
Satu persatu para tamu terlihat meninggalkan kediaman keluarga Yaroslav, para pekerja sibuk membersihkan taman yang menjadi tempat dilangsungkannya pernikahan 21 bawahan Gino.
Widy dan Luciano, beserta pasangan suami istri yang baru saja menikah juga mohon pamit kepada Kakek Tristan, mereka tak lupa mengucapkan terima kasih atas kesediaan keluarga Yaroslav menjadi tuan rumah di acara sakral mereka.
Suasana haru dan bahagia terlihat ketika Widy dan para mempelai wanita berpamitan kepada Tiysa, mereka semua tampak menitikkan airmata.
Widy dan para mempelai wanita di jadwalkan akan pergi meninggalkan Rusia hari ini, mereka akan kembali ke negara domisili suami mereka masing-masing, itu artinya mereka mungkin tidak akan bisa bertemu dalam waktu yang relatif lama.
“Apakah mereka akan baik-baik saja?” tanya Tiysa sambil memandangi rombongan mobil mewah yang membawa Widy dan para mempelai wanita menuju bandara.
“Tentu saja,” jawab Tristan yang menemani Tiysa melepas kepergian Widy dan teman-temannya.
“Aku masih merasa khawatir, mereka masih sangat muda.”
Tristan merangkul pundak Tiysa, dia lalu menyandarkan kepalanya di kepala Tiysa.
“Apakah kamu khawatir jika mereka mungkin akan mendapat perlakuan buruk dari suami mereka?” Tristan yang sudah sangat mengenal kekasihnya bisa langsung mengetahui apa yang membuat Tiysa merasa cemas.
“Aku tidak akan berbohong, memang benar, itu adalah salah satu hal yang membuatku cemas,” balas Tiysa.
“Kamu tidak perlu khawatir tentang itu, Gino memberitahuku jika 21 pria yang menjadi pasangan Widy dan teman-temannya merupakan bawahan Gino sendiri, jadi jika mereka berani berbuat macam-macam kepada Widy dan teman-temannya, Gino sendiri yang akan turun tangan untuk memberi mereka pelajaran,” terang Tristan.
Tiysa menghela nafas panjang , “Aku rasa kamu benar, mungkin aku yang terlalu cemas memikirkan mereka,” balasnya.
“Kurasa sudah waktunya bagi kita untuk pamitan.” Tristan mengecek jam tangannya yang sudah menunjukkan jam 4 sore.
Tiysa mengangguk pelan, mereka berdua lalu kembali menuju tempat Vladimir dan yang lainnya berkumpul.
“Kakek, kurasa sudah waktunya kami kembali ke Hotel, kami tidak ingin mengganggu istirahat Kakek dan yang lainnya,” ucap Tiysa begitu mereka tiba di meja Vladimir.
“Hotel? Mengapa kalian ingin kembali ke Hotel?” Vladimir yang balik bertanya membuat Tiysa kebingungan untuk menjawab.
Tristan yang sedang berdiri di sampingnya langsung menunduk dan tertawa pelan, dia seakan sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
__ADS_1
“Kami menginap di Hotel Ritz Carlton, barang-barang kami juga berada di sana, jadi....” Tisya tampak kesulitan menyelesaikan kalimatnya, itu karena Vladimir terus menatapnya dengan dahi yang mengerut.
“Tiysa, sudah kukatakan jika mulai hari ini kamu adalah cucuku, apakah kamu lupa dengan hal itu?” tanya Vladimir.
Tiysa tersenyum dia berkata, “Kakek, bagaimana mungkin aku melupakan itu.”
“Lalu mengapa kamu ingin kembali ke Hotel?” tanya Vladimir lagi.
“Eh....” Tiysa semakin kebingungan dengan pertanyaan Vladimir, sementara Tristan memalingkan wajahnya karena sudah tidak bisa lagi menahan tawanya.
“Kakek, berhenti menggunakan permainan kata-kata seperti itu,” kata Sofia yang langsung disambut tawa oleh Vladimir.
Sofia yang sejak tadi berdiri di samping Vladimir meraih tangan Tiysa dan Tristan.
“Kak Tiysa, kamu sudah menjadi cucu keluarga Yaroslav, itu berarti rumah kami juga sudah menjadi rumahmu, Kakek benar-benar keterlaluan karena terus menggoda seperti itu,” keluh Sofia sambil menarik tangan Tristan dan Tiysa menuju mansion mewah kediaman Yaroslav.
“Tapi, barang-barangku....”
“Kak Tiysa tidak perlu memikirkan itu, ayo ikut denganku,” seru Sofia, dia menarik tangan Tristan dan Tiysa dengan penuh semangat meninggalkan Vladimir dan Gino yang tertawa terbahak-bahak karena berhasil membuat anggota keluarga barunya kebingungan.
Tiga lampu Kristal besar langsung mencuri perhatian Tiysa sesaat setelah dia memasuki mansion keluarga Yaroslav, lantai dan dinding dari keramik berwarna krem di tambah langit-langit ruangan berwarna putih dengan ukiran indah menambah kemewahan mansion itu.
Pilar-pilar kokoh dari keramik berwarna hitam tampak menjulang tinggi di setiap sudut, Furnitur modern yang di dominasi perpaduan warna hitam dan putih memberi kesan elegan pada setiap ruangan yang Tiysa lewati.
“Sofia, kemana kita akan pergi?” tanya Tiysa sembari memandangi keindahan interior tempat itu.
“Tentu saja ke kamar Kak Tiysa,” jawab Sofia.
“Kamarku?” Tiysa balik bertanya.
Sofia tidak menjawab pertanyaan Tiysa, dia tetap tersenyum sambil terus menuntun Tristan dan Tiysa menuju ke lift yang berada di sudut ruangan itu.
__ADS_1
Ting !
Pintu lift terbuka, Sofia menarik lembut tangan mereka berdua masuk kedalam Lift lalu menekan tombol 3 di Call Panel lift itu.
“Bukankah itu?” batin Tristan, dia langsung tersenyum begitu melihat lantai yang Sofia tuju.
Ting !
Pintu lift kembali terbuka, Sofia meraih tangan Tiysa dan Tristan lalu menarik lembut tangan mereka menuju salah satu kamar di lantai itu.
“Ini kamar kalian berdua sekarang,” seru Sofia begitu mereka tiba di depan pintu kamar.
“Ka... kamar kami?” Tiysa terbata-bata, dia tersipu malu ketika mendengar ucapan Sofia.
Sedangkan Tristan kembali tersenyum, bagaimana tidak, kamar yang ditunjuk Sofia adalah kamar tidurnya.
Setelah membuka pintu kamar, Sofia langsung undur diri dan pergi meninggalkan Tiysa yang masih terlihat kebingungan.
Tristan meraih tangan Tiysa, dia lalu memandu Tiysa masuk ke dalam kamar itu.
Dia sendiri merasa gugup, dia takut jika barang-barang miliknya, khususnya foto masih ada di dalam kamarnya.
Namun ketika dia masuk ke dalam kamarnya, kekhawatirannya langsung menghilang.
Hal yang membuat Tristan cukup terkejut, karena tidak ada satupun barang pribadinya yang tersisa di kamar itu.
Para pelayan bekerja keras, sebelum Tiysa dan Tristan tiba di kediaman keluarga Yaroslav, mereka di instruksikan untuk menyingkirkan semua barang pribadi Tristan.
“Woah sayang, kamar ini jauh lebih luas dari pada kamar yang hotel yang kita tempati saat ini,” seru Tiysa bersemangat, dia sangat menyukai desain kamar itu.
“Sepertinya kita akan tinggal di kamar ini selama kita berada di Rusia,” balas Tristan.
__ADS_1
Tiysa mengangguk pelan, senyuman terus menghiasi wajahnya.
...****************...