
Malam ini, Kinara memutuskan untuk tidur bersama dengan Papa. Untuk pertama kalinya sepanjang hidup, Kinara menomor-duakan Mama dan memilih Papa untuk menemaninya melewati malam.
Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sempat terbengkalai karena sibuk menangis bersama Papa, Kinara berjalan pelan menghampiri Papa yang kini duduk anteng di atas sofa ruang tamu.
Laki-laki itu tampak fokus menonton film yang terputar di layar televisi kecil di hadapan. Tidak banyak yang berubah dari penampilan maupun perilaku Papa meksipun kini beliau sudah bukan lagi seorang bos di perusahaan besar. Papa masih selalu menjaga kedua kakinya untuk tetap menapak di atas lantai, alih-alih mengangkatnya satu seperti yang biasa bapak-bapak pada umumnya lakukan. Papa tidak pernah mengenakan hanya sarung saat di rumah. Laki-laki itu lebih suka mengenakan kaus polos agak kebesaran yang dipadukan dengan celana pendek sedikit di atas lutut.
Kinara tersenyum ketika mendapati Papa terlihat berkomat-kamit mengomentari jalannya film yang menurutnya tidak logis. Kemudian, laki-laki itu praktis membungkam mulutnya sendirian saat sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh sang putri semata wayang.
"Udah selesai ngerjain tugasnya?" tanya Papa sembari menegakkan punggung yang semula bersandar di sofa.
"Udah." Kinara menjawab sembari mengambil posisi duduk di sebelah Papa.
"Mau tidur sekarang?" tanya Papa lagi.
Tapi alih-alih menjawab, Kinara malah membaringkan tubuhnya di atas sofa, menggunakan paha Papa sebagai bantal dan sedikit menekuk kakinya sehingga dia terlihat sedikit meringkuk bagai bayi dalam kandungan.
"Lah? Malah tiduran di sini." Kata Papa. Namun laki-laki itu tetap tak bisa menahan senyum dan malah mendaratkan tangan besarnya di kepala Kinara, membelai rambutnya dengan sayang.
Kinara memejamkan mata menikmati setiap belaian yang Papa berikan. Belaian penuh kasih sayang yang rasanya sudah lama tidak dia dapatkan dari Papa karena laki-laki itu terlalu sibuk bekerja.
"Papa," panggil Kinara pelan dengan mata yang masih terpejam.
"Hmmm?" jawab Papa sembari menundukkan kepala, memperhatikan setiap sudut di wajah Kinara yang mengingatkannya pada sosok sang istri berkali-kali lipat lebih banyak ketimbang sebelumnya.
"I love you." Celetuk Kinara tiba-tiba yang membuat Papa terkekeh pelan.
"Tumben?"
"Bukan tumben." Kinara membetulkan posisi tidurnya, kemudian meraih tangan Papa yang membelai kepalanya dan menggenggamnya erat. Semua itu dia lakukan dengan mata yang masih betah terpejam. "Kinara selalu sayang Papa. Cuma nggak pernah bilang aja secara gamblang. And I know you feel the same. Am I right?"
"Ya. Papa always love you."
"I know, I know." Kinara mengangguk-anggukkan kepala dengan cara yang lucu, membuat Papa kembali terkekeh.
"Kamu kesayangan Papa..." Kinara sudah besar kepala saat Papa mengatakan itu, senyumnya sudah terbit selebar telinga dan dia hampir membuka matanya untuk bisa menatap wajah Papa yang rupawan. Sampai kemudian, senyum itu seketika sirna ketika Papa melanjutkan ucapannya. "... tapi nomor dua, soalnya yang pertama adalah Mama." Diakhiri kekehan menyebalkan yang membuat Kinara tidak bisa menahan diri untuk tidak melayangkan sebuah pukulan di bahu Papa.
"Jahat!" protesnya. Matanya terbuka lebar, bibirnya cemberut dan dia seketika melepas genggaman tangan Papa. "Papa Jahat!" ulangnya.
Kekehan yang meluncur bebas itu lama kelamaan berubah menjadi gelak tawa yang membahana. Semarang jam setengah dua dini hari, orang-orang sudah lelap dalam tidurnya, sedangkan Kinara dan Papa malah menertawakan sesuatu yang sepele.
__ADS_1
"Ra," panggil Papa setelah susah payah meredakan tawa.
"Apa?!" sahut Kinara ketus. Meskipun demikian, anak itu masih enggan menjauhkan diri dari pangkuan Papa.
"Kalau suatu saat Papa udah nggak ada lagi di dunia ini, tolong jagain Mama, ya?"
Boleh Kinara ceritakan satu hal lagi yang paling dia benci di dunia ini selain lelaki brengsek bernama Sebastian? Itu adalah momen ketika Papa mulai membicarakan tentang kematian.
Ini bukan yang pertama, percayalah. Selama dia hidup, Kinara sudah ribuan kali mendengar Papa mengatakan soal ini. Bahkan ketika umurnya baru menginjak tujuh tahun dan Papa seharusnya bisa mengatakan kalimat-kalimat manis seperti yang ada di film-film kartun favoritnya, lelaki itu malah memberinya wejangan dan kiat-kiat untuk menjaga sang ibunda.
Pembahasan seperti ini tidak menyenangkan, sebab akan selalu berakhir dengan Kinara yang overthinking semalaman.
Maka, demi membuat agar pembahasan tentang kematian yang sejatinya memang menjadi rahasia Tuhan, Kinara kembali memejamkan mata dan menarik tangan Papa untuk kembali menepuk-nepuk kepalanya.
"Nara nggak mau dengar Papa ngomongin soal kematian lagi." Jujurnya. "Belum tentu juga Papa yang mati lebih dulu, kok. Bisa aja, kan, kalau Kinara yang justru pergi lebih dulu ketimbang Papa atau Mama?"
"Ra,"
"Stop It." Cegah Kinara sebelum Papa melanjutkan kalimatnya. "Nara tau kematian itu sudah pasti, kita cuma nggak tahu aja kapan datangnya. Jadi, Papa nggak perlu ngomongin soal kapan kita bakal mati. Nara cuma mau kita melakukan yang terbaik selama kita masih sama-sama. Can we?"
Ada hela napas panjangnya yang terdengar setelah kalimatnya selesai diucapkan. Embusan napas itu menerpa permukaan kulit wajah Kinara sehingga membuatnya menghangat.
"Iya, Papa dengar."
"Good."
Untuk beberapa saat, tidak ada lagi yang berbicara. Kinara sedang berusaha menenangkan perasaannya yang kembali gelisah karena ucapan Papa. Sementara Papa cuma bisa terdiam memandang wajah putri semata wayangnya yang terpejam damai di pangkuannya.
Sampai akhirnya, Papa mengerakkan tangannya pelan untuk membawa Kinara bangkit dari tidurnya.
Kinara terpaksa mengikuti arahan Papa. Dia membuka matanya dan bangkit dari pangkuan Papa. Dia menatap Papa sebentar, sebelum dibuat terkejut saat Papa tiba-tiba berjongkok di hadapannya.
"Papa ngapain?" tanyanya heran.
"Mau gendong kamu ke kamar. Udah malam, kamu harus tidur." Papa menoleh dari balik bahu, tersenyum tipis sambil menepuk-nepuk punggungnya sendiri.
"Nara berat, nanti Papa malah encok." Tolak Kinara. Dia takut kalau Papa malah akan terluka jika tetap memaksa untuk menggendong dirinya.
Tetapi, Kinara lupa kalau sifat keras kepalanya itu menurun dari Papa. Jadi, sekeras apa pun dia menolak, sekeras itu juga Papa memaksanya.
__ADS_1
"Buruan, ah, keburu subuh." Desak Papa.
Akhirnya, Kinara mengalah. Dia segera naik ke punggung Papa, mengalungkan lengan di leher lelaki itu ketika tubuhnya perlahan-lahan diangkat.
"Kamu makan nggak sih, Ra, kalau di kampus? Kok badan kamu enteng banget kayak bulu ayam." Celetuk Papa begitu laki-laki itu berhasil mengangkat tubuh Kinara dan kakinya mulai terayun menuju kamar.
"Aku tahu Papa cuma mau pamer kalau badan Papa masih kuat, tapi sorry, di mata aku, Papa tetap sudah tua."
"Tua mah umurnya doang, Ra. Staminanya mah masih kayak anak ABG."
"Dih, apaan."
"Nggak percaya? Mau bukti? Papa bisa, loh, lempar kamu ke atas genteng kalau kamu mau."
"Enak aja! Masa anaknya dilempar ke atas genteng!" Kinara memukul pelan bahu Papa yang bergetar karena laki-laki itu mulai terbahak.
"Siapa tahu kamu bosan, terus pengin nongkrong di atas genteng." Kata Papa asal.
Kinara mencebik. Memangnya dia se-kurang kerjaan itu sampai mau nongkrong di atas genting? Ada-ada saja pemikir Papa ini.
Perdebatan soal nongkrong di atas genting tidak berlanjut karena mereka telah sampai di kamar Kinara. Dengan hati-hati, Papa menurunkan Kinara dan langsung menuntun gadis itu untuk tidur di ranjangnya yang telah dirapikan.
"Tidur, jangan mentang-mentang besok libur kuliah terus kamu boleh bergadang." Kata Papa sembari menyingkirkan helaian rambut yang menutupi kening Kinara.
"Papa,"
"Apa?"
"Mulai sekarang, kalau ada yang Papa rasa Kinara bisa bantu, please let me know." Gerakan tangan Papa yang semula mengusap pelan kepala Kinara praktis terhenti. "Jangan ambil semua tanggung jawab atas keluarga ini sendirian. Nara tahu Papa adalah pahlawan, tapi pahlawan juga buruh partner untuk menyelesaikan permasalahan. Untuk Papa, Nara bersedia jadi partner itu."
Kinara mengatupkan bibirnya sejenak. Hanya untuk mengambil napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan. Kemudian, dia kembali menggenggam tangan Papa. "You get me, Papa?"
Detik itu juga, Papa menganggukkan kepala. Air mata yang menggenang berusaha keras ditahan agar tidak tumpah. "Terimakasih, Nara. Papa janji akan lari ke kamu kapan pun Papa butuh bantuan."
"Good."
"Sekarang, tidur."
Setelah satu kecupan berlabuh di keningnya, Kinara memejamkan mata dengan senyum tipis yang tersungging menemani tidurnya.
__ADS_1
Bersambung