
Tiga hari yang lalu....
Tiga target utama yang akan disingkirkan keluarga Yaroslav adalah Oscar di Italia, Winata di Kanada dan Lingga di Thailand, Vladimir memerintahkan untuk mengeksekusi tiga target utama diwaktu yang sama yaitu 3 hari sebelum acara penyambutan Austin.
Haris yang sedang berada di Thailand memerintahkan bawahannya untuk terus memantau pergerakan Austin dan Lingga, hanya tinggal menunggu waktu sampai perintah eksekusi di jalankan.
“Tuan Haris, satu jam lagi,” kata Evander salah satu bawahan Haris.
Haris sendiri sedang berada di salah satu hotel bintang 5 di Thailand, dari Hotel itu dia terus menerima informasi tentang pergerakan Austin dan Lingga.
Haris menganggukkan kepalanya, sambil mengenakan pakaiannya di berkata, “Apakah semua orang sudah berada di posisi?“
“Iya Tuan,” jawab Evander singkat.
“Baiklah, sebaiknya aku juga bersiap, aku penasaran seperti apa ekspresi wajah Lingga ketika bertemu tamu yang sangat ingin melihat wajahnya,” kata Haris sambil tertawa.
Satu jam kemudian di Kanada….
“Tuan Faiz sudah waktunya,” kata salah satu bawahan Faiz.
“Perintahkan semua orang untuk bergerak, dalam 5 menit aku ingin Winata sudah berada di tanganku,” perintah Faiz tegas.
“Siap Tuan,” jawab bawahan Faiz yang langsung memberikan instruksi kepada seluruh bawahan Faiz yang telah mengepung kediaman Winata.
Ratusan bawahan Faiz yang mengenakan setelan Jas hitam langsung menyerbu,
Puluhan pengawal yang menjaga kediaman Winata sontak terkejut, mereka semua berlari menuju halaman rumah Winata untuk menghalau serbuan bawahan Faiz, saat mereka ingin melepaskan tembakan.
Bang! Bang!
Tiba-tiba satu persatu pengawal Winata tumbang dengan lubang di kepala mereka.
“Hati-hati ada penembak jitu!“ teriak salah satu pengawal Winata.
Namun terlambat, puluhan bawahan Faiz sudah mengunci posisi mereka dari tempat yang tinggi di sekitar area itu.
Bang! Bang! Bang! Bang!
Dengan mudah bawahan Faiz menembaki puluhan pengawal Winata yang berkumpul di halaman depan rumah Winata, hanya beberapa orang yang berhasil menyelamatkan diri dengan masuk ke dalam rumah.
Pertahanan kediaman Winata tumbang, puluhan orang pengawal Winata tewas bersimbah darah di halaman rumah Winata.
“Clear….“ lapor salah satu bawahan Faiz yang memantau dari gedung Tinggi kepada Faiz.
“Berapa orang lagi yang tersisa?“ tanya Faiz sambil melangkah turun dari mobilnya.
“Tidak lebih dari 5 orang,” jawab bawahan Faiz yang sedang bersamanya.
Faiz melirik jam tangannya, “2 menit lagi, jika lebih dari itu pihak kepolisian akan tiba, ayo bereskan dalam 2 menit yang tersisa,” perintah Faiz tegas.
...****************...
Di Italia, di saat waktu yang sama, Gino ditemani Luciano juga melancarkan serangan.
__ADS_1
Bruak!
Terdengar suara tubrukan keras, mobil Jacob yang hendak pulang kerumahnya tiba-tiba di tabrak sampai terguling oleh dua buah mobil di tempat yang cukup jauh dari pusat keramaian.
Gino turun dari salah satu mobil yang menabrak mobil Jacob, perlahan dia mendekati Jacob yang sedang merangkak keluar dari mobilnya yang sudah terbalik dengan ke empat Ban menghadap ke atas.
“Ah… sialan, siapa kalian!“ teriak Jacob begitu melihat beberapa orang jalan mendekatinya.
Gino tersenyum sinis, dia berjongkok dan mendekatkan wajahnya ke Jacob yang sudah berlumuran darah karena tabrakan tadi.
“Kamu sudah mengganggu keluargaku di Indonesia, saatnya kamu membayar perbuatanmu,” kata Gino sambil menatap tajam Jacob yang terus merangkak.
“Aku tidak mengenalmu, aku juga tidak tahu siapa keluargamu di Indonesia, jadi….“ Jacob tiba-tiba terdiam, dia merasa pernah melihat tatapan dingin dari mata berpupil biru yang sama dengan milik Gino.
“Tunggu… Tristan!“ teriak Jacob yang sudah menyadari jika cara Gino menatapnya sama persis ketika Tristan menatapnya sambil terus memukuli wajahnya ketika berada di Indonesia.
“Hahaha ingatanmu cukup baik, sayangnya itu tidak akan mengubah keadaan apapun, asal kamu tahu saja, aku tidak memiliki sifat pemaaf seperti saudaraku,” kata Gino sambil menyunggingkan bibirnya.
Jacob bergidik ngeri, dia tahu jika orang yang sedang menatapnya tidak menggertak, dengan sekuat tenaga dia mencoba merangkak menjauh dari Gino, tapi Luciano segera menendangnya hingga ia terpental kembali ke tempat Gino.
“Bawa dia, mari pertemukan dia dengan si berengsek yang bernama Oscar!“ perintah Gino.
Tiga mobil sedan hitam menepi di dekat mereka, Luciano dan Gino naik di salah satu mobil, sedangkan Jacob dibawa oleh mobil yang lainnya, tak lama kemudian mobil mereka pergi meninggalkan tempat itu.
Beberapa saat kemudian, mobil mereka sudah hampir tiba di kediaman Oscar. Jacob yang sudah mengetahui jika sebentar lagi mereka tiba dirumahnya mencoba menyuap dua pria yang sedang memegang tangannya.
“Hahaha, maksudmu Oscar? Kalian benar-benar tidak tahu dengan siapa kalian berurusan,” kata pria berjas hitam yang berada di samping kanannya.
“Kamu akan segera mengetahuinya saat kita tiba di rumahmu, jadi nikmati saja sisa-sisa hidupmu.“ Pria yang berada di samping kirinya ikut tertawa setelah mengatakan itu kepada Jacob.
Benar saja, begitu mereka tiba di area kediaman Oscar, ratusan mobil sedan berwarna hitam sudah mengelilingi kediaman Oscar. Tak terhitung jumlahnya orang-orang yang mengenakan setelan jas berdiri dan membuka jalan agar mobil mereka bisa lewat.
Mata Jacob membelalak, wajahnya semakin pucat karena ketakutan.
“Ayahmu berniat menggunakan jasa mafia untuk menyingkirkan Tuan Muda dari keluarga Yaroslav, para mafia di negara ini sudah menjalin persahabatan sudah cukup lama dengan keluarga Yaroslav, sekarang kamu bisa melihat dengan mata kepalamu sendiri, kemarahan seluruh pemimpin mafia yang hadir di tempat ini untuk menghabisi keluargamu,” kata Pria yang membawa Jacob sambil tertawa terbahak-bahak.
...****************...
Di Thailand sendiri, Haris dengan santai melangkahkan kakinya masuk ke rumah Lingga, hanya ada dua pengawal yang menjaga rumah Lingga, selama membangun bisnisnya di Thailand, Austin terus membantunya menyingkirkan para pesaing bisnisnya, karena itulah dia sangat percaya diri jika tidak ada orang yang berani mencari masalah dengannya di Thailand.
Lingga yang sudah mengetahui jika puluhan orang memasuki rumahnya segera mengunci pintu ruang kerjanya, dia mengambil telepon selulernya dan terus mencoba menghubungi Austin.
“Sial! Mengapa sinyal kacau di saat seperti ini,” umpat Lingga yang masih belum bisa terhubung dengan Austin.
Sebelum menyerang kediaman Lingga, bawahan Haris sudah menyalakan Jammer Signal untuk mengacaukan sinyal ponsel yang berada di Area kediaman Lingga.
Hal itu untuk mengantisipasi Lingga agar tidak bisa menghubungi pihak yang berwajib di negara ini.
Tok… Tok… Tok…
“Lingga buka pintunya,” kata Haris sambil mengetuk pintu ruang kerja Lingga.
__ADS_1
Lingga yang sudah ketakutan tidak menjawab Haris, dia terus mencoba menghubungi Austin untuk meminta bantuan.
Duakk!!
Hanya dengan sekali tendang, Haris dengan mudah merobohkan pintu ruang kerja Lingga.
“Si… siapa kalian?“ teriak Lingga dengan ekspresi wajah ketakutan.
“Ah… maaf aku terpaksa merobohkan pintumu,” kata Haris sambil membersihkan debu yang menempel di jasnya.
“Kalian benar-benar berani, apakah kalian tidak tahu jika aku bersahabat dengan Austin!“ gertak Lingga dengan menyebut nama Austin yang sudah sangat terkenal di negara ini.
“Oh, maksud kamu ikan teri ini,” ucap Haris sambil tersenyum.
Dua bawahan Haris lalu membawa Austin yang sudah babak belur dengan berlumuran darah.
“Austin!“ teriak Lingga yang tidak percaya jika Austin yang dia kenal sebagai penguasa tempat ini dengan mudah di lumpuhkan oleh orang-orang yang menyerbu rumahnya.
“Kamu tidak perlu mencemaskan dirinya, dia masih hidup, yang perlu kamu cemaskan adalah dirimu sendiri,” kata Haris sambil tersenyum sinis.
“Tunggu… aku tidak pernah bermasalah dengan kalian, mengapa kalian melakukan ini kepadaku,” balas Lingga membela diri.
“Hahaha, aku hanya pembawa pesan, bukan aku yang ingin berurusan denganmu,” kata Haris sambil tertawa.
Lingga terlihat sangat kebingungan, namun sesaat kemudian dia akhirnya mengerti siapa orang yang ingin berurusan dengannya.
“Silahkan masuk Tuan,” kata Haris sopan sambil sedikit menundukkan kepalanya.
“Kerja bagus Haris,” kata Pria itu sambil melangkahkan kakinya memasuki ruang kerja Lingga.
Mata Lingga membelalak, wajahnya menjadi pucat, “Ka… kamu, bukankah kamu sudah mati!“ teriak Lingga ketakutan saat melihat sosok pria yang baru saja memasuki ruang kerja.
Haris berbalik pergi, dia meminta bawahannya untuk meninggalkan ruang kerja Lingga.
“Tolong ampuni aku.“
Samar-samar Haris dan bawahannya yang sudah berada cukup jauh dari ruangan Lingga mendengar suara Lingga memohon pengampunan diselingi suara pukulan.
Haris lalu menoleh ke para bawahannya.
“Mengapa kalian menjadi lemah seperti itu,” kata Haris meledek bawahannya yang sedang menangis berderai airmata.
“Maafkan kami Tuan Haris, kami tidak menyangka jika….” Evander yang juga ikut menangis tidak bisa melanjutkan perkataannya.
“Ingatlah, Kalian harus merahasiakan apa yang kalian lihat hari ini,” kata Haris sambil tersenyum kepada bawahannya.
“Siap Tuan Haris,” jawab bawahan Haris kompak.
“Sekarang waktunya kita mengambil alih Moneyra Global Trade dan menjadikan Tuan Muda Tristan sebagai pimpinannya,” tegas Haris memberikan perintah.
Tiga hari sebelum penyambutan Austin di Indonesia, Oscar, Jacob, Winata, Austin dan Lingga di eksekusi diwaktu yang bersamaan.
Ponsel Austin dikuasai oleh Haris, selama 3 hari ke depan, Haris yang selalu membalas pesan dari Purwadi yang merasa heran karena ketiga rekannya tiba-tiba tidak bisa dihubungi.
Setelah Operasi Pembasmian Ikan Teri berhasil di jalankan, mereka semua terbang menuju Indonesia untuk menghadiri acara penyambutan Tristan sebagai Pimpinan baru Tirta Baskara Group.
...****************...
__ADS_1