lo belum jawab pertanyaan gue!" Andanu memekik, hendak menyusul Sagara, namun Astari dengan cepat menahan lengannya.


"Kamu tunggu di sini, biar Mbak yang bicara sama dia." Bisik Astari, dengan satu tangan menahan lengan Andanu dan satu tangan yang lain mengusap-usap pelan dada pemuda itu untuk menenangkan emosinya.


Membiarkan Astari bertemu lagi dengan laki-laki yang telah meluluhlantakkan hati perempuan itu, sekaligus menghancurkan kehidupan mereka, bukanlah sesuatu yang bagus. Jadi, Andanu menggeleng keras tanpa perlu banyak pertimbangan.


"Nggak ada. Mbak nggak boleh terlibat lagi sama dia,"


"Nu," Astari memelas. "Sekali aja, biarin Mbak ketemu sama dia untuk meluruskan sesuatu."


"Nggak ada yang perlu diluruskan lagi, Mbak. Dia berkhianat, menyia-nyiakan kepercayaan yang udah Mbak kasih dan menghancurkan hidup kita tanpa sisa. Bajingan itu nggak seharusnya masih hidup di dunia. Dan ... dia seharusnya nggak muncul di hadapan kita lagi, terlebih sambil menghajar Mas Sekala kayak tadi."


"Mbak akan tetap ketemu sama dia, Nu."


"Mbak!" Andanu berteriak. Kemudian, setelah dia menyadari bahwa raut wajah Astari berubah setelah dia teriaki, Andanu mengembuskan napas kasar. Tubuhnya berbalik, rambutnya dia jambaki sendiri dan wajahnya dia usap kasar.


Lagi-lagi, dia ada di fase ini. Fase di mana dia tidak bisa mengontrol emosi dan berteriak di depan Astari, padahal jelas-jelas dia tahu kakaknya itu tidak suka diteriaki. Dan lagi-lagi, semua ini karena laki-laki bajingan bernama Sagara itu.


Setelah kendali atas emosinya kembali, Andanu berbalik lagi menatap Astari, yang kini terlihat beribu kali lebih rapuh ketimbang sebelumnya.


"Maaf, aku nggak bermaksud bentak Mbak. Aku cuma-"


"Iya, Mbak tahu."


"..." Andanu membisu.


"Sekarang, tolong kasih Mbak kesempatan untuk ketemu sama Saga. Sekali aja, Nu. Mbak janji, setelah ini, nggak akan lagi Mbak cari-cari dia."


Demi Tuhan! Andanu tidak rela membiarkan Astari terlibat dengan Sagara lagi. Tetapi, saat melihat betapa nelangsanya Astari saat ini, Andanu merasa tidak punya pilihan selain menganggukkan kepala dengan berat hati.


"Sekali ini aja. Setelah itu, apapun yang terjadi, tolong anggap manusia itu udah mati."


Astari tidak tahu apakah dia akan bisa menepati janjinya kepada Andanu. Tetapi, dia tetap menganggukkan kepala. Sebab, dia hanya perlu memastikan satu hal, dan setelah itu dia benar-benar akan menarik diri dari Sagara. Melupakan segala kenangan yang terajut di antara mereka untuk kemudian menjalin kehidupan yang baru.


Usai mendapat izin dari Andanu, Astari buru-buru melangkah keluar, berharap Sagara masih ada di luar cafe—atau setidaknya belum pergi terlalu jauh.


Astari mengedarkan pandangan, menembus kegelapan malam yang diselimuti gerimis tipis, untuk kemudian menemukan Sagara tengah berdiri di samping bangunan cafe, menyakui kedua tangannya dengan tatapan yang terlempar jauh ke atas—pada langit gelap tak berbintang.


"Ga," dengan suara yang bergetar, Astari memanggil nama lelaki itu.


Yang dipanggil menoleh. Tatapan mereka bertemu, terpaku selama tiga puluh detik penuh sebelum akhirnya Astari menarik diri lebih dulu, hanya untuk memberanikan diri mengambil langkah mendekat ke arah laki-laki yang sampai saat ini masih dia cintai setengah mati.


Sesampainya di hadapan Sagara, Astari tidak langsung bicara. Dia malah diam-diam memindai penampilan laki-laki di hadapannya itu. Kalau dilihat-lihat, Sagara menjadi lebih kurus ketimbang saat terkahir kali mereka bertemu. Garis senyum di wajahnya menghilang, tatapan matanya juga berubah seratus delapan puluh derajat dari yang dulu—tidak lagi hangat seperti hari-hari ketika mereka masih saling mencintai.

__ADS_1


Sagara terluka. Itu yang selalu Astari tahu. Namun, sebagai seseorang yang pernah begitu peduli pada laki-laki itu, dia tetap tidak bisa melakukan apa-apa. Sesuatu yang akhirnya dia sesali selama bertahun-tahun, karena membiarkan laki-laki malang ini hidup dalam kesengsaraan, dibenci dan dihujat oleh Andanu atas kesalahan yang tidak benar-benar dia perbuat.


Cerita perselingkuhan antara Sagara dengan perempuan lain hanyalah tipuan, bualan yang sengaja dibuat oleh laki-laki itu sendiri untuk bisa melepaskan diri dari hubungannya dengan Astari. Yang pada saat itu, Astari pun tidak mengerti. Dia tidak paham kenapa Sagara harus berusaha sekeras itu untuk menjauhkan diri, padahal sekalipun laki-laki itu datang padanya dengan penuh luka lebam dan bernanah, dia tetap akan menerima kehadiran laki-laki itu dengan sepenuh hati.


Setelah bertahun-tahun berlalu, dia baru paham bahwa saat itu Sagara hanya tidak ingin membawanya menuju kehancuran. Bahwa laki-laki itu sedang sekarat, dan tidak ingin membuatnya ikut hancur tak bersisa.


"Apa kabar, Saga?" semakin lama, suara Astari semakin bergetar. Tubuhnya juga ikut-ikutan gemetar ketika air mata terus memaksa keluar dari kelopaknya yang lelah.


Di depannya, Sagara masih bisu. Laki-laki itu hanya menatap datar. Menyembunyikan segala perasaan yang bergemuruh di dalam dada dan berusaha tetap tenang mengendalikan diri.


"Kamu ... jangan hancur seperti ini," ucap Astari lagi. Air mata yang dia tahan mati-matian kini menang, menetes satu demi satu hingga tak terasa mulai membasahi pipi.


"Hancur atau nggak, itu nggak ada urusannya sama kamu." Suara Sagara kedengaran asing di telinga Astari. Dulu, nada seperti itu tidak akan keluar untuknya. Yang ada cuma Sagara dengan suara lembut dan nada yang menangkan, tidak dingin seperti sekarang.


Meskipun hatinya kembali terasa ngilu berkat ucapan Sagara, Astari tetap menganggukkan kepala. Dia tahu. Jelas tahu kalau apapun yang terjadi pada hidup Sagara bukan lagi menjadi urusannya sejak lelaki itu memutuskan untuk tidak lagi melibatkannya.


Hanya saja, Astari tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Dia masih mencintai Sagara, masih ingin ikut campur dalam setiap masalah yang mendera laki-laki itu sebab dia sadar Sagara tidak punya siapa-siapa untuk mengeluhkan segala sakit yang lelaki itu punya.


"Masuk. Aku nggak mau kamu ribut sama adikmu cuma karena kamu keras kepala untuk menemui aku,"


"Sebentar aja," sela Astari. "Bisa izinkan aku untuk peluk kamu sebentar aja, Ga? Untuk terakhir kalinya, sebelum aku benar-benar menarik diri sejauh-jauhnya."


Tidak peduli seberapa keras Sagara mencoba untuk merubah diri menjadi sosok dingin yang tak tersentuh, pada akhirnya dia tidak akan bisa menang jika lawannya adalah Astari. Sebab itulah dia memilih pergi jauh, agar hatinya tidak goyah setiap kali mata perempuan itu menatapnya sendu seperti sekarang ini.


Karena, ketika tubuh kecil Astari akhirnya berada di dalam pelukannya tanpa sempat dia tahan, badai di dalam dirinya kembali menggila. Kenangan demi kenangan yang telah mereka lewati bertahun-tahun silam mulai berdatangan, silih berganti serupa cuplikan film yang diputar acak, membangunkan kembali perasaan yang semula dia tidurkan dan sengaja dia kunci rapat di dalam hati.


Pada akhirnya, Sagara kalah lagi, ketika lengan sialannya semena-mena bergerak membalas pelukan Astari.


"Jangan nangis untuk manusia nggak berguna kayak aku." Bisik Sagara setelah sebelumnya hanya terdengar suara isak tangis Astari. "Aku udah terlanjur hancur, jadi udah nggak ada daya lagi untuk melindungi kamu dari apapun." Sambungnya. Usapan kecil dia berikan ke punggung Astari, demi menenangkan badai kecil di dalam diri perempuan itu.


"Aku ... juga udah lama hancur, Ga." Cicit Astari, dengan wajah yang setengah terbenam di dada bidang Sagara.


"Jangan lagi membenci Sekala, karena itu cuma akan bikin kamu semakin habis terbakar dendam. Aku ... nggak bisa melihat kamu habis, Ga. Kamu harus tetap ada, meskipun aku sadar kalau kita udah nggak punya kesempatan untuk bisa sama-sama lagi kayak dulu."


Sagara meringis tatkala Astari memperjelas lagi soal itu. Soal kemungkinan mereka kembali bersama, yang rasanya lebih mustahil ketimbang kemungkinan menghidupkan kembali orang mati. Ia jelas sadar bahwa langkahnya sudah terlampau jauh diayunkan, sehingga terlampau sulit untuknya bisa kembali kepada Astari meskipun sedari dulu memang hanya perempuan itu yang selalu ia tuju.


Sedalam itu Sagara telah menyakiti Astari dan keluarganya. Jadi, ia cukup sadar diri untuk tidak melangkah balik ke arah perempuan itu.


"Ya? Berhenti ya, Ga? Hapus kebencian kamu terhadap anak itu, dan lanjutkan hidup kamu dengan tenang. Demi Ibu, demi aku?" Astari memohon. Karena hanya dengan begitu, dia bisa merelakan Sagara pergi dari hidupnya. Agar hatinya tidak hancur dengan sia-sia. Agar hubungan mereka yang kandas tidak lebih banyak meninggalkan luka. Agar dia dan Sagara bisa sama-sama melanjutkan hidup meskipun mereka sudah tidak bisa berjalan di satu garis yang sama.


Sagara tidak mengatakan apa-apa. Dia cuma bergerak membawa tubuh Astari untuk lebih dalam masuk ke pelukannya. Karena bisa jadi, ini adalah kesempatan terakhir untuk dirinya bisa mendekap Astari seerat ini. Karena setelah dia melepaskan perempuan ini, dia mungkin harus berlari lebih jauh lagi.


...****************...


"Namanya Sagara,"


Keheningan yang berlangsung selama belasan menit itu akhirnya runtuh juga saat Sekala buka suara.


Di dalam mobil, dia dan Kinara duduk bersebelahan, menyembunyikan diri dari guyuran hujan yang semakin malam jatuh semakin deras.


Selepas kepulangan Andanu dan Astari dari Orion, juga Sagara yang menghilang di balik kegelapan malam, Sekala ikutan membawa Kinara pergi. Namun, gadis itu menolak untuk diantarkan pulang, sebelum tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Maka, Sekala meghentikan mobilnya tak jauh dari Orion, meminta waktu untuk menenangkan diri sebelum mulai menjelaskan satu persatu peristiwa yang membawa Sagara datang dan memukulinya tadi.


"Dia kakak saya, Kin." Lanjut Sekala, ketika kini tatapan Kinara sudah kembali berlabuh padanya.


"Kesalahan apa yang udah Mas Kala buat sampai dia datang dan mukulin Mas Kala kayak tadi?"


"Banyak," satu kata itu Sekala katakan tanpa berpikir sama sekali. Lalu, senyum miris terbit menghiasi wajah tampannya yang kini ternoda oleh sobekan di sudut bibirnya.

__ADS_1


"Sefatal itu?" tanya Kinara lagi. Dia hidup sebagai seorang anak tunggal, jadi dia tidak tahu seperti apa hubungan orang-orang yang memiliki saudara, dan permasalahan semacam apa yang bisa membuat mereka saling pukul seperti itu.


Sekala mengangguk. Meskipun ada satu sisi di dalam dirinya yang mengelak, berusaha meyakinkan diri bahwa kelahirannya ke dunia adalah kesalahan kedua orang tuanya, bukan dirinya. Bahwa kebencian Sagara sejatinya ditujukan kepada ayah mereka, bukan kepada dirinya yang tidak tahu apa-apa.


"Ibunya Mas Saga sakit, gara-gara saya. Makanya Mas Saga datang dengan kemarahan yang menjadi-jadi. Karena ... anak mana yang rela ibunya tersakiti?"


"Tunggu dulu," Kinara menyela. "Ibunya Mas Saga?" tanyanya bingung. Bukankah tadi Sekala bilang kalau laki-laki bernama Sagara itu adalah kakaknya? Lalu, kenapa sekarang Sekala menyebut ibunya Saga, alih-alih mengatakan ibu kami?


Sekala sadar kalau Kinara sedang kebingungan. Dan yang pertama-tama bisa dia lakukan adalah menyunggingkan senyum, untuk menenangkan gemuruh di dadanya sendiri.


"Saya dan Mas Saga saudara satu ayah, beda ibu." Jelasnya kemudian.


Jelas sekali Sekala menangkap perubahan yang cukup drastis di wajah Kinara. Keterkejutan itu tidak dapat disembunyikan, meskipun gadis itu terlihat susah payah untuk menahan diri.


"Ayah menikahi Bunda secara diam-diam, tanpa sepengetahuan Ibu. Dan ... baru ketahuan setelah Bunda meninggal, karena Ayah terpaksa membawa saya ke rumah Ibu untuk diurus bersama Mas Saga." Bahkan ketika kenangan pahit tentang kedatangannya ke rumah Ibu belasan tahun lalu kembali memenuhi kepalanya, Sekala masih bisa mempertahankan senyumnya.


"Kehadiran saya melukai Ibu dan Mas Saga. Maka, wajar kalau Mas Saga jadi begitu membenci saya." Sekala menarik pandangan, melabuhkannya ke jalanan yang basah terguyur hujan.


"Tapi, Ibu berbeda. Wanita baik hati itu menerima kehadiran saya dengan senang hati, menyayangi saya layaknya anak sendiri. Kayaknya, gara-gara itu juga Mas Saga semakin membenci saya." Senyum sumir tersungging. Mengingat kembali kebaikan hati Ibu justru membuat luka mengaga di dadanya semakin terasa sakit.


"Nggak ada satupun anak yang bisa memilih dari rahim siapa dia dilahirkan." Setelah hanya jadi pendengar, Kinara akhirnya buka suara.


Tepat ketika Sekala menoleh dan tatapan mereka bertemu, Kinara meraih tangan pemuda itu, mengusapnya pelan.


"Saya paham kenapa Mas Saga membenci kehadiran Mas Kala," ucapnya. Tatapannya kini jatuh pada sudut bibir Sekala yang terluka. Ingin rasanya dia usap bekas itu lebih lama untuk sekadar membantu meredakan nyerinya. Namun keinginan itu ia tekan kuat-kuat karena takut air matanya malah akan jatuh ketika kulitnya berhasil bersentuhan dengan luka itu.


"Tapi, kelahiran Mas Kala bukan kesalahan Mas Kala sama sekali." Tatapan Kinara kembali terarah ke mata Sekala. "Siapapun boleh membenci kehadiran Mas Kala, itu hak mereka. Tapi Mas Kala nggak boleh membenci diri sendiri, untuk kesalahan yang sama sekali nggak Mas Kala buat."


"Saya tahu," Sekala balik menggenggam tangan Kinara. "Tapi untuk menghilangkan rasa bersalah ini sama sekali nggak mudah, Kin."


Kinara menganggukkan kepala. "Nggak mudah bukan berarti nggak bisa." Katanya kemudian. "Ada saya. Kita bisa mengusir rasa bersalah itu sama-sama."


"Kamu nggak boleh terlibat di dalam kekacauan hidup saya," Sekala berusaha menarik tangannya dari genggaman Kinara, namun gadis itu bersikeras menahannya.


"Izinkan saya masuk."


Sekala terpaku. Masuk? Ke mana?


Kebingungannya semakin menjadi-jadi saat Kinara menyentuh dadanya, meletakkan telapak tangan kecil itu ke dadanya yang bergemuruh.


"Ke sini."Kata gadis itu. "Izinkan saya masuk ke sini untuk membantu Mas Kala membereskan apa yang berantakan. Karena ..." sedikit jeda tercipta, hanya untuk membawa Kinara kembali menatap mata Sekala dalam-dalam. "Mas Kala juga udah banyak bantu saya membereskan kekacauan yang ada di dalam diri saya sebelumnya. Sekarang, giliran saya yang bantu Mas Kala."


"Kin,"


"Boleh?" tagih gadis itu, penuh harap dari sorot matanya.


"Kamu udah ada di sana sejak lama, tanpa kamu sadari." Kata Sekala pada akhirnya. Padahal dia tidak merencanakan untuk menyatakan perasaannya di saat seperti ini.


"Kalau begitu, bagus." Kinara menyunggingkan senyum. Tangannya dia jauhkan dari dada Sekala, namun tatapannya masih terpaku pada manik lelaki itu. "Kita ... mulai bereskan dari mana?" tanyanya kemudian.


Karena Sekala menggeleng, Kinara pun mengeluarkan inisiatifnya sendiri. Ia bergerak maju, membawa tubuh Sekala ke dalam pelukan, mengusap-usap punggung lelaki itu pelan.


"Mulai dari sini." Bisiknya. "Kita mulai dengan meyakinkan Mas Kala kalau mulai saat ini, akan ada saya yang menemani Mas Kala melewati hari-hari berat. Mas Kala nggak sendirian, jadi nggak perlu takut lagi."


Seharusnya, Sekala segera berterima kasih kepada Kinara. Karena pelukan ini begitu berarti, membuatnya merasa berharga berkali-kali lipat lebih banyak ketimbang sebelumnya.


Namun, lidahnya terlalu kelu. Sehingga yang bisa dia lakukan cuma membalas pelukan Kinara, menyandarkan tubuh lelahnya kepada gadis itu, dan sepenuhnya menyerahkan diri.


Di tengah guyuran hujan yang semakin deras, air mata Sekala tiba-tiba saja jatuh. Dan dia tidak tahu apakah air mata itu jatuh untuk rasa bersalahnya terhadap Sagara dan Ibu, atau justru untuk Kinara yang kini rela ikut masuk ke dalam kerumitan hidupnya

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2