Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 23 : Menghubungi Paman James


__ADS_3

“Apakah pak Tristan baik-baik saja,” ucap Cindy yang terlihat cemas.


“Aku baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” balas Tristan sambil tersenyum kepada Cindy dan Dian.


Setelah mendengar keributan yang terjadi, Dian dan Cindy langsung bergegas keluar dari ruang kerja Tristan, begitu keluar mereka berdua melihat Hendra yang sudah terbaring di lantai, dan setelah itu lari meninggalkan kantor mereka.


Melihat darah yang berada di tangan Tristan dan juga di lantai, Dian dan Cindy bisa memastikan jika Hendra juga sudah dihajar oleh Tristan.


Dian sendiri terlihat cemas, bukan tanpa sebab, Dian benar-benar merasa takut jika transaksi yang sudah susah payah Tristan dapatkan benar-benar batal. Jika itu terjadi, dia pasti akan semakin menyalahkan dirinya.


Tristan tentu saja bisa melihat itu , Tristan bisa menebak apa yang membuat Dian terlihat cemas.


“ Dian, sudah kukatakan ini bukan salahmu, jadi berhentilah cemas dan menyalahkan dirimu sendiri.”


Dian mengangguk pelan, walaupun Tristan mengatakan itu, tetap saja Dian merasa cemas.


“Ya sudah, kalian berdua silahkan lanjutkan aktivitas kalian, aku akan menunggu sampai pengganti Hendra datang,”ucap Tristan.


Cindy dan Dian mengangguk, setelah itu mereka berdua pamit kepada Tristan.


Tok..Tok..Tok !


“Permisi Pak.”


Seorang pria berusia sekitar 60 tahun masuk kedalam ruang tunggu tempat Tristan berada saat ini.


Tristan mengenali pria itu, pria itu adalah Suryo, dia juga yang kemarin membersihkan lantai di ruangan Cakra.


“Ah, maafkan aku pak Suryo, aku lagi-lagi membuatmu harus membersihkan darah, bahkan kemarin aku memintamu datang setelah jam kantor,” ucap Tristan yang merasa bersalah sudah menambah pekerjaan Suryo.


“Tidak apa-apa pak, bahkan jika Pak Tristan menumpahkah semua darah orang itu di lantai, aku akan dengan senang hati membersihkannya,” ucap Suryo sambil bercanda.

__ADS_1


“Hahaha, aku tidak sekejam itu pak Suryo,” kata Tristan sambil tertawa.


“Jujur saja pak, aku sudah terlalu sering melihat karyawan wanita di tempat ini diperlakukan semena-mena, aku juga memiliki seorang anak perempuan jadi aku sangat marah saat karyawan wanita di tempat ini diperlakukan seperti itu," ucap Suryo sambil membersihkan lantai.


“Jika saja aku masih muda, sudah tentu aku yang akan menghajar orang-orang mesum itu, jika aku dipecat, aku tinggal mencari pekerjaan lain, namun dengan kondisiku yang sudah tua, aku takut bukan aku yang menghajar mereka, tapi mereka yang akan menghajar aku, hahaha,” sambung Suryo sambil tertawa.


Tristan tersenyum mendengar perkataan Suryo, dia tahu bahwa Suryo benar-benar serius ketika mengatakan itu.


Setelah membersihkan lantai, Suryo mohon pamit kepada Tristan.


Tristan mengambil ponselnya, dia ingin menghubungi James dan menjelaskan permasalahan yang terjadi.


“Tristan ... bagaimana transaksinya? apakah aman?” ucap James menjawab panggilan telepon dari Tristan.


“Paman James, ah, mengenai masalah itu aku akan sedikit merepotkanmu.” balas Tritan.


“Katakan saja apa yang bisa aku bantu.”


“Tentu saja, aku akan mengirim email tentang pemecatannya, apa ada hal yang lain?”


Tristan menghela nafas panjang ketika mendengar jawaban James, dia tidak menyangka jika James akan langsung menerima permintaannya tanpa mendengar alasannya terlebih dahulu.


“Paman James setidaknya dengarkan dulu penjelasanku sebelum menerima permintaanku.” keluh Tristan.


“Hahaha, Tristan ... jika kamu memintaku untuk memecat seseorang, sudah bisa dipastikan dia sudah melakukan hal yang membuat kamu marah, untuk apalagi aku bertanya tentang alasannya,” balas James sambil tertawa.


James lalu menambahkan. “Keluarga Ayahmu sudah beberapa kali membantuku dalam menyelesaikan masalah, aku juga sudah sangat mengenalmu dari kecil, tidak mungkin kamu akan memintaku untuk memecat seseorang tanpa alasan yang jelas.”


Tristan tersenyum mendengar jawaban dari James.


“Tetap saja Paman James harus mendengarkan penjelasanku dulu, apalagi Hendra berkata jika pamannya adalah CEO di perusahaan milik paman James.”

__ADS_1


“Baiklah,” jawab James.


Setelah itu Tristan menjelaskan kepada James insiden yang baru saja terjadi. James terdengar sedikit marah ketika mendengar apa yang Tristan sampaikan.


“CEO di tempat itu adalah Slamet, dia orang yang sudah cukup lama bekerja di perusahaanku.”


“Apakah paman mengenali kepribadian orang ini?” tanya Tristan.


“Menurutku Slamet orang yang baik dan adil, jika kamu menjelaskan permasalahannya aku rasa dia akan mengerti,” balas James.


“Oh atau begini saja, bukankah di tempatmu ada kamera CCTV, tinggal cek buku kunjungan tamu, dan lihat kapan Hendra berkunjung di tempatmu, lalu cari bukti yang menunjukkan perbuatannya. Aku rasa jika kamu memperlihatkan itu kepada Slamet dia akan mengerti mengapa kamu memukuli keponakannya,” sambung James memberikan ide kepada Tristan.


“Atau kamu ingin agar aku juga memecat Slamet?”


Tristan kembali menghela nafas mendengar perkataan James. “Jangan bercanda paman, dia tidak salah, untuk apa mengeluarkan dia.”


“Hahaha, kamu memang anak yang baik.”


Setelah itu Tristan mengakhiri pembicaraannya dengan James.


Tristan lalu meminta karyawannya di bagian keamanan untuk mengumpulkan bukti seperti yang James sampaikan.


Tristan sempat kembali emosi ketika melihat rekaman dari kamera CCTV, sangat terlihat jelas tindakan dari Hendra sudah keterlaluan, dia dengan bebas menyentuh pinggul dari karyawan wanita di tempatnya, bahkan dia juga sesekali memeluk karyawannya dengan bebas. Bahkan ada satu rekaman yang menunjukkan jika Cakra tidak menghentikan Hendra ketika melakukan itu tepat di depan matanya.


Dari tanggal yang tertera, itu semua terjadi setelah CEO lama di berhentikan dan sebelum Tristan menjabat.


Memang pada saat itu perusahaan Tirta Wira Perkasa tidak memiliki CEO, jadi Cakra sangat bebas melakukan apa saja di perusahaan ini.


Setelah mengumpulkan bukti, termasuk riwayat pesan milik Dian, Tristan menunggu Slamet di ruangannya, Tristan sudah dapat memastikan jika selanjutnya yang akan datang menemuinya adalah Slamet.


Beberapa saat kemudian, seorang pria mengetuk pintu Tristan, setelah Tristan mempersilahkan masuk, pria itu langsung duduk di kursi depan meja Tristan.

__ADS_1


Perkiraan Tristan tepat, orang yang datang adalah Slamet, paman Hendra yang juga merupakan CEO di perusahaan milik James.


__ADS_2