
Nindya gadis yang menjaga kasir di Cafezoid terlihat kaget ketika Tristan sudah kembali, dia melirik jam yang dia kenakan di tangan kirinya.
"Bukankah ini belum cukup 5 menit," gumam Nindya berbicara kepada dirinya sendiri.
Orang-orang yang berada di Cafe juga terlihat kaget ketika melihat Tristan masuk, mereka yakin jika Tristan akan dihajar oleh ketiga orang tadi, tapi ketika melihat Tristan dalam keadaan baik-baik saja, pengunjung cafe itu mulai menebak-nebak apa yang terjadi antara Tristan dengan ketiga orang tadi.
Salah seorang karyawan di cafe itu terlihat mengambil daftar menu di meja kasir, dia hendak menuju ke tempat Tristan duduk, namun Nindya menahannya.
"Biar aku saja yang menerima pesanan dari pelanggan itu," ucapnya sambil mengambil daftar menu yang dipegang karyawan tadi.
Nindya lalu segera menuju ke tempat Tristan duduk.
"Apa Kak Tristan baik-baik saja?" tanya Nindya dengan suara berbisik kepada Tristan.
Tristan menoleh ke arah Nindya dan tersenyum.
"Iya aku baik-baik," jawab Tristan sambil mengambil daftar menu dari tangan Nindya.
"Bagaimana dengan orang-orang tadi?" Nindya kembali bertanya kepada Tristan dengan wajah penasaran.
"Mereka semua terkapar di taman belakang," jawab Tristan sambil menunjuk salah satu minuman yang terdapat di menu.
"Wah ... Kak Tristan memang hebat, jadi apa kak Tristan membuat mereka babak belur?" Nindya lagi-lagi bertanya dengan wajah yang semakin penasaran.
"Aku tidak sekejam itu, lagian mereka semua langsung tumbang hanya dengan sekali pukul," jawab Tristan.
"Apakah tidak masalah jika kamu tidak kembali ke meja kasir?" tanya Tristan kepada Nindya yang masih berdiri di depannya dan tidak kembali bekerja.
"Tidak ada-apa, lagian jam shif kerjaku akan segera berakhir," jawab Nindya sambil melirik jam yang berada di tangannya.
"Itu dia temanku yang masuk shif setelah aku," sahutnya sambil menunjuk seorang karyawan wanita yang sedang berdiri di meja kasir.
Tristan tersenyum mendengar jawaban Nindya. "Terus bagaimana dengan pesananku." Tristan menunjuk menu yang berada di atas meja.
"Astaga aku lupa Kak," balas Nindya yang kemudian memanggil salah seorang karyawan untuk mengambil pesanan dari Tristan.
Setelah karyawan tadi pergi, Tristan menarik tangan Nindya, dan memintanya untuk duduk. Nindya pun menurut dan langsung duduk di samping Tristan.
__ADS_1
"Aku penasaran mengapa tadi kamu berpihak kepadaku, apa kamu memiliki dendam pribadi kepada orang-orang tadi?" tanya Tristan yang merasa heran dengan Nindya.
"Oh, maksud Kak Tristan si Devan?" balas Nindya.
"Kamu mengenal Devan?" Tristan kembali bertanya karena Nindya menyebut nama Devan.
"Iya Kak," jawab Nindya
Tak lama kemudian pesanan Tristan sudah tiba, Nindya lalu mulai bercerita kepada Tristan bagaimana dia bisa mengenal Devan.
Beberapa bulan lalu saat Nindya baru bekerja, ada seorang karyawan senior di tempatnya bekerja yang mengenal Devan, Nindya cukup dekat dengan wanita itu, dia selalu mendengarkan cerita dari wanita itu tentang Devan.
Wanita itu berkata dia dan Devan sudah menjalin hubungan yang serius, hanya saja Devan selalu mengelak ketika wanita itu minta dipertemukan dengan keluarga Devan, sampai akhirnya wanita itu hamil dan mengandung anak Devan.
Devan mengelak jika janin bayi yang berada di perut wanita itu adalah anaknya, dia berkata jika dia melakukan hubungan intim hanya beberapa kali, jadi tidak mungkin jika wanita itu sampai hamil.
Wanita itu terus berkata jika itu adalah anak Devan, dan dia bersumpah tidak pernah berhubungan intim dengan pria lain.
Masalahnya semakin besar, setiap hari wanita itu hanya bisa menangis, dan Nindya menjadi satu-satunya tempat wanita itu bisa mencurahkan isi hatinya.
Keesokan harinya wanita itu tiba dengan wajah yang kurang sehat, ekspresi wajahnya sangat sedih seperti baru saja kehilangan seseorang yang sangat penting baginya. Nindya mencoba mengajak seniornya bercerita seperti biasanya, namun seniornya itu hanya memeluknya dan menangis, setelah itu seniornya mengundurkan diri dari tempatnya bekerja, sampai sekarang kabar keberadaan seniornya tidak diketahui seolah-olah bagai hilang ditelan bumi.
Mata Nindya tampak berkaca-kaca ketika bercerita tentang seniornya, Tristan dapat melihat kedekatan yang terjalin antara mereka berdua.
Beberapa hari setelah itu Devan kembali mengunjungi Cafezoid, dia tidak bertanya tentang kabar dari wanita itu, malah sekarang dia menargetkan Nindya.
Devan mengajak Nindya berkenalan, tentu saja Nindya sudah tahu keburukan dari Devan jadi dia hanya membalasnya dengan basa-basi, Nindya juga terus menolak dengan halus ajakan dari Devan.
Karena Devan tidak berhasil mendapatkan Nindya, dia mencoba menggoda karyawan lain di tempat itu, sayangnya semua karyawan wanita dan pengunjung setia tempat itu sudah sangat mengenal kebusukan Devan, hal itu yang membuat Devan sudah tidak pernah muncul di tempat itu. Hal itu pula yang menjelaskan mengapa pada saat Devan membuat keributan, pihak dari manajemen Cafe tampak tidak berani ikut campur.
"Dia memang Pria yang berengsek!" ketus Tristan sambil mendengus kecil.
"Iya Kak," balas Nindya sambil meminum Cappucino yang berada di meja. "Dia memang berengsek," sambung Nindya.
Tristan terkejut karena Nindya dengan santai meminum Cappucino yang dia pesan. Saat Nindya berbicara tadi, Tristan tentu saja sudah meneguk Cappucino itu beberapa kali.
"Hei itu kan milikku!" protes Tristan menunjuk Cappucino yang baru saja Nindya letakkan kembali di meja.
__ADS_1
"Ah ... maaf Kak," ucap Nindya sambil menepuk jidatnya sendiri, "apa mau kupesankan lagi?" tanya Nindya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Hah ... sudahlah ...," keluh Tristan.
Bagi Tristan, ini pertama kalinya dia bertemu wanita yang memiliki karakter seperti Nindya., itu membuat Tristan merasa tertarik dengan kepribadian dari Nindya.
Beberapa saat berlalu, Gea sudah kembali ke Cafezoid, dia sendirian tanpa didampingi oleh ketiga sahabatnya.
Melihat Gea sudah datang, Nindya langsung mohon pamit kepada Tristan, tak lupa Nindya juga menyapa Gea saat berpapasan.
"Apa kamu mengenal karyawan dari cafe ini?" tanya Gea sambil melihat ke arah Nindya yang berada di meja kasir.
"Oh, Nindya" jawab Tristan.
"Iya, gadis itu," ucap Gea sambil matanya terus melihat ke arah Nindya.
"Kami baru saja berkenalan, dia sangat baik, mungkin aku tadi terlihat menyedihkan karena ditinggal tunanganku sehingga Nindya datang menemaniku berbincang-bincang," balas Tristan sambil bercanda.
"Tristan jangan membuatku semakin bersalah," ucap Gea dengan manja kepada Tristan.
"Haha, aku cuman bercanda, tapi memang benar aku baru saja berkenalan dengan Nindya," balas Tristan.
"Bagaimana denganmu, aku tidak melihat ketiga sahabatmu?" sambung Tristan, dia bertanya karena melihat Gea kembali seorang diri.
"Mereka terlihat aneh, mereka mengatakan ada koleksi tas baru di butik sebelah, ternyata setelah aku cek, itu masih sama dengan koleksi yang kemarin, Fika juga terlihat aneh karena terus memandangi ponselnya, dan yang lebih aneh, setelah Fika membaca pesan masuk di ponselnya dia terlihat panik dan langsung pamit pulang, Dini dan Dewi juga langsung pamit beberapa menit setelah Fika pergi"
Gea menjelaskan kejadian yang terjadi di butik kepada Tristan.
"Oh ...," balas Tristan singkat. Tristan bisa menebak siapa yang mengirimkan pesan itu kepada Fika, dia juga tahu mengapa ketiga teman Gea bersikap seperti itu.
Setelah itu Tristan dan Gea memutuskan untuk pulang, ketika Tristan dan Gea sudah berada di meja kasir, Nindya menolak uang dari Tristan dan berkata. "Kak Tristan, untuk kali ini biar aku yang bayar," kata Nindya sambil tersenyum kepada mereka berdua.
Tristan tersenyum lalu mengangguk kepada Nindya, sedangkan Gea sendiri terlihat kebingungan.
Setelah itu Tristan dan Gea meninggalkan Cafezoid, di mobil Gea terus bertanya mengapa kasir itu sampai mau membayar makanan mereka, dia tahu jumlah yang harus dibayar tidak sedikit.
Gea tidak mengetahui jika sebelumnya Tristan sudah membayar makanan mereka, dan yang dibayar oleh Nindya hanya secangkir Cappucino. Sambil bercanda Tristan kembali menjawab pertanyaan Gea dengan mengatakan mungkin tadi Tristan terlihat menyedihkan karena ditinggal oleh tunangannya.
__ADS_1