Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 75 : Kamar kita berdua.


__ADS_3

“Bagaimana? Apakah kamu menyukai apartemen ini?” tanya Tristan sambil berkeliling apartemen yang akan mereka tinggali bersama.



“Tentu saja aku menyukainya sayang,” Tiysa terlihat sangat senang dengan apartemen milik Tristan, dia terus memeluk tubuh Tristan sambil berkeliling melihat ruangan yang ada di apartemen itu satu persatu.



“Yang itu kamar putra kita,” kata Tiysa sambil menunjuk salah satu kamar di apartemen itu.”



“Dan Yang ini kamar putri kita,” sambung Tiysa sambil menunjuk kamar yang lainnya.



“Putra? Putri?” Tiysa kita bahkan belum menikah,” kata Tristan sambil tertawa terbahak-bahak.


Duk!!


“Aduh! Pekik Tristan sesaat setelah Tiysa menyikut perutnya.


“Sayang, bisakah kamu tidak merusak khayalanku seperti itu,” ketus Tiysa dengan wajah cemberut.


“Iya, maafkan aku sayang,” kata Tristan sambil mengelus perutnya yang terkena sikutan Tiysa.


Tiysa kembali tersenyum sumringah, dia memeluk lengan Tristan yang masih terlihat kesakitan menuju ke kamar utama apartemen itu.


“Ayo kita lihat kamar kita berdua,” ucapnya sambil sedikit menarik lengan Tristan.


“Kamar kita berdua? Tunggu dulu Tiysa....” belum sempat Tristan menyelesaikan perkataannya, Tiysa langsung menatap wajah Tristan dengan tatapan cemberut sambil menunjukkan sikunya kepada Tristan.


“Woahh, oke Nona Tiysa, mari kita lihat kamar kita berdua,” balas Tristan yang langsung menyerah setelah melihat Tiysa yang ingin kembali menyikut perutnya.


“Waw sayang, aku sangat menyukai kamar ini,” ucap Tiysa begitu masuk ke dalam kamar utama.



Dia lalu melepas pelukannya dari tangan Tristan dan berlari menuju kamar mandi yang berada di kamar itu.


“Aku juga menyukai desain kamar mandi ini.” Tiysa terus tersenyum sambil berputar pelan layaknya penari balet.



Sejak masuk ke dalam kamar utama, Tristan terus dimanjakan dengan senyum mempesona dari Tiysa, hal itu membuatnya menjadi gemas dan ingin mencium bibir wanita pujaannya.

__ADS_1


“Kamu sangat cantik sayangku,” kata Tristan yang tiba-tiba memeluk tubuh Tiysa.


Tristan membalik tubuh Tiysa, dia lalu mencium bibir Tiysa sambil berjalan menuju ke tempat tidur.


Cup!


Tak ada penolakan dari Tiysa, dia terlihat menutup matanya menikmati permainan bibir Tristan, mereka berdua tampak hanyut dalam peraduan bibir mereka.


Tristan membaringkan tubuh Tiysa di atas tempat tidur, setelah itu dia melepaskan ciumannya dari bibir Tiysa, dengan lembut Tristan mulai membuka kancing kemeja milik Tiysa.


Satu kancing kemeja Tiysa telah terlepas, tangan Tristan menuju ke kancing kemeja berikutnya.


"Tristan, i... ini pertama kali un...tukku, jadi... lakukan dengan lembut," kata Tiysa terbata-bata sambil menutup erat kedua matanya.


Mendengar itu, Tristan sontak menatap wajah Tiysa, dia bisa melihat Tiysa yang memejamkan matanya dengan erat, wajah Tiysa juga terlihat memerah, setelah Tiysa mengucapkan itu kepadanya, tiba-tiba kesadaran Tristan langsung kembali.


Dia tersenyum melihat ekspresi wajah Tiysa yang sangat polos, lagi-lagi Tiysa berhasil membuatnya lepas kontrol, jika tadi Tiysa diam saja, bisa dipastikan jika Tristan pasti sudah melakukan itu kepada Tiysa dan melanggar amanat ibunya.


Tristan mengecup bibir Tiysa, setelah itu dia mengecup ke dua pipi Tiysa, lalu kedua kelopak mata Tiysa, diakhiri dengan sebuah ciuman di dahi Tiysa.


Mendapat perlakuan seperti itu, Tiysa langsung membuka matanya dan menatap wajah Tristan yang sangat dekat dengan wajahnya.


"Bersabarlah setahun lagi," kata Tristan sambil mengecup bibir Tiysa.


"Tristan kamu benar-benar jahat." Tiysa membalikkan badannya membelakangi Tristan, wajahnya memerah karena malu.


Melihat Tiysa yang kembali cemberut, Tristan lalu merebahkan tubuhnya di samping Tiysa, dia lalu memeluk tubuh Tiysa yang sedang membelakanginya.


"Ketika kita melakukan itu saat aku telah menikahimu, aku juga akan memintamu untuk bersikap lembut, karena itu juga akan menjadi pertama kalinya bagiku," kata Tristan berbisik di telinga Tiysa.


Tiysa mengangkat kedua alisnya karena terkejut dengan ucapan Tristan, dengan cepat ia membalikkan tubuhnya menghadap Tristan, "Benarkah? jadi kamu juga belum pernah melakukannya bersama wanita lain?" tanya Tiysa dengan sangat bersemangat.


Tristan tersenyum dan menganggukkan kepalanya, sambil mengelus rambut Tiysa, dia berkata, "Iya, aku belum pernah melakukan hal itu bersama wanita lain."


"Bagaimana dengan Gea, bukankah dulunya kalian bertunangan?"


"Hahaha, jangankan tidur bersama, aku bahkan belum pernah mencium bibirnya," jawab Tristan sambil tertawa.


Wajah Tiysa terlihat sangat bahagia mendengar perkataan Tristan, selama ini dia terus menggoda Tristan karena mengira jika Tristan sudah melakukan itu dengan Gea, dia selalu cemburu ketika dia memikirkan hal itu.


"Aku masih kurang yakin dengan perkataanmu bisa saja kamu mengatakan itu hanya untuk menghiburku."


"Hmm... biar kuceritakan alasanku mengapa aku hanya ingin berhubungan setelah menikah," kata Tristan.


Tristan lalu mulai menceritakan amanat yang pernah di sampaikan mendiang ibunya kepada Tiysa, setelah itu dia menceritakan hubungannya dengan Gea 5 tahun yang lalu.

__ADS_1


Tiysa yang mendengar penjelasan Tristan akhirnya mengerti mengapa Tristan hanya ingin melakukan itu setelah menikah, dia juga terlihat sangat senang ketika mendengar cerita Tristan tentang hubungan Tristan dengan Gea.


"Tristan maafkan aku, aku benar-benar tidak mengetahui jika kamu termyata mendapat amanat seperti itu dari mendiang ibumu."


"Tidak apa-apa sayang, aku juga yang salah karena terlambat menceritakan itu kepadamu," balas Tristan sambil terus membelai rambut Tiysa.


"Hanya untuk hari ini, bisakah kamu tidur di kamar ini bersamaku?" tanya Tiysa dengan manja.


Tristan mengernyitkan alisnya sambil memandangi wajah Tiysa.


"Tenang saja, aku sudah mengetahui alasanmu, aku berjanji tidak akan menggoda mu lagi,"


"Baiklah, hanya untuk hari ini, besok aku akan menepati kamar yang disebelah," jawab Tristan sambil tersenyum.


"Terima kasih sayang."


___


Keesokan harinya...


Tristan membuka matanya, dia tampak mencari keberadaan Tiysa yang sudah bangun terlebih dahulu, sambil terus menguap, dia beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.


Setelah selesai, Tristan lalu berjalan menuju dapur, sayup-sayup dia dapat mendengar jika seseorang sedang beraktivitas di dapur mereka.


"Selamat pagi sayang, kata Tiysa sambil tersenyum kepada Tristan. Dia terlihat sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


" Pagi sayang,“ balas Tristan sambil merenggangkan badannya.


"Ini sebentar lagi selesai, mungkin sebaiknya kamu menunggu di ruang keluarga," kata Tiysa.


"Baiklah sayang," balas Tristan, dia lalu mengecup kening Tiysa dan berlalu pergi menuju ke ruang keluarga.


Sambil menunggu Tiysa memasak sarapan untuk mereka berdua, Tristan terlihat bersantai di sofa sambil menonton televisi.


Hari ini pun masih sama, hampir semua media memberitakan tentang kematian Boby akibat perpecahan yang terjadi antara Boby dengan anak buahnya.


"21 anak pengusaha kaya datang ke Indonesia menggunakan pesawat jet pribadi mereka masing-masing..."


Terdengar suara reporter di televisi membacakan berita selanjutnya.


"21?" Tristan sontak kaget mendengar berita itu.


Terlalu kebetulan jika jumlah anak pengusaha yang datang sama dengan jumlah korban Boby yang sedang di rawat di Golden Snow Hotel milik ayahnya.


"Jangan-jangan ini ulah...,"

__ADS_1


__


Maaf hanya bisa up satu bab hari ini kakak 😖🙏


__ADS_2