
Kinara pikir, bising-bising yang berasal dari orang yang bergosip seperti ini cuma akan dia dengar selama kelas dan hanya terjadi di fakultasnya saja. Rupanya, ketika kini dia dan Dahayu sedang berada di taman depan fakultas Teknik untuk bertemu dengan Atha, dia juga melihat pemandangan yang sama.
Banyak mahasiswa yang bergerombol dan saling mengintip ke arah ponsel masing-masing. Sesekali mereka berbisik, terbahak, kemudian berteriak tidak jelas.
Kinara yang awalnya tidak terlalu tertarik mencari tahu, lama kelamaan terpancing juga. Dia akhirnya mengeluarkan ponsel dari dalam tas dan langsung membuka aplikasi burung biru, mengabaikan larangan yang diberikan oleh Dahayu.
Baru saja aplikasi itu berhasil dibuka, Kinara dibuat terkejut bukan main saat menemukan nama Layla ada di barisan ke-dua teratas dari lima tagar paling banyak dibicarakan di sana. Dan ketika dia menekan tagar tersebut, langsung muncul banyak artikel negatif tentang Layla.
Dari sekian banyak postingan yang ada, Kinara paling tertarik untuk membaca satu postingan yang telah dibagikan sebanyak 2 juta kali. Dalam postingan di akun dengan nama pengguna Lambe Gosip tersebut terdapat informasi pribadi Layla, mulai dari nama lengkap, tempat dia berkuliah bahkan sampai ke ranah paling pribadi seperti fakta bahwa dia hanya tinggal berdua dengan sang ibu.
Banyak komentar negatif yang mejeng di sana, seperti perkataan bahwa apa yang Layla lakukan adalah bentuk dari kebodohan atas hausnya dia akan kasih sayang seorang ayah. Ada pula yang menuduh Layla sebagai ayam kampus yang menyembunyikan jati diri sebenarnya di balik kerudung panjang yang dia kenakan.
Melihat itu saja, Kinara sudah kesal bukan main. Apalagi saat dia menemukan satu komentar lain yang dengan bangganya menawarkan link video mesum Layla versi full dan meminta imbalan untuk setiap link yang berhasil dia bagikan.
Kinara geram. Dia tidak habis pikir, mengapa ada orang-orang jahat seperti itu, yang tega meraup keuntungan dari kemalangan yang sedang menimpa orang lain. Apakah mereka tidak pernah berpikir jika hal itu bisa saja menimpa mereka suatu hari nanti?
Apa yang lebih miris dari komentar-komentar jahat yang Kinara temukan di postingan itu adalah fakta bahwa hampir sembilan puluh persen pengguna yang menyumbang komentar negatif tersebut adalah perempuan. Yang mana seharusnya mereka menunjukkan setidaknya sedikit saja empati pada apa yang menimpa Layla. Mereka justru terlihat membanggakan diri dan menganggap diri mereka lebih suci ketimbang Layla, padahal belum tentu mereka tidak melakukan hal yang sama. Bisa saja mereka hanya tidak ketahuan, bukan?
Saat Kinara sudah lelah membaca komentar-komentar jahat yang seketika membuat kepalanya terasa berat itu, dia meletakkan ponselnya ke atas meja dengan gerakan sedikit melempar. Lalu dia menoleh kepada Dahayu yang hanya menatap datar ke arahnya.
"Kamu tahu soal ini, Ay? Makanya tadi kamu nggak ijinin aku buat buka Twitter?" tanyanya.
Dahayu mengangguk, mengundang hela napas berat lolos begitu saja dari belah bibirnya.
__ADS_1
"Mereka udah keterlaluan banget, Ay."
"Jangan ikut campur, Ra. Tolong." Cegah Dahayu bahkan sebelum Kinara sempat berkata lebih jauh. "Nggak semua orang di dunia ini harus lo bantu." Sambungnya.
"Tapi, Ay. Bayangin kalau hal itu terjadi sama kita, dan nggak ada satu pun orang yang mau bantu." Kinara dan keras kepalanya yang tak pernah berubah.
"Memangnya lo bisa bantu apa?" tantang Dahayu. Dia sudah lelah. Jujur saja, kesabarannya untuk menghadapi sikap keras kepala Kinara mulai habis. Lagipula ini bukan masalah mereka, kenapa mereka yang harus pusing padahal mereka sendiri punya masalah untuk diselesaikan?
"Ada nggak yang lo bisa bantu?" ulang Dahayu. "Nggak ada, kan? Jadi better lo diam aja daripada lo bikin keadaan jadi makin sulit buat semua orang."
Perkataan Dahayu barusan bagai belati yang menusuk dada hingga tembus ke tulang belakangnya. Nyeri dan ngilu bercampur menjadi satu. Pening semakin terasa dan Kinara merasakan leher belakangnya bagai diberi beban ribuan ton hingga rasanya terlalu sulit untuk mengangkat kepala.
"Gue tahu lo cuma mau menunjukkan empati lo terhadap apa yang menimpa Layla. Tapi, lo tetap harus tahu batas, Ra." Kata Dahayu.
"Tapi, Ay-"
"Jangan ikut campur, Kinara. I beg you." Sela Dahayu yang sudah terlanjur frustrasi. Dia harap, setelah dia mengatakan ini, Kinara tidak akan menyanggahnya lagi.
Dan benar saja, tidak ada lagi protes yang keluar dari bibir Kinara setelah itu. Gadis itu terdiam dan tampak merenung. Dahayu cuma bisa menunggu sampai akhirnya Kinara menghela napas berat kemudian menatapnya dengan sepasang mata yang menggelap.
"Kamu bener, Ay. Aku nggak seharusnya ikut campur." Ucap Kinara sedih. Satu persatu kata yang keluar dari bibir Dahayu mulai dia cerna ulang, dan akhirnya dia mencapai satu titik sepakat bahwa ada beberapa hal yang tidak bisa dia campuri. Terlebih lagi hubungannya denga Layla memang sebenarnya tidak sedekat itu.
"Maaf, Ay." Kata Kinara lagi dengan suara yang teramat pelan. Gadis itu lalu menunduk, menyembunyikan wajahnya yang menunjukkan ekspresi tidak keruan.
__ADS_1
Melihat itu, Dahayu kembali menghela napas. Tangannya terulur untuk menggenggam tangan Kinara yang kini saling bertaut di atas paha.
"Gue nggak lagi marahin lo, jadi nggak usah sedih." Kata Dahayu dengan suara yang dibuat seramah mungkin.
Kinara mengangkat wajahnya sehingga tatapan mereka pun bertemu. Hati Dahayu terasa perih kala menemukan wajah Kinara yang tampak begitu sedih.
"Apaan banget mukanya begitu, jelek." Dahayu berusaha membuat candaan untuk mencairkan kembali suasana.
Namun yang terjadi justru dia dibuat kalang kabut Kinara mulai menangis.
"Loh? Heh? Kenapa malah nangis?!" pekik Dahayu panik. Buru-buru dia tangkup wajah Kinara dan dia hapus air mata yang mulai deras membanjiri pipinya.
"Lo kenapa, Ra? Gue terlalu galak, ya?" tanya Dahayu lagi.
Alih-alih menjawab, Kinara malah menghambur ke dalam pelukan Dahayu. Dia terisak-isak di sana. Menumpahkan air mata yang entah bagaimana dalam sekejap telah mengalir deras bagai keran air yang rusak.
Sekali lagi, yang pertama kali bisa Dahayu lakukan adalah menghela napas. Meskipun dia masih tidak tahu alasan apa yang membuat Kinara menangis, entah itu karena perkataannya yang menyakitkan atau ada hal lain, Dahayu tetap menepuk-nepuk punggung gadis itu demi membantunya menuntaskan tangis.
"Nangis aja sepuas lo. Nggak apa-apa, nggak gue larang." Ucap Dahayu sembari masih terus menepuk-nepuk punggung Kinara.
Sementara itu, jauh di seberang mereka, ada Atha yang baru muncul dari koridor bersama dua temannya. Pemuda itu menghentikan langkah dengan kerutan di kening kala menemukan kekasih dan sahabatnya tengah berpelukan.
"Drama apa lagi ini?" gumamnya seorang diri.
__ADS_1
Bersambung