
Tiysa terus memejamkan matanya, kancing bajunya yang terakhir telah terlepas, hal itu membuat tubuh bagian depannya bisa merasakan hawa dingin yang menyelinap masuk dari celah baju kemejanya yang terbuka.
Tiysa bisa merasakan jika Tristan mulai melangkah mundur dari tempat tidur, karena penasaran, dia membuka sedikit kelopak matanya lalu melihat apa yang Tristan lakukan.
“Di... dibuka? Jantung Tiysa semakin berdebar cepat, wajahnya semakin memerah, dari celah kecil itu dia bisa melihat Tristan yang sedang membuka kemejanya.
Tiysa kembali memejamkan matanya dengan erat selama beberapa detik, dia berusaha mengatur nafasnya yang mulai memburu karena tegang, ketika dia sudah bisa mengatur nafasnya, dia kembali mengintip Tristan dari bukaan kecil di kelopak matanya.
"Ce... Celana!" seru Tiysa dalam hati, hanya dua detik Tiysa melihat Tristan, dia dengan cepat kembali memejamkan matanya, dalam dua detik itu Tiysa melihat Tristan yang sudah bertelanjang dada tampak membuka celana jins biru yang sedang dia kenakan.
Tiysa tidak berani lagi membuka matanya, dia takut melihat sesuatu yang hanya bisa dia gambarkan di dunia imajinasinya.
Satu menit berlalu, Tiysa masih merapatkan matanya tak berani melihat Tristan, dia masih tetap menunggu, di ruangan yang sejuk itu, keringat mulai bercucuran membasahi lehernya.
Empat menit kemudian, Tiysa mulai merasa ada yang aneh, sambil tetap menutup matanya, alisnya mulai mengernyit, namun dia masih tetap menunggu, bayangan tubuh atletis Tristan yang tadi bertelanjang dada terus muncul di pikirannya.
2 menit kemudian, masih tidak ada pergerakan, dia memutuskan kembali membuka sedikit kelopak matanya untuk melihat Tristan.
__ADS_1
“Eh... di mana Tristan?” Tiysa terlihat kebingungan saat mengetahui jika Tristan sudah tidak berada di depan tempat tidur.
Dia beranjak dari tempat tidur dan mencari Tristan di luar kamar tidur.
“Hah... Tristan.” Sambil menghela nafasnya Tiysa menatap Tristan yang sudah berganti pakaian dan saat ini sedang asyik membaca buku di dekat perapian.
Tristan sudah menyadari keberadaan Tiysa yang sedang menatapnya, dia terus berpura-pura membaca buku sambil menahan tawa karena terus mengingat wajah Tiysa yang memerah.
"Aku benar-benar bodoh karena mengira sesuatu akan terjadi tadi," keluh Tiysa sambil memandangi Tristan.
Dia lalu beranjak pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, dia berjalan sambil menghentakkan kakinya, hal itu membuat Tristan kembali tertawa kecil, strategi pengalihan isunya berhasil, sekarang dia bisa dengan tenang memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Tiysa tentang mengapa dia bisa berbahasa Rusia.
Tristan beranjak dari duduknya dan menghampiri Tiysa, "Sayang, apakah kamu ingin jalan-jalan melihat moscow di sore hari?" tanya Tristan.
Tiysa memalingkan wajahnya, dengan wajah yang masih menekuk dia menjawab, "Tidak, aku sepertinya masuk angin, tadi ada seseorang yang membuka kancing bajuku dan membiarkan tubuhku terbuka dalam waktu yang cukup lama, " ketus Tiysa menjawab pertanyaan Tristan.
__ADS_1
Tiysa sebenarnya sudah tidak sabar ingin jalan-jalan bersama kekasihnya, apalagi ini pertama kalinya dia berada di Rusia, namun dia merasa sedikit kesal karena kelakuan Tristan beberapa saat yang lalu, dia ingin di bujuk dan di rayu oleh Tristan, setidaknya hal itu bisa membuat moodnya sedikit lebih baik.
Tristan sendiri sudah bisa menebak apa yang direncanakan kekasihnya, lagi-lagi di kepalanya timbul sebuah ide untuk menjahili kekasihnya.
Dia segera menarik tangan Tiysa yang masih memalingkan wajahnya, dia menuntun Tiysa ke sofa yang berada di ruangan itu, setelah itu dia pergi ke kamar tidur dan mengambil selimut.
Tiysa mulai kebingungan dan juga penasaran melihat Tristan, namun rasa penasarannya terjawab ketika Tristan membungkus badannya yang sedang duduk di kursi, sambil menerima kecupan dari Tristan di keningnya, dia menatap Tristan yang berkata, "Mau bagaimana lagi, sebaiknya sekarang kamu berisitirahat, aku akan pergi ke restoran terlebih dahulu, setelah itu aku akan meminta seorang pelayan untuk membawa makanan ke kamar ini."
Tristan kembali mengecup kening Tiysa, setelah itu dia beranjak dari sofa menuju ke pintu, sambil berkata, "Aku akan kembali secepatnya."
Tiysa menepuk jidatnya, dia sudah menyerah, dia tidak tahu lagi bagaimana harus menyikapi kekasihnya ini, dia membuka selimutnya dan langsung berdiri menggandeng lengan Tristan, dengan lemas dan tanpa ekspresi dia berkata, "Ayo kita ke restoran sayang, yeah...."
"Tapi kamu...." belum sempat Tristan menyelesaikan kalimatnya, Tiysa langsung menempelkan telunjuknya di bibir Tristan.
"Husst... Ayo kita makan," kata Tiysa sambil menatap Tristan yang langsung dibalas anggukan kepala oleh Tristan.
Sambil menahan tawanya Tristan memandu Tiysa pergi ke restoran Novikov yang berada di hotel itu.
__ADS_1
...****************...