
Dua minggu berlalu dengan cepat, setiap pagi, sebelum Gea berangkat kuliah, Gea selalu datang mengunjungi kantor Tristan.
Sudah dua minggu dia tidak pernah bertemu dengan tunangannya, sudah dua minggu pula Tristan tidak pernah menjawab panggilan teleponnya.
Entah sudah berapa ratus pesan yang dia kirimkan kepada Tristan, tak ada satu pun yang mendapatkan balasan.
“Tristan...,” ucapnya lirih. Gea terus dilanda kesedihan.
Gea masih tidak mengetahui alasan mengapa Tristan memperlakukannya seperti ini, dalam pikiran Gea, Tristan tidak mungkin mengetahui perihal hubungan terlarangnya bersama Devan sewaktu di Bogor.
Dian yang sudah dua minggu ini terus memperhatikan Gea, mulai merasa iba kepada Gea, Dian juga mulai sedikit menyalahkan Tristan yang tiba-tiba berubah.
Dian menghampiri Gea yang sedang tertunduk lesu di ruangan Tristan. Dian berniat untuk menghibur Gea.
“Nona Gea...,” sapa dian dengan lembut.
"Kak Dian" jawab Gea sambil menoleh ke Dian dengan mata berkaca-kaca.
Dian mengelus rambut Gea, dia bisa melihat kesedihan dari raut wajah Gea.
“Apa kalian berdua ada masalah?” tanya Dian.
Gea menggelengkan kepalanya.
“Gea... aku akan mencoba membantumu, untuk itu kamu harus jujur, aku sudah cukup mengenal Tristan, menurutku dia tidak mungkin berubah jika kamu tidak melakukan kesalahan.”
Selama ini Dian sudah sering memperhatikan Tristan, dari pengamatannya, Tristan sangat menyayangi tunangannya.
Gea terdiam mendengar ucapan dari Dian, setelah beberapa saat, dia akhirnya memutuskan untuk memberitahu Dian mengenai kejadian di Bogor.
Gea bercerita kepada Dian bagaimana dia lebih memilih menghabiskan waktunya bersama sahabatnya, dari pada makan malam dengan Tristan. Gea juga bercerita bagaimana dia berbohong tentang lokasi dia menginap, serta kedatangan Devan yang juga adalah mantan pacarnya.
“Apakah hanya seperti itu?” tanya Dian ketika dia sudah mendengar penjelasan Gea.
“Iya,” jawab Gea.
Gea masih menutupi fakta, jika dia sudah tidur bersama Devan.
“Tapi mengapa kamu melakukan itu?” Dian kembali bertanya, Dian tidak mengerti mengapa Gea berbohong mengenai keberadaan Devan saat itu.
Menurut Dian, Tristan bukanlah tipe pria posesif yang suka mengatur dan cemburu buta, jadi dia merasa aneh dengan pilihan Gea berbohong mengenai keberadaan mantan pacarnya di sana.
Gea tidak langsung menjawab pertanyaan Dian, dia mengambil ponselnya dan menunjukkan foto Dian dan Tristan di depan Golden Luxury Hotel.
Dian terkejut melihat foto itu, dia tidak menyangka jika waktu itu ada yang mengambil foto ketika dia bersama Tristan.
“Bukankah Kak Dian sudah tidur bersama Tristan? Apa salahnya jika aku hanya menginap bersama teman-temanku dan Devan di Villa itu? Apa salahnya jika aku membalas dendam dengan berbohong untuk mengurangi rasa sakit hatiku?” Gea memberikan alasannya untuk membenarkan tindakannya.
Dian terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Gea, dia tidak menyangka jika Gea seakan sudah yakin, jika dia dan Tristan sudah tidur bersama hanya dari sebuah foto yang di ambil di pekarangan hotel.
“Nona Gea, siapa yang memberimu foto itu?” tanya Dian.
“Sahabatku yang bernama Fika yang memberikan foto ini kepadaku,” jawab Gea.
“Aku akan menceritakan kejadian yang sebenarnya, setidaknya aku berhak menyampaikannya kepada Nona Gea, karena aku juga sebagai korban dari tuduhan palsu itu.”
Dian lalu mulai bercerita kepada Gea, bagaimana perlakuan yang dia terima di tempat ini, sebelum Tristan menjabat sebagai CEO, bagaimana Tristan membela dirinya saat di lecehkan oleh Cakra, dan bagaimana Tristan terus berada di sampingnya dikala dia sudah berpikir untuk bunuh diri.
Dian menjelaskan kepada Gea, bahwa memang pada saat itu mereka tidur di kamar yang sama, namun Dian berani bersumpah jika saat itu tidak terjadi apa-apa di antara mereka
Untuk membuktikan ucapannya, Dian bahkan berani mengajak Gea ke dokter, untuk mengecek jika dirinya benar-benar belum pernah di tiduri oleh lelaki mana pun termasuk Tristan.
__ADS_1
“Nona Gea, biar kuberitahu satu hal lagi, di hari pertama Pak Tristan bekerja, dia memperlihatkan cincin di jari manisnya kepadaku, dia menegaskan jika dirinya sudah bertunangan dan dia dengan bangga mengatakan, jika dirinya adalah pria yang menghargai suatu hubungan.”
Mendengar penjelasan Dian, air mata Gea langsung membanjiri pipinya, dia sudah menuduh Tristan atas hal yang tidak pernah Tristan lakukan, dan yang lebih parah lagi, dia sudah memberikan kesuciannya kepada Devan yang seharusnya menjadi milik Tristan.
“Kak Dian, aku harus bagaimana?” ucap Gea diiringi isak tangis.
“Lebih baik kamu pulang ke rumahmu untuk menenangkan diri, jika Tristan datang, aku akan mencoba menjelaskan semuanya kepada Tristan,”
Gea mengangguk pelan.
Beberapa saat kemudian, Gea sudah tidak menangis lagi, dia sudah merasa cukup tenang, tak lama kemudian dia mohon pamit pulang kepada Dian.
Seolah mengerti kapan Gea berada di kantornya, 5 menit setelah Gea pergi, Tristan tiba-tiba muncul.
Pemandangan yang sangat kontras dapat terlihat jelas dari kedua pasangan ini, jika Gea sedang merasa sangat sedih, lain halnya dengan Tristan, dia saat ini terlihat sangat bahagia.
Seperti biasanya, begitu tiba di kantor, Tristan akan langsung mengajak karyawannya untuk meeting.
Setelah itu, beberapa tamu yang sudah membuat janji akan datang menemui Tristan.
Waktu menunjukkan pukul 11.56, Tristan bersiap-siap untuk pergi makan siang, selama dua minggu ini, Tristan tidak pernah melewatkan waktu makan siangnya bersama Tiysa. Hubungannya dengan Tiysa juga sudah sangat dekat, karena itulah setiap hari dia terlihat sangat bahagia.
Ketika dia hendak pergi, Dian tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.
“Pak Tristan, kita perlu bicara,” ucap Dian dengan ekspresi wajah serius.
“Baiklah, silahkan duduk,” balas Tristan. Dia lalu kembali duduk di kursinya.
“Pak Tristan, ini tentang Gea.”
Begitu mendengar nama Gea disebut, Tristan langsung berdiri dan hendak pergi meninggalkan Dian.
“Tristan!” Dian berseru menghentikan Tristan.
Mendengar Dian yang langsung memanggil namanya, Tristan langsung menoleh. Dia melihat mata Dian yang melotot tidak senang.
“Baiklah....”
Tristan kembali ke tempat duduknya. Dia memberikan kesempatan kepada Dian untuk berbicara.
Dian lalu mulai bercerita tentang kondisi Gea, dia juga menjelaskan alasan Gea berbohong.
Dian mengira, hal yang membuat Tristan berubah itu karena Gea berbohong.
Dian meminta Tristan untuk meluangkan waktunya agar bisa bertemu dengan Gea.
Tristan mengangguk pelan, tanda dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Dian.
Dian lalu mengambil ponselnya dan meminta Gea datang, dia mengatakan jika saat ini Tristan sedang menunggunya di kantor.
20 Menit kemudian, terdengar suara langkah kaki yang sudah tidak asing lagi. Itu adalah suara langkah kaki Gea, yang selama 5 bulan ini menjadi penyemangat Tristan ketika bekerja.
Namun saat ini, dia merasa sangat tidak nyaman ketika mendengar suara langkah kaki itu.
Pintu ruangan Tristan terbuka, Gea masuk ke ruangan Tristan, matanya sembab karena terus menangis setelah mengetahui cerita sebenarnya dari Dian.
“Tristan... maafkan aku!” ucap Gea. Air matanya kembali mengalir membasahi pipinya.
Setelah mengatakan itu, Gea langsung menghampiri Tristan, dia ingin memeluk tunangannya yang sudah 2 minggu mengabaikannya.
Melihat Gea mendekat, Tristan langsung menunjukkan telapak tangannya kepada Gea, itu sebagai tanda agar Gea tidak mendekatinya.
__ADS_1
Gea terhenti, dia melihat telapak tangan yang biasa membelai rambutnya itu, kini menghentikannya untuk mendekati Tristan. Air matanya kembali mengalir deras.
Dian kembali merasa iba kepada Gea, tangisan gadis cantik itu benar-benar menyentuh hatinya.
“Aku akan menerima permintaan maaf darimu dengan syarat, kamu harus meninggalkan ketiga sahabatmu,” ucap Tristan
Gea terdiam, dia seakan tidak percaya dengan syarat yang diberikan oleh Tristan.
“Tristan! ... Kamu tidak berhak mengaturku dalam berteman, aku mengenal mereka jauh sebelum kita bertunangan,” protes Gea.
Tristan menyeringai dan berkata. “Dian, sudah kukatakan kepadamu, ini percuma.”
Setelah mengatakan itu Tristan berdiri lalu pergi meninggalkan ruangannya.
Sambil menatap Gea, Dian menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka jika Gea akan lebih memilih temannya dari pada calon suaminya.
Apalagi dari cerita yang disampaikan Gea, sudah sangat jelas, jika ketiga sahabatnya itu bukan orang yang baik.
Dian lalu menghentikan Gea yang hendak menyusul Tristan.
“Nona Gea, biar aku yang menyusul Pak Tristan, kamu tunggu di sini,” ucap Dian.
Gea mengangguk, dia masih tidak mengerti apa yang membuat Tristan kembali marah. Menurut dia, wajar saja jika dia lebih memilih temannya dari pada Tristan.
Dian berlari mengejar Tristan, saat tiba di parkiran, dia melihat Tristan yang hendak masuk ke dalam mobilnya.
“Pak Tristan!” teriak Dian.
Tristan langsung menoleh ke Dian begitu mendengar suara Dian memanggil namanya.
Dian menghampiri Tristan, dengan nafas tersengal-sengal dia berkata.
“Pak Tristan... Nona Gea... masih... sangat kecil.”
Dian berusaha menjelaskan kepada Tristan, mengapa Gea seperti itu.
Tristan tersenyum mendengar perkataan Dian, dia lalu meminta Dian masuk ke dalam mobilnya.
Dian mengangguk dan mengikuti perintah Tristan.
Tak lama kemudian mobil mereka meninggalkan tempat itu.
Tristan tak banyak bicara, dia menyerahkan ponselnya dan juga earphone yang berada di saku kemejanya kepada Dian.
Tristan lalu meminta Dian untuk memutar rekaman suara yang diberi judul BUKTI.
3 menit berlalu, Dian terus mendengar rekaman suara itu itu, dari rekaman itu, Dian sudah sedikit mengetahui mengapa Tristan marah dan membenci ketiga sahabat Gea.
Tristan lalu meminta agar dian memajukan waktu rekaman suara ke 3 menit terakhir.
Dian mengikuti instruksi dari Tristan.
Begitu mendengar audio itu, Dian sontak kaget, wajahnya terlihat kemerahan. Itu adalah suara Gea dan seorang pria, Dian bisa menebak dengan tepat apa yang Gea dan pria itu lakukan. Akhirnya Dian bisa memastikan hal yang membuat Tristan menjauh dari Gea.
Dian tidak bisa mendengar rekaman audio itu sampai selesai, dia mengembalikan ponsel milik Tristan.
Tak ada kata-kata yang terucap dari mereka berdua, Tristan kembali mengantar Dian ke kantornya, setelah Dian turun dari mobil, Tristan pergi meninggalkan tempat itu.
Dian kembali menuju ruangan Tristan, tempat di mana Gea menunggu kabar darinya, begitu masuk Gea langsung menanyakan keberadaan Tristan.
Dian menggelengkan kepalanya, gerakan itu sudah menegaskan kepada Gea jika Tristan tidak ingin menemuinya.
__ADS_1