
"Woah, hati-hati tuan putri," seru Gino ketika 21 wanita yang menjadi korban kejahatan Boby datang menghampirinya bersamaan.
Secara bergantian mereka semua memeluk Gino dan mengucapkan rasa terima kasih mereka.
Sambil tersenyum Gino terlihat mengelus kepala para wanita muda itu satu persatu, dia juga meminta mereka agar tetap semangat menjalani hari-hari kedepannya.
Beberapa saat kemudian, semua wanita muda itu telah kembali ke keluarga mereka masing-masing, tidak ada lagi kesedihan, tidak ada lagi isak tangis, para wanita muda itu terlihat ceria, senyuman terus-menerus menghiasi wajah mereka.
Tristan menghampiri Gino yang sedang memandangi para wanita muda itu berinteraksi dengan keluarganya, "Akhirnya masalah ini bisa selesai, kamu benar-benar menyelesaikan masalah ini
"Kamu benar-benar sangat hebat, aku merasa sangat bangga memiliki adik sepertimu," kata Tristan sambil menepuk-nepuk bahu Gino.
Gino langsung tersenyum mendengar pujian dari kakaknya, "Ini belum selesai, Kak, masih ada langkah selanjutnya." Gino kembali tersenyum sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Benarkah? Apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" Tristan terlihat penasaran karena merasa sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan, selain melindungi, dan mendukung proses penyembuhan para wanita ini.
"Besok Kakak akan mengetahui langkah selanjutnya, untuk sekarang aku akan beristirahat," kata Gino, dia menguap sambil merenggangkan badannya.
Mereka berdua lalu berjalan menuju lift, tepat sebelum Tristan melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift, dia tiba-tiba teringat sesuatu.
"Aduh, gawat," kata Tristan sambil menepuk-nepuk dahinya sendiri.
"Ada apa kak?"
"Apartemen...." jawab Tristan dengan ekspresi wajah cemas.
Apartemen?" tanya Gino yang terlihat kebingungan.
__ADS_1
"Mulai hari ini aku diminta Tiysa untuk tinggal di apartemennya...." Tristan terlihat sangat lesu saat mengatakan itu kepada Gino.
"Lantas kenapa Kakak terlihat lesu, bukannya itu bagus? Kakak bisa ehem-ehem setiap hari bersama wanita pujaan kakak," kata Gino sambil menggoyangkan kedua alisnya.
"Hah... bocah nakal, apa kamu lupa pesan ibu kepadaku?" Tristan menjewer kuping Gino yang sedang memasang wajah mesum.
Gino mengerutkan alisnya, dia mencoba mengingat pesan yang di sampaikan ibunya kepada Tristan.
"Hahaha, aku ingat sekarang, Kakak hanya boleh melakukan itu setelah menikah, hahaha, kakak, menurutku itu bukan amanat melainkan kutukan." Gino terus tertawa mengingat kembali pesan yang disampaikan ibunya kepada Tristan.
Tristan ikut tertawa melihat tingkah Gino yang sampai menjatuhkan dirinya ke lantai karena tertawa, dia setuju dengan apa yang adiknya katakan, pesan ibunya terasa seperti kutukan, dia harus berkali-kali menahan hasratnya ketika Tiysa terus menggodanya menggunakan baju haram pemberian Dian.
"Kakak, aku sudah mengenal sifatmu dengan baik, aku yakin kamu bisa menahan diri, mengapa kamu terlihat sangat khawatir karena tinggal satu apartemen dengan Tiysa?" kata Gino sambil mengatur nafasnya karena tertawa.
"Apartemen milik Tiysa itu tipe Studio, sekarang kamu harusnya mengerti mengapa aku merasa sangat khawatir."
"Kakak, bagaimana kalau kamu pindah ke kompleks apartemen milik keluarga kita, gunakan apartemen tipe 3BR, dengan begitu kamu tidak perlu tidur seranjang dengan kak Tiysa."
"Maksud kamu Golden Royal apartement? Jujur saja, Aku juga sudah memikirkan itu, masalahnya sekarang, aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya kepada Tiysa jika aku memiliki apartemen seharga 2 M, saat ini statusku pengangguran, jadi akan sangat mencurigakan jika aku tiba-tiba memiliki apartemen."
Gino mengangguk setuju, apa yang dikatakan kakaknya masuk akal.
"Kakak, Bilang saja jika apartemen itu memang adalah milikmu dan 5 tahun lalu kamu meminjamkannya kepada salah satu rekan bisnismu yang saat ini sudah meninggalkan Indonesia."
"Aku tidak yakin Tiysa akan mempercayai alasan seperti itu," kata Tristan sambil menggaruk kepalanya.
"Mengapa tidak, dulu ketika aku disuruh untuk menguji Kak Tiysa, dia pernah bercerita jika Kak Tristan memberinya uang 5M ketika baru pertama kali bertemu, dia juga pernah bercerita jika Kak Tristan memborong 30 unit mobil mewah hanya agar Tiysa mau tinggal menemanimu sehari, meminjamkan apartemen seharga 2M masih lebih masuk akal dari pada apa yang baru saja aku sebutkan," balas Gino.
__ADS_1
Tristan menganggukkan kepalanya dia setuju dengan penjelasan dari Gino.
"Baiklah, Terima kasih lagi atas idemu, hari ini kamu benar-benar sangat membantuku."
Beberapa saat kemudian, Tristan meninggalkan Golden Snow Hotel dan kembali ke apartemen Tiysa.
"Sayang aku pulang," kata Tristan sambil membuka pintu apartemen Tiysa.
"Sayang sini cepat!" balas Tiysa yang sedang menonton televisi, matanya terus memandangi layar televisi dengan raut wajah yang sangat terkejut.
"Ada apa?" tanya Tristan sambil berjalan menghampiri Tiysa.
"Ini berita tentang Boby, dia dan anak buahnya di temukan tewas di dalam sebuah pabrik tua di Jakarta." Tiysa terus memandangi layar Televisi yang menampilkan berita tentang Boby dan anak buahnya.
"Apa penyebabnya?" Tristan kembali bertanya kepada Tiysa.
"Menurut apa yang di sampaikan reporter, Boby dan anak buahnya terlibat perselisihan, kelompoknya terbelah menjadi dua bagian, dan akhirnya saling bunuh di gudang itu untuk menyelesaikan masalahnya, pihak berwajib juga menemukan dua jenis senjata yang berbeda dalam jumlah yang banyak," jawab Tiysa menjelaskan.
Tristan menganggukkan kepalanya, dia akhirnya menyadari mengapa Gino mengeksekusi kelompok Boby dengan dua jenis senjata yang berbeda, hal itu karena Gino ingin membuat kematian Boby dan pengikutnya seolah-olah karena terjadi perselisihan dan perpecahan antara Boby dan anggotanya.
"Sudahlah, daripada membahas penjahat itu lebih baik kamu mulai berkemas, kita akan pindah ke apartemen milikku."
"Kamu memiliki apartemen?" Tiysa tampak terkejut mendengar ucapan Tristan.
Tristan lalu menjelaskan kepada Tiysa bagaimana dia bisa memiliki apartemen sesuai dengan instruksi yang diberikan Gino.
Tiysa mengangguk pelan, dia terlihat mengerti penjelasan dari Tristan, dia lalu mulai mengemasi beberapa pakaiannya ke dalam koper miliknya.
__ADS_1
Tak berselang lama setelah Tiysa selesai mengemasi pakaiannya, Tristan dan Tiysa pergi meninggalkan apartemen milik Tiysa.