Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 109 : Keluarga Prabaswara di lengsengserkan


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, setelah tadi bercengkrama dengan keluarga besar Yaroslav, Tristan dan Tiysa sudah kembali ke kamar yang akan menjadi kamar mereka di mansion ini.


Igor ditemani beberapa pelayan keluarga Yaroslav juga sudah membawa barang-barang Tiysa dan Tristan dari hotel, mereka akan tinggal di kediaman keluarga Tristan selama mereka berada di Rusia.


Mereka berdua sudah bersiap untuk tidur, di tempat tidur kamar itu, Tiysa terlihat baring sambil membelakangi Tristan yang sedang memeluk tubuhnya.


"Sayang, apakah ini benar tidak masalah? Kita berdua belum menikah, aku merasa risi dengan keluarga Kakek Vladimir," ucap Tiysa cemas.


Mendengar itu membuat Tristan ingin menggoda Tiysa, dia berkata, "Bukankah di apartemen kita di Jakarta kamu selalu memintaku untuk tidur sekamar, mengapa sekarang kamu risi karena tidur sekamar denganku?"


Tiysa meghembuskan nafasnya pelan, dia menyikut pelan perut Tristan yang menggodanya.


"Sayang, disana dan disini berbeda, saat ini kita sedang berada di rumah orang lain, aku takut jika mereka menganggapku wanita aneh," protes Tiysa manja.


"Ini 'kan rumahmu, kamu sekarang adalah cucu Kakek Vladimir, justru aku yang seharusnya cemas karena takut dianggap tamu pria kurang ajar karena tidur sekamar bersama cucu pemilik rumah," kata Tristan kembali menggoda Tiysa.


"Sayang...." keluh Tiysa manja sambil kembali menyikut pelan perut Tristan.


"Hahaha, Kamu tidak usah cemas, bukankah Kakek Vladimir tadi bilang tidak masalah jika kita tidur sekamar? Lagipula kita saat ini berada di Rusia, budaya negara ini dengan Indonesia tentu jauh berbeda," terang Tristan sambil mengecup kepala Tiysa.


"Tetap saja aku merasa risi," kata Tiysa lagi sambil menghela nafasnya.


"Jika Kak Tiysa merasa tidak enak, bagaimana jika Kak Tristan tidur di kamarku saja malam ini," Sofia yang tiba-tiba muncul membuat Tristan dan Tiysa sontak terkejut.


"Sofia?"


Tanpa merasa canggung Sofia melompat ke tempat tidur dan masuk kedalam selimut.


"Atau mungkin aku akan tidur disini, jadi Kak Tiysa tidak perlu merasa risi lagi," ucap Sofia yang baring di samping Tristan.


Melihat gadis secantik Sofia berada disamping kekasihnya membuat mata Tiysa melotot tajam. Dia bangun dan langsung menuju tempat Sofia.


"Sofia bagaiamana kamu bisa berada disini?" tanya Tiysa dengan ekspresi wajah yang sangat terkejut.


"Aku bersembunyi di ruangan itu, menunggu Kak Tiysa dan Kak Tristan masuk ke dalam kamar," kata Sofia sambil menunjuk ruangan tempat Tristan biasanya menaruh semua pakaiannya.

__ADS_1


Tiysa menepuk jidatnya, sambil menghela nafasnya dia menarik pelan tangan Sofia yang sedang baring di samping Tristan.


"Sofia, kamu sudah menjadi gadis cantik, kamu tidak boleh tidur di samping Tristan lagi," keluh Tiysa.


Beberapa saat yang lalu, Tiysa sudah mendengar penjelasan Vladimir yang mengatakan jika Tristan dulu sewaktu masih kecil sering menemani Sofia yang takut tidur sendiri. Tentu saja cerita itu ditambah dengan status palsu jika keluarga Tristan sangat dekat dengan keluarga Yaroslav, dan keluarga Tristan dulunya memang sering menginap di mansion ini.


"Hah... Padahal dulu Kak Tristan akan menemaniku jika dia menginap di mansion ini," ucap Sofia lemah, dia beranjak dari tempat tidur menuju pintu kamar sambil dituntun oleh Tiysa.


"Bye Kak Tristan dan Kak Tiysa selamat malam," ucapnya lalu pergi meninggalkan kamar Tristan.


"Hah... mengapa aku dikelilingi oleh adik perempuan yang tidak mengenal batas seperti itu, di Jakarta ada Nindya dan disini ada Sofia, aku benar-benar khawatir dengan masa depan mereka," keluh Tiysa.


Tristan yang sejak tadi menahan tawa, kembali menggoda kekasihnya, dia berkata, "Jika kamu merasa risi tidur sekamar denganku, aku bisa tidur dikamar Sofia malam ini."


Mendengar itu mata Tiysa lagi-lagi melotot, wajahnya menekuk, dia memandangi wajah Tristan yang sedang tersenyum tanpa perasaan bersalah setelah mengatakan itu.


"Kamu...." Tiysa berjalan sambil menghentakkan kakinya menuju tempat tidur.


Dia lalu membaringkan tubuhnya dengan kasar di tempat tidur sambil kembali membelakangi Tristan. Tangannya meraih tangan Tristan dan meletakkannya di atas perutnya sendiri.


Dengan wajah cemberut, Tiysa seakan meminta Tristan untuk kembali memeluknya.


"Sepertinya kamu cemburu," kata Tristan sambil menahan tawa.


"Hoh... Aku cemburu? Sofia itu adikku mana mungkin aku cemburu," sanggah Tiysa membela diri.


Dia lalu terdiam selama beberapa saat.


Tiysa menggaruk kepalanya, dia lalu membalikkan tubuhnya menghadap Tristan, "Haa... Sayang tentu saja aku cemburu," ucap Tiysa manja Tiysa sambil mencium bibir Tristan.


Tristan hanya bisa kembali tertawa melihat sikap manja Tiysa, sambil berpelukan mesra mereka pun bercanda sampai akhirnya tertidur dengan penuh rasa bahagia.


...****************...


Tiga hari kemudian...

__ADS_1


Sementara Tristan dan Tiysa sedang bersenang senang di Rusia, dunia bisnis di Jakarta malah bergejolak, hari ini keluarga Prabaswara mengumumkan jika mereka sudah menjual 60% sahamnya kepada Moneyra Global Trade, perusahaan milik teman Lingga yang diminta untuk menyerang Keluarga Prabaswara.


Kini posisi pemegang saham di Tirta Bhaskara Grup berubah, posisi pertama di pegang oleh Moneyra Global Trade sebagai pemilik saham terbanyak, keluarga Prabaswara turun di posisi kedua, disusul keluarga Kuncoro milik Purwadi di posisi ketiga, hal itu membuat Purwadi semakin sombong, dia tidak lagi takut ketika berhadapan dengan ketiga paman Tristan yang berada di Indonesia.


Selama Tristan berada di Rusia, Purwadi dan sekutunya terus melancarkan serangan ke keluarga Prabaswara, karena terus di tekan dan mengalami kerugian, mau tidak mau keluarga Prabaswara terpaksa menjual sahamnya.


Berbagai media mengangkat berita ini, kehebohan pun terjadi di lingkar bisnis para pengusaha di Jakarta, mereka tidak menyangka jika keluarga Prabaswara yang merupakan keluarga pengusaha yang cukup di segani di Jakarta bisa di jatuhkan hanya dalam 3 hari oleh Moneyra Global Trade.


Purwadi sedang berpesta merayakan kemenangannya bersama Lingga, Oscar dan juga Winata melalui sambungan jarak jauh, dengan kejatuhan keluarga Prabaswara dari puncak pimpinan Tirta Bhaskara Group, mereka sudah memastikan jika Keluarga Rusia Gennady sudah tidak lagi melindungi keluarga Prabaswara.


Suasana berbeda terasa di kediaman keluarga Prabaswara, ketiga paman Tristan tampak cemas memikirkan rencana mereka untuk menyerang balik Moneyra Global Trade, beberapa orang yang sudah bekerja di keluarga Prabaswara juga ikut hadir di tempat itu, mereka terlibat diskusi yang cukup serius dalam memecahkan masalah yang sedang terjadi.



"Kalian semua tidak perlu panik," kata Hartono lembut kepada semua yang hadir di ruangan itu.


Walaupun sudah dilengserkan sebagai pemilik saham utama Tirta Baskara Group, Kakek Tristan di Indonesia masih saja tetap tenang, hal itu membuat ketiga paman Tristan sedikit kebingungan.


"Tapi ayah, jika kita tidak bertindak sekarang, bisa-bisa semua saham keluarga kita benar-benar di telan oleh Moneyra Global Trade," jawab Salah satu paman Tristan.


Semua orang yang hadir di tempat itu menganggukkan kepalanya, mereka setuju dengan ucapan dari paman Tristan.


Hartono tersenyum, dia berkata, "Itu tidak akan terjadi, kalian tenang saja." Hartono masih tampak tenang, sesekali dia terlihat memandangi jam tangannya.


Ketiga paman Tristan hanya bisa saling menatap, walaupun mereka cemas, mereka tetap mendengar kata-kata ayah mertua mereka yang memang jauh lebih berpengalaman dari mereka.


"Oh sepertinya dia sudah datang," kata Hartono yang tiba-tiba berdiri dari duduknya, dia menatap ke arah pintu masuk tempat mereka sedang melakukan meeting.


Ketiga paman Tristan dan semua orang yang berada di ruangan itu langsung menoleh ke pintu yang perlahan terbuka, ketika mereka melihat sosok yang baru masuk, ketiga paman Tristan kompak berseru.


"Kak Haris!"



Haris yang baru saja tiba langsung tersenyum, dia sedikit menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Hartono dan ketiga paman Tristan.

__ADS_1


"Selamat pagi Tuan Hartono, maaf karena aku datang sedikit terlambat , tanpa berlama-lama, mari kita mulai meeting sesuai dengan arahan Tuan Vladimir di Rusia."


...****************...


__ADS_2