
Setelah mengakhiri panggilan video dengan Widy, Tristan segera menemui Tiysa, setelah mencari Tiysa beberapa saat, dia akhirnya menemukan Tiysa yang duduk di ruang pantry sambil membaca pesan masuk di layar ponselnya.
Perlahan Tristan berjalan mendekati Tiysa, lalu duduk tepat di samping Tiysa.
“Ada apa sayang?” tanya Tristan, dia melihat wajah Tiysa yang tampak kurang bersemangat.
Tiysa menoleh dan langsung tersenyum kepada Tristan, dia lalu menunjukkan pesan masuk dari Widy yang memintanya hadir di pernikahan Widy yang akan dilangsungkan minggu depan.
“Widy?” Tristan bertanya seolah tidak mengenal Widy.
Tiysa menangguk pelan, dia berkata, “Dia salah satu anak teman ayahku, karena urusan pekerjaan ayah kami, aku dan dia akhirnya sering bertemu dan menjadi dekat, begitupun dengan anak-anak sahabat ayahku yang lainnya,” terang Tiysa.
Dia lalu melanjutkan “Baru saja dia mengabariku jika dia dan beberapa anak teman ayahku akan melangsungkan pernikahan mereka secara bersamaan, mereka memintaku untuk datang menghadiri pernikahan mereka.”
“Lalu ada masalah apa dengan itu? Mengapa kamu terlihat lesu? Tanya Tristan yang masih seolah tidak mengerti, dia bisa menebak alasan Tiysa terlihat lesu karena Widy dan yang lainnya akan melaksanakan pernikahan mereka di Rusia.
“Masalahnya mereka akan melangsungkan pernikahan mereka di Rusia, bagaimana aku bisa menghadiri pernikahan mereka di tempat sejauh itu,” jawab Tiysa.
“Apakah karena terkait biaya?”
Tiysa tersenyum mendengar pertanyaan Tristan, dia berkata, “Itu juga bukan karena biaya, gadis-gadis ini beruntung karena mendapatkan putra pengusaha kaya raya di luar negeri, para calon suami mereka yang akan membayar biaya perjalananku ke sana,” kata Tiysa.
“Lalu masalahnya di mana?” Tristan juga mulai kebingungan, menurutnya Tiysa seharusnya tidak lagi pusing mengenai masalah ini, masalah biaya perjalanan sudah teratasi, jadi dia tidak mengerti mengapa kekasihnya masih terlihat lesu.
“Mereka memintaku datang bersama calon suamiku, hah... kamu tahu sendirikan, Trisha Motor saat ini benar-benar bergantung kepada kita berdua dan karyawan senior yang lainnya, tidak mungkin kita membiarkan Pak Yono mengurusi semua pekerjaan saat kita berada di Rusia.” Tiysa menghela nafasnya, dia benar-benar merasa dilema.
Tristan kembali tersenyum mendengar perkataan Tiysa, dia tidak menyangka jika hal yang membuat Tiysa pusing karena tidak ingin membebani pekerjaan teman-temannya dan Yono jika mereka berdua pergi.
“Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, aku akan mencari cara untuk menutupi ketidakhadiran kita berdua.” Tristan mengusap kepala Tiysa yang langsung menatapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
...****************...
Keesokan harinya...
Tiysa yang baru saja selesai meeting tampak sedang memberikan pengarahan kepada beberapa karyawan baru yang akan menjadi tenaga marketing untuk Trisha Motor.
Ketika dia sedang memberikan pengarahan, dari pintu masuk showroom sekitar tiga puluh orang yang terdiri dari pria dan wanita masuk ke dalam showroom, Tiysa sontak terkejut melihat pemandangan itu, ketika dia berniat menghampiri orang-orang itu, beberapa wanita yang baru saja masuk langsung berlari menghampirinya.
“Tuan Putri akhirnya kita bisa bertemu!” teriak salah satu wanita.
“Tuan Putri?” Tiysa sempat menoleh ke belakangnya untuk memastikan jika wanita itu sedang memanggil dirinya dan bukan orang lain.
Ketika dia kembali menoleh, wanita yang memanggilnya tuan putri langsung memeluknya, Tiysa sedikit canggung ketika mendapatkan perlakuan seperti itu dari wanita yang tidak dia kenali.
“Sepertinya kamu tidak mengenali mereka.” Terdengar suara seorang wanita yang sangat tidak asing, Tiysa langsung menoleh mencari pemilik suara itu.
“Kak Dian?” Tiysa terkejut saat melihat Dian berada di antara kerumunan orang yang baru saja tiba, dia juga melihat Cindy dan Sapto yang sering menyemangatinya ketika Tristan masih berada di luar negeri.
Dia tidak lagi canggung dan langsung menyambut mereka dengan perasaan bahagia, selama ini Tiysa hanya mengenal Dian, Cindy dan Sapto, untuk mantan karyawan Tristan yang lain, walaupun dia sering berkirim pesan dengan mereka semua, dia tidak mengetahui wajah mereka, karena itulah dia terlihat kebingungan ketika beberapa wanita tadi langsung memeluknya.
“Tapi mengapa kalian semua berada disini? Tidak mungkin kalian datang hanya untuk bertemu Tristan?” Tiysa merasa heran karena melihat semua mantan Karyawan Tristan yang hampir semuanya adalah manager ternama dari perusahaan besar, berkumpul di showroom Trisha Motor saat jam kerja.
“Bertemu Tristan hanyalah salah satu alasan mengapa kami semua datang ke tempat ini,” kata Cindy.
“Alasan utama kami datang, karena kami mendengar jika adik kecil kami sedang membutuhkan bantuan dengan pekerjaannya,” sambung Dian menambahkan.
Tiysa akhirnya kembali mengingat percakapannya dengan Tristan, kemarin Tristan mengatakan akan menangani masalah pekerjaan jika mereka berdua pergi ke Rusia selama beberapa hari.
“Jadi kemarin Tristan menghubungi kalian semua?”
__ADS_1
Dian tersenyum, sambil melangkah mendekati Tiysa dia berkata, “Dia hanya meminta bantuanku, karena penasaran, aku membagikan permintaan Tristan kepada yang lainnya, dan tak disangka mereka semua mengatakan siap kembali bekerja di bawah kepemimpinan Tristan.”
Dian melanjutkan, “Oleh karena itu, mulai hari ini kami mungkin akan resmi bergabung dengan Trisha Motor, jadi mohon bantuannya,” kata Dian.
Tiysa tersenyum hangat namun senyumannya dengan cepat memudar, dia sedikit merasa bersalah karena hal ini.
“Aku benar-benar meminta maaf, karena aku dan Tristan akan pergi ke Rusia, kalian akhirnya harus meninggalkan pekerjaan kalian untuk membantu Trisha Motor.” Tiysa sedikit merasa tidak enak, dia berpikir jika alasan mereka semua membantu Trisha Motor karena ingin membalas budi kepada Tristan.
Tiysa sudah mendengar dari Dian bagaimana Tristan membantu mereka semua sewaktu masih bersama di Tirta Wira Perkasa.
“Tiysa, kamu tidak perlu berpikir yang tidak-tidak.” Cindy maju mendekati Tiysa dan meraih kedua tangannya.
Dia melanjutkan, “Awalnya niat kami memang hanya membantu Tristan, namun setelah melakukan interview singkat dengan Pak Yono melalui telepon, kami merasa jika pindah ke Trisha Motor adalah pilihan yang tepat bagi karir kami,” terang Cindy.
Sapto Juga ikut berbicara, dia mengatakan, “Pak Yono sudah menjelaskan rencana Trisha Motor ke depannya dengan singkat kepada kami, itu benar-benar sangat luar biasa, dan dari segi penghasilan, Pak Yono juga menawarkan kami Gaji yang sedikit lebih tinggi dari tempat kami kemarin bekerja, itu sebabnya, bekerja di tempat ini juga sangat menguntungkan bagi kami,” jelas Sapto.
Tiysa mengangguk pelan, dia tidak menyangka jika mantan karyawan Tristan ternyata bergabung dengan Trisha Motor bukan hanya karena ingin membantu Tristan, tapi juga karena jaminan karir yang bagus di masa depan.
Saat mereka sedang asyik berbicara, Yono datang menghampiri mereka, Yono langsung mengucapkan terima kasih kepada mereka karena sudah menyetujui untuk bekerja di Trisha Motor.
Bintang, Indra dan lima karyawan wanita Yono ikut bergabung, mereka semua saling berkenalan dan berinteraksi satu sama lain.
Tak berselang lama Tristan yang baru saja turun dari lantai dua juga hendak bergabung bersama mereka, namun tepat setelah Tristan menginjakkan kakinya di lantai dasar. Semua mantan karyawannya langsung berlari menghampirinya.
Baik pria maupun wanita, mereka semua memeluk Tristan secara bergantian, beberapa wanita bahkan menitikkan airmata ketika melihat Tristan, beberapa wanita lainnya tampak memuji wajah Tristan yang semakin tampan setelah lima tahun tidak bertemu.
Tiysa tersenyum lembut memandangi wajah Tristan, itu pertama kalinya dia melihat Tristan tertawa begitu lepas ketika berinteraksi bersama orang lain.
Dari pertemuan itu Tiysa bisa melihat kedekatan yang terjalin antara Tristan dan mereka.
__ADS_1
...****************...