
"Tristan...."
Tristan sontak membuka mata ketika seolah mendengar suara Tiysa memanggil namanya.
Samar-samar matanya mulai bisa menangkap cahaya yang masuk.
Dia terbaring di atas velbed tempat tidur lipat yang biasa digunakan tentara di lapangan.
Punggungnya masih terasa nyeri karena benturan tadi, dia terlihat mengusap wajahnya beberapa kali untuk menghilangkan bekas debu di wajahnya.
Dari tempatnya berbaring dia dapat melihat beberapa tentara menggunakan loreng hijau dengan lambang bendera Indonesia di lengan kiri mereka.
"Kamu sudah sadar? Benar-benar prajurit tangguh," kata seorang tentara di tempat itu.
"Ah... maaf bagaimana dengan anak itu?" tanya Tristan yang berusaha bangkit dari tidurnya.
"Berkatmu anak itu bisa selamat," jawab tentara itu.
"Hah... syukurlah...." jawab Tristan bernafas lega.
"Tapi aku benar-benar salut dengan kalian, 170 orang yang menyerang tak bisa melewati pertahanan kalian sehingga tidak ada satupun warga di desa ini yang terluka, padahal jumlah kalian hanya lima orang," kata tentara itu.
"Oh, iya maaf aku lupa memperkenalkan diriku, namaku Dirga, tentara yang bertugas di PBB dari Kontingen Garuda Indonesia." sambung Dirga memperkenalkan dirinya.
"Aku Tristan, dari pasukan beruang berlian merah," jawab Tristan.
Setelah berkenalan, Dirga dan Tristan terlihat berbincang-bincang, topik pembahasan mereka juga hanya seputar kebutuhan warga di negara itu yang terus menjadi korban akibat konflik berkepanjangan yang terjadi.
"Tristan, aku harap kamu tidak tersinggung, aku cuma ingin tahu, apa tujuan pasukan beruang berlian merah datang ke negara ini?" tanya Dirga dengan raut wajah yang serius.
Tristan menghela nafas panjang, "Jujur, aku diberi misi untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di negara ini," kata Tristan dengan lesu.
"Namun, setelah setahun berada di tempat ini, aku merasa jika misi yang diberikan kepadaku itu sangat mustahil untuk di selesaikan, aku bingung harus memulai dari mana, hah... mungkin sebaiknya aku menyerah saja," keluh Tristan.
Tristan sudah merasa putus asa, konflik di negara ini sudah terlalu parah, banyak kekuatan besar yang ikut bermain dari balik layar.
Tristan sebenarnya sudah mengetahui cara menyelesaikan konflik di negara ini yaitu dengan deklarasi perang besar-besaran, itu artinya keluarga Yaroslav akan bertarung dengan seluruh kekuatan besar yang bermain di negara ini.
Tristan merasa akan sangat tidak logis jika dia membuat keluarganya berperang hanya karena ingin menyelesaikan misi pelatihan lebih cepat, untuk dapat segera bertemu dengan Tiysa, untuk itulah dia sampai saat ini belum bisa mengambil keputusan.
__ADS_1
"Tristan, dari raut wajahmu sepertinya kamu sudah mengetahui cara untuk menghentikan konflik di negara ini?" tanya Dirga.
Tristan mengangguk lemah menanggapi pertanyaan Dirga.
"Apakah pasukan beruang berlian merah takut menghadapi kekuatan besar yang bersembunyi di belakang layar?"
Tristan tertawa kecil mendengar pertanyaan Dirga, "Tidak, pasukan kami tidak takut dengan hal seperti itu, hanya sa-"
Sebelum Tristan menyelesaikan kalimatnya, seorang tentara yang juga berasal dari kontingen garuda masuk ke tenda tempat Tristan dan Dirga berada.
"Dirga, sudah saatnya kita melanjutkan patroli," kata tentara itu.
Dirga mengangguk, dia lalu berdiri dari duduknya, tepat sebelum dia meninggalkan tenda tepat Tristan di rawat, dia berkata, "Aku tidak bisa memberimu ide atau saran terkait dengan konflik yang terjadi, aku tidak boleh memihak dalam menjalankan tugasku, ini hanya pendapat pribadiku, aku merasa jika yang menjadi korban dari konflik berkepanjangan di tempat ini adalah anak-anak, cobalah kamu berinteraksi dengan mereka, mungkin itu dapat membantumu untuk membuat keputusan." kata Dirga. Setelah mengatakan itu, Dirga terlihat pamit untuk melanjutkan tugasnya.
Beberapa saat setelah Dirga meninggalkan tempat itu, Tristan mengikuti saran Dirga, dia berinteraksi dengan anak-anak yang berada di desa itu.
Beberapa warga juga berterima kasih kepada Tristan karena sudah melindungi mereka ketika diserang oleh kelompok bersenjata.
Dia mulai bertanya kepada anak-anak yang berada di desa itu tentang pengalaman mereka selama konflik terjadi di negara itu.
Hati Tristan serasa tersayat mendengar jawaban dari anak-anak itu, tanpa menyembunyikan apapun, anak-anak itu dengan polosnya menceritakan pengalaman mereka.
Anak-anak di tempat itu harus hidup dengan perasaan khawatir setiap harinya, masa kanak-kanak yang seharusnya indah dirampas dengan paksa oleh orang-orang dewasa yang sibuk memperkaya diri akibat konflik yang terjadi.
Tristan akhirnya mengerti maksud dari Dirga yang memintanya untuk berinteraksi dengan anak-anak di tempat itu, orang dewasa cenderung tidak terbuka ketika ditanya oleh Tristan, mungkin karena mereka takut akan mendapat masalah dari kelompok bersenjata, jika mereka memberi informasi kepada Tristan.
Tristan akhirnya dapat membulatkan tekadnya, setelah berbicara dengan anak-anak itu Tristan kembali menuju mobil milik pasukannya, dia mengambil telepon satelit miliknya, dan langsung menghubungi kakeknya di Rusia.
"Halo cucuku."
"Kakek, dengan menggunakan statusku sebagai penerus utama keluarga Yaroslav, aku akan mendeklarasikan perang dengan negara ini, dan dengan semua pihak-pihak yang bermain di belakang layar," tegas Tristan.
"Tristan apakah kamu sadar dengan ucapanmu? dengan menggunakan statusmu sebagai penerus keluarga Yaroslav, itu sama artinya perintah mutlak yang harus di jalankan oleh pasukan beruang berlian merah," kata Kakek Tristan.
"Iya Kakek, aku mengatakan itu dengan kesadaran penuh," balas Tristan.
"Apakah ini karena wanita bernama Tiysa?" tanya kakeknya kembali.
"Tidak, malah sebaliknya, karena terus memikirkan Tiysa, aku tidak bisa mengambil keputusan yang tepat setelah hampir setahun berada di tempat ini, aku tidak bisa membuat keluargaku berperang karena hanya ingin bertemu Tiysa lebih cepat," jawab Tristan.
"Jadi apa yang membuat kamu akhirnya mendeklarasikan perang dengan orang-orang yang bermain kotor di tempat itu?" tanya Kakek Tristan kembali.
__ADS_1
"Itu karena anak-anak kecil yang tidak bersalah."
Setelah itu Tristan mulai menjelaskan kepada Kakeknya alasan dibalik pernyataan perang yang dia ucapkan.
"Tristan, maaf tapi kakek harus melepas jabatanmu sebagai pemimpin operasi di negara itu."
Tristan tertunduk lesu mendengar jawaban kakeknya, dia bisa mengerti jika kakeknya menolak, orang-orang yang bermain di belakang layar sama sekali tidak bisa dianggap enteng.
"Baiklah Kakek, jadi misi apa yang akan aku jalankan berikutnya?" tanya Tristan.
"Misi?, hahahaha cucuku sepertinya kamu salah paham, aku melepas jabatanmu karena kamu berhasil lulus dari misi pelatihan yang sedang kamu jalankan," kata Kakek Tristan sambil tertawa lepas.
Tristan terkejut sampai dia tidak bisa berkata-kata.
"Tapi kakek, anak-anak itu?"
"Tristan, kamu menggunakan statusmu ketika mendeklarasikan perang yang berarti perintah mutlak yang harus dijalankan pasukan beruang berlian merah, aku juga sepakat dengan keputusanmu, aku akan mengirim pamanmu Victor Yaroslav untuk memimpin operasi di negara itu, selamat cucuku, kamu berhasil menyelesaikan misi pelatihanmu hanya dalam waktu 5 tahun."
"Terima kasih Kakek," seru Tristan dengan perasaan bahagia.
Setelah mengakhiri panggilan teleponnya Tristan dan anggotanya kembali ke pangkalan pasukan beruang berlian merah yang dijadikan pusat komando selama menjalankan operasi di negara itu.
"Selamat Tuan Muda," kata Haris yang langsung menyambutnya begitu turun dari mobil."
"Terima kasih Haris," balas Tristan sembari tersenyum kepada Haris.
Seakan sudah mengetahui keinginan Tristan, Haris langsung menyerahkan ponsel yang dulu Tristan gunakan sewaktu berada di Indonesia.
Tristan tersenyum, setelah tidak bertemu selama 5 tahun, Haris benar-benar masih bisa menebak apa yang dia ingin lakukan.
Tristan mengambil ponselnya, dia mencari nama gadis yang terus menerus muncul setiap dia memejamkan mata selama lima tahun terakhir ini.
Tut...
"Halo...
__
__ADS_1