
Dor! Dor! Dor!
Suara letusan senjata api terdengar saling bersahutan, Tristan yang sedang menjalani misinya di salah satu negara di Afrika, sedang terlibat baku tembak dengan kelompok bersenjata di daerah itu.
Sudah lebih 4 jam mereka saling tembak, korban terus berjatuhan di pihak kelompok lawan yang menyerang Tristan.
Beberapa jam yang lalu, Tristan dan empat orang anggota regunya mengunjungi sebuah desa untuk memberikan bantuan makanan dan obat-obatan.
saat mereka sedang bercengkrama dengan penduduk setempat, tiba-tiba dari kejauhan, 8 mobil pickup terlihat menuju ke desa itu dan mulai melepaskan tembakan ke arah penduduk yang sedang berkumpul.
Tristan dan anggota regunya langsung merespon, seorang diantaranya langsung mengevakuasi warga ke tempat aman, dan sisanya bertahan menghalau kelompok bersenjata itu.
Walaupun Tristan hanya berlima, dia dan anggota regunya dapat bertahan dan menghalau pihak kelompok bersenjata itu, agar tidak masuk lebih dalam ke desa tempat warga mengungsi.
Terdengar suara tangisan dari anak berumur 7 tahun yang sedang ia lindungi, beberapa warga sudah berhasil di evakuasi, hanya tersisa 3 warga sipil ditempat itu yang menunggu untuk di evakuasi, termasuk anak yang sedang menangis tadi.
"Take cover!" kata seorang bawahan Tristan ketika pihak lawan memberondong mereka dengan peluru yang dimuntahkan dari senapan Ak 47.
"Berapa lama lagi hingga bantuan tiba?!" kata Tristan sambil berteriak kepada salah satu bawahannya.
"Estimasi 3 Jam komandan! Mereka juga terlibat kontak senjata dengan kelompok dari grup lain"
Tristan berdecak kesal, saat ini amunisi yang mereka bawa tidak akan mampu bertahan selama itu. Bantuan dari pihak lawan juga terus berdatangan membuat kondisi Tristan dan regunya semakin tidak menguntungkan.
Anak kecil yang berada disampingnya terlihat sangat ketakutan, dia terus menangis sembari memanggil orang tuanya.
"Mama...."
Tristan memeluk anak itu lalu berkata, "Tenang saja, paman akan membawamu bertemu dengan keluargamu."
Anak kecil itu mengangguk dalam dekapan Tristan.
Tiba-tiba rentetan suara senjata berhenti, suasana menjadi hening, Tristan dan anggota regunya yang merasa aneh segera mengecek melalui celah jendela rumah.
"RPG! RPG!"
Dari celah itu terlihat salah satu pria dari kelompok yang baru saja datang mengeluarkan Granat Berpeluncur Roket (RPG) dan bersiap menembakkannya ke tempat Tristan dan regunya berada.
Tristan sontak memeluk anak itu dan mengangkatnya menjauh dari tembok.
Siiut... BOOM!
Roket yang ditembakkan langsung menghancurkan tembok yang berada tepat di belakang Tristan, serpihan tembok hancur beterbangan, Tristan segera menggunakan punggungnya sebagai tameng untuk melindungi anak yang berada dalam dekapannya.
"Ackk!" pekik Tristan ketika bongkahan tembok berukuran kepala orang dewasa menghantam punggungnya.
Brukk!
Dentuman keras berbunyi ketika badan Tristan yang juga ikut terhempas, menabrak lemari kayu yang berada di depannya.
"Komandan!" teriak salah satu anggota regu Tristan. Dia langsung berlari menghampiri tubuh Tristan yang di tindih serpihan tembok.
"Cover! Cover!" teriak anggota lainnya yang langsung memberondong pihak lawan dengan tembakan, dia berusaha mengalihkan perhatian musuh dari anggota regu yang sedang menarik tubuh Tristan.
Dor Dor Dor
Ngiiing!
Bunyi melengking membuat Tristan tidak dapat mendengar ucapan dari anggotanya yang sedang menyeret tubuhnya ke tempat aman.
__ADS_1
Penglihatannya masih sedikit gelap karena benturan yang dia terima di bagian punggung, samar-samar dia melihat anak kecil yang sedang dia peluk menangis dalam ketakutan.
"Syukurlah dia tidak apa-apa," gumam Tristan sembari tersenyum lega.
Semakin lama kesadaran Tristan semakin menghilang, kelopak matanya terasa berat, dalam penglihatannya dunia seolah sedang berputar.
Bunyi melengking akibat serangan roket perlahan menghilang, yang membuatnya bisa mendengar keadaan disekitarnya.
Sebelum Tristan akhirnya kehilangan kesadaran, dia mendengar suara beberapa mobil lapis baja mendekat, lalu terdengar suara seorang pria menggunakan pengeras suara, dia meminta agar kelompok yang menyerang Tristan untuk berhenti.
Dalam pendengaran Tristan pria itu berkata,
"Tahan tembakan kalian, kami dari PBB, Kontingen Garuda asal Indonesia!"
Tak!
Kedua lengan Tristan yang memeluk tubuh anak itu jatuh terkulai, Tristan kehilangan kesadarannya.
__
Pada saat yang sama di Jakarta.
"Maafkan aku, aku akan mengganti kerusakannya," kata Tiysa, dia terlihat membungkukkan badannya kepada seorang pria berumur 60 tahun, yang sedang berdiri di depannya.
Pria itu tersenyum lalu berkata, "Tidak apa-apa, itu cuma goresan kecil, kamu sebaiknya beristirahat jika sedang lelah," kata pria itu dengan sopan kepada Tiysa.
Setelah mengatakan hal tersebut kepada Tiysa, dia kembali ke dalam mobilnya dan meninggalkan tempat itu.
"Ah... aku benar-benar sial hari ini," keluh Tiysa sembari menuju mobilnya.
Tiysa meraih ponselnya, dan kembali memasang earphone yang tadi dia gunakan.
"Maafkan aku, tadi aku sempat menyerempet mobil yang ada di depanku," keluh Tiysa.
"Kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Dian yang terdengar cemas dengan kondisi Tiysa.
"Iya, orang itu juga tidak mempermasalahkannya, dia benar-benar baik," jawab Tiysa
"Sebaiknya kamu menenangkan pikiranmu dulu, apakah ada cafe di dekat tempatmu sekarang?"
"Iya," jawab Tiysa sambil menatap bangunan berwarna coklat gelap yang berada tak jauh dari mobilnya.
"Beristirahatlah di cafe itu, aku akan menemanimu bercerita sampai kamu merasa tenang," balas Dian.
Tiysa turun dari mobilnya lalu menuju ke Cafe dengan berjalan kaki.
Sejak pagi Tiysa tidak bisa fokus, dadanya terus berdebar-debar, dia merasa mengkhawatirkan sesuatu, namun dia tak tahu pasti apa yang membuatnya merasa khawatir.
Yang lebih anehnya wajah Tristan berulang kali muncul dibenaknya, saat dia tidak sedang memikirkan Tristan. Itu seperti muncul dengan sendirinya.
Setelah memasuki cafe dan duduk disalah satu kursi, seorang pelayan datang dan mencatat pesanannya, tak lama kemudian pelayan tersebut pergi untuk membuat pesanan Tiysa.
"Sudah 5 tahun sejak dia meninggalkan Indonesia, apa kamu belum mendapatkan kabar tentang Tristan?" tanya Dian.
"Iya," jawab Tiysa lirih.
"Jangan khawatir, aku yakin dia pasti kembali," kata Dian menyemangati Tiysa.
__ADS_1
"Iya, aku juga percaya jika Tristan pasti akan kembali," balas Tiysa.
Minuman yang di pesan Tiysa sudah selesai, pelayan cafe itu meletakkan minuman Tiysa di meja, dia juga terlihat membawa kotak tisu yang kemudian dia letakkan tepat di samping minuman Tiysa.
"Apapun masalahnya kakak harus tetap semangat," kata pelayan wanita itu sebelum pergi meninggalkan Tiysa.
Tiysa merasa heran dengan ucapan dari pelayan itu.
"Ah, apakah wajahku terlihat begitu menyedihkan," batin Tiysa.
"Oek... Oek...." terdengar suara tangisan bayi dari tempat Dian.
"Bos kecil sepertinya lapar," kata Dian.
"Dian, biarkan aku melihat wajahnya, aku akan melakukan panggilan video," seru Tiysa.
"Oke Nona," balas Dian singkat.
Tiysa lalu menghubungi Dian kembali melalui panggilan video.
Dian terlihat meletakkan ponselnya di meja dengan kamera yang menyorot ke tempatnya, dia lalu menuju ke tempat tidur untuk menggendong bayinya.
"Mari kita lihat bibi Tiysa," kata Dian kepada bayi mungilnya yang langsung diam ketika digendong oleh ibunya.
Dian lalu mendekat ke ponselnya, matanya menyipit tajam memandangi layar ponselnya.
"Tiysa, ada apa denganmu?"
Tiysa mengangkat kedua alisnya karena merasa aneh dengan pertanyaan Dian.
"Ada apa?" tanya Dian.
"Kamu menangis?"
"Hah?" jawab Tiysa heran.
Tiysa lalu menyentuh kelopak matanya, dia dapat merasakan jika kelopak matanya sedikit basah.
"Aku tidak...," kata Tiysa yang juga merasa heran.
"Apa karena Tristan lagi? jangan bilang kamu kembali menyalahkan dirimu," kata Dian yang terlihat cemas.
"Tidak... Tristan...,"
Deg.
Jantung Tiysa tiba-tiba berdegub cepat, rasa khawatir yang lebih hebat datang menghampirinya, dadanya terasa sesak. Airmatanya mengalir dengan deras.
"Tiysa!" seru Dian panik ketika melihat Tiysa yang tiba-tiba menangis.
"Dian... Aku tidak menyalahkan diriku lagi... Aku...." Tiysa tidak dapat menyelesaikan kalimatnya, dia benar-benar tidak mengerti mengapa dia bisa menangis.
Tiysa mengambil tisu yang dibawa pelayan tadi, dia akhirnya sadar mengapa pria pemilik mobil tadi dan si pelayan wanita berkata demikian kepadanya. Itu karena sejak tadi dia sudah menitikkan airmata tanpa dia sadari.
"Aku tidak tahu Dian, sejak pagi wajah Tristan terus muncul bersamaan dengan perasaan khawatir, aku tidak tahu... saat ini aku hanya ingin menangis...." kata Tiysa berlinang airmata.
"Rasanya begitu menyakitkan... Dian, apakah Tristan baik-baik saja?"
__
__ADS_1