
“Suamiku, mengapa bisa begini?” tanya Veronica kepada Purwadi.
Situasi benar-benar terbalik saat ini dengan kedatangan para bawahan keluarga Yaroslav di tempat itu, hal itu membuat Veronica menjadi cemas.
Acara yang bertujuan untuk menjatuhkan Bisma dan Bimo malah berbalik menjatuhkan mereka.
“Iya Purwadi, mengapa keadaannya seperti ini.”
William yang duduk di samping Purwadi juga menanyakan hal yang sama, walaupun jumlah tamu yang mengisi meja di sisi Purwadi jauh lebih banyak, kualitas para pengusaha itu jauh di bawah tamu yang berada di sisi Bisma dan Bimo.
Satu orang tamu di tempat Bimo memiliki kekayaan yang hampir setara dengan Tirta Baskara Group. Dan sekarang ada 50 orang lebih tamu yang seperti itu di sisi Bisma dan Bimo.
Purwadi tidak bisa berkata-kata, dia juga tidak mengerti mengapa orang-orang itu mau bergabung di tempat Bisma dan Bimo, yang membuat dia lebih heran, sikap mereka kepada Bimo dan Kirana yang terlihat sangat sopan.
“Aku juga tidak tahu-menahu tentang ini,” jawab Purwadi sambil memandangi Bisma dan Bimo yang sedang tertawa bersama para pimpinan perusahaan itu.
Gea yang tadi sudah merasa menang kini kembali kesal, matanya terus menatap tajam ke Tiysa yang sedang tersenyum sambil berinteraksi dengan beberapa tamu yang ada di sisi Bimo.
“Ibu, bukankah keluarga Tiysa jauh di bawah keluarga Kuncoro, mengapa dia bisa diperlakukan layaknya putri oleh orang-orang itu?” tanya Gea sambil mendengus kesal.
Veronica menggelengkan kepalanya, dia juga tidak tahu alasan orang-orang itu bersikap baik kepada keluarga Bimo.
“Kamu tidak usah memikirkan itu, ketika Austin datang, kita tetap bisa menunjukkan kepada Bisma dan Bimo jika kita masih tetap berada di atas mereka berdua,” kata Purwadi yang menggantikan istrinya menjawab pertanyaan Gea.
Kepalanya masih terus berpikir mengapa orang-orang itu hadir di tempat ini tanpa undangan. Purwadi bisa saja menyatakan keberatan karena orang-orang itu hadir tanpa undangan, namun dia tahu jika tidak ada hal baik yang menanti jika dia melakukan itu dan membuat orang-orang itu memusuhi keluarganya dan juga Tirta Baskara Group yang sudah berada dalam genggamannya.
Karena itulah sekarang dia hanya bisa bersabar dan menunggu sampai Austin tiba dan membalik keadaan yang terjadi saat ini.
Beberapa menit kemudian, salah satu pengawal Purwadi mengabari jika rombongan Austin sudah terlihat mendekat ke Hotel, mendengar itu Purwadi tersenyum bahagia, dia tidak lagi berlari menyambut Austin seperti saat para bawahan keluarga Yaroslav datang, dia ingin memperlihatkan kepada semua orang di tempat itu jika pemimpin Tirta Baskara Group adalah teman dekatnya, dia yakin Austin akan menghampiri mejanya begitu Austin tiba di Aula itu.
"Tunggu saja Bimo dan Bisma, memang kenapa jika kalian berteman dengan orang-orang itu, di Tirta Baskara Group aku lebih berkuasa dari pada kalian berdua," batin Purwadi.
__ADS_1
Convoi mobil Rolls-Royce keluaran terbaru terlihat mendekati Golden Luxury Hotel, Tiysa, Damar, dan orang tua mereka juga mulai cemas ketika mendapat kabar jika Austin akan segera tiba.
Walaupun kehadiran para pengusaha besar di sisi mereka membuat mereka lepas dari tekanan Purwadi, mereka tetap saja merasa ccema, tidak dapat dipungkiri mereka tetap bagian dari Tirta Baskara Group di mana posisi Purwadi jauh lebih baik dari posisi Bisma dan Bimo.
"Semua akan baik-baik saja ibu," ucap Tiysa sambil memegang tangan ibunya yang terlihat sangat cemas.
"Pimpinan Moneyra Global Trade beserta rombongan telah memasuki halaman Golden Luxury Hotel, para tamu di mohon berdiri untuk menyambut kedatangan mereka." Suara seorang wanita yang memegang mikrofon ditangannya terdengar menggema di seluruh Aula itu.
Mendengar pengumuman itu, semua orang berdiri di tempat mereka, mata mereka semua tertuju pada pintu masuk Aula, akhirnya mereka semua dapat melihat sosok pria yang sudah menjatuhkan keluarga Prabaswara dari puncak tertinggi Tirta Baskara Group.
Deretan mobil Rolls-Royce keluaran terbaru berjajar rapi di pelataran hotel itu, satu persatu pria yang menggunakan jas berwarna merah turun dari mobil rombongan mobil itu, puluhan pria berjas merah itu lalu masuk ke dalam hotel menuju aula tempat dilangsungkannya acara penyambutan.
Purwadi tertawa sumringah begitu melihat para pria berjas merah itu masuk ke dalam Aula, dia terkagum-kagum dengan sosok para pria itu, dia menebak jika para pria itu adalah pengawal Austin.
Purwadi ikut tertawa mendengar perkataan William, dia benar-benar telah merasa menang dengan kehadiran Austin.
"Sudah aku katakan kepada kalian, hari ini aku akan mempermalukan Bimo dan Bisma dengan bantuan Austin," tegas Purwadi sambil membusungkan dadanya.
Disisi lain Aula itu, Damar, Bisma, Bimo dan istrinya sama terkejutnya begitu puluhan pria berjas merah mereka memasuki Aula itu, mereka semakin cemas.
"Aku tidak menyangka jika teman Purwadi adalah orang yang berkuasa seperti ini," ucap Bisma lirih.
Dari tempatnya duduk, dia juga bisa melihat puluhan mobil mewah dengan harga fantastis yang membawa orang-orang itu, hanya dengan melihat itu dan para pengawal yang kompak mengenakan jas merah, Bisma sudah bisa membayangkan sebesar apa kekuasaan yang dimiliki Austin.
Tidak ada pilihan lain bagi mereka, mereka sudah bersiap bahkan jika harus dipermalukan dengan dikeluarkan dari pemegang saham di Tirta Baskara Group.
__ADS_1
Dalam hati, mereka merasa bersyukur karena sudah meminta Hartono agar tidak datang di acara ini.
Hanya Tiysa yang terlihat berbeda, walaupun dia terkejut, ekspresi yang dia tunjukkan bukanlah karena cemas, tapi lebih karena penasaran.
Hal itu dikarenakan dia mengenali beberapa pria yang baru saja masuk di Aula itu, salah satunya adalah Luciano yang merupakan suami dari Widy.
"Luciano?" gumamnya pelan.
Luciano yang juga kebetulan sedang menatapnya langsung tersenyum, setelah itu dia dan para pria lain yang juga berjas merah mulai berbaris di sisi kiri dan kanan sehingga membentuk jalur di tengah untuk dilewati oleh pemimpin Moneyra Global Trade.
"Mengapa Luciano ada disini?" tanya Tiysa dalam hati.
Dia lalu menoleh ke Adrian, Tiysa merasa Adrian pasti mengetahui tentang hal ini.
"Pak Adrian...." kata Tiysa pelan sambil menatap Adrian.
Adrian hanya tersenyum lembut tanpa mengeluarkan sepatah kata. Tepat setelah itu terdengar suara wanita mengumumkan jika Pemilik Moneyra Global Trade akan memasuki ruangan.
"Akan segera memasuki ruangan, Pemilik Moneyra Global Trade dan juga pemimpin Tirta Baskara Group saat ini," kata Wanita itu mengumumkan.
Semua mata kembali menuju ke pintu utama, suasana menjadi hening, samar-samar terdengar suara langkah kaki memasuki ruangan itu.
Mata Tiysa dan yang lainnya langsung membelalak tatkala melihat sosok pria yang memasuki Aula, karena terkejut dia tanpa sadar berteriak.
"Sayang! Mengapa kamu ada disini? teriak Tiysa yang langsung memecah keheningan.
Damar, Bisma, Bimo dan Kirana yang juga ikut terkejut secara kompak berkata, " Tristan?"
...****************...
__ADS_1