
“Tristan! Jangan melihat kesini! Tutup matamu!” teriak Tiysa sambil mencoba menutupi tubuhnya.
“Hahaha....” Tristan tertawa melihat tingkah lucu Tiysa.
Karena menggunakan pakaian tidur dengan bahan yang tipis, membuat tubuh Tiysa yang sedang tidak mengenakan dalaman terlihat dengan jelas ketika terpapar sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar.
Tiysa mengambil handuk kimono milik Tristan yang di gantung tidak jauh dari tempatnya berdiri, dan langsung menggunakannya untuk menutupi tubuhnya.
Dengan wajah cemberut, Tiysa berjalan menuju kamar mandi.
Namun ketika dia tepat berada di samping Tristan yang masih malas-malasan di tempat tidur, tangannya langsung di tarik, sehingga tubuhnya jatuh menindih tubuh Tristan.
Tristan langsung memeluk tubuh Tiysa.
“Nona Tiysa, mau kemana?” tanya Tristan. Wajahnya kini berada tepat di depan wajah Tiysa.
“Tristan, aku mau mandi, aku telat ke kantor,” jawab Tiysa sambil berusaha melepaskan pelukan Tristan darinya.
“Tapi aku masih ingin bersamamu,” ucap Tristan.
Tiysa tersenyum. “Iya, tapi aku harus kerja.”
“Tidak, aku tidak akan melepasmu, walaupun kamu tidak masuk kantor, aku jamin Yono tidak akan berani untuk memecatmu,” ucap Tristan yang tidak mau melepaskan pelukannya dari tubuh Tiysa.
“Kamu tidak boleh melakukan itu, Tristan ...,” balas Tiysa dengan nada manja.
Tristan menggelengkan kepalanya, dia tetap tidak mau melepas pelukannya dari tubuh Tiysa.
Tiysa berpikir sejenak, kedua alisnya terangkat, matanya melirik ke langit-langit.
Cup!
Tiysa mengecup bibir Tristan.
Walau cuma sekilas itu terbukti efektif, kini kedua lengan Tristan yang sedang melingkar di pinggangnya, seakan kehilangan tenaganya. Dengan mudah Tiysa melepaskan diri dari Tristan.
Tiysa lalu berlari kecil menuju kamar mandi, meninggalkan Tristan yang masih terkejut tak percaya dengan apa yang baru saja Tiysa lakukan.
Tristan tersenyum, dia tidak menyangka akan mendapatkan serangan tiba-tiba dari Tiysa.
Dia bangun dan menuju meja untuk meletakkan ponselnya yang tadi dia gunakan untuk menghubungi Dian.
Di meja, terlihat barang-barang milik Tiysa, beberapa brosur mobil mewah menarik perhatian Tristan.
Tristan terdiam sejenak.
“Jika dia berhasil menjual mobil mewah, berarti dia tidak perlu bekerja, kan?” gumam Tristan dalam hati.
__ADS_1
Sebuah ide muncul di kepala Tristan, dia mengambil ponselnya, lalu menghubungi Haris.
“Pak Haris.”
“Siap Tuan Muda,” jawab Haris.
__
Yono sedang sibuk di Showroom mobil miliknya, tidak ada lagi karyawannya di bagian marketing yang tersisa, mereka semua sibuk mengantar pesanan kendaraan mobil mewah.
Tersisa satu unit lagi mobil yang harus diantar, saat dia kebingungan, dia melihat Gina yang sedang duduk santai di meja Tiysa.
“Gina...,” ucap Yono memanggil.
“Iya Pak,” jawab Gina.
Gina lalu menghampiri Yono yang sudah terlihat kewalahan.
“Gina, sebelumnya aku mau minta maaf, aku tahu kamu hanya mahasiswi magang di tempat ini, cuman saat ini tidak ada lagi orang yang bisa kuandalkan,”
Gina terlihat bingung dengan ucapan Yono.
“Kamu sudah sering ikut dengan Tiysa, kan?” tanya Yono
Gina mengangguk pelan.
“Tenang saja, sopir pribadiku yang akan mengantarmu kesana, kamu hanya perlu melakukan serah terima,” sambung Yono.
“Oke Pak,” jawab Gina dengan percaya diri, beberapa bulan ini, dia memang sudah sering menemani Tiysa ketika melakukan serah terima. Dia sudah cukup mengerti prosedur yang harus dilakukan.
“Pak Yono, aku penasaran..., mengapa orang-orang dan Pak Yono terlihat sangat sibuk?” tanya Gina.
“Hah....” Yono menghela nafas. Setelah itu dia berkata. “Kamu tahu Tuan Haris yang datang bersama Tiysa waktu itu, kan?”
Gina mengangguk, dia masih mengingat dengan jelas wajah Haris.
“Tadi tiba-tiba dia menghubungiku, dia membeli 30 mobil mewah dan memintaku agar memasukkan itu semua dalam penjualan Tiysa,” ucap Yono sambil menyeka keringat di dahinya.
“30!” seru Gina tidak percaya.
“Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana cara berpikir konglomerat seperti Tuan Haris, jika dia memintaku untuk memberi cuti kepada Tiysa, aku akan dengan senang hati mengizinkannya, berapa lama pun dia inginkan, dan aku bahkan akan tetap memberinya gaji.” Keluh Yono.
Setelah menyampaikan keluh kesahnya kepada Gina, Yono kembali melanjutkan pekerjaannya, meninggalkan Gina yang masih terperangah.
___
Tristan sudah menceritakan kepadanya tentang kejadian semalam, bagaimana Cakra dan Devan menjebaknya, dan juga Yono yang melapor kepada Haris sehingga kejadian buruk tidak menimpa dirinya.
__ADS_1
Tristan juga mengatakan, jika kedua orang itu tidak akan berani lagi untuk berbuat seperti itu.
Berkali-kali Tiysa terlihat marah ketika mendengar cerita Tristan, namun jauh di lubuk hatinya, dia sudah memaafkan orang-orang tersebut, sedikit tidak logis namun Tiysa merasa jika kejadian semalam tidak terjadi, mungkin dia tidak akan bertemu dengan Tristan saat ini.
Tiysa baru selesai mandi, dia kembali mengenakan pakaian tidur yang dibungkus kimono handuk di bagian luar, dia merasa risih jika hanya mengenakan kimono handuk di kamar Tristan.
“Tristan, di mana pakaianku?” tanya Tiysa. Dia tidak melihat pakaian yang dia kenakan semalam di kamar Tristan.
“Oh, mungkin sebaiknya kamu tanya pelayan di rumah ini, mereka yang mengganti pakaianmu semalam,” jawab Tristan.
“Di mana mereka?” tanya Tiysa lagi.
“Di lantai bawah,” balas Tristan singkat.
Tiysa lalu berjalan menuju pintu kamar Tristan, ketika dia hendak membuka pintu, dia tiba-tiba tersadar sesuatu.
“Tristan ... aku tidak bisa menemui mereka.” Tiysa berhenti tepat sebelum membuka pintu.
Tristan tertawa. “Ada apalagi Nona Tiysa?”
“Aku malu untuk bertemu mereka, apalagi semalam kita tidur bersama di kamar ini,” jawab Tiysa.
“Terus kenapa dengan itu? Kita juga tidak melakukan apa-apa?” Tristan bertanya seolah-olah tidak mengerti maksud dari pertanyaan Tiysa.
“Tristaaann...,” ucapnya manja sambil menghentakkan kakinya.
“Baiklah... baiklah... sesuai perintahmu Nona Tiysa.”
Beberapa saat kemudian, mereka berdua turun ke lantai bawah. 3 orang wanita yang kemarin membantu Tiysa juga sudah menunggu kedatangan mereka.
“Tuan Muda, Nona Muda,” sapa salah satu pelayan itu dengan sopan.
Tristan mengangguk pelan, sementara Tiysa tersipu malu, dia tidak mengira dan tidak siap dengan panggilan seperti itu.
“Makanan sudah siap, silakan Tuan Muda dan Nona Muda sarapan terlebih dahulu,” kata pelayan itu.
“Terima kasih,” balas Tristan.
Setelah menyampaikan hal itu, ketiga pelayan terlihat pergi meninggalkan Tristan dan Tiysa.
Tristan mempersilahkan Tiysa duduk, mereka berdua menyantap makanan yang dihidangkan di meja.
Setelah makan, ketiga pelayan tadi membawa pakaian milik Tiysa yang sudah bersih dan rapi, setelah mengambil pakaiannya, Tiysa mengucapkan terima kasih kepada ketiga pelayan Tristan.
Ketika dia hendak pergi untuk mengganti pakaiannya, suara klakson mobil terdengar dari arah pekarangan rumah Tristan.
Honk !!
__ADS_1
Tristan tersenyum lalu berkata. “Tiysa, apakah kamu bisa mengemudikan mobil?”