After The Rain

After The Rain
It's Ok To Be Selfish Sometimes


__ADS_3

Tadinya, Kinara berniat untuk langsung beristirahat seperti yang Sekala perintahkan sebelumnya. Tetapi karena ini hari Senin dan dia telah banyak menguras energi untuk melayani banyak pelanggan, otomatis tubuhnya juga memproduksi keringat lebih banyak sehingga kini dia merasakan sekujur tubuhnya terasa lengket dan tidak nyaman.


Dia tidak akan bisa tidur kalau tubuhnya masih dalam keadaan kotor, jadi Kinara memutuskan untuk menerjang hawa dingin dan membasuh seluruh tubuhnya menggunakan air biasa, tidak menggunakan air hangat seperti yang biasa dia lakukan di malam-malam sebelumnya karena dia terlalu malas untuk memasak air terlebih dahulu.


Bayang-bayang wajah menyebalkan Atha kembali hadir di kepalanya sewaktu Kinara memejamkan mata, membuat perasaannya kembali berangsur memburuk dan rasa-rasanya dia ingin sekali meninju wajah pemuda itu hingga babak belur tak berbentuk.


Kalau saja pemuda itu menemuinya di tempat lain, bukan di Orion, dia pasti betulan akan melaksanakan angannya itu.


Sungguh, saat ini, perasaan yang begitu dominan Kinara rasakan adalah perasaan kesal yang begitu menggebu-gebu. Tidak ada lagi sedih, marah ataupun kecewa atas apa yang telah terjadi antara dirinya dengan Atha. Hidupnya sudah berangsur baik-baik saja karena kini dia dikelilingi oleh orang-orang baik sepeti Andanu, Astari, Sekala dan orang-orang di Orion.


Lalu, dengan semena-mena Atha datang lagi, memohon pengampunan atas kesalahan yang kalau mereka diberi kesempatan untuk bertukar posisi, Kinara yakin pemuda itu juga tidak akan sudi untuk memberikan pengampunannya. Bukankah wajar jika sekarang Kinara merasa kesal?


"Bajingan!" Kinara mengumpat, setelah sekian lama. Dari kecil, dia dididik untuk bicara hanya hal-hal baik saja. Tetapi karena dia merasa Atha dan segala kebrengsekannya itu sudah keterlaluan, Kinara rasa tidak apa-apa untuk menyumpahi pemuda itu sesekali.


"Susah payah aku perbaiki hidup aku ya, kamu seenaknya datang lagi, mengadu kalau hidup kamu nggak bahagia. Cih, nggak tahu diri." Gerutunya, masih dalam keadaan telanjang bulat karena sebetulnya dia belum selesai mandi. Kalau Mama tahu, dia pasti akan diomeli habis-habisan dan diceramahi soal setan-setan di kamar mandi yang akan menikmati tubuhnya.


Rasa Kesalnya terhadap Atha telah membuat tubuhnya seolah kebal, tidak lagi merasakan hawa dingin dari sisa-sisa air yang beberapa saat lalu dia guyurkan ke seluruh tubuh.


Umpatan lain mungkin akan kembali meluncur dari bibirnya, kalau saja ponsel yang sengaja dia bawa ke kamar mandi tidak berdenting nyaring membuyarkan bayangan berisi rencana balas dendam yang akan dia lakukan jika Atha berani muncul di hadapannya lagi.


Kinara tidak berusaha menerka-nerka siapa yang telah mengiriminya pesan jam segini, dia malah kembali mengguyurkan air dan melumuri seluruh tubuhnya dengan busa sabun dan meneruskan ritual mandi sampai benar-benar bersih.


Setelah seluruh tubuhnya bersih dari debu dan keringat, Kinara mengeringkan tubuhnya menggunakan handuk dan segera mengganti baju. Barulah setelah itu dia mengambil ponselnya yang dia letakkan di rak kecil yang tertempel di dinding kamar mandi.


Sembari berjalan keluar dari kamar mandi, Kinara memeriksa pesan masuk yang dia terima beberapa saat itu.


Ternyata, pesan itu datang dari Sekala.


Udah tidur?


Kalau diperkirakan waktunya, lelaki itu mungkin baru saja sampai di rumah dan langsung mengiriminya pesan. Jadi, untuk menghargai usaha Sekala dan memastikan bahwa dirinya baik-baik saja, Kinara segera mengetikkan balasan.


Belum, Mas. Saya baru selesai mandi.


Bermain ponsel saat sedang berjalan itu tidak baik. Seharusnya Kinara ingat nasihat yang selalu Mama berikan kepadanya itu, karena tidak lama setelah balasan berhasil dia kirimkan, Kinara mengaduh kesakitan karena jari kelingkingnya terkantuk kaki meja makan.


"Sakit ...." lirihnya, hanya bisa didengar oleh setan-setan penghuni rumah itu--yang tentu saja tidak punya cukup kepedulian untuk menimpali keluh kesahnya.


Belum reda sakit di kelingkingnya, balasan dari Sekala sudah datang lagi.


Kamu mandi semalam ini? Nggak dingin?


"Dingin, atuh, Mas Kala. Tapi ya gimana, daripada nggak bisa tidur karena badannya gatal-gatal." Celotehnya, namun yang dia ketikkan sebagai balasan tentu saja berbeda dengan apa yang barusan dia ocehkan.


Nggak terlalu. Mas Kala baru sampai rumah?


Saat ngilu di kelingkingnya mulai mereda, Kinara memutuskan untuk melanjutkan langkahnya. Dan berhubung dia tidak mau kejadian serupa terjadi lagi, dia menyimpan ponsel ke saku celana selama dia berjalan menuju kamarnya. Barulah ketika dia sampai di kamar, ponsel itu dia keluarkan lagi sembari dia merangkak naik ke atas kasur.


Entah apa Sekala memang selalu fast respons, atau hanya malam ini saja karena tahu kondisinya sedang tidak baik, balasan dari lelaki itu selalu datang hanya dalam hitungan detik setelah pesan yang dia kirimkan menjadi centang biru.


Iya, saya baru sampai. Kamu langsung tidur habis ini, jangan bergadang.


"Maunya juga gitu, Mas Kala," ocehnya lagi, kini sembari menyandarkan punggung ke headboard kasur.


Nggak bisa janji. Tulisnya, disertai emot sedih sebanyak dua biji.


Selanjutnya, alih-alih balasan lain, Kinara malah menemukan ponselnya berdering panjang, menandakan adanya panggilan masuk. Di layar, nama Sekala terpampang nyata.


Kinara terdiam sejenak untuk menarik dan membuang napas, lalu menegakkan punggung sebelum akhirnya menggeser log hijau.


"Halo?" sapanya.


"Kin?" panggil Sekala.

__ADS_1


"Iya, Mas Kala, kenapa?"


"Mau saya temani ngobrol sampai bisa tidur?"


Apa ini? Entah hanya perasaannya saja, atau suara Sekala memang jadi terdengar lain sekarang. Lebih terdengar berat dan dalam, yang pada akhirnya kembali membuat Kinasa merasakan sesuatu yang asing di dadanya.


"Kin? Kamu masih ada di situ?"


"Iya, masih."


"Jadi, mau saya temani atau nggak?"


"Emangnya boleh?"


Terdengar hela napas panjang dari seberang, sebelum suara Sekala kembali mengalun merdu. "Kalau nggak boleh, saya nggak akan nawarin, Kin."


Kini, giliran Kinara yang menghela napas. Iya juga, sih. Kalau tidak boleh, Sekala memang tidak akan menawarkan. Ah, entahlah, isi kepala Kinara saat ini terlalu acak-acakan karena ulah menyebalkan Atha. Dan, diperparah dengan gelenyar aneh yang tiba-tiba mengerubungi dadanya saat pertama kali dia mendengar suara Sekala tadi.


"Ya udah," pasrahnya kemudian. Toh, tidak ada ruginya juga mengobrol dengan Sekala sekarang. Barangkali dengan begitu, dia bisa sedikit demi sedikit menata kembali perasaan dan juga isi kepalanya yang semrawut.


"Ya udah apa?"


Wah, ralat. Mungkin sebaiknya dia segera tidur saja. Dia lupa kalau Sekala juga bisa jadi menyebalkan di beberapa kesempatan.


Tapi bohong. Kinara tetap mau kok mengobrol dengan Sekala meskipun lelaki itu menyebalkan. Jadi, dia menanggapi pertanyaan Sekala dengan penjelasan yang lebih panjang.


"Ya udah, saya mau ditemani ngobrol sama Mas Kala."


...****************...


"Ya udah, saya mau ditemani ngobrol sama Mas Kala."


Sekala tersenyum saat Kinara akhirnya menjawab. Dari nada suaranya, Sekala tahu gadis itu pasti sembari berkomat-kamit tanpa suara setelah menjawab pertanyaannya. Mereka memang belum lama saling mengenal, tetapi Sekala sudah bisa mengingat banyak detail dan kebiasaan yang gadis itu sering lakukan.


"Nggak tahu. Mas Kala aja yang cari topiknya. Tapi jangan yang terlalu berat, ya, soalnya otak saya lagi nggak bisa diajak berkompromi."


Nyaris saja Sekala meledakkan tawa saat Kinara mengatakan itu dengan suara yang begitu polos tanpa dosa. Kalau boleh menebak, ekspresi gadis itu sekarang pasti juga tidak kalah polos.


"Hmmm ... apa ya kira-kira topik yang nggak terlalu berat, tapi bisa membantu kepala kamu jadi sedikit lebih ringan?" itu bukan pertanyaan yang dia ajukan untuk Kinara, jadi Sekala tidak heran ketika gadis itu tidak menyahut.


Kemudian, setelah mempertimbangkan banyak hal, Sekala akhirnya menemukan satu topik yang sekiranya cocok untuk dibahas sekarang ini.


"Kin," panggilnya.


"Iya? Mas Kala udah tahu mau ngobrol soal apa?"


"Udah."


"Jadi, soal apa?"


"Pohon Flamboyan," ucapnya.


Hening mengudara cukup lama. Melalui telepon yang masih tersambung, sayup-sayup Sekala mendengar suara pergerakan di atas kasur. Sepertinya, Kinara baru saja membetulkan posisi duduk (atau mungkin rebahan).


"Kenapa dengan pohon Flamboyan?" suara Kinara terdengar lagi setelah beberapa detik berlalu.


Sekala tersenyum, menarik pandangannya dari jendela kamar dan beralih menatapi langit-langit kamarnya yang putih polos. "Kenapa kamu suka pohon Flamboyan? Saya lihat, kamu sering ambil foto pohon Flamboyan yang tumbuh di depan Orion? Is that tree has something special?"


Sebenarnya, sudah sejak lama Sekala ingin menanyakan soal ini kepada Kinara. Kalau untuk dirinya sendiri, pohon Flamboyan di depan Orion itu memiliki arti yang cukup mendalam. Sebab, pohon itu sudah ada di sana sebelum Orion dibangun, dan bisa dibilang kalau pohon Flamboyan itu telah menjadi saksi perjalanan dari awal Orion berdiri (dengan dirinya yang kala itu sudah separuh lebih hancur) sampai kini dia dan Orion sama-sama tumbuh menjadi lebih baik.


Sekala penasaran, untuk orang lain yang tidak terikat sejarah apapun dengan pohon itu, apa yang akan membuatnya tampak menarik? Padahal kalau dipikir-pikir, pohon Flamboyan termasuk pohon yang tidak direkomendasikan untuk ditanam di area perumahan atau dekat bangunan karena daun-daunnya akan sangat nyampah jika sudah mulai berguguran.


Di seberang, Kinara masih belum menyahut. Agaknya, gadis itu cukup kesulitan untuk menemukan alasan yang pas mengapa pohon Flamboyan itu terlihat spesial. Atau mungkin, gadis itu hanya belum menemukan padanan kata yang pas untuk menggambarkan perasaannya itu.

__ADS_1


Di tempatnya, Sekala tidak keberatan untuk menunggu. Dia masih dengan sabar menempelkan ponsel ke telinga, sembari memperhatikan kuku jari tangannya yang sudah mulai memanjang dan belum sempat dia potong.


Entah sudah berapa lama waktu berlalu ketika akhirnya Kinara kembali bersuara. Mengatakan sebaris kalimat yang kemudian membuat Sekala mengerti bahwa beberapa hal memang berjalan seperti itu. Bahwa tidak semua hal bisa dijelaskan dan memiliki alasan yang begitu jelas.


Dengan suaranya yang terdengar lebih tenang ketimbang biasanya, Kinara berkata, "It's just ... beautiful."


Senyum Sekala mengembang, kepalanya mengangguk tanpa sadar sebagai tanda persetujuan. Pohon itu memang cantik, terlebih saat bunganya sudah mulai bermekaran dan cahaya matahari ketika sore berpadu apik dengan warna kelopak bunga yang kemerahan.


Sekala juga sering mengambil foto pohon itu ketika sore menjelang, untuk dia simpan di galeri dan dia pandangi ketika hatinya sedang dilanda gundah. Sebagai penenang ketika hari-hari buruk dari belasan tahun lalu kembali datang menghampirinya, menghadirkan mimpi buruk yang datang di malam-malamnya yang sepi.


"Kenapa Mas Kala mau tahu soal itu?"


"Nggak apa-apa, saya cuma mau tahu aja, bagaimana cara orang lain melihat pohon itu. Karena ... "


"Karena?"


"Pohon itu memiliki makna tersendiri untuk saya. Makanya, saya selalu menolak ketika Jeremy atau Dimas rewel meminta saya untuk menebangnya dan menggantinya dengan pohon lain yang tidak terlalu banyak menggugurkan daun."


"Saya nggak tahu ada sejarah apa antara Mas Kala dengan pohon itu, tapi mulai sekarang, saya akan bantu Mas Kala untuk melindunginya."


Kekehan ringan lolos begitu saja dari belah bibir Sekala tatkala dia menemukan kesungguhan dari dalam suara Kinara. Dan dia tahu bahwa gadis itu memang bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


"Saya serius, Mas Kala. Saya nggak keberatan kalau harus nyapu daun-daun yang gugur setiap hari, asalkan pohon itu tetap ada di sana."


"Nggak perlu sampai segitunya, Kin. Saya udah minta tolong orang untuk bersihkan guguran daunnya setiap dua hari sekali."


"Tapi harus bayar, kan? Kalau sama saya, nggak usah bayar."


Sekala menyunggingkan senyum tipis. "Nggak apa-apa bayar, hitung-hitung berbagi rezeki, betul?"


Selama enam detik penuh, suasana kembali hening. Sampai kemudian Sekala mendengar suara hela napas dari seberang.


"Kenapa?" tanyanya, takut kalau-kalau ada ucapannya yang salah diterima oleh Kinara.


Namun jawaban yang Kinara berikan justru membuatnya diam seribu bahasa.


Gadis itu berkata, "Hati Mas Kala terbuat dari apa, sih? Kok bisa sepeduli itu sama semua orang? Kalau dipikir-pikir lagi, saya juga nggak pernah ngelihat Mas Kala marah."


Andai kamu tahu, Kin. Mas Kala yang kamu bilang peduli terhadap semua orang dan tidak pernah marah itu, justru adalah orang yang paling jahat kepada dirinya sendiri. Dia rela kesepian, rela menderita sendirian hanya untuk membuat orang-orang yang dia sayang berhenti tersakiti. Mas Kala kesayangan kamu itu tidak secerah yang kamu lihat setiap hari. Hidupnya penuh badai, Kin. Dia hanya terlalu pandai untuk menyembunyikan semua itu dibalik senyum manis yang selalu dia persembahkan untuk kamu dan orang-orang yang dia temui.


"Saya nggak sebaik itu, jadi jangan berekspektasi banyak." Kata Sekala setelah dia selesai merenungi diri.


"Ya, ya. Saya tahu, kok. Semua manusia memang memiliki cacatnya masing-masing. Saya cuma mau tahu aja, kenapa Mas Kala bisa begitu peduli pada orang-orang, di tengah era manusia-manusia egois yang bisanya cuma mementingkan diri sendiri." Celotehan itu lebih terdengar seperti curahan hati, yang tentu saja berbanding terbalik dengan apa yang selama ini Sekala rasakan.


Sekala justru bertanya-tanya, bagaimana bisa ada orang-orang yang hidup untuk memenuhi kepuasan egonya sendiri, dengan mengorbankan orang-orang yang mereka sayangi?


"Saya cuma ... nggak tahu gimana caranya menjadi egois," untuk pertama kalinya sepanjang hidup, kalimat jujur itu keluar dari bibir Sekala, dikatakan kepada seorang gadis yang umurnya jauh lebih muda plus dia kenal belum lama.


"Mau belajar jadi egois bareng saya, nggak? Saya juga lagi belajar untuk jadi manusia egois nih, Mas."


"Kalau bisa jadi nggak egois, kenapa harus belajar jadi egois, Kin?"


"Soalnya, Mas, saya pernah dengar ada seseorang yang bilang kalau kita nggak boleh zalim kepada diri sendiri. Sebab diri kita bukan miliki kita sendiri, melainkan milik dari Tuhan dan harus kita jaga juga sepenuh hati." Sekala pikir, Kinara sudah selesai bicara karena gadis itu terdiam cukup lama.


Tetapi, saat dia hendak membuka mulutnya untuk menanggapi, gadis itu kembali bersuara.


"Untuk apa memikirkan kepentingan orang lain terlalu banyak, kalau itu akhirnya membuat kita menyakiti diri sendiri? Baik sama orang lain, tetapi jahat ke diri sendiri juga bukannya nggak diperbolehkan ya, Mas? Ya, bukan berarti kita boleh jadi semena-mena dengan orang lain juga, sih. Cuma ... duh, gimana ya menjelaskannya. Intinya, ada beberapa hal yang memang harus kita perjuangkan untuk diri kita sendiri, Mas."


Sampai di sini, Sekala masih memutuskan untuk diam. Dia resapi setiap kalimat yang Kinara sampaikan dan dia cerna baik-baik di otaknya. Lalu, semakin dia pahami, semakin dia merasa tertampar.


Satu pertanyaan mulai muncul di kepalanya saat ini. Sudah berapa banyak dia menyakiti diri sendiri selama ini?


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2