
Suasana pesta semakin meriah, Tiysa, Sofia dan para mempelai wanita mencuri perhatian para tamu dengan kecantikan mereka, beberapa tamu wanita juga ikut bergabung bersama mereka, dengan cepat Tiysa bisa membaur bersama mereka.
Sesekali Tiysa tampak melirik Tristan yang saat ini bersama Gino, dia terus tersenyum ketika melihat Tristan yang tertawa lepas saat bercanda bersama Gino, Tiysa bahkan tertawa kecil saat Tristan dengan santainya memukul pelan lengan Gino yang juga ikut tertawa lepas.
Entah apa yang mereka berdua bicarakan, namun dari sikap mereka berdua, Tiysa semakin yakin jika hubungan mereka berdua memanglah sangat dekat.
"Ayah, sepertinya sudah waktunya kita melangkah ke acara utama hari ini," kata Victor kepada Vladimir.
Vladimir mengangguk pelan, dia lalu mengangkat tangannya memberi kode kepada para mempelai pria yang berada di dekat Tristan.
Luciano yang melihat itu segera menghampiri Widy, sambil berbisik dia berkata, "Sudah saatnya."
Widy tersenyum, dia segera menghampiri Tiysa yang sedang bercengkrama bersama Sofia.
Dibantu para mempelai wanita lainnya Widy segera menarik tangan Liliana menuju ke panggung tempat Vladimir berada.
Tristan yang melihat itu tampak terkejut, dia menoleh ke Gino dan bertanya mengenai hal tersebut.
"Gino, ada apa ini?"
Gino tertawa kecil, "Kak, ini semua rencana Kakek dan paman Victor, kurasa sudah waktunya Kak Tristan menghadap Kakek Vladimir," jawab Gino.
"Menghadap Kakek?" Tristan tampak kebingungan dengan jawaban Gino. Ketika dia kembali ingin bertanya, para mempelai pria sudah menarik tangannya dan membawanya menuju Vladimir.
Tristan terus bertanya kepada para mempelai pria yang sedang menariknya, namun mereka tidak memberi jawaban, mereka hanya tersenyum sambil terus menarik tangan Tristan menuju meja Vladimir.
Tiysa yang juga merasa kebingungan menoleh ke Sofia, "Sofia, ada apa ini?" tanya Tiysa.
"Kak Tiysa akan menerima restu dari Kakek, banyak yang bilang jika pasangan menerima restu dari Kakek, mereka akan hidup langgeng bersama pasangannya," jawab Sofia sembari menuntun Tiysa.
"Tapi...."
"Kak Tiysa, bukankah ini bagus? Siapa tahu Kak Tiysa dan Kak Tristan bisa segera menikah setelah menerima restu dari Tuan Vladimir," Kata Widy menimpali.
Tiysa menjadi dilema, dia juga ingin segera menikah dengan Tristan, namun tetap saja dia merasa tidak pantas untuk mendapatkan restu dari Vladimir karena dia bukanlah siapa-siapa bagi keluarga Yaroslav.
__ADS_1
"Aku yang meminta Kakek untuk melakukan ini, jadi aku harap Kak Tiysa bisa menyetujui permintaanku, aku hanya ingin melihat Kak Tiysa dan Kak Tristan mendapat restu dari Kakek," sambung Sofia dengan wajah memelas.
"Hah... Baiklah, tetap saja Tristan mungkin tidak akan setuju dengan hal seperti ini," keluh Tiysa pasrah, tatapan memelas Sofia benar-benar membuatnya luluh tak berdaya.
"Hahaha, Kak Tiysa tidak usah khawatir dengan hal itu, Kak Tristan juga sedang menuju ke tempat Kakek," seru Sofia bersemangat.
Tiysa segera menoleh ke Tristan, dia langsung tertawa kecil ketika melihat Tristan juga mengalami nasib serupa, Tristan sedang ditarik oleh para mempelai pria menuju meja Kakek Sofia dengan ekspresi wajah kebingungan.
Tiysa lalu memandangi wajah para mempelai wanita yang sedang tersenyum, "Kalian semua juga ikut merencanakan ini 'kan?" tanya Tiysa.
Para mempelai wanita tersenyum sambil menganggukkan kepala mereka, tanpa ragu mereka mengakui jika mereka juga ikut andil merencanakan ini.
Beberapa saat kemudian mereka berdua telah tiba di depan Vladimir, para mempelai Pria dan mempelai wanita yang tadi menarik mereka langsung undur diri.
Gino yang ikut menyusul berdiri bersama Sofia di dekat Vladimir yang sedang duduk di kursi.
Victor dan Arina juga ikut bergabung bersama Gino dan Sofia.
Tristan memegang tangan Tiysa, dia melangkah mendekat ke Vladimir yang sedang menatap lembut mereka berdua.
Tiysa mengangguk pelan, dia juga sudah setuju setelah mendengar penjelasan dari Sofia.
Para tamu yang hadir sontak berdiri dari duduknya, suasana menjadi hening, perhatian semua orang tertuju pada Vladimir, Tristan dan Tiysa.
"Tiysa, Aku sudah mengetahui namamu dari cucu perempuan ku," kata Vladimir ke Tiysa.
"Dan aku juga sudah mengenal pemuda ini, aku dan orang tuanya dulu sering bertemu," sambung Vladimir menjelaskan identitas palsu Tristan yang baru saja terlintas dipikirannya kepada Tiysa.
Mendengar ucapan Vladimir, Tiysa mengangguk pelan penuh hormat, sedangkan Tristan tampak menunduk karena menahan tawa, dia tidak menyangka jika Kakeknya akan ikut terlibat dalam sandiwara palsu tentang identitasnya.
"Sebelum aku memberikan restu ku, aku akan bertanya terlebih dahulu kepadamu," kata Vladimir sambil menatap wajah Tiysa.
Dia lalu melanjutkan, "Tiysa, apakah kamu mencintai pemuda ini?"
Tiysa tersenyum, dengan penuh percaya diri dia berkata, "Iya Tuan, aku mencintai Tristan."
__ADS_1
Vladimir tersenyum lembut, dia lalu menoleh ke Tristan, "Bocah... Hmm... maksudku Tristan apakah kamu mencintai gadis ini?"
Victor, Arina, Sofia dan Gino hampir tertawa lepas ketika mendengar Vladimir mengoreksi panggilannya kepada Tristan, hal itu membuat beberapa tamu yang merupakan tangan kanan Vladimir ikut menahan tawa.
Haris dan Faiz pun tampak memalingkan wajahnya sambil menahan tawa, walaupun mereka berdua mengamati dari kejauhan, mereka bisa mendengar suara Vladimir yang lantang di tengah keheningan tempat itu.
Bahkan Tristan terpaksa harus menunduk karena takut tertawa jika melihat wajah Kakeknya saat ini.
Tristan tidak langsung menjawab pertanyaan Kakeknya, dia mengatur nafasnya terlebih dahulu karena menahan tawa, setelah dia cukup tenang, barulah dia menjawab pertanyaan kakeknya, "Iya Tuan, aku sangat mencintai gadis ini," jawab Tristan pelan.
Tristan yang tidak langsung menjawab pertanyaan Vladimir membuat Tiysa sedikit kesal, apalagi setelah menoleh ke Tristan, dia melihat Tristan sedang menunduk sambil tersenyum karena menahan tawa, hal itu membuatnya menatap tajam ke arah Tristan.
"Sayang, mengapa kamu tertawa di momen seperti ini," batin Tiysa. Dia benar-benar tidak mengerti mengapa kekasihnya bisa tertawa di momen yang serius seperti ini.
Vladimir lalu menoleh kembali ke Tiysa, kali ini dia memasang wajah yang sangat serius, "Tiysa, apakah kamu bisa berbahasa Rusia?" tanya Vladimir.
Tiysa menggelengkan kepalanya, dia berkata, "Maafkan aku Tuan, aku sedikitpun tidak mengerti bahasa Rusia," jawab Tiysa lemas.
Tristan sendiri sedikit terkejut dengan pertanyaan kakeknya, kepalanya mencoba menebak apa yang direncakan kakeknya dengan pertanyaan itu.
"Kamu tidak usah meminta maaf, aku bertanya hanya karena penasaran," kata Vladimir menghibur Tiysa.
Vladimir lalu meletakkan telapak tangannya di kepala Tristan dan Tiysa, dia memandangi wajah keduanya yang langsung memejamkan mata begitu Vladimir menyentuh kepala mereka.
"Aku memberikan restu ku kepada kalian berdua, aku berdoa semoga kalian memiliki masa depan yang cerah, aku juga berdoa semoga hubungan kalian akan langgeng sampai hari Tua dan sampai ajal memisahkan kalian berdua."
Mendengar perkataan Vladimir, hati Tiysa dan Tristan bergetar, mata mereka berkaca-kaca, kalimat yang terdengar sederhana, begitu menyentuh hati ketika di ucapkan oleh sesepuh seperti Vladimir.
Tiysa dan Tristan membuka mata mereka, "Terima kasih Tuan," kata Tiysa begitu Vladimir menarik lengannya dari kepala mereka berdua.
"Jangan panggil aku Tuan, kalian berdua bisa memanggilku Kakek." Senyum lembut menghiasi wajah Vladimir ketika mengatakan itu kepada Tiysa dan Tristan.
Tristan menatap Tiysa sambil menganggukan kepalanya, seakan sudah saling mengerti arti tatapan itu, mereka berdua kompak berkata, "Terima kasih Kakek."
Vladimir tersenyum, dia lalu maju ke depan para tamu yang hadir di tempat itu. Gino yang berdiri di samping berjalan mendekati Vladimir dan menyerahkan Mikrofon yang sudah dia persiapkan sebelumnya.
__ADS_1
...****************...