Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 36 : Maukah kamu menjadi pacarku


__ADS_3

Walaupun Yono sudah memintanya untuk liburan selama sebulan penuh, dia merasa tidak enak kepada rekan kerjanya yang lain, dua minggu setelah kejadian yang menggemparkan showroom milik Yono, Tiysa terlihat sudah kembali bekerja. Dia juga meyakinkan Yono jika Haris tidak akan lagi membuat pesanan tiba-tiba seperti waktu itu.


“Gina, kamu jadi kan menginap di tempatku?” tanya Tiysa sambil bersiap-siap untuk pulang.


“Iya Kak, aku juga sudah membeli beberapa amunisi untuk menonton film drama,” jawab Gina sambil menunjuk bungkusan yang berisi bermacam-macam makanan ringan.


“Good job ....” Tiysa tertawa sambil mengacungkan jempolnya ke Gina.


Ting !!


Bunyi notifikasi pesan masuk terdengar dari ponsel milik Tiysa.


Dia langsung tersenyum ketika melihat nama Tristan sebagai pengirim pesan, namun setelah membuka pesan yang dikirim Tristan, Tiysa terlihat sangat terkejut.


[Tristan] Gambar diterima, keterangan : Foto Bersama Calon Mertua ^-^


Melihat foto yang dikirim Tristan, mata Tiysa langsung melotot, mulutnya terbuka kecil, badannya membatu.


Gina yang heran melihat Tiysa menjadi penasaran, dia lalu menghampiri Tiysa dan melihat pesan di layar ponsel milik Tiysa.


“Hah....” Sama dengan Tiysa, begitu Gina melihat pesan, dia ikut membatu terperangah.


Tiysa lalu menjadi panik sendiri, dia segera membalas pesan milik Tristan.


[Tiysa] Tristan k@?7 $8?@na?


[Tristan] ??


[Tiysa] k@?7 $8?@na?


[Tristan] ???????


“Arrggh!” teriak Tiysa, dia merasa kesal karena tidak bisa mengetik kata KAMU DIMANA dengan benar.


Tiysa menghela nafas dalam-dalam, dia menenangkan dirinya yang terlalu bersemangat, lalu kembali mengirim pesan kepada Tristan.


[Tiysa] Tristan kamu di mana?


[Tristan] 😋


[Tiysa] Tristaaaaannnn 🥺

__ADS_1


[Tristan] 🤪


“Arrrgg!” Tiysa kembali kesal melihat balasan yang dikirim Tristan, dia tahu akan percuma mengharapkan jawaban dari Tristan. Dia pasti akan terus dikerjai oleh Tristan.


Gina yang juga ikut membaca pesan dari Tristan langsung tertawa melihat tingkah Tiysa yang merasa kesal.


Tiysa meraih tangan Gina, setelah itu dia menarik tangan Gina menuju parkiran mobil.


“Pak Yono, aku pulang duluan!” sahut Gina meminta izin.


“Oke, hati-hati di jalan,” balas Yono singkat.


“Besok aku tidak masuk kerja pak, ada urusan penting,” sahut Gina lagi.


“Oke, selamat bersenang-senang,” jawab Yono singkat.


Semua karyawan Yono tertawa mendengar percakapan antara Tiysa dan Yono, mereka semua sudah tahu jika bosnya yang dulu arogan, sekarang menjadi baik hati semua berkat Tiysa. Karena hal itu pula mereka tidak pernah merasa iri kepada Tiysa yang selalu di perlakukan seperti anak emas oleh Yono.


Tiysa menuju mobilnya dan meninggalkan showroom Yono. Sambil mengemudikan mobil, Tiysa menyerahkan ponselnya ke Gina dan meminta Gina untuk menghubungi Tristan.


Gina mengangguk pelan, setelah menerima ponsel Tiysa, Gina menghubungi Tristan dan menekan tombol speaker.


“Halo.”


“Rahasia....” jawab Tristan sembari tertawa kecil.


Tiysa semakin kesal mendengar jawaban Tristan yang terus-terusan bercanda.


“Tristan, jika kamu tidak menjawab dengan jujur, kita lebih baik putus,” ancam Tiysa sambil mendengus kecil.


“Tiysa... bagaimana kita bisa putus, kita bahkan belum berpacaran,” balas Tristan yang kembali tertawa mendengar ucapan Tiysa.


Mendengar jawaban Tristan, wajah Tiysa langsung menjadi merah karena malu, apa yang dikatakan oleh Tristan adalah fakta. Mereka berdua sampai saat ini belum berpacaran.


Gina yang juga ikut mendengar, terlihat menahan tawanya, dia membekap mulutnya sendiri menggunakan tangannya.


Tiysa menepikan mobilnya, dia lalu meraih ponsel yang sedang di pegang oleh Gina.


“Kamu sudah dua kali menciumku, aku juga sudah sekali menciummu, kita bahkan tidur di tempat tidur yang sama, Tristaaaaannn...,” ucap Tiysa manja.


Tristan tertawa. “Untuk itulah, sekarang aku akan bilang, Tiysa maukah kamu menjadi pacarku?”

__ADS_1


Tiysa terdiam selama beberapa saat.


“Tiysa... apakah kamu mendengarku?” tanya Tristan.


“I... iya...,”


“Apakah itu untuk jawaban pertanyaanku?


“Tidak... iya... duh..., Iya...,” Tiysa menjadi gelagapan menjawab Tristan.


“Tristan... aku akan menjawab pertanyaanmu nanti setelah kita bertemu, sekarang katakan padaku di mana kamu berada,” ucap Tiysa menahan luapan emosi bahagianya.


“Aku masih di Bogor, rencananya aku akan singgah di restoran terlebih dahulu yang terletak tidak jauh dari rumah sakit cipta sebelum kembali ke Jakarta,” jawab Tristan.


“Oke,” balas Tiysa singkat, setelah itu dia langsung mengakhiri panggilan teleponnya dengan Tristan.


“Yess... Yess... ye... e... s... ... es...,” seru Tiysa dengan suara yang semakin tipis. Dia menoleh ke Gina yang terlihat terperangah sambil menutup mulut dengan kedua tangannya.


Tiysa benar-benar melupakan keberadaan Gina, itu artinya Gina mendengar semua pembicaraan antara dia dan Tristan. Mulai dari Cium, tidur di tempat tidur yang sama, sampai Tristan yang mengatakan cinta. Gina menyaksikan itu semua tepat di depan matanya.


Dengan tenang Tiysa kembali membuka kontak di ponselnya, lalu menghubungi ayahnya, sambil sesekali melirik Gina, dia memberitahu tentang identitas orang yang berfoto bersama mereka beberapa saat lalu.


Kedua orang tua Tiysa menjadi histeris mendengar informasi dari anaknya, mereka berdua lalu menyusul Tristan ke tempat yang di sebutkan oleh Tiysa.


Setelah mengakhiri panggilan telepon dengan ayahnya, Tiysa kembali mengemudikan mobilnya untuk mengantar Gina yang berencana menginap di indekosnya.


Dalam perjalanan Tiysa berusaha tetap tenang, dia berusaha bersikap santai seolah-olah pembicaraan tadi hal biasa saja baginya, namun ketika dia melirik Gina yang duduk di sampingnya.


Wajahnya langsung memerah karena malu, walaupun Gina tidak berbicara sama sekali, ekspresi wajah Gina dengan tangan membekap mulutnya sendiri, sudah cukup untuk membuat Tiysa kehilangan ketenangannya.


Beberapa saat kemudian Tiysa sudah tiba di depan indekosnya.


“Maaf Gina, Kakakmu yang cantik ini harus bertemu dengan calon suami,” ucap Tiysa dengan wajah tersenyum bahagia sambil menyerahkan kunci kamar indekosnya kepada Gina.


Dia terus berusaha bersikap santai di depan junior tersayangnya.


“Kak Tiysa, mmuah... muuah...,” sambil mengerak-gerakan bibirnya maju mundur, Gina langsung menggoda Tiysa.


“Gina... Berhenti...,” ucap Tiysa manja menahan rasa malunya. Dia benar-benar malu ketika mengingat kejadian tadi.


Gina tersenyum bahagia, dia lalu berkata. “Kak Tiysa... selamat.”

__ADS_1


“Terima kasih adik cantik...,” jawab Tiysa sembari mencubit kecil hidung Gina.


__ADS_2