Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 51 : Dian bertemu Tiysa


__ADS_3

Dua tahun kemudian...


Sudah dua tahun berlalu semenjak Tristan meninggalkan Indonesia, sejak saat itu Tiysa sudah tidak pernah mendengar kabar dari Tristan sama sekali, walaupun Suryo sudah mengatakan jika alasan Tristan meninggalkan Indonesia bukan karena dirinya, tetap saja Tiysa menyalahkan dirinya yang terus menghindar pada saat itu.


Saat ini Tiysa berada di kamar yang dulu digunakan Tristan ketika menginap di rumahnya, tampak beberapa foto mereka berdua menghiasi ruangan itu, setiap Tiysa mengunjungi orang tuanya di hari sabtu, dia akan menghabiskan waktu di kamar ini sambil mengingat kembali waktu yang mereka berdua habiskan bersama.


Sambil berbaring di tempat tidur, Tiysa memandangi foto dirinya bersama Tristan, foto di mana mereka berdua kompak menggunakan pakaian berbahan denim.


Beberapa kata maafkan aku Tiysa tulis di foto itu, dan di bagian bawah foto itu, tulisan ‘Aku Sayang Kamu’ terukir dengan tinta berwarna merah yang menghubungkan foto Tiysa dan Tristan.



Lagu dari Avril Lavigne yang berjudul When You’re Gone yang saat ini sedang didengar Tiysa, seakan menggambarkan isi hatinya yang sangat merindukan Tristan.


I always needed time on my own


Dulu aku selalu butuh waktu sendirian


I never thought I'd


Tak pernah terpikir aku ‘kan


Need you there when I cry


membutuhkanmu saat aku menangis



And the days feel like years when I'm alone


Dan hari-hari terasa bertahun-tahun saat aku sendirian


And the bed where you lie


Dan kini ranjang tempatmu berbaring


Is made up on your side


Telah rapi di sisimu



When you walk away


Saat kamu melangkah pergi


I count the steps that you take


Kuhitung langkah-langkahmu


Do you see how much I need you right now?


Tahukah kamu betapa aku sangat membutuhkanmu saat ini


__ADS_1


When you're gone


Saat kamu tak ada


The pieces of my heart are missin' you


Seluruh hatiku merindukanmu


When you're gone


Saat kamu tak ada


The face I came to know is missin', too


Wajah yang kukenal juga hilang



When you're gone


Saat kamu tak ada


The words I need to hear


Kata-kata yang perlu kudengar


To always get me through the day...


Untuk mampu melalui hari


And make it okay


I miss you


Aku merindukanmu...



Tiysa menitikkan airmata, lirik lagu itu seakan mengungkapkan segala isi hatinya, ia memeluk foto yang berada di tangannya, dan terus mengingat wajah pria yang sangat berarti baginya.


Selama dua tahun terakhir, Tiysa terus mendengarkan lagu ini seakan sudah menjadi lagu wajib bagi dirinya saat mengingat kebersamaannya dengan Tristan.


__


“Kapan rencana pernikahan kalian?” tanya Cindy yang berbicara melalui sambungan telepon dengan Dian.


“Mungkin di akhir tahun ini,” jawab Dian.


“Jangan lupa untuk mengabari aku jika kalian sudah menentukan tanggalnya.”


“Iya, aku pasti mengabari kamu dan teman-teman yang lain,” balas Dian, yang tak lama setelah itu mengakhiri panggilan teleponnya.


Dua tahun berlalu, karyawan yang dulunya berada di bawah kepemimpinan Tristan sudah tak lagi bersama-sama, mereka semua mendapatkan kenaikan jabatan, dan sekarang mereka menjadi pemimpin cabang yang tersebar di seluruh Indonesia.


Dian sudah menemukan pria pujaan hatinya, hubungan mereka sudah sangat serius dan rencananya di akhir tahun ini mereka akan melangsungkan pernikahan.

__ADS_1


Saat ini dia bersama dengan kekasihnya yang bernama Yuda menuju ke rumah salah satu kerabat Yuda untuk memberitahukan rencana pernikahan mereka. Dian memang meluangkan waktunya hari ini untuk menemani kekasihnya mendatangi dan memperkenalkan dirinya kepada beberapa kerabat dekat Yuda.


Mobil mereka telah tiba di salah satu kompleks perumahan yang terletak di kota Bogor, begitu tiba di rumah kerabat Yuda, dia langsung di sambut hangat oleh Paman dan Bibi Yuda yang terlihat sangat ramah.


Setelah saling menyapa, mereka berdua dipersilakan masuk menuju ke ruang tamu.


“Ini siapa Paman?” tanya Yuda kepada pamannya sambil menunjuk foto yang menempel di tembok ruang tamu.



Dian menoleh ke foto yang di tunjuk oleh Yuda, Dian langsung tercengang, dia sangat mengenali pria yang ada difoto itu.


“Oh, itu pacar Tiysa,” jawab Paman Yuda.


“Wah, tampan sekali pacar Tiysa,” jawab Yuda yang terkagum-kagum dengan paras pria di foto itu.


“Benar ‘kan sayang?” tanya Yuda sembari menoleh ke Dian yang berdiri di sampingnya.


“Tristan?!” seru Dian terkejut.


“Paman bisakah aku bertemu Tiysa?” tanya Dian.


Bimo terkejut karena calon istri Yuda ternyata mengenal Tristan dan putrinya. Sama halnya dengan Bimo, Yuda juga terkejut ketika dia mengetahui Tristan yang sering diceritakan istrinya adalah kekasih adik sepupunya.


“Tentu saja, dia sekarang di kamar yang berada di lantai dua,” jawab Bimo, sambil menunjuk tangga di ruang keluarga.


“Kalau begitu aku permisi dulu paman,” kata Dian, dia lalu menuju ke tangga yang tadi ditunjukkan Bimo.


“Dian tungg-” Yuda berniat menghentikan Dian, dia merasa tidak enak dengan Ayah dan Ibu Tiysa.


“Tidak apa-apa, mungkin ada yang harus dia sampaikan ke Tiysa,” kata Bimo, sambil mempersilakan Yuda duduk di Sofa.


Yuda tersenyum lalu duduk di sofa, dia merasa lega karena Bimo dan Kirana tidak tersinggung dengan tingkah Dian yang tiba-tiba seperti itu.


Dian sudah berada di lantai dua, sayup-sayup terdengar suara musik yang berasal dari kamar yang sedang dia tuju, Dian yang juga menyukai lagu-lagu dari Avril Lavigne langsung bisa menebak kesedihan yang dialami Tiysa.


Dian membuka pintu, dan akhirnya dia dapat melihat sosok wanita yang sudah membuat Tristan menitikkan airmata.


Tiysa yang langsung menoleh ketika pintu kamar terbuka membuat Dian bisa melihat dengan jelas kondisi mata Tiysa yang sembab karena menangis.


“Oh Tristan, apa yang sudah kamu lakukan kepada wanita cantik ini,” gumam Dian yang langsung dengan cepat menghampiri Tiysa lalu memeluknya dengan erat.


“Maafkan aku, aku seharusnya tidak menyerah untuk menemukanmu,” Kata Dian sambil memeluk erat tubuh Tiysa.


Tiysa merasa kebingungan, dia tiba-tiba dipeluk oleh wanita yang dia tidak kenali, dia juga tidak mengerti maksud dari perkataan wanita yang sedang memeluknya itu.


Dian melepas pelukannya dari Tiysa, dia menyeka airmatanya lalu mengusap airmata yang membasahi pipi Tiysa.


“Maaf, aku lupa memperkenalkan diriku, namaku Dian dan aku dulu bekerja bersama Tristan,” kata Dian memperkenalkan dirinya.


“Tristan?!” Tiysa sontak kaget ketika Dian menyebut nama pria yang sudah dia rindukan.


Dian berdiri lalu mematikan lagu yang sedang didengarkan oleh Tiysa.


“Tiysa, berhenti menyalahkan dirimu, Tristan sangat mencintaimu, aku akan memperlihatkan bukti untuk mendukung perkataanku.”

__ADS_1


__



__ADS_2