Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 6 : Kencan Resmi Pertama Bersama Gea


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak kejadian itu, Tristan juga sudah menempati rumah mewah pemberian Kakek Subroto, menurut apa yang telah disepakati, besok rencananya Tristan akan diumumkan menjadi CEO di salah satu perusahaan milik Tirta Baskara Grup.


Hari ini Tristan berencana menghabiskan waktu dengan tunangannya, semenjak mereka bertunangan, ini akan menjadi pertemuan kedua mereka dan menjadi kencan pertama resmi mereka.


Di halaman depan rumah mewah pemberian Kakek Subroto, terparkir mobil Honda Civic berwarna putih, hari ini rencananya Tristan akan menggunakan mobil itu yang juga merupakan pemberian dari kakek Subroto.


Hari itu Tristan mengenakan kemeja lengan panjang polos berwarna putih, dipadukan dengan celana kain berwarna abu-abu muda disertai sepatu sneakers berwarna putih. Setelah persiapan selesai Tristan pun segera menuju mobil untuk menjemput Gea.


Beberapa saat kemudian Tristan sudah tiba disalah satu rumah mewah yang terletak di bagian Jakarta Selatan, setelah memarkir mobil dia lalu menuju ke pintu rumah mewah tersebut, seorang pria berumur 48 tahun sedang tersenyum dan menyapanya.


"Tristan ... selamat datang, Nak," sapa pria itu menyambut Tristan disertai senyuman ramah, pria itu adalah Purwadi Kuncoro ayah dari Gea Kuncoro.


"Paman Purwadi ...," balas Tristan disertai gestur badan yang sedikit membungkuk.


"Ayo masuk, Nak, sambil menunggu Gea mari kita berbincang di ruang tamu," ucap Purwadi kepada Tristan.


"Iya Paman, " balas Tristan singkat.


Ibu Gea ikut bergabung dengan mereka, tidak banyak yang bisa mereka bicarakan, pembahasan mereka hanya seputar perusahaan yang akan di pimpin Tristan, ayah Tristan menyebut beberapa nama yang bekerja di perusahaan itu, Purwadi mengatakan jika orang-orang yang dia sebut merupakan orang kepercayaan Purwadi.


Purwadi juga mengatakan jika dirinya yang menjabat sebagai direksi di Tirta Baskara Grup akan selalu mendukung setiap kebijakan Tristan. Ibu Gea sendiri tidak terlalu banyak bicara, dia hanya ikut mengangguk ketika suaminya menjelaskan terkait masalah perusahaan.


Beberapa saat kemudian Gea telah selesai, Tristan sendiri sempat terpesona ketika melihat Gea saat ini, sewaktu di acara pertunangan mereka, Gea mengenakan gaun dan riasan yang cukup terlihat tidak cocok jika digunakan oleh gadis seusia Gea.


Namun saat ini gadis yang berumur 19 tahun itu hanya mengenakan riasan tipis. Gadis itu juga mengenakan gaun putih selutut dibalut dengan jaket berbahan jeans dan sepatu Slip on berwarna putih. Gaya kasual dan riasan sederhana itu membuat aura kecantikannya semakin terlihat.


__ADS_1


Setelah berpamitan kepada kedua orang tua Gea, Tristan dan Gea pun meninggalkan rumah mewah itu.


"Jadi kemana kita akan pergi?" tanya Tristan kepada Gea sambil tetap fokus mengemudikan mobil.


"Di Cafezoid," balas Gea, "aku akan memperkenalkanmu kepada beberapa sahabatku," sambung Gea sambil menoleh ke arah Tristan.


"Oh, yang di daerah Kuningan, baiklah," balas Tristan sambil tersenyum ke arah Gea.


Saat ini Gea benar-benar senang karena bisa jalan bersama dengan tunangannya, dia juga bisa membayangkan ekspresi sahabatnya ketika mereka melihat Tristan, di acara pertunangan mereka, sahabat Gea tidak hadir, bukan karena mereka tidak mau, tapi karena Kakek Gea, Subroto Kuncoro membuat acara itu hanya bisa dihadiri kerabat dekat saja.


Gea sendiri sempat menolak rencana perjodohan ini, dia meminta kepada ayah dan ibunya agar tidak menerima rencana Kakeknya, namun tentu saja permintaan itu ditolak oleh kedua orang tuanya, karena di dalam keluarga Kuncoro perintah dari Kakek Gea sebagai kepala keluarga harus dipatuhi.


Hal yang membuat Gea menentang rencana kakeknya karena waktu itu Kakek Gea mengatakan, jika Tristan hanya berasal dari keluarga dengan latar belakang biasa saja, tentu saja Gea langsung menolak saat mendengar itu, apalagi saat itu Gea sudah dekat dengan seorang pemuda yang memiliki latar belakang keluarga kaya, Gea berpikir bagaimana bisa cucu dari pemegang saham kedua terbesar di Tirta Baskara Grup menikahi pria dengan latar belakang biasa saja.


Namun ketika Kakek Gea menambahkan jika tunangannya itu nantinya akan menjadi kandidat terkuat yang akan mewarisi dan menjalankan usaha keluarga Kuncoro, Gea akhirnya pasrah menerima rencana perjodohan itu.


"Tristan, bisakah kamu menepikan mobilmu sebentar?" ucap Gea sambil menunjuk tempat kosong di depan sebuah ruko yang berada dipinggir jalan.


"Oke," jawab Tristan yang merasa heran dengan permintaan dari Gea, apalagi posisi mereka saat ini sudah dekat dengan Cafezoid, tempat Gea janji bertemu dengan sahabatnya.


Tristan lalu menepikan mobilnya tepat di tempat yang tadi ditunjuk oleh Gea.


"Tristan sebelum aku menyampaikan ini, aku ingin meminta maaf terlebih dahulu," ucap Gea sambil menatap wajah Tristan dengan serius.


"Iya?" balas Tristan yang semakin bertanya-tanya tentang hal penting apa yang akan disampaikan oleh Gea.


"Tiga orang sahabatku yang akan kita temui berasal dari keluarga yang cukup kaya," ucap Gea dengan nada lembut. Gea berusaha agar Tristan tidak merasa tersinggung.

__ADS_1


"Lalu?" Tristan kembali bertanya kepada Gea karena bingung dengan apa yang disampaikan Gea.


"Mereka orang yang memandang materi sebagai standar penilaian," ucap Gea yang terlihat canggung sambil memainkan jari-jarinya.


"Ah ... tentu saja aku bukan orang yang seperti itu," sambungnya yang berusaha meyakinkan Tristan.


Tristan semakin bingung, kedua alisnya terangkat dengan ekspresi wajah yang bertanya-tanya. "Lalu?" tanya Tristan kepada Gea.


"Saat bertemu sahabatku nanti, aku akan memperkenalkanmu sebagai anak pengusaha dari luar negeri," kata Gea yang semakin merasa canggung.


"Ohh .. ini menarik" gumam Tristan dalam hati, "Oke dan selanjutnya?" tanyaTristan yang sedikit tertarik dengan rencana Gea.


"Aku akan mengatakan kepada mereka jika keluargamu menjalankan bisnis kuliner di Amerika, dan sudah memiliki banyak cabang," ucap Gea sambil menunduk ketika menyampaikan permintaannya kepada Tristan.


Gea takut saat mendengar hal ini, Tristan akan marah dan membenci sahabatnya, dan yang lebih parah lagi jika Tristan sampai menganggap dirinya juga sebagai gadis mata duitan.


Namun Gea tetap harus menyampaikan hal ini, dia tidak mau jika nanti dia diremehkan oleh sahabatnya karena memiliki tunangan yang berasal dari latar keluarga biasa saja. Menurutnya ini juga agar sahabatnya yang hanya memandang materi dan latar belakang keluarga bisa menerima Tristan.


"Haha ...." Tristan tertawa mendengar apa yang Gea sampaikan, dalam hati dia berkata tebakan Gea sudah sedikit benar, memang dia berasal dari keluarga pengusaha di luar negeri, namun bukan Amerika tapi Rusia, dan tentu saja juga bukan bisnis kuliner.


Gea sedikit takut ketika mendengar Tristan tertawa, dia takut apa yang dia khawatirkan benar terjadi.


"Ahh maaf ...," ucap Tristan sambil menarik nafas, dia lalu menoleh ke Gea dan mengatakan. "Baiklah Nona Gea aku akan menuruti permintaanmu," ucap Tristan sambil menepuk halus pundak Gea.


Mendengar itu Gea tersenyum bahagia, dia sudah bingung akan bagaimana jika Tristan tidak menyetujui rencananya. Gea langsung melingkarkan tangannya di leher Tristan dan mencium pipi Tristan. "Terima kasih sayangku," sahut Gea yang membuat Tristan sedikit terkejut mendapat ciuman di pipinya.


"Baiklah ... mari kita temui sahabatmu," ucap Tristan.

__ADS_1


Setelah itu mereka menuju Cafezoid tempat di mana Gea sudah membuat janji dengan sahabatnya.


__ADS_2