
Di hari Selasa, Orion biasanya tidak terlalu ramai karena orang-orang cenderung tidak datang selama dua hari berturut-turut. Orang-orang yang sudah datang di hari Senin biasanya akan datang lagi di hari Rabu atau Kamis, begitu juga dengan hari-hari selanjutnya.
Tetapi, hal itu tidak berlaku untuk Andanu dan Astari. Bisa dibilang, dua manusia itu telah menjadi pelanggan VIP di Orion, karena meskipun cuma mampir sebentar dan membeli beberapa menu untuk dibawa pulang, mereka selalu datang setiap hari.
Bahkan hari ini sekalipun, ketika Kinara tidak berjaga di belakang meja kasir seperti biasanya.
Sekala tidak buta, dia jelas tahu kalau alasan Andanu rajin datang ke Orion bukan karena pemuda itu menyukai menu yang disajikan di sini, tetapi karena ingin mencuri pandang kepada Kinara ketika gadis itu asik bekerja.
"Kin nggak kerja hari ini," ucap Sekala sembari membuatkan pesanan Andanu.
"Iya, tahu. Tadi dia udah ngomong," Andanu menjawab santai.
Sekala cuma ber-oh ria, kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Sementara Astari, yang berdiri di sebelah Andanu diam-diam mengulum senyum saat menemukan sedikit kilat kecemburuan yang terpancar dari mata Sekala ketika lelaki itu berbicara tentang Kinara kepada Andanu. Lucu saja melihat dua lelaki beda usia itu saling diam-diam menahan cemburu dan tetap berusaha bersikap biasa saja, terlebih saat di depan Kinara.
"Dua Caramel Macchiato," Sekala menyerahkan dua cup Caramel Macchiato ke hadapan Andanu. "Kamu nggak bosan pesan ini terus? Nggak mau ganti yang lain?" imbuhnya, setelah Andanu meraih dua cup yang tadi dia serahkan.
"Saya tipikal setia, Mas. Jadi kalau udah suka satu, ya itu aja terus sampai akhir." Andanu dengan gaya yang sok sekali.
Sekala mendecih, memicing ke arah pemuda itu meskipun yang dia dapatkan sebagai respon adalah kekehan ringan, yang bukan cuma berasal dari Andanu, tetapi juga Astari.
"Tumben Nara off, ada masalah?" tanya Astari.
Baik Sekala dan Andanu sama-sama tidak tahu kepada siapa pertanyaan itu ditujukan, karena Astari menanyakannya sembari menyedot Caramel Macchiato miliknya sementara matanya sibuk menatap layar ponsel di tangan kiri.
Tahu bahwa pertanyaannya tidak disahuti, Astari mengangkat kepala. Hanya untuk menemukan Sekala dan Andanu sama-sama sedang menatap ke arahnya dengan penuh tanda tanya.
"Aku nanya ke kalian berdua. Siapa pun yang tahu, boleh jawab." Astari menjelaskan.
Untuk itu, Sekala menjadi pihak yang akhirnya memberikan jawaban. Meksipun jawaban yang dia berikan tidak sepenuhnya jujur.
"Nara terlalu capek karena kemarin Orion ramai seharian, jadi saya suruh dia istirahat."
Astari manggut-manggut saja. Menerima alasan itu sebagai sesuatu yang masuk akal. Lain halnya dengan Andanu yang malah melempari Sekala dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
Sekala tahu kalau dia sedang diperhatikan sebegitunya oleh Andanu, tetapi dia memilih untuk pura-pura tidak tahu sampai akhirnya pemuda itu jengah sendiri.
"Omong-omong, Mas Sekala tuh nggak ada kerjaan lain ya selain jagain cafe?"
Sekala kembali menatap Andanu, menemukan pemuda itu sedikit menyunggingkan senyum yang entah apa maknanya.
"Nggak. Mata pencarian saya cuma ini." Jawaban yang kelewat santai, yang Sekala tahu tidak sesuai dengan ekspektasi Andanu ketika dia menemukan senyum tipis yang semula pemuda itu sunggingkan tiba-tiba lenyap tak bersisa.
"Nu, balik yuk. Mbak mau ketemu teman jam tujuh."
Bagus, memang sebaiknya kamu bawa adik kamu yang menyebalkan ini pulang secepatnya. Batin Sekala.
Ah, nggak asik banget sih Mbak Astari. Gue masih mau godain Sekala! Andanu ikut-ikutan membatin.
Astari yang tidak bisa membaca isi pikiran Andanu dan Sekala malah santai saja ngeloyor lebih dulu, membuat Andanu mau tidak mau mengikuti langkahnya meskipun sambil menggerutu.
"Tungguin!" seru Andanu, namun Astari sama sekali tidak berniat untuk memelankan ayunan langkahnya sama sekali.
Sedangkan Sekala akhirnya bisa bernapas lega ketika sosok Andanu yang menyebalkan sudah sepenuhnya menghilang dari pandangan.
Waktu tiba-tiba saja berjalan lebih lambat hari ini, dan Sekala yakin salah satu alasannya adalah ketidakhadiran Kinara. Sebab, gadis cerewet itu telah menjadi penyumbang polusi suata terbanyak di Orion sejak pertama kali kedatangannya lebih dari satu bulan yang lalu.
Sekarang baru jam delapan lewat enam, masih jauh dari waktu tutup dan dia harus terbengong sendirian di belakang meja kasir karena sejak satu jam yang lalu, tidak ada lagi pelanggan yang datang. Seolah ketidakhadiran Kinara telah berpengaruh begitu banyak terhadap jumlah pelanggan yang datang.
Sekala tahu hari Selasa memang tidak akan seramai ketika hari Senin atau hari-hari yang lain, tetapi Orion tidak pernah sesepi ini sebelumnya. Di mana cuma ada empat meja yang terisi, diduduki oleh sembilan pengunjung yang sebentar lagi juga akan segera angkat kaki.
"Mas Sekala,"
Sekala menoleh ketika suara Jeremy mengudara. Pemuda itu tahu-tahu sudah berdiri di samping counter, melemparinya tatapan yang mencurigakan.
"Apa?" perasaan Sekala tidak enak, jujur saja.
"Pacar Mas Sekala ke mana? Kok nggak masuk kerja, sih?"
Nah, kan. Cecunguk ini pasti datang hanya untuk meledeknya tentang tragedi kemarin. Memang, saat dia mengaku sebagai pacar Kinara di depan Atha kemarin, si kampret Jeremy ini menjadi satu-satunya saksi karena pada saat itu dia mengintip dari balik pintu dapur.
__ADS_1
"Saya nggak punya pacar," belum apa-apa, Sekala sudah malas duluan meladeni Jeremy. Jadi dia pura-pura sibuk dengan ponselnya, berusaha mengabaikan keberadaan Jeremy yang dia tahu masih melemparkan tatapan yang sama kepadanya.
"Ah, masa? Terus, yang kemarin itu apa?"
Sumpah, ya, Jeremy ini kalau sudah mode julid memang mulutnya bisa lebih lemes daripada perempuan.
Sekala sengaja tidak menyahuti, karena dia tahu, apapun yang keluar dari mulutnya pasti akan digunakan dengan baik oleh Jeremy untuk melancarkan aksi menggoda yang lain.
"Yang ini loh, Mas Sekala. Sini, lihat saya dulu," sekonyong-konyong Jeremy merebut ponsel Sekala, memasukkan benda itu ke dalam saku celana bagian belakang kemudian memaksa Sekala untuk memperhatikan dirinya.
Dan demi Tuhan, Sekala ingin sekali menendang bokong Jeremy saat pemuda itu cosplay menjadi dirinya saat kemarin sedang berusaha membebaskan Kinara dari Atha.
"Jangan sentuh pacar saya," ucap Jeremy, dengan gaya dan nada suara yang dibuat sama persis seperti yang Sekala lakukan kemarin.
Sekala memutar bola mata jengah. Keinginannya untuk menendang bokong Jeremy semakin kuat saat pemuda itu juga menirukan ekspresi wajahnya yang serius.
"Jadi, sejak kapan Mas Sekala pacaran sama Kinara? Kok saya nggak tahu?" kedua alis Jeremy naik turun dengan cara yang sangat menyebalkan.
"Stop, sebelum kamu saya tendang biar mental sampai ke Mars." Ancam Sekala, namun Jeremy sama sekali tidak takut dan malah semakin menjadi-jadi menggoda dirinya.
"It's okay, Mas. It's okay. Ngga apa-apa kalau Mas Sekala sama Kinara menang belum mau publish hubungan kalian. Saya anaknya bisa dipercaya kok, Mas. Mulut saya nggak ember."
Sekala mencebik tatkala Jeremy menggerakkan jempol dan jari telunjuknya yang saling menempel di depan mulut, membuat gestur seolah sedang menutup risleting.
"Saya lebih percaya kalau Albert Einstein itu aslinya orang Sunda," cibir Sekala, dan Jeremy cuma terkekeh.
"Lagi ngobrolin apa, sih? Kok kayaknya seru banget?"
Sekala dan Jeremy serempak menoleh pada sumber suara yang barusan di tengah obrolan mereka.
Di depan counter, Kinara sudah berdiri dengan tampang tak berdosa. Tatapan matanya berbinar-binar, sama sekali tidak terlihat seperti seorang gadis yang habis diganggu oleh mantan kekasih brengsek di malam sebelumnya.
Sementara Jeremy tersenyum cerah karena sosok yang dia cari-cari sejak tadi muncul, Sekala malah mendengus sebal. Ha ... masalah baru, pikirnya.
Bersambung
__ADS_1