Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 46 : Gea mendatangi rumah Tristan


__ADS_3

Setiap penerus keluarga Ярослав (Yaroslav) di wajibkan mengikuti pelatihan militer pada usia 18 tahun, hal itu dikarenakan, selain mewarisi kekayaan, penerus keluarga Yaroslav nantinya juga akan menjadi pemimpin Pasukan Beruang Berlian Merah yang dimiliki oleh keluarga Yaroslav.


Pasukan ini sangat di hargai di dunia militer, akan terasa sangat memalukan jika pasukan elit milik keluarga Yaroslav, dipimpin oleh penerus yang tidak memiliki jam terbang dalam dunia militer sama sekali.


Walaupun namanya pelatihan, penerus keluarga Yaroslav akan dikirim menjalankan misi yang nyata dan berbahaya. Membantu mendamaikan konflik perang bersaudara, memberantas perompak yang menganggu warga sipil, sampai misi penyelamatan warga sipil di daerah konflik adalah beberapa gambaran misi yang biasanya di emban oleh Pasukan Beruang Berlian Merah milik keluarga Yaroslav.


Ayah Tristan yang bernama Gennady Yaroslav bahkan hampir kehilangan nyawanya ketika dia menjalani pelatihan bersama Pasukan Beruang Berlian Merah.


Tristan juga bisa saja kehilangan nyawanya ketika menjalani pelatihan, karena hal itulah dia memutuskan tidak memperbaiki kesalahpahaman yang terjadi antara dia dan Tiysa.


Walaupun dia selamat setelah menjalani misi, dia akan merasa sangat tidak adil kepada Tiysa, itu karena masa pelatihan keluarga Yaroslav berlangsung selama kurang lebih 6 sampai 15 tahun, penentuan masa pelatihan Tristan tergantung dari tingkat pemahamannya dalam bidang militer saat bergabung dengan Pasukan Beruang Berlian Merah.


Jika dia tetap meminta Tiysa untuk menunggunya, bisa dipastikan jika Tiysa akan melewatkan masa ‘emas’ dari seorang wanita.


Sekarang Tiysa berumur 24 tahun, jika Tristan menjalani misinya selama 10 tahun, dan meminta Tiysa untuk menunggunya, itu berarti saat mereka kembali bertemu, Tiysa sudah berumur 34 tahun.


__


Setelah tadi berpamitan kepada semua karyawannya, Tristan meminta Suryo untuk mengantarnya ke Golden Luxury Hotel milik keluarganya, setelah mendengar caci maki Gea yang terus membahas harta, Tristan tidak mau lagi menginap di rumah pemberian Kakek Subroto.


Saat ini mereka sudah tiba di depan Golden Luxury Hotel, Suryo menepikan mobilnya lalu mengantar Tristan sampai ke depan pintu masuk Hotel.


“Pak Suryo, gunakan uang di ATM ini untuk membuka usaha dan membiayai pendidikan Nindya,” ucap Tristan sambil menyodorkan kartu ATM berwarna merah dan secarik kertas yang bertuliskan nomor pin ATM itu kepada Suryo.


“Tidak usah Nak," balas Suryo menolak dengan halus pemberian Tristan.


“Pak Suryo, besok aku tidak bisa lagi melindungi Pak Suryo, Purwadi dan teman-temannya pasti berniat membalas dendam kepada Pak Suryo setelah kejadian di tempat Kakek Subroto.”


Suryo menunduk, dia tahu apa yang dikatakan oleh Tristan benar adanya, tetapi dia tetap merasa tidak enak menerima bantuan dari Tristan.


Melihat itu Tristan meraih kedua tangan Suryo dan meletakkan kartu beserta secarik kertas itu ditangan Suryo.


“Anggap saja ini hadiahku sebagai Kakak kepada Nindya, besok ajukan pengunduran diri Pak Suryo, aku sudah memberitahu Dian tentang hal ini.”


Dia melanjutkan, “Sekalian minta Nindya untuk berhenti bekerja dan fokus pada pendidikannya, aku rasa uang yang berada di ATM ini bisa membiayai pendidikan Nindya sampai dia mendapat gelar sarjana,” kata Tristan sambil tersenyum ramah kepada Suryo.


Suryo mengangguk pelan, “Terima kasih Nak Tristan,” balas Suryo sambil memeluk Tristan yang sudah sangat dekat dengannya.


Setelah itu Suryo pergi meninggalkan Tristan di depan pintu masuk Golden Luxury Hotel milik keluarga Tristan.


__


“Lupakan saja Tristan, dia juga sangat tidak menghargai ayah dan ibumu, untuk apa kamu terus memikirkan dia,” kata Devan sambil mendengus kesal karena Gea menolak ajakannya untuk ke Hotel bersama.


“Ini semua gara-gara kamu!” teriak Gea sambil memukul lengan Devan berkali-kali.

__ADS_1


Sejak meninggalkan kantor Tristan, Gea juga tidak berhenti menangis, dia tidak menyangka jika rahasianya dengan Devan sudah diketahui oleh Tristan.


Gea masih tidak mengerti bagaimana cara Tristan mendapatkan rekaman itu, dia sempat mencurigai Devan, namun Devan dengan tegas membantah hal tersebut, menurut Devan, memberitahukan hal itu kepada Tristan sama saja dengan mencari mati, dia juga belum melupakan ketika Tristan dengan mudahnya merobohkan dia dan kedua temannya.


“Hei... berhentilah... aku sedang menyetir...,” protes Devan karena Gea terus memukul bahunya.


Bzzt... bzzt...


Ponsel Devan bergetar, nama Purwadi muncul di layar ponselnya.


“Berhentilah... aku harus menjawab panggilan ayahmu,” kata Devan sambil menunjukkan layar ponselnya ke Gea.


Gea berhenti dan kembali bersandar di kursinya.


“Halo, Paman Purwadi ada apa?”


“Hahaha, Devan... besok pagi kamu harus pergi ke Tirta Wira Perkasa,” seru Purwadi sambil tertawa lepas.


“Mengapa aku harus ke sana?” tanya Devan yang merasa bingung dengan permintaan Purwadi.


“Anak sialan itu sudah mengundurkan diri, aku mendapat email dari keluarga Prabaswara tentang pengunduran diri bocah itu, besok aku akan menunjuk kamu sebagai CEO di tempat itu, Hahaha.”


“Hahaha, akhirnya dia tersingkir dengan sendirinya, baiklah Paman besok aku akan pergi ke perusahaan itu,” balas Devan mengakhiri panggilannya.


Devan menoleh ke Gea yang sedang terperangah, “Kamu juga mendengarnya, kan? Bocah sialan itu sudah mengundurkan diri dari jabatannya, itu artinya dia tidak lagi menjadi tunanganmu, sekarang aku yang akan menjadi CEO di tempat itu.” Devan terus tertawa mendengar kabar baik dari ayah Gea.


“Antar aku ke rumah Tristan sekarang!” teriak Gea sambil menarik baju Devan.


“Hei hentikan itu! Baiklah... aku akan mengantarmu.”


Setelah mendengar Devan akan mengantarnya ke rumah Tristan, Gea kembali bersandar di kursinya. Dia terlihat sangat cemas, dia sangat menyukai Tristan, dimatanya hanya Tristan yang memperlakukan dirinya dengan lembut seperti seorang Putri Raja.


Beberapa saat kemudian mereka telah tiba di depan kediaman Tristan, Gea langsung turun dan berlari masuk ke dalam rumah Tristan.


Satpam yang berjaga di rumah itu sontak kaget melihat seorang gadis berlari masuk ke dalam rumah.


Ketika dia hendak mengejar Gea, terdengar suara klakson mobil yang seperti memanggilnya.


Honk!!


Satpam itu menoleh, dia melihat Devan memanggil dengan melambaikan tangannya. Dia pun menghampiri Devan yang masih duduk di kursi pengemudi.


“Apakah Tristan ada di dalam rumah?” tanya Devan.


“Tristan?” Satpam itu terlihat tidak mengenali nama yang baru saja disebutkan oleh Devan.

__ADS_1


“Oh, mungkin maksud Anda pemuda yang tinggal di sini.”


“Tentu saja”, balas Devan yang merasa heran dengan jawaban dari Satpam itu.


“Sore tadi dia sudah meninggalkan tempat ini, aku yang disuruh untuk menjaga rumah ini karena para pelayan dan petugas keamanan juga ikut mengundurkan diri.”


Mata Devan langsung berbinar-binar mendengar jawaban dari Satpam itu.


“Berarti kamu bekerja untuk keluarga Kuncoro?” tanya Devan yang terlihat bersemangat.


“Iya Pak.”


“Gadis yang baru masuk adalah anak Purwadi Kuncoro, dan aku calon suami dari gadis itu,” kata Devan, dia lalu mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu dan memberikannya kepada Satpam itu.


“Hari ini aku dan calon istriku akan menginap di tempat ini,” kata Devan sambil tersenyum.


“Baik Pak,” jawab Satpam itu sambil tertawa kecil.


Devan lalu mengendarai mobilnya menuju pekarangan rumah.


Gea terduduk lemas di depan tempat tidur Tristan, dia tidak menemukan keberadaan Tristan, dia bahkan tidak melihat satu pun barang milik Tristan yang tersisa di rumah itu.


Hanya aroma parfum Tristan yang samar-samar tercium di ruangan itu.


Beberapa saat kemudian, Devan sudah berada di belakang Gea, dia memeluk Gea yang sedang menangis tersedu-sedu. Tidak ada penolakan dari Gea, dia terlalu larut dalam kesedihannya.


“Apakah ini kamar Tristan?” tanya Devan dengan suara lembut.


Gea mengangguk pelan.


“Apakah kamu pernah melakukan ‘itu’ dikamar ini bersama Tristan?


Gea menggelengkan kepalanya.


Devan menyibak rambut yang menutupi leher belakang Gea.


Cup!


Devan mencium tengkuk Gea beberapa kali.


“Apakah kamu menyukai aroma ruangan ini?” tanya Devan sambil menghembuskan nafasnya ke leher Gea.


Gea mengangguk pelan, nafasnya mulai memburu.


“Aku akan menjadi Tristan hari ini, mari kita melakukan ‘itu’ di tempat tidur milik Tristan.”

__ADS_1


Gea berbalik menghadap Devan, dia memandangi wajah Devan seolah memandangi Tristan. Aroma parfum Tristan yang masih tertinggal di kamar itu, semakin membuatnya merasa jika pria yang berdiri depannya adalah Tristan.


“Tristan...,” bisik Gea sambil mencium bibir Devan.


__ADS_2