Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 59 : Gino dan Tristan


__ADS_3

Golden Luxury Hotel menjadi heboh, hari ini mereka kedatangan tamu VVIP di hotel mereka.


Dua bersaudara penerus keluarga Yaroslav sebentar lagi tiba di hotel mereka. Bagi orang-orang yang melayani keluarga Yaroslav, bisa bertemu langsung dan melayani keluarga inti Yaroslav merupakan pencapaian tertinggi dalam karir mereka.



Beberapa mobil Rolls-Royce berwarna putih sudah terlihat dari kejauhan, perlahan mobil-mobil yang membawa Tristan dan rombongan pengawal keluarga Yaroslav mendekat ke Golden Luxury Hotel.



Begitu tiba di depan Hotel, beberapa pengawal langsung turun dan melakukan pengamanan, Tristan sendiri sebenarnya merasa tindakan seperti itu tidak perlu dilakukan, namun karena dia datang bersama adiknya yang juga merupakan penerus keluarga Yaroslav, mau tidak mau Tristan harus mematuhi protokol pengamanan standar dari keluarga Yaroslav.



Pihak manajemen Hotel beserta staff terlihat berbaris rapi menyambut kedatangan dua bersaudara ini, Tristan dan Gino membalas mereka dengan melambaikan tangan disertai senyuman yang menghiasi wajah mereka.


Beberapa orang juga terlihat berusaha mengajak Tristan dan Gino untuk berbicara, namun Haris dengan cepat menahan mereka dan mengatakan jika kedua Tuan Muda sedang tidak bisa diganggu untuk hari ini.


Tristan dan Gino sudah berada di kamar Presidential Suite yang khusus diperuntukkan kepada keluarga inti Yaroslav, Haris yang mengantar mereka juga langsung izin pamit setelah Tristan dan Gino masuk ke dalam kamar itu.


"Jadi bisakah kamu menjelaskan mengapa kamu berada di Indonesia?" tanya Tristan sambil menuju sofa di kamar itu.


"Kakek yang menyuruhku untuk datang kesini," balas Gino, dia terlihat merebahkan badannya di tempat tidur.


"Untuk alasan apa Kakek memintamu datang ke Indonesia?"


"Kakak, kamu sendiri sudah mengetahui jika wanita yang akan kita pilih untuk menjadi istri haruslah memenuhi beberapa persyaratan agar bisa diterima oleh keluarga kita."


Tristan mengangguk, dia juga mengetahui tentang hal itu, "Iya, ada apa dengan hal itu?" tanya Tristan yang tampak masih bingung dengan penjelasan dari Gino.


"Wanita yang dipilih nantinya wajib menjalani beberapa tes yang diberikan oleh keluarga kita, aku rasa Kakak juga sudah mengetahui hal ini," kata Gino.


Tristan kembali menganggukkan kepalanya tanda bahwa dia juga mengerti tentang apa yang baru saja Gino katakan.


"Hah... Kakak apa kamu masih belum mengerti?" tanya Gino.


Tristan menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang Gino ingin sampaikan kepadanya.


"Aku datang untuk mengetes kesetiaan calon istrimu," kata Gino sambil melirik Tristan dari tempatnya berbaring.


"Calon istri?" Tristan mengernyitkan dahinya, sesaat kemudian matanya melotot memandangi Gino, dia akhirnya menyadari apa yang Gino ingin sampaikan.

__ADS_1


"Jangan bilang kamu diminta Kakek untuk mengetes kesetiaan Tiysa!" teriak Tristan. Dia langsung bangun dari duduknya dan dengan cepat menghampiri Gino.


Gino yang melihat Kakaknya datang sontak melompat dari tempat tidur, dia lalu berlari mengelilingi kamar itu untuk menghindari Tristan.


"Hei bocah nakal, katakan padaku bagaimana hasilnya?" tanya Tristan sambil berusaha menangkap Gino yang sedang berlari menghindarinya.


"Hahaha, Kakak, aku tidak akan memberitahu kamu hasilnya," jawab Gino, dia terus berlari mengelilingi kamar itu.


"Dasar bocah nakal," seru Tristan, dia meraih bantal yang ada ditempat tidur lalu melempari Gino dengan bantal itu.


Gino menghindari lemparan Tristan dengan mudah, dia berkata, " Kakak, cobalah lebih baik lagi, atau aku tidak akan pernah memberitahu kamu hasilnya," kata Gino sambil menjulurkan lidahnya mengejek Tristan.


"Kamu...." Tristan kembali mengejar Gino, suara tawa mereka berdua memenuhi ruangan kamar itu.


Haris yang sedang menunggu di depan pintu kamar mereka, juga dapat mendengar suara tawa dari kedua Tuan Mudanya, dia bahkan ikut tertawa mendengar Gino yang terus bercanda dan tidak menggubris pertanyaan Tristan.


Karena terlalu fokus menghindari Tristan, Gino tidak memperhatikan disekelilingnya, dia akhirnya tersandung tas milik Tristan yang tergeletak di lantai kamar itu.


Buk!


"Aduh!" rintih Gino yang jatuh dengan posisi tertelungkup.


Tristan lalu melancarkan serangannya, dia menggelitik pinggang Gino dengan kedua tangannya.


"Hahaha, ampun Kak," kata Gino yang tertawa terbahak-bahak.


"Apakah kamu akan mengatakannya sekarang?" tanya Tristan yang terus menggelitik Gino.


"Iya... iya...," jawab Gino yang terus tertawa karena Tristan.


Tristan berhenti menggelitik tubuh Gino, "Jadi bagaimana hasilnya?" tanya Tristan penasaran.


"Kak Tiysa lulus dengan sempurna," jawab Gino sambil menunjukkan jempolnya kepada Tristan.


Tristan langsung tersenyum mendengar perkataan Gino, pilihannya tidak salah, dia benar-benar beruntung karena telah memilih Tiysa sebagai calon pasangan hidupnya.


Beberapa saat berlalu, Tristan dan Gino terlihat berbincang-bincang, pembahasan mereka masih seputar misi pelatihan keluarga Yaroslav, Gino meminta Tristan menjelaskan bagaimana dia bisa menyelesaikan misi pelatihannya dengan cepat, dia terlihat meminta saran dan tips kepada kakaknya agar dia juga bisa menyelesaikan misi pelatihannya lebih cepat.


"Saranku cuma satu, jangan menganggap itu hanya sebagai misi pelatihan, orang-orang yang kita tolong saat menjalankan pelatihan benar-benar sedang membutuhkan bantuan, jadi posisikan dirimu sebagai pemimpin keluarga Yaroslav," kata Tristan memberi saran kepada Gino.


"Baiklah Kak," jawab Gino singkat.

__ADS_1


"Aku benar-benar penasaran mengapa kakek mengirim kamu untuk menguji Tiysa dan bukan orang lain, apalagi saat ini kamu juga sedang menjalani misi pelatihan keluarga."


"Hahaha, Kakak, aku bukan orang yang pertama menguji Tiysa, jika diibaratkan seperti video game, aku ini raja terakhir yang harus dikalahkan Tiysa," kata Gino sambil tertawa.


"Jadi maksudmu sudah ada orang yang lebih dulu dikirim oleh kakek?" tanya Tristan, dia sedikit terkejut mendengar ucapan Gino.


"Iya, kalau tidak salah, aku adalah orang ke 11 yang dikirim kakek untuk menguji Tiysa," jawab Gino singkat.


"Hah?" Tristan kembali terkejut mendengar kata-kata Gino, dia lalu berkata, "Bagaimana dengan 10 orang lainnya?"


"Kak Tiysa bahkan tidak menggubris mereka, mereka sudah gagal sejak pertama kali mencoba berinteraksi dengan Kak Tiysa,"


jawab Gino sambil tertawa.


"Alasan aku bisa berteman dengannya mungkin karena tanpa Kak Tiysa sadari, alam bawah sadarnya sudah mengetahui jika aku memiliki hubungan dekat dengan kamu, biar bagaimanapun kita berdua adalah saudara," sambung Gino menjelaskan.


Tristan mengangguk, dia setuju dengan perkataan Gino.


"Oh iya, aku hampir lupa, beberapa tahun terakhir sepertinya ada beberapa perusahaan yang menargetkan showroom tempat Kak Tiysa bekerja."


"Maksudmu showroom milik Yono?" tanya Tristan, dia tampak terkejut mendengar perkataan Gino.


"Iya, menurut data yang dikumpulkan bawahanku, dalam 3 tahun ini Showroom itu benar-benar dikerjai oleh beberapa perusahaan yang bergerak di bidang yang sama, bahkan showroom itu yang dulunya menjual mobil mewah, kini hanya menjual mobil bekas untuk kelas menengah kebawah, dia juga terlilit utang yang cukup banyak," kata Gino.


"Sejak aku dikirim oleh Kakek ke Indonesia aku sudah menghentikan serangan mereka, aku juga berniat membantu showroom itu, namun kakek melarangku, Kakek memintaku untuk tidak ikut campur dan menyerahkan semua masalah itu kepada kamu," sambung Gino melanjutkan.


"Baiklah, terima kasih atas informasinya," kata Tristan sambil menepuk halus bahu Gino.


"Jadi apa rencanamu setelah ini?" tanya Tristan.


"Entahlah, mungkin aku akan dikirim kembali ke salah satu negara di timur tengah untuk melanjutkan pelatihanku," jawab Gino.


"Kak Tristan sendiri bagaimana? apa rencanamu setelah ini?" tanya Gino.


Tristan tersenyum membalas pertanyaan Gino, dia lalu berkata...




__

__ADS_1


__ADS_2