Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 69 : Fisik dan mental mereka dirusak


__ADS_3

"Tristan, bagaimana jika kamu tinggal di sini bersamaku?" tanya Tiysa, mereka berdua baru saja tiba di apartemen milik Tiysa.


Tristan memandangi apartemen tipe studio milik Tiysa, apartemen dengan konsep open plan dimana ruangan seperti ruang tengah, kamar tidur dan dapur menyatu dalam satu ruangan, tipe apartemen ini memang sangat cocok untuk Tiysa yang tinggal seorang diri.



Setelah mengamati kamar apartemen Tiysa selama beberapa saat, Tristan lalu berpikir sejenak, setelah itu dia menoleh ke Tiysa sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Tidak, kurasa itu bukan ide yang bagus," jawab Tristan, dia tidak yakin jika dia masih bisa menjaga amanat dari ibunya jika tinggal di apartemen dengan tipe seperti ini bersama Tiysa.


"Apa yang kamu khawatirkan, aku tidak akan berbuat aneh-aneh seperti kemarin," kata Tiysa manja dengan wajah memelas.


"Apa iya?" tanya Tristan yang tampak tidak percaya dengan ucapan Tiysa.


"Iya, aku tidak akan menggoda kamu lagi," kata Tiysa sambil tersenyum berusaha meyakinkan Tristan.


"Hah... seharusnya kamu mengatakan itu setelah kamu menyembunyikan baju haram yang kemarin kamu pakai," kata Tristan sambil menunjuk paper bag yang berada di dekat pintu.


"Baju haram?" Tiysa menoleh ke paper bag yang dia bawa dari rumahnya, dari tempatnya berdiri, dia juga bisa melihat lingerie hitam yang kemarin dia pakai untuk menggoda Tristan.


"Ah, kamu menyadarinya," keluh Tiysa sambil mendengus kecil.


"Tristan, itu bukan baju haram, itu gaun tidur seksi," protes Tiysa.


"Aku tahu, tapi jika kamu menggunakannya di depanku, aku akan selalu menganggapnya sebagai baju haram selama kita belum menikah," kata Tristan sambil tertawa.


Ting!


Bunyi notifikasi pesan masuk terdengar di ponsel milik Tristan, dia pun segera mengecek ponselnya.


[Haris] Tuan Muda, kami sudah tiba di Jakarta, bawahanku membawa Boby dan anak buahnya di salah satu pabrik tua yang terletak di Jakarta Utara, aku sementara membawa 21 wanita yang disekap oleh Boby, menuju Hotel Golden Snow yang juga merupakan hotel Bintang 5 milik keluarga Tuan Muda.


[Tristan] Terima kasih Pak Haris, kirimkan aku lokasi Golden Snow Hotel dan juga lokasi pabrik Tua tempat bawahanmu menahan Boby dan anak buahnya.


[Haris] Siap Tuan Muda.


“Dari siapa?” tanya Tiysa.


“Dari temanku, dia ingin bertemu denganku untuk membicarakan tentang pekerjaan,” jawab Tristan, dia tampak tidak nyaman karena harus berbohong kepada Tiysa.


“Pekerjaan?”


“Iya, aku bukan lagi seorang CEO seperti dulu, karena itulah aku harus mencari pekerjaan.”

__ADS_1


“Baiklah, semoga beruntung dengan pekerjaanmu, dan ingat, mulai sekarang kamu akan tinggal bersamaku di apartemen ini,” kata Tiysa, dia terlihat sangat bersemangat saat mengatakan itu kepada Tristan.


“Iya sayang,” jawab Tristan singkat, tak lama kemudian dia pergi meninggalkan apartemen Tiysa menuju Golden Snow Hotel milik keluarganya.


Tut…


“Iya Kak,” kata Gino menjawab panggilan telepon Tristan.


“Gino, apakah Pak Haris sudah menghubungimu?”


“Iya, aku baru saja keluar dari Golden Luxury Hotel dan akan pergi menyusul Pak Haris di Golden Snow Hotel.”


“Baguslah, aku akan bertemu denganmu disana,” kata Tristan.


“Baiklah, Kak, sampai bertemu di Golden Snow Hotel,” balas Gino mengakhiri pembicaraan mereka.


__



Beberapa saat kemudian Tristan telah tiba di Golden Snow Hotel milik keluarganya, ketika Tristan baru turun dari mobil, Gino yang sudah tiba lebih dulu langsung menyapa Tristan, bersama-sama mereka segera menuju ke aula Hotel yang di gunakan untuk merawat 21 wanita yang di sekap oleh Boby.


Dua orang pria mengenakan setelan jas berwarna hitam langsung menyapa mereka berdua dengan sopan, tepat sebelum Tristan dan Gino masuk ke dalam lift, mereka berdua melihat dua Bis berwarna hitam tiba di hotel itu.


Ting!


Lift telah tiba di lantai paling atas Hotel itu, ketika pintu lift terbuka, seorang pria berumur sama dengan Haris langsung tersenyum menyapa Tristan dan Gino.


“Selamat datang Tuan Muda,” kata Faiz menyapa Tristan dan Gino begitu mereka berdua keluar dari lift.


“Pak Faiz, terima kasih karena telah datang membantu Pak Haris,” balas Tristan sambil tersenyum ramah kepada Faiz.


“Tuan Muda Tristan tidak perlu berterima kasih, ini sudah menjadi kewajibanku untuk membantu Tuan Muda menyelesaikan masalah yang terjadi,” jawab Faiz sambil menunduk.


Jika Haris adalah pengurus yang bertugas menjaga dan membantu Tristan, Faiz adalah pengurus yang bertugas menjaga dan membantu Gino, kedudukan Faiz di keluarga Yaroslav sama dengan Haris, mereka berdua merupakan orang kepercayaan dari Ayah Tristan.


Faiz terlihat mengantar mereka, namun baru saja mereka menginjakkan kakinya ke dalam aula, Gino langsung berdecak kesal ketika melihat kondisi korban. Gino terlihat sangat marah, dia bahkan memukul tembok yang berada di dekatnya beberapa kali untuk melampiaskan amarahnya.


Tristan memperhatikan wajah para korban, tatapan kosong tak berekspresi, terlihat jelas dari raut wajah para wanita itu.


“Mereka benar-benar masih sangat muda,” kata Tristan kepada Faiz yang berdiri di sampingnya.


“Iya, Tuan Muda, mereka rata-rata berusia 20 sampai 21 tahun,” balas Faiz singkat.

__ADS_1


Dari tempatnya berdiri Tristan dapat melihat Haris yang sedang mengawasi tim medis memberikan perawatan kepada korban.


Ketika Tristan hendak melangkah menuju Haris, Gino langsung menahannya, “Jangan Kak, ini belum saatnya bagi kita berdua untuk bertemu mereka,” kata Gino sambil memegang tangan Tristan.


Tristan mengangguk pelan menyetujui ucapan Gino, melihat dari reaksi Gino, Tristan merasa jika Gino lebih paham tentang masalah ini dari pada dirinya.


“Kak Tristan, bisakah Kakak menyerahkan masalah ini kepadaku,” kata Gino, dia terlihat benar-benar serius saat mengatakan hal itu kepada Tristan.


Tristan berpikir sejenak sebelum menjawab permintaan Gino, hal itu karena Gino memiliki temperamen yang sangat buruk, bukan satu dua kali Gino mendapat teguran dari kakeknya karena tindakannya yang dirasa terlalu berlebihan.


Gino bisa melihat jika Tristan tidak bisa menyetujui permintaannya dengan mudah.


“Kak Tristan, beberapa tahun yang lalu aku sempat diberitahu jika kamu menyelamatkan salah satu karyawan wanita di tempatmu dari tindakan pelecehan.”


“Iya, itu benar,” balas Tristan yang kembali mengingat kejadian 5 tahun yang lalu.


“Dan menurut laporan yang aku baca, wanita itu menjadi sangat trauma, kamu bahkan harus merawat wanita itu semalaman sampai kondisi wanita itu membaik.”


Tristan mengangguk menyetujui perkataan Gino.


“Apakah pria bejat itu berhasil meniduri karyawan wanitamu?”


“Tidak, waktu itu aku beruntung karena bisa datang tepat waktu sehingga aku bisa menghentikan pria itu sebelum bertindak terlalu jauh.”


“Bagaimana reaksi karyawan wanita yang kamu selamatkan setelah itu?”


“Dia terlihat sangat trauma, tatapannya terlihat kosong, jika aku tidak berada di sampingnya saat itu, mungkin dia akan nekat mengakhiri hidupnya,” kata Tristan sambil menghela nafasnya.


“Apakah tatapan kosongnya seperti para wanita yang ada disini?” tanya Gino kembali.


“Tidak, para wanita yang ada disini terlihat lebih....” Tristan langsung terdiam, dia akhirnya menyadari apa yang ingin Gino sampaikan.


“Hanya karena tindakan pelecehan, seorang wanita yang rapuh bisa nekat mengakhiri hidupnya, menurut tebakanku, melihat dari ekspresi wajah para korban yang ada di sini, mereka tidak hanya mendapatkan tindakan pelecehan seperti karyawan wanitamu, selama 2 tahun di sekap, entah berapa kali mereka ditiduri secara paksa oleh Boby dan bawahannya, ekspresi wajah mereka seolah mengatakan itu kepadaku.”


“Mereka benar-benar telah di rusak baik fisik maupun mental, hal yang membuat aku semakin emosi, karena para wanita itu berusia sama dengan adik kita,” kata Gino melanjutkan.


Tristan kembali menghela nafas panjang, setelah itu dia berkata, “Apakah kamu mengetahui cara untuk menolong mereka?”


Gino tersenyum kepada Tristan, dengan tegas dia berkata “Tentu saja.”


__


__ADS_1


__ADS_2