Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
35 : Subroto Sakit, Tristan Foto Bersama orang tua Tiysa


__ADS_3

Tristan baru saja selesai makan siang dengan Tiysa dan Gina, sejak bertemu kembali dengan Tiysa, setiap siang dia akan menghabiskan waktunya bersama Tiysa dan Gina untuk makan siang bersama.


Walaupun Tristan dan Tiysa bagaikan sepasang kekasih, Tristan sendiri belum pernah secara resmi meminta Tiysa untuk menjadi pacarnya, hal itu karena dia masih terikat dengan statusnya yang merupakan tunangan Gea.


Ketika dia sedang dalam perjalanan pulang menuju kantornya, dia mendapat telepon dari salah satu orang kepercayaan Subroto, orang itu mengatakan jika kondisi Subroto semakin memburuk, dan ingin segera bertemu dengan Tristan.


Mendengar kabar itu, Tristan langsung menghubungi Haris untuk mengantarnya ke tempat Subroto.


Beberapa saat berlalu, kini Tristan sudah tiba di kediaman Kakek Subroto di kota Bogor, orang kepercayaan Subroto langsung menyambut Tristan dan mengantarnya ke ruangan Subroto.


Selama 5 bulan terakhir, Tristan hanya berkomunikasi melalui telepon dengan Subroto, kesibukan mengurus perusahaan yang dia pimpin, membuat dia tidak memiliki waktu luang untuk mengunjungi Subroto.


Tristan langsung terkejut sesaat setelah dia memasuki ruangan Subroto, dia melihat kondisi Subroto yang terbaring lemah di tempat tidurnya.


Subroto langsung tersenyum ketika melihat Tristan tiba, dengan tubuhnya yang lemah, dia terlihat menggerakkan beberapa jarinya untuk menyapa Tristan.


Mata Tristan tampak berkaca-kaca melihat Subroto dengan kondisi seperti itu, dia sudah menganggap Subroto seperti kakeknya sendiri. Dengan perlahan Tristan menghampiri Subroto.


“Cucuku, kemarin aku tidak bisa berdiri dan hanya duduk menyapamu, sekarang aku tidak bisa duduk dan hanya bisa berbaring menyapamu.” canda Subroto yang terlihat kelelahan.


Tristan tersenyum, dia tidak bisa berkata-kata.


“Bagaimana hubunganmu dengan Gea?” tanya Subroto dengan suara lemah.


Tristan menunduk terdiam, mulutnya seakan terkunci, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Subroto.


“Tristan, aku tidak tahu kapan waktuku tiba, dan aku tidak ingin membebanimu dengan janji setia kepada Gea, yang nantinya akan membuat hidupmu menderita,” ucap Subroto, dia lalu melanjutkan, “jadi bisakah kamu jujur kepadaku?”


Tristan menghela nafasnya, dia memejamkan matanya sesaat untuk mengumpulkan tekadnya, setelah itu dia berkata. “Maafkan aku Kakek Subroto, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan pertunanganku dengan Gea,” jawabnya lirih.


Subroto tersenyum hangat menghibur Tristan. Subroto bertanya bukan karena tidak tahu, melainkan dia ingin agar Tristan sendiri yang menyampaikan hal itu kepadanya. Sejak kejadian Bisma yang dilengserkan oleh Purwadi, Subroto sudah meminta orang-orang kepercayaannya untuk memantau pergerakan Purwadi, agar kejadian serupa tidak menimpa Tristan.


Subroto juga meminta bawahan kepercayaannya untuk mengawasi perkembangan hubungan Tristan dan cucunya. Subroto bahkan mengetahui jika cucunya sudah menghianati kepercayaan Tristan.


Subroto mengangguk pelan, dia menyetujui jika hubungan Tristan dengan Gea harus diakhiri.


Saat mendengar jawaban Subroto, Tristan merasa jika beban besar yang bertengger di pundaknya sudah hilang, kini dia bisa dengan lantang menyatakan cintanya kepada Tiysa.

__ADS_1


“Satu-satunya penyesalanku yang tersisa adalah tidak bisa melihat wajah Bisma dan anaknya untuk terakhir kali.”


Subroto terlihat sangat sedih ketika mengatakan itu kepada Tristan. Matanya berkaca-kaca, itu menjadi bukti jika Subroto sangat menyayangi Bisma seperti anak kandungnya sendiri. Subroto juga akhirnya bercerita tentang permasalahan internal keluarga Kuncoro kepada Tristan.


Tristan terus menemani Subroto, Tristan sadar jika hal yang paling dibutuhkan Subroto saat ini adalah keluarga, sayangnya Purwadi dan keluarganya bahkan tidak meluangkan waktu untuk menjenguk Subroto.


Dengan telaten Tristan mengurus Subroto, mulai dari menyuapi Subroto saat makan, memijat kaki Subroto, dan terus mendengar cerita masa lalu dari Subroto. Itu semua Tristan lakukan karena Tristan sudah menganggap Subroto seperti Kakeknya sendiri.


Beberapa Jam berlalu dengan cepat, waktu sudah menunjukkan jam 7 malam, Tristan tidak mau lebih lama lagi mengganggu waktu istirahat Subroto, setelah berpamitan dengan Subroto, Tristan meninggalkan kediaman Subroto dengan tekad akan mempertemukan Subroto dengan Bisma.


“Pak Haris, tolong cari keberadaan Paman Bisma dan anaknya,” perintah Tristan.


“Siap Tuan Muda,” jawab Haris singkat.


Beberapa saat kemudian, mobil mereka melewati rumah sakit cipta, tempat ayah Tiysa dahulu dirawat, Tristan tersenyum dan kembali mengingat momen saat dia permata kali mencium Tiysa di taman rumah sakit itu.


Sedang asyik dengan lamunannya, tiba-tiba Haris menepikan mobilnya.


“Ada apa Pak Haris?” tanya Tristan penasaran.


“Tuan Muda, kedua orang itu adalah orang tua Nona Tiysa,” jawab Haris sembari menunjuk dua orang yang sedang berdiri dipinggir jalan.


“Sepertinya mobil mereka sedang mengalami masalah,” ucap Tristan.


Tristan segera turun dari mobil, dia lalu menghampiri orang tua Tiysa.


“Permisi Paman, boleh aku tahu permasalahannya?” tanya Tristan kepada kedua orang tua Tiysa.


Ayah dan ibu Tiysa menoleh ke arah Tristan, di bawah cahaya lampu jalan yang menerangi, mereka melihat seorang pemuda yang sudah berdiri di dekat mereka.


“Lampu headlamp mobil ini mati, mesin mobil juga tiba-tiba tidak mau menyala, entah apa penyebabnya,” keluh Ayah Tiysa sambil menggaruk kepalanya.


“Apakah paman sudah menghubungi bengkel?” tanya Tristan.


Ayah Tiysa mengangguk. “Mungkin karena sudah malam rata-rata bengkel mobil sudah tutup,” jawab Ayah Tiysa sambil menepuk-nepuk lampu mobilnya.


Tristan mengambil ponselnya dan menghubungi Haris yang sedang menunggu di mobil.

__ADS_1


“Pak Haris, mobil paman dan bibi bermasalah, tolong hubungi orang yang bisa mengurus hal ini,” perintah Tristan.


Mendengar Tristan menghubungi seseorang, ayah dan ibu Tiysa langsung menoleh ke Tristan.


“Nak, apakah masih ada bengkel mobil yang terbuka?” tanya ayah Tiysa heran.


Tristan tersenyum. “Iya Paman, mungkin sebentar lagi mereka akan tiba,”


20 menit kemudian, tim dari Toyota Mobile Service tiba di lokasi, dengan senyum ramah, para mekanik yang tiba menyapa Tristan dan kedua orang tua Tiysa, mobil Toyota Avanza tua milik ayah Tiysa langsung mendapatkan penanganan.


Sambil menunggu para mekanik bekerja, Tristan dan kedua orang tua Tiysa saling bercengkerama, tidak butuh lebih dari 10 menit, tim Toyota Mobile Service telah menyelesaikan pekerjaan mereka.


Ketika Ayah Tiysa hendak membayar, para mekanik dengan sopan menolak uang dari ayah Tiysa, lagi-lagi Ayah Tiysa kembali di buat terheran-heran.


Mobil Ayah Tiysa sudah kembali normal, para mekanik juga sudah mohon pamit dan meninggalkan mereka, sebelum Tristan pamit pergi, dia minta foto bersama dengan kedua orang tua Tiysa.


“Paman, Bibi, bisakah aku berfoto bersama kalian?” pinta Tristan.


“Tentu saja, Nak, ayo kita foto bersama,” jawab ayah Tiysa bersemangat.


Tristan lalu melambaikan tangannya kepada Haris, sambil menunjukkan ponselnya.


Haris mengerti, dia segera turun dari mobil dan menghampiri Tristan, dan dengan sopan menerima ponsel yang diserahkan Tristan kepadanya.


Tristan mengambil tempat di bagian kiri, namun ayah dan ibu Tiysa meminta Tristan untuk berada ditengah, diantara Ayah dan Ibu Tiysa.


“Bukankah kalau foto keluarga, anak harus berdiri di tengah,” ucap Ayah Tiysa sambil tertawa yang diikuti senyuman hangat dari ibu Tiysa.


Tristan tersenyum mendengar ucapan ayah Tiysa, dia lalu mengikuti instruksi dari Ayah Tiysa, dia mengambil posisi di tengah, dan merangkul kedua orang tua Tiysa.


Cekrek!


Setelah mereka berfoto bersama, Tristan mengantar kedua orang tua Tiysa sampai ke mobil mereka.


Setelah itu dengan penuh rasa hormat, Tristan membuka pintu untuk ibu Tiysa dan mempersilakan ibu Tiysa duduk, setelah ayah dan ibu Tiysa berterima kasih kepada Tristan, mereka pun meninggalkan tempat itu.


Tristan membuka ponselnya, dia melihat foto dirinya bersama kedua orang tua Tiysa, setelah berpikir sejenak, dia mengirim foto itu ke nomor Tiysa, dengan keterangan.

__ADS_1


Foto Bareng Calon Mertua ^-^


__ADS_2