
Semua mata langsung tertuju kepada Tristan dan Gino ketika mereka memasuki aula.
Para korban dan keluarganya yang selama ini hanya mendengar desas-desus mengenai keluarga Yaroslav saat ini bisa melihat dua Tuan Muda dari keluarga legendaris itu.
Beberapa keluarga korban berniat menghampiri Tristan dan Gino untuk mengucapkan rasa terima kasih mereka, namun bawahan Haris menahan mereka, sambil tersenyum bawahan Haris mengatakan jika kedua Tuan Muda akan berkeliling menemui korban dan keluarganya satu persatu, jadi mereka tidak perlu berebutan untuk menyapa kedua Tuan Muda.
Sambil terus tersenyum Tristan dan Gino menghampiri para korban dan keluarganya, tak lupa Gino membagikan bingkisan berwarna merah yang sudah dia persiapkan kepada para korban, Tristan sendiri tidak mengetahui apa isi bingkisan yang dibagikan Gino kepada korban, yang jelas para korban terlihat senang mendapatkan bingkisan kado dari Gino.
Keluarga korban terus-menerus mengucapkan terima kasih kepada Tristan dan Gino, beberapa dari mereka memeluk Tristan dan Gino yang terlihat seumuran dengan anak mereka, beberapa orang bahkan mencoba mencium tangan Tristan dan Gino, namun dengan sigap Tristan dan Gino menarik tangannya dan berkata, kami tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti itu dari orang yang seumuran dengan orang tua kami.
"Kakak, sekarang aku akan menyerahkan masalah disini kepadamu, kamu mewarisi sifat lembut dan baik hati dari ibu, aku yakin sifat lembutmu itu akan sedikit membantu memulihkan kondisi mental para korban yang berada disini," ucap Gino sambil menepuk pundak Tristan.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?“
"Aku akan pergi menemui Boby dan anggotanya," balas Gino.
"Baiklah, aku juga sudah menyerahkan penyelesaian masalah ini kepada kamu, aku akan mendukung setiap tindakan yang kamu ambil," kata Tristan sambil tersenyum kepada adiknya.
"Baiklah Kak, kalau begitu aku akan berangkat sekarang."
"Tunggu, biarkan aku mengantarmu sampai ke mobil, kamu juga belum menjawab pertanyaanku tentang tiga hal yang dibutuhkan para korban," kata Tristan.
Gino mengangguk setuju, mereka berdua lalu berjalan menuju lift.
"Rooftop?" Tristan bertanya kepada Gino karena menekan tombol lift menuju Rooftop dan bukan tombol menuju basement parkiran mobil.
Gino tersenyum, dia lalu berkata, "Kak, tiga hal yang dibutuhkan korban, yang pertama adalah perhatian, yang kedua adalah perlindungan, dan yang ketiga adalah penghakiman," kata Gino menjelaskan.
"Penghakiman?" Tristan terlihat bingung dengan perkataan Gino.
Ting!
__ADS_1
Lift sudah tiba di Rooftop, Tristan langsung dibuat tercengang saat pintu lift terbuka.
Tristan melihat beberapa orang menggunakan pakaian tactical militer lengkap berwarna hitam, masing-masing dari mereka memegang senapan serbu, dapat terlihat jelas jika mereka semua sedang menunggu ke datangan Gino.
"Gino, apa memang perlu berbuat sejauh ini? Boby dan anak buahnya sudah di taklukkan, untuk apa kamu membawa pasukanmu dengan senjata lengkap kesana?" Tristan benar-benar dibuat kebingungan dengan tindakan Gino.
"Kakak, aku sudah bertanya kepada Haris, dia mengatakan jika para korban dan keluarga mereka belum mengetahui jika Boby dan anak buahnya sudah di tangkap, aku hanya ingin menunjukkan kepada mereka apa yang keluarga Yaroslav kita bisa lakukan," kata Gino sambil berjalan menuju lantai kaca di tempat itu.
"Ini bagian dari pertunjukan untuk membuat mereka yakin jika kita tidak main-main tentang melindungi mereka," sambung Gino. Dia terlihat sudah berdiri di atas lantai kaca tempat itu.
Para korban dan keluarganya yang berada di aula sontak terkejut saat melihat kain yang menutupi plafon di aula perlahan terbuka, para korban dan keluarganya yang berada di aula itu langsung menengok ke atas, mereka semua bisa melihat Gino yang sedang berdiri diatasnya.
Ternyata lantai kaca yang sedang Gino injak merupakan atap kaca dari aula hotel tempat dimana para korban mendapatkan perawatan.
Gino menunduk dan melambaikan tangannya kepada para korban yang sedang melihatnya dari aula yang berada tepat dibawah kakinya.
Gino melangkah menuju helikopter, dibelakangnya pasukan bersenjata lengkap yang Gino siapkan mengikuti Gino dengan berbaris rapi, para korban dan keluarganya lagi-lagi dibuat takjub dengan pemandangan itu, mereka bisa melihat jika Gino benar-benar serius ingin membasmi kelompok Boby.
Sebelum naik ke helikopter Gino terlihat menoleh ke Tristan sambil mengacungkan jempolnya, tak berselang lama, Helikopter yang membawa Gino dan pasukannya terbang meninggalkan Hotel itu.
Para korban dan keluarga mereka tentu saja bisa melihat semuanya dari aula, beberapa dari mereka tampak meneteskan airmata, mereka yakin jika Gino akan menghakimi kelompok Boby dengan hukuman yang setimpal.
Tirai kembali menutupi langit-langit aula hotel itu, Tristan juga terlihat kembali menuju aula untuk menghibur dan menyemangati para korban.
Ketika Tristan sudah berada di aula, Tristan langsung memanggil Haris.
__ADS_1
"Pak Haris, apakah kamu sudah mengetahui rencana Gino sebelumnya?"
"Iya Tuan Muda," jawab Haris singkat.
"Tolong kamu urus hal itu, aku tidak ingin pihak militer dan keamanan negara tempat ibuku dilahirkan menjadi tersinggung karena aksi yang Gino lakukan," kata Tristan sambil menghela nafasnya.
Dia tahu jika Indonesia memiliki aturan ketat tentang penggunaan senjata api dan juga pembunuhan, walaupun militer keluarganya cukup di pandang di mata Dunia, kakeknya sudah berkali-kali mengingatkan agar tidak membuat pihak militer negara indonesia tersinggung, itu karena negara indonesia dan negara kakeknya sudah menjalin persahabatan sejak lama, kakeknya juga mengingatkan jika unit pasukan khusus tiap angkatan militer negara Indonesia memiliki kemampuan yang setara dengan unit pasukan khusus milik keluarganya.
Haris tersenyum, dia berkata, "Tuan Muda bisa tenang, aku sudah menghubungi pihak kedutaan Rusia untuk menjelaskan maksud dari tindakan Gino, aku juga mengenal beberapa perwira tinggi di pihak militer Indonesia, mereka dan aku dulu sering bertemu dan menjalankan misi kemanusiaan bersama-sama di berbagai negara yang terlibat konflik."
Tristan tersenyum lega, dia kembali mengingat Dirga dari kontingen Garuda yang dulu menolongnya dan memberinya masukan ketika menjalani misi pelatihan, mungkin jika nanti mereka berdua sudah tua, dia dan Dirga akan memiliki koneksi seperti Haris dan temannya di Indonesia.
Tristan kembali mengunjungi para korban dan keluarganya, beberapa dari mereka sudah bisa tertawa dan bercanda bersama Tristan, beberapa korban lainnya masih terlihat sangat trauma, namun dengan sifat lembut dan perhatian dari Tristan, perlahan mereka bisa tersenyum dan sedikit melupakan kenangan pahit yang sudah menghancurkan fisik dan mental mereka.
45 menit kemudian, terlihat beberapa bawahan Gino masuk kedalam aula sambil membawa layar besar, speaker dan juga sebuah proyektor.
Bawahan Gino lalu mengatur layar itu menghadap para korban dan keluarganya, lampu yang menerangi aula dimatikan dan proyektor yang menyorot ke layar besar di nyalakan.
Semua mata yang berada di aula itu kini tertuju pada layar besar di depan mereka.
Ketika layar mulai menampilkan gambar, sontak orang-orang langsung berdiri dengan ekspresi wajah terkejut.
"Tes... Tes... Apakah ini sudah terhubung?" kata Gino sambil tersenyum menghadap ke kamera.
Di belakang Gino tampak Boby dan seluruh anggotanya bertekuk lutut dengan tangan terikat di belakang.
"Saatnya penghakiman!" kata Gino sambil berjalan menuju Boby dan anak buahnya.
___
Kayaknya Gino Bakal Ngamuk Gaes 😅😅.
__ADS_1
Visual Haris 🤔🤔