
Tristan sedang dalam perjalanan menuju lokasi kediaman Bisma menggunakan mobil milik Tiysa. Haris menyampaikan jika Bisma ternyata juga tinggal di kota Bogor.
Setelah mendapatkan lokasi kediaman Bisma dari Haris, Tristan langsung izin kepada Tiysa dan kedua orang tuanya untuk pergi sebentar karena ada keperluan terkait dengan pekerjaannya.
Beberapa saat kemudian Tristan sudah tiba di depan rumah yang diinformasikan sebagai rumah milik Bisma, Tristan melangkah masuk sampai ke depan pintu rumah itu.
Tok... Tok... Tok...
Tristan mengetuk pintu rumah, namun tak kunjung mendapat kan jawaban dari dalam rumah. Dia pun memutuskan untuk menunggu sedikit lebih lama.
“Siapa kamu?” tegur seorang pria berumur 26 tahun yang sudah berdiri di belakangnya.
“Maaf, aku Tristan dan sekarang aku sedang mencari Paman Bisma.” Jawab Tristan.
“Apa hubunganmu dengan Bisma?” tanya pria itu lagi.
“Aku calon menantu di keluarga Kuncoro, dan seseorang saat ini sangat ingin berjumpa dengan paman Bisma,” jawab Tristan menjelaskan maksud kedatangannya.
“Bajingan!” teriak pria itu tiba-tiba marah. Dia melayangkan tinjunya ke arah wajah Tristan.
Tristan yang tiba-tiba diserang, langsung menghindar ketika melihat kepalan tangan pria itu mengarah ke wajahnya.
Pria itu semakin beringas ketika Tristan dengan mudah menghindari semua serangannya.
Tristan sendiri tidak membalas serangan dari pria itu, dia terus menghindar dan menunggu pria itu sampai lelah sendiri.
“Damar, apa yang kamu lakukan!” teriak seorang pria yang baru saja tiba.
Pria yang menyerang Tristan langsung berhenti ketika mendengar pria itu.
“Ayah, dia dari keluarga Kuncoro, dia-”
__ADS_1
“Cukup!” bentak pria itu.
Damar terdiam dan langsung menunduk, kedua tangannya mengepal karena menahan emosi.
Pria yang baru datang adalah Bisma, orang yang sedang di cari oleh Tristan, sedangkan pria yang menyerangnya adalah Damar yang merupakan anak dari Bisma.
“Aku minta maaf karena tindakan putraku yang sudah menyerang Anda,” ucap Bisma dengan sopan.
“Aku penasaran ada keperluan apa orang dari keluarga Kuncoro mencariku?” tanya Bisma melanjutkan perkataannya.
Tristan langsung membungkukkan badannya di depan Bisma. Hal ini membuat Bisma dan anaknya sontak terkejut.
“Paman Bisma, Aku sebagai CEO di Tirta Wira Perkasa memohon maaf sebesar-besarnya atas perlakuan yang paman terima dari perusahaan yang sekarang aku pimpin,” ucap Tristan dengan lantang.
“Aku tahu Tirta Wira Perkasa sudah membalas kebaikan dan prestasi paman dengan keburukan yang sangat keji, aku juga akan sangat mengerti jika paman tidak bisa memaafkan tindakan dari Purwadi Kuncoro. Hari ini aku datang bukan sebagai CEO maupun calon menantu Purwadi, tapi sebagai cucu Kakek Subroto, aku berharap agar paman dan Damar bisa ikut denganku, saat ini Kakek Subroto kondisinya sangat lemah, entah berapa lama lagi dia dapat bertahan.” kata Tristan.
Mendengar perkataan Tristan, Bisma dan Damar kembali terkejut, mereka tidak menyangka jika calon menantu Purwadi akan membungkuk meminta maaf atas tindakan yang bukan dilakukan olehnya.
Terlebih lagi, dia yang hanya berstatus calon menantu terlihat sangat peduli kepada Kakek Subroto dari pada Purwadi dan keluarganya.
Bisma memegang kedua bahu Tristan. “Angkat kepalamu, Nak, masalahku dengan Purwadi tidak ada sangkut pautnya denganmu.”
Tristan terlihat tidak bergeming. Dia tetap membungkuk dan menunggu jawaban dari Bisma.
“Baiklah, sebelum itu maukah kamu menjelaskan keadaan Tuan Subroto terlebih dahulu,” kata Bisma.
Setelah Bisma di coret dari keluarga Kuncoro dia tidak lagi memanggil Subroto dengan kata ayah melainkan dengan kata Tuan Subroto.
Tristan mengangguk, dia mengangkat kepalanya dan mulai menjelaskan kondisi Subroto kepada Bisma dan anaknya.
Mata Tristan terlihat berkaca-kaca saat menjelaskan kondisi Subroto. Bisma dan anaknya bisa melihat jika Tristan memang sangat menyayangi Subroto.
__ADS_1
“Baiklah... tolong antarkan aku ke tempat tuan Subroto,” kata Bisma yang matanya juga terlihat menggenang.
Beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai Tristan sudah tiba di kediaman Subroto. Beberapa orang yang bekerja di tempat itu terlihat langsung menyapa Bisma dan anaknya dengan sangat sopan.
Tristan mengantar Bisma dan Damar menuju ruangan Subroto.
Subroto yang melihat Tristan langsung tersenyum bahagia, namun senyumnya berubah menjadi tangis haru, tatkala melihat Bisma dan anaknya muncul di belakang Tristan.
“Tuan Subroto...,” ucap Bisma yang langsung terisak ketika melihat kondisi Subroto. Sikapnya yang tenang menghilang, air matanya langsung mengalir deras membanjiri pipinya, Bisma menghampiri Subroto yang terbaring lemah layaknya seorang anak kecil yang baru bertemu dengan ayahnya. Dia memeluk Subroto, tangisnya terdengar memilukan hati.
“Anakku... jangan panggil aku seperti itu, aku ayahmu...,” ucap Subroto lirih.
“Mengapa kamu menghilang? Mengapa kamu tidak memberitahuku keberadaanmu, Nak? Apakah kamu membenci ayahmu ini... maafkan ayahmu yang bodoh ini, Nak,” sambung Subroto berderai air mata.
“Ayah... maafkan anakmu yang tidak berbakti ini....”
Tristan turut menitikkan air matanya ketika melihat pemandangan itu. Dia lalu menghampiri Damar yang sedang menangis di depan pintu, dia menepuk halus pundak Damar dan berkata. “Pergilah, Kakek Subroto juga sangat merindukanmu.”
Sambil mengusap air matanya, Damar mengangguk pelan, dia lalu menghampiri kakek dan ayahnya.
Tristan tersenyum, dia meninggalkan ruangan itu menuju pekarangan rumah Subroto.
Beberapa saat berlalu, Tristan masih menunggu di pekarangan rumah sambil menikmati hembusan angin yang terasa sangat menyegarkan.
Damar terlihat menghampiri Tristan dan langsung mengulurkan tangannya kepada Tristan.
“Maafkan aku atas sikapku tadi, aku benar-benar tidak mengetahui maksud kedatanganmu,” kata Damar meminta maaf dengan tulus kepada Tristan.
Tristan tersenyum, dia mengepalkan tinjunya dan menyentuh dada Damar.
“Kita sama-sama cucu Kakek Subroto yang tidak memiliki hubungan darah dengannya, jadi untuk apa formalitas seperti itu,” balas Tristan.
__ADS_1
Damar tersenyum dan langsung memeluk Tristan. “Mulai saat ini kita adalah saudara, senang mu adalah senang ku, susah mu adalah susah ku, dan tangis mu adalah tangis ku.”
Setelah mengikrarkan persaudaraan, mereka berdua kembali ke tempat Subroto dan Bisma berada.