
Beberapa hari berlalu dengan cepat, acara penyambutan Austin selaku pimpinan baru Tirta Baskara Group akan diadakan besok.
Tisya yang berada di Indonesia terus mengabari Tristan yang masih berada di luar negeri tentang perkembangan masalah yang terjadi di Tirta Baskara Group. Mulai dari kemunculan Austin sampai sikap Purwadi dan teman-temannya yang semakin menjadi-jadi.
Tiysa berani menyampaikan itu kepada Tristan karena kekasihnya itu masih berada di luar negeri, jika Tristan berada di Indonesia, bisa dipastikan jika Tiysa, Damar dan yang lainnya tidak akan memberitahu Tristan mengenai masalah ini.
Mereka sudah mengetahui watak dan karakter Tristan, jika Tristan berada di Indonesia saat ini, Tristan pasti akan membuat perhitungan dengan Purwadi karena sudah mengganggu keluarga Tiysa dan Damar di Indonesia.
Walau tidak menyenangkan, Tiysa harus mengakui jika Tristan yang belum bisa pulang ke Indonesia membuatnya sedikit tenang, itu karena Tristan tidak perlu lagi terlibat dengan Purwadi di acara penyambutan besok.
“Bagaimana persiapan kalian?” tanya Tristan yang sedang berbicara dengan Tiysa melalui panggilan telepon.
“Tidak ada persiapan khusus, paman Bisma berkata kami hanya perlu bersabar menghadapi kelakuan Purwadi besok,” jawab Tiysa.
“Purwadi benar-benar berengsek, aku tidak menyangka jika dia merencanakan hal seperti ini,” umpat Tristan yang seolah tidak mengetahui rencana Purwadi sebelumnya.
“Sudahlah, kamu fokus saja dengan pekerjaanmu di sana, kami hanya perlu bersabar selama acara, setelah itu semuanya akan baik-baik saja,” balas Tiysa.
“Baiklah, sebaiknya kamu beristirahat, besok pagi akan menjadi hari yang berat bagi kalian.”
Tiysa tersenyum, “Iya, aku akan mengabarimu setelah acara besok selesai,” jawab Tiysa, tak lama kemudian mereka berdua mengakhiri panggilan telepon mereka.
Tiysa menatap langit-langit kamarnya, ada sedikit kekhawatiran di dalam dadanya, walau begitu dia tetap berusaha tenang dan berharap jika besok semua akan baik-baik saja.
...****************...
Keesokan harinya...
Tiysa dan rombongan baru saja tiba Golden Luxury Hotel, Purwadi memilih hotel ini sebagai tempat di langsungkannya acara penyambutan Austin sebagai pemimpin baru Tirta Baskara Group.
Dia sengaja memilih hotel mewah ini karena nama besar Hotel ini sudah terkenal di Indonesia, tentu saja Purwadi tidak mengetahui jika Golden Luxury Hotel ternyata milik keluarga Yaroslav.
Purwadi sempat merasa cemas karena sejak kemarin malam, dia tidak bisa menghubungi Oscar, Winata dan juga Lingga.
__ADS_1
Satu-satunya yang bisa dia hubungi hanya Austin, karena terus merasa cemas dia akhirnya menanyakan itu kepada Austin.
Melalui pesan singkat, Austin mengatakan jika Oscar, Winata dan Lingga saat ini sedang mempunyai urusan yang mendesak, Austin juga mengatakan jika ketiganya akan kembali bergabung setelah acara penyambutan ini selesai.
Mendengar penjelasan Austin, rasa cemas Purwadi berangsur menghilang, sebelum Austin datang, dia berencana mempermalukan Bisma dan Bimo terlebih dahulu di depan para tamu yang hadir di acara itu.
Tiysa dan Damar langsung berdecak kesal ketika memasuki aula Hotel itu, dari cara Purwadi mengatur kursi tamu menjadi dua kelompok, mereka berdua bisa menebak jika itu semua adalah bagian dari rencana Purwadi.
Teman-teman Purwadi duduk di bagian kanan aula itu, tanpa diberitahu, Damar bisa menebak, jika deretan kursi yang tampak kosong di sebelah kiri Aula, adalah tempat yang di persiapkan Purwadi untuk mempermalukan kubu Prabaswara.
Dengan langkah berat, Tiysa dan Damar memandu orang tua mereka menuju meja kosong yang terdapat di bagian sebelah kiri aula.
Pemandangan yang sangat berbeda dapat terlihat dengan jelas di Aula itu, deretan kursi bagian kanan milik kubu Purwadi telah terisi dengan para tamu, sedangkan deretan kursi pengunjung di bagian kiri masih tampak kosong, hanya Damar, Bisma, Tiysa dan kedua orang tuanya yang berada di situ.
Purwadi benar-benar merasa puas melihat pemandangan itu, dia akhirnya bisa membalaskan dendamnya kepada Bimo dan Bisma yang tampak menunduk lesu.
Para tamu terus berdatangan, Bisma dan Bimo juga mengenali beberapa tamu yang hadir, sayangnya tak satu pun dari tamu yang mereka kenali datang untuk menyapa mereka.
Mereka berpura-pura tidak mengenal Bisma dan Bimo. Alasan mereka melakukan itu sederhana, mereka takut Purwadi marah jika mereka terlihat akrab dengan Bimo dan juga Bisma. Mendapat perlakuan seperti itu, Bisma dan Bimo hanya bisa pasrah dan bersabar.
Gea yang datang bersama Devan langsung menatap tajam Tiysa yang duduk bersama kedua orang tuanya, dia yang datang dengan balutan gaun seksi berwarna hitam tampak menatap Tiysa dengan tatapan penuh kebencian, dia masih terus menyalahkan Tiysa karena telah membuat Tristan membenci dirinya.
Mata mereka saling beradu, Tiysa yang mencoba untuk tidak membuat masalah dengan cepat memalingkan wajahnya dari Gea, melihat sikap Tiysa yang seperti itu membuat Gea tertawa kecil, dia merasa sudah mengalahkan Tiysa, itu karena posisi keluarganya sudah jauh di atas keluarga Tiysa dan keluarga Prabaswara yang selama ini melindungi ayah Tiysa.
Purwadi yang sudah tidak tahan lagi untuk mempermalukan Bisma dan Bimo berjalan menuju ke meja mereka, 3 orang pengawal yang menggunakan jas terlihat mengikuti Purwadi.
Begitu tiba di meja Bisma dan Bimo, suasana aula yang tadi ramai mendadak hening, mata mereka semua tertuju kepada Purwadi.
Purwadi menatap Bisma dan Bimo dengan tatapan merendahkan, dengan sikap angkuh Purwadi berkata, “Aku tidak melihat orang-orang dari keluarga Prabaswara, apakah Tua bangka Hartono sangat ketakutan sampai tidak berani datang ke tempat ini?”
__ADS_1
Emosi Bisma dan Bimo langsung terpancing, mereka berdua sontak berdiri dan ingin menyerang Purwadi, namun percuma, tiga pengawal Purwadi langsung menghalangi Bisma dan Bimo.
Beberapa pengawal yang di pekerjakan Purwadi juga ikut bergabung, mereka ikut menahan Bisma dan Bimo yang terus berusaha menyerang Purwadi.
“Berengsek! Beraninya kamu merendahkan Paman Hartono dengan mulut kotormu!” teriak Bimo yang mencoba melepaskan diri dari pengawal Purwadi.
“Dasar tidak tahu diri! apakah kamu lupa siapa yang sering membantu keluarga Kuncoro di masa lalu!" Teriak Bisma yang juga menjadi emosi ketika Purwadi merendahkan Hartono yang dia sudah anggap seperti ayahnya sendiri.
Sebelum berangkat ke Jakarta, Bisma dan Bimo menghubungi Hartono, mereka berdua memohon agar keluarga Prabaswara tidak hadir di acara ini, itu karena mereka tidak mau melihat Purwadi merendahkan keluarga Prabaswara di depan para tamu yang rata-rata adalah pengusaha di Indonesia.
Damar yang juga ikut terpancing emosi hanya bisa mengepalkan tangannya erat, dia juga berniat menyerang Purwadi saat mendengar Purwadi merendahkan Hartono, untung saja Tiysa segera menarik jas yang dia kenakan dan memintanya untuk tenang dan tidak terjebak dengan skenario yang di buat Purwadi.
“Tenangkan dirimu, keadaan akan semakin buruk jika kamu juga ikut terpancing,” kata Tiysa.
Damar mengangguk pelan, dia lalu menghela nafasnya beberapa kali untuk menenangkan diri.
“Hahaha, aku akan meminta Austin untuk mengusir kalian dari Tirta Baskara Group, selain karena sikap kalian yang kurang ajar, kalian juga memiliki koneksi yang buruk, lihat saja meja-meja kosong di belakang kalian, tidak ada satu pun yang terisi, bandingkan dengan meja tamu di tempatku yang sudah hampir penuh, ini membuktikan jika kalian berdua tidak memiliki kontribusi di Tirta Baskara Group, jadi untuk apa kalian berdua masih berada di group ini,” ucap Purwadi dengan sikap angkuh.
Bisma dan Bimo menunduk, mereka memang tidak pernah berniat bergabung dengan Tirta Baskara Group, jika bukan karena keluarga Prabaswara yang meminta mereka untuk bergabung.
Karena itulah mereka tidak pernah mencampuri urusan pekerjaan di Group itu dan juga tidak pernah mencoba menjalin koneksi dengan perusahaan lain untuk membesarkan group itu.
Damar berjalan mendekati Bisma dan Bimo, dengan lembut dia berkata, “Paman Bimo, Ayah, ayo kita kembali, Paman dan Ayah tidak usah memedulikan omongan orang ini.”
Bisma dan Bimo akhirnya sadar, mereka berdua mengangguk pelan dan mengikuti saran Damar.
Dengan wajah cemas, Kirana langsung merangkul lengan Bimo, dengan lembut Kirana membantu Bimo duduk kembali di kursinya.
Purwadi yang masih sakit hati karena Kirana lebih memilih Bimo dari pada dirinya, semakin kesal melihat itu, dia mengedipkan matanya ke salah satu bawahannya sebagai kode untuk menyerang Bimo.
“Ayah!” teriak Tiysa saat melihat salah satu pengawal Purwadi melayangkan tinjunya ke arah Bimo.
Bukk!!
__ADS_1
...****************...