
"Caramel Macchiato satu, less sugar, less ice. Caramel Latte satu, normal sugar, normal ice. Poured Tiramisu satu sama Strawberry Pistachio Tart satu." Dahayu berhasil mengatakan semua pesanan dengan lancar tanpa kendala apa pun.
Sesuai dengan janji yang telah mereka buat tadi pagi, sekarang Dahayu dan Kinara sedang berada di salah satu Cafe Dessert yang baru buka sejak beberapa bulan yang lalu.
Sebenarnya, sudah sejak lama Dahayu ingin mengajak Kinara untuk nongkrong di cafe ini karena menurut rumor yang beredar, cake yang dijual di sini sangat enak. Tapi berhubung Kinara memang bukan tipikal yang suka nongkrong, jadilah baru kesampaian sekarang.
Berhubung Kinara sudah memiliki inisiatif untuk mengajaknya nongkrong lebih dulu, Dahayu tentu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Dengan begitu semangatnya dia mencari tahu menu apa saja yang disediakan di cafe ini, sehingga kini dia bisa memesan dengan lancar tanpa perlu ada drama bingung mau pesan apa.
"Caramel Macchiato satu, less sugar, less ice. Caramel Latte satu, normal sugar, normal ice. Poured Tiramisu satu sama Strawberry Pistachio Tart satu. Ada lagi, Kak?" tanya seorang gadis yang berdiri di belakang counter setelah selesai mengulangi pesanan yang telah Dahayu sebutkan demi menghindari kesalahan.
"Udah, itu aja."
"Baik, pembayarannya dengan apa?" tanya gadis itu lagi.
"Debit." Ucap Dahayu sembari mengulurkan kartu debit yang telah dia persiapkan sejak tadi.
Gadis berambut pendek sebahu itu menerima kartu milik Dahayu dan segera memproses pembayaran. Selesai memasukkan nominal yang sesuai dan Dahayu juga sudah memasukkan enam digit kode keamanan, kartu dikembalikan kepada sang empunya dengan senyum ramah yang tak luntur.
"Mohon ditunggu ya, Kak."
"Terimakasih." Ucap Dahayu dengan senyum ramah untuk mengimbangi sikap si gadis di hadapan.
Sembari menunggu pesanannya disiapkan, Dahayu membalikkan badan, memandang jauh ke arah di mana Kinara tengah duduk sendirian di salah satu kursi paling pojok dekat jendela kaca besar yang mengarah ke jalanan. Gadis itu tampak melayangkan pandangan jauh ke depan, sehingga membuat Dahayu penasaran, apa sekiranya yang begitu menarik perhatiannya hingga timbul senyum tipis itu menghiasi wajah cantiknya?
Di tengah kegiatannya memandangi Kinara, ingatan akan pertemuan pertama mereka beberapa tahun lalu kembali terputar sempurna di kepala.
Kala itu, dia dan Kinara sedang mengikuti program masa orientasi siswa dan sedang sama-sama mendapatkan hukuman karena ada salah satu item yang tidak mereka bawa sesuai arahan sang kakak tingkat. Mereka berdua dihukum keliling kampus untuk mencari salah satu kakak tingkat untuk dimintai tanda tangan. Hanya berbekal nama, mereka disuruh menemukan kakak tingkat itu dalam waktu tiga puluh menit.
Tentu saja mereka gagal. Bukan karena terlalu sulit untuk menemukan orang yang mereka cari, tetapi karena mereka sudah menyerah duluan. Dahayu yang pada dasarnya pemalas malah mengajak Kinara untuk melipir ke kantin fakultas dan jajan bakso di sana sampai jam pulang tiba. Alhasil, mereka harus menerima hukuman tambahan keesokan harinya.
__ADS_1
Dahayu terkikik geli saat mengingat betapa polosnya Kinara ketika gadis itu dengan santainya mengikuti setiap langkah yang dia ambil. Baik dulu maupun sekarang, Kinara masih jadi gadis polos yang selalu bisa membuat Dahayu terkagum-kagum dengan cara pikirnya yang sederhana. Tidak rumit seperti dirinya.
Jika saja suara gadis di belakangnya tidak menginterupsi, Dahayu mungkin akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk memandangi Kinara. Meneliti setiap gerak-geriknya sampai mereka tidak sengaja berkontak mata dan akan berakhir tertawa terbahak-bahak, seperti yang biasa mereka lakukan.
"Silakan, Kak."
Dahayu mengambil nampan yang diulurkan oleh si gadis, mengangkatnya perlahan kemudian membawanya menuju meja di mana Kinara sudah menunggu. Pas sekali, gadis itu sedang menoleh sehingga tatapan mereka bisa bertemu dan Dahayu bisa melihat senyum lebar Kinara dengan lebih jelas.
"Caramel Macchiato, less ice, less sugar." Kata Dahayu seraya meletakkan Caramel Macchiato milik Kinara.
"Thank you." Ucap Kinara sembari mengangkat cup Caramel Macchiato miliknya setinggi wajah.
"My pleasure." Jawab Dahayu. Kemudian dia mendukkan dirinya di seberang Kinara setelah memastikan semua makanan dan minuman tertata rapi di atas meja.
"Mau foto dulu?" tanya Kinara yang sudah hafal gerak-gerik Dahayu. Gadis itu tidak akan menata makanan sampai sedemikian rupa kalau bukan untuk diambil gambarnya terlebih dahulu.
Kinara manggut-manggut saja. Akun Instagram milik Dahayu memang tidak bisa dianggap remeh. Sejauh ini, gadis itu sudah berhasil mengumpulkan lebih dari enam ratus ribu pengikut setia yang selalu membanjiri setiap postingannya dengan berbagai pujian dan kalimat-kalimat cantik yang menangkan hati.
Maka wajar jika Dahayu selalu berusaha untuk membuat feed Instragram miliknya tetap cantik dan estetik.
Berbeda dengan Dahayu, Kinara tidak terlalu suka menunjukkan diri dan segala aktivitas yang tengah dia jalani. Akun Instagram yang dia buat sejak empat tahun lalu hanya diikuti oleh sekitar seribu orang, jumlah yang sangat jomplang jika dibandingkan dengan milik Dahayu.
Meskipun begitu, Kinara tetap merasa senang. Dia masih sesekali memposting beberapa hal yang sekiranya memang bisa dia posting dan membalas komentar-komentar baik yang masuk, meski tidak sebanyak milik Dahayu.
"Mantap!" seru Dahayu setelah berhasil mendapatkan beberapa foto yang menurutnya bagus.
Tentu saja, kegiatan gadis itu tidak berhenti sampai di sana. Karena foto-foto itu masih harus diedit sedemikian rupa sebelum akhirnya betulan diposting.
Sembari menunggu Dahayu selesai dengan kegiatan mengedit foto, Kinara menyeruput Caramel Macchiato miliknya lebih dulu. Rasa espresso yang berpadu dengan steamed milk dan sirup vanila serta saus karamel yang manis membuat lidah Kinara menari-nari.
__ADS_1
Biasanya, dia masih akan menemukan Caramel Macchiato pesanannya terlalu manis meskipun sudah memesan yang less sugar. Tetapi rasa Caramel Macchiato di cafe ini benar-benar pas seperti yang dia harapkan. Tidak heran kalau cafe ini bisa langsung menjadi idola di antara banyaknya cafe lain yang sudah lebih dulu berdiri di sekitar kampus.
"Enak?"
Kinara menaikkan pandangan, kemudian mengangguk. "Manisnya pas." Komentarnya dengan jujur.
Dahayu tampak tersenyum puas. Padahal bukan dia yang meracik Caramel Macchiato yang Kinara minum, tapi entah kenapa, Dahayu merasa bangga.
"Lain kali kita cobain menu lain."
Kinara cuma menganggukkan kepala dan menyeruput minumannya lagi.
"Untung si kutu kupret masih ada kelas, kalau nggak, dia pasti ngerecokin kita lagi."
Mendengar Dahayu menyebut Atha kutu kupret praktis membuat Kinara yang belum selesai menelan minumannya tersedak. Gadis itu terbatuk-batuk karena ada beberapa tetes minuman yang nyasar ke saluran pernapasan hingga membuat hidungnya terasa perih.
"Lah, lo kenapa?!" panik Dahayu sembari membantu menepuk-nepuk punggung Kinara.
"Kamu, sih!" omel Kinara setelah batuknya mereda. Meskipun perih kini juga mulai terasa di tenggorokannya.
"Lah, gue kenapa?" Dahayu menunjuk dirinya sendiri dengan tampang polos tanpa dosa.
"Gara-gara kamu nyebut Atha kutu kupret, makanya aku keselek."
"Itu panggilan saya gue buat Atha, jadi lo harus mulai terbiasa." Usai mengatakan itu, Dahayu menyeruput Caramel Latte miliknya dengan tampang tanpa dosa.
Kinara cuma bisa geleng-geleng kepala. Kemudian, dia teguk lagi Caramel Macchiato yang masih tersisa, sedikit demi sedikit, sampai rasa manis dari minuman itu tertinggal di pangkal lidahnya untuk waktu yang cukup lama.
Bersambung
__ADS_1