
Begitu tiba di kediamannya, tiga orang pelayan wanita yang bekerja di rumah Tristan langsung menghampiri. Sebelumnya Haris sudah memberitahu kepada ketiga pelayan itu tentang kedatangan Tristan dan kondisi Tiysa yang sedang tidak sadarkan diri.
Tristan menyerahkan Tiysa kepada ketiga pelayan itu.
“Tolong ganti baju dia terlebih dahulu,” ucap Tristan sembari memandangi pakaian yang dikenakan Tiysa. “Pasti dia akan merasa kurang nyaman jika tidur menggunakan pakaian seperti itu,” sambung Tristan.
Dua orang pelayan wanita langsung memegang Tiysa, dengan sangat berhati-hati kedua pelayan itu membawa Tiysa masuk ke dalam rumah, diikuti seorang pelayan lagi yang membawa barang-barang milik Tiysa.
Setelah memberi instruksi kepada pelayan, Tristan kembali menuju kamarnya, sebelum beristirahat, dia memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Beberapa menit berlalu, Tristan mematikan kran air lalu mengambil handuk yang berada di dekatnya. Ketika ia keluar dari kamar mandi, Tristan dikejutkan oleh Tiysa yang kini sedang tertidur lelap di atas tempat tidurnya.
Ternyata setelah mengganti pakaian Tiysa, ketiga pelayan tadi langsung membawa Tiysa ke kamar Tristan.
Tristan tersenyum tipis, dia tidak menyalahkan ketiga pelayan itu, saat tadi memberikan instruksi, Tristan sendiri lupa memberitahu mereka untuk membawa Tiysa ke kamar tamu.
Tristan segera mengeringkan tubuhnya yang masih sedikit basah, dia mengambil celana panjang berbahan katun yang berada di tempat tidurnya, lalu menuju Tiysa yang sedang tidur.
Tristan ingin memindahkan Tiysa ke kamar tamu , namun tepat sebelum dia mengangkat tubuh Tiysa, dalam tidur Tiysa berbisik.
“Tristan... Tris....” Tiysa mengigau menyebut nama Tristan.
Mendengar itu Tristan tersenyum, dia mengurungkan niatnya untuk memindahkan Tiysa ke kamar tamu. Tristan ikut merebahkan tubuhnya tepat di samping tubuh Tiysa yang sedang tertidur lelap, kini lengan kanannya menjadi bantal tidur wanita cantik itu.
Baju tanktop putih berbahan katun, dan celana panjang putih yang juga berbahan katun terlihat indah di tubuh Tiysa, rambut hitam panjang terurai yang sedikit menutupi wajahnya terlihat begitu memesona bagi Tristan.
Tristan tersenyum memandangi wajah Tiysa, sambil membelai rambutnya, dia terus memanjakan matanya dengan kecantikan wanita yang sempat menghilang dari pikirannya itu.
__
Setelah mengantar Tristan dan Tiysa, Haris langsung pergi menuju tempat anak buahnya membawa Cakra dan Devan, tempat itu berada di salah satu pantai di luar kota Jakarta. Tempat itu sangat jauh dari pemukiman warga, keberadaan hutan Mangrove membuat tempat itu terlihat semakin mencekam di malam hari.
Begitu tiba di lokasi, Haris di sambut oleh beberapa anak buahnya. Tak Jauh dari tempat itu, terlihat Cakra dan Devan yang sedang berlutut tak berdaya, kedua tangannya terikat, kepala mereka masih terbungkus dengan kain hitam.
Di pinggir pantai terlihat 3 buah speed boat menunggu. Setelah Haris tiba, mereka membawa Cakra dan Devan naik di salah satu speed boat, tak lama kemudian mereka semua meninggalkan tempat itu menuju ke tengah laut.
“Buka penutup kepala mereka,” ucap Haris kepada anak buahnya.
__ADS_1
Setelah kain hitam yang membungkus kepala mereka dilepas, wajah Cakra dan Devan menjadi pucat ketakutan melihat keadaan di sekitar.
Haris menatap mereka dengan tatapan dingin. Dia lalu berkata. “Apakah ada kata-kata terakhir yang ingin kalian sampaikan?”
Mendengar ucapan Haris, Cakra dan Devan semakin ketakutan, mereka tahu jika orang yang duduk di depannya ini tidak menggertak, dengan sedikit keberanian yang tersisa Cakra mencoba memohon pengampunan.
“Tuan... tolong maafkan kami ... kami tidak tahu jika gadis itu adalah milik Anda,” ucap Cakra berderai air mata.
Bukk !
Haris melayangkan pukulannya ke wajah Cakra. Luka pemberian Tristan di wajahnya yang baru saja sembuh kembali terbuka dan mengeluarkan darah.
“Acckk!” Pekiknya menahan sakit.
“Dasar binatang!” bentak Haris yang terlihat sangat marah dengan ucapan Cakra.
“Jangan samakan aku dengan kalian, gadis itu milik orang yang aku layani,” ucap Haris kesal.
Cakra semakin takut, dia tidak menyangka jika orang di depannya yang terlihat sudah sangat berkuasa itu ternyata melayani orang lain. Itu artinya dia baru saja menyinggung orang yang sangat berbahaya.
“Bagaimana denganmu, apa kamu memiliki kata-kata terakhir?” tanya Haris sambil menatap Devan yang diam membatu karena ketakutan.
“Buang mereka ke laut,” perintah Haris kepada anak buahnya.
Dua anak buah Haris kembali membungkus kepala Cakra dan Devan dengan kain hitam setelah itu mereka langsung melempar Devan dan Cakra dari speed boat.
“Tuan... Tolon-"
Dua anak buah Haris langsung melaksanakan perintah, mereka bahkan tidak membiarkan Cakra menyelesaikan kalimatnya.
Byurr !
Glug ... glug ...
Di malam yang gelap di tengah laut, kini dua tubuh terlihat menggeliat di dalam air.
Haris dan anak buahnya yang berada di speed boat, menyaksikan kedua tubuh itu meronta-ronta.
__ADS_1
Perlahan pergerakan mereka berdua semakin lemah. Ketika Cakra dan Devan sudah akan kehilangan kesadaran. Haris berkata. “Angkat mereka.”
Dua orang anak buah Haris menarik tali yang terlilit di tubuh Cakra dan Devan, mereka mengangkat tubuh Cakra dan Devan yang sudah terkulai lemas kembali ke speed boat.
“Uhuk ... uhuk,” Cakra dan Devan batuk sambil mengeluarkan air dari mulut mereka.
Nafas mereka berdua tersengal-sengal, entah berapa banyak air yang masuk ke dalam perut mereka.
Mereka bersyukur karena Haris tidak membunuh mereka.
“Apa kalian pikir akan mati dengan mudah setelah berniat buruk kepada calon nona muda kami?” tanya Haris.
Mendengar ucapan dingin Haris membuat mereka putus asa, mereka berdua sudah pasrah, mereka yakin jika ini adalah akhir dari hidup mereka.
“Lempar mereka ke laut,” perintah Haris kepada anak buahnya.
Byurr...
Dan seperti itulah hukuman yang di berikan Haris kepada Cakra dan Devan, mereka terus disiksa seperti itu selama beberapa jam.
Cakra dan Devan bahkan sudah berharap agar dibunuh dari pada mengalami penyiksaan seperti itu. Namun saat mereka kehilangan kesadaran, anak buah Haris langsung membantu mereka agar kembali sadar.
Setelah mereka berdua sadar, mereka akan kembali diceburkan ke laut.
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi, sudah lebih 6 jam Cakra dan Devan disiksa, speed boat yang membawa mereka sudah kembali ke pantai.
Anak buah Haris melempar tubuh Cakra dan Devan kepada Yono yang sedang berdiri ketakutan, Yono sebelumnya sudah dihubungi oleh Haris untuk menjemput Cakra dan Devan.
Setelah menyerahkan mereka berdua ke Yono, Haris dan anak buahnya pergi meninggalkan tempat itu.
Yono bergidik ngeri ketika melihat kondisi Cakra dan Devan, Kedua tangan mereka terikat dengan kepala terbungkus kain hitam dan pakaian yang basah kuyup, Yono semakin bergidik ngeri jika membayangkan apa yang baru saja dialami oleh mereka berdua.
Jika waktu itu dia tidak menghubungi Haris, dan kedua orang di depannya berhasil meniduri Tiysa, mungkin dia juga akan mengalami nasib yang serupa, atau mungkin saja mereka bertiga akan menjadi mayat saat ini.
Yono melepas penutup kain yang membungkus kepala Cakra dan Devan, dia lalu mengeluarkan sebatang rokok dari kotaknya, lalu membakarnya.
Yono menghisap rokoknya, dengan tangan yang bergetar dia menyampaikan pesan dari Haris kepada Cakra dan Devan.
__ADS_1
“Pesan Tuan Haris kepada kalian hanya satu, jika berani mengganggu Tiysa, kalian akan dibunuh secara perlahan, sampai kalian merasa jika kematian adalah sebuah kemewahan.”