Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 48 : Tangisan Memilukan Tiysa


__ADS_3


Pesawat Jet Pribadi berwarna Hitam dengan tulisan Yaroslav terparkir di Apron bandara Soekarno-Hatta. Pesawat itu yang akan membawa Tristan kembali ke Rusia.


Melihat pemandangan itu, Yono kembali dibuat kagum dengan identitas keluarga Tristan, pesawat milik keluarganya sampai jauh-jauh datang ke Indonesia untuk menjemput Tristan demi menjaga keamanan Tristan.


“Yono, dalam beberapa tahun ke depan mungkin kamu Harus menghadapi masalah yang datang seorang diri, hari ini semua bawahan keluarga Yaroslav telah di Tarik kembali ke Rusia, dan selama pelatihan aku benar-benar tidak akan bisa dihubungi, jadi jika terjadi masalah, aku tidak akan bisa membantumu.” kata Tristan.


“Masalah?” tanya Yono.


“Ini hanya perasaanku, tapi aku merasa wajah Tiysa beberapa tahun ke depan mungkin akan memberimu masalah.” jawab Tristan sambil mengangkat satu alisnya ke atas.


Yono tertawa terbahak-bahak, “Aku mengerti maksud Tuan Muda, tenang saja, dia akan aku anggap seperti anakku sendiri, jika ada yang berani macam-macam, mereka harus menghadapi aku terlebih dahulu,” kata Yono sambil membusungkan dadanya.


Tristan tersenyum, “Kalau begitu aku titipkan Tiysa kepadamu,” ucap Tristan sambil menepuk bahu Yono.


“Iya Tuan Muda, semoga pelatihan Anda bisa berjalan lancar.” balas Yono.


Tristan dan Haris berjalan menuju pesawat yang telah menunggunya, ketika dia sedang menaiki tangga pesawat, terdengar teriakan Yono memanggil.


“Tuan Muda! terima kasih banyak!” teriak Yono sambil membungkukkan badannya penuh penghormatan.


Yono merasa jika dia dapat berubah menjadi pria yang lebih baik karena takdir mempertemukan dirinya dengan Tristan.


Tristan mengangguk pelan lalu masuk ke dalam pesawat, tak berselang lama pesawat Tristan terbang meninggalkan Bandara Soekarno-Hatta.



__


Karena mengkhawatirkan kondisi Tiysa, Gina memutuskan untuk mengantar Tiysa ke rumah orang tuanya. Kebetulan saat mereka tadi mengisi bahan bakar di SPBU, mereka sempat bertemu Yono untuk meminta izin.


Begitu mereka berhenti tepat di depan rumah orang tua Tiysa, Ayah dan Ibu Tiysa yang sudah mengenali suara mobil Tiysa langsung berlari keluar dengan raut wajah yang cemas.


Sejak kemarin mereka tidak bisa menghubungi nomor Tiysa, mereka tahu jika terjadi sesuatu terhadap putrinya.


Kedua orang tua Tiysa tampak kaget ketika melihat wajah Tiysa dengan mata yang sembab, dugaan mereka ternyata benar, telah terjadi sesuatu kepada putrinya.


Ibu Tiysa langsung memeluk putrinya, dengan lembut dia merangkul putrinya masuk ke dalam rumah.


“Gina, ada apa dengan Tiysa?” tanya Bimo dengan cemas.


“Mari kita bicarakan di dalam rumah Paman,” jawab Gina sembari berjalan masuk ke dalam rumah orang tua Tiysa.


Di ruang tamu mereka berempat duduk di sofa, Tiysa terlihat memeluk ibunya, sesekali airmatanya kembali menetes membasahi pipinya.

__ADS_1


“Paman, Tristan ternyata sudah bertunangan dengan seseorang,” kata Gina yang langsung mengucapkan inti permasalahannya kepada Bimo.


“Iya aku tahu tentang itu,” balas Bimo.


Gina sontak kaget mendengar balasan dari Bimo. Tiysa yang sedang menangis pun kelihatan terkejut dengan jawaban dari ayahnya.


“Paman sudah mengetahuinya?” tanya Gina seakan tidak percaya.


“Iya, aku sudah mengetahuinya dan Tristan juga sudah membatalkan pertunangannya,” jawab Bimo.


“Membatalkan?” Tiysa yang sejak tadi memeluk tubuh ibunya langsung berdiri dari duduknya. Dia lalu menghampiri ayahnya.


“Bisakah ayah menjelaskannya kepadaku,” pinta Tiysa sambil menyeka airmatanya dengan kedua tangannya.


Bimo mulai menceritakan kejadian dua hari yang lalu kepada Tiysa dan Gina, dia menceritakan hubungan Tristan dan Gea yang dijodohkan karena keinginan Subroto, namun sebelum Subroto meninggal, Tristan sudah meminta kepada Subroto untuk membatalkan perjodohannya dengan Gea,


dan Subroto menyetujui permintaan dari Tristan.


Bimo juga menceritakan masalah yang terjadi di kediaman Subroto waktu itu, bagaimana Tristan hampir memukuli Purwadi, karena tidak mengizinkan Bisma dan Damar untuk memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang Subroto.


Tiysa dan Gina tercengang mendengar penjelasan Bimo.


Tiysa mengusap wajahnya beberapa kali, dia lalu berdiri dan meraih tangan Gina yang sedang duduk di sofa.


“Gina kita harus kembali ke Jakarta.” Dengan ekspresi wajah cemas, Tiysa menarik lembut tangan Gina.


“Tapi Ayah....” Tiysa memandangi wajah ayah dan ibunya yang terlihat sangat cemas.


“Baiklah Ayah.” Tiysa kembali duduk di sofa dan mulai menceritakan masalahnya kepada kedua orang tuanya.


Tiysa bercerita bagaimana Gea tiba-tiba muncul di tempat kerjanya dan memintanya untuk menjauhi Tristan, Gea juga menunjukkan foto ketika mereka berdua bertunangan, hal itu yang membuat dirinya yakin jika Gea tidak berbohong.


Mata Tiysa tampak berkaca-kaca ketika menceritakan itu kepada kedua orang tuanya.


“Sebelum kalian kembali ke Jakarta, aku akan menghubungi Suryo untuk menanyakan keberadaan Tristan terlebih dahulu, dua hari yang lalu ayah sudah bertukar nomor ponsel dengannya,” kata Bimo sembari mengambil ponsel dari saku celananya.


Tiysa mengangguk menyetujui ucapan ayahnya.


Bimo sengaja mengaktifkan speaker agar Tiysa dan Gina bisa mendengar percakapan mereka.


“Halo Tuan Bimo,” sapa Suryo menjawab panggilan Bimo.


“Suryo maafkan aku yang tiba-tiba bertanya, apakah kamu mengetahui di mana lokasi Tristan sekarang?”


“Tristan sudah meninggalkan Indonesia.”

__ADS_1


Mereka semua terperangah mendengar jawaban Suryo, jawaban yang diberikan Suryo terdengar mengada-ada dan sangat sulit untuk diterima.


“Suryo, ini bukan waktunya bercanda.”


“Aku tidak akan berani bercanda kepada Tuan Bimo, apa yang aku sampaikan memang terdengar tidak masuk akal, tapi seperti itulah kenyataannya, aku sendiri sangat sulit menerima keputusan Tristan yang tiba-tiba ingin pergi meninggalkan Indonesia.”


“Kemarin malam, Tristan meminta agar semua bawahannya termasuk aku untuk berkumpul, saat itulah Tristan menyampaikan kepada kami, jika dia sudah memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya, di saat itu juga dia memberitahukan kepada kami jika hari ini jam 10 pagi dia akan meninggalkan Indonesia.”


Bimo melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11.12 Siang. Itu artinya Tristan sudah berangkat sejak sejam yang lalu.


“Apakah ini karena Tiysa?” gumam Bimo bertanya kepada dirinya sendiri, namun karena jarak mulutnya dengan ponsel cukup dekat, Suryo bisa mendengar kata-katanya.


“Ada apa dengan Nona Tiysa?” tanya Suryo yang juga mengenal putri semata wayang Bimo.


Bimo terlihat sedikit kaget karena tak menyangka jika Suryo mendengar apa yang baru saja dia ucapkan. Dia lalu menjelaskan hubungan Tristan dan Tiysa yang sudah sangat dekat kepada Suryo serta kondisi Tiysa karena kesalahpahaman yang terjadi.


“Mungkin Tristan marah karena Tiysa tidak mau mendengar penjelasan darinya.” kata Bimo sambil menghela nafasnya.


“Apakah Nona Tiysa mendengarkan percakapan ini?” tanya Suryo.


“Iya,” jawab Bimo singkat sambil memandangi Tiysa yang sedang menangis di pelukan istrinya.


“Aku tidak tahu apakah ini akan membantu atau tidak, namun kurasa bukan Nona Tiysa yang menyebabkan Tristan meninggalkan Indonesia. Kemarin setelah acara perpisahannya dengan seluruh karyawan Tirta Wira Perkasa, Tristan memintaku untuk mengantar dia ke Hotel tempatnya menginap.


“Dalam perjalanan ke Hotel, aku sesekali memandangi Tristan dari kaca spion tengah, saat itu Tristan terus-menerus memandangi layar ponselnya, dia terlihat sangat gelisah namun bisa aku pastikan, tidak ada kemarahan yang terlihat dari raut wajahnya, yang bisa aku rasakan dari raut wajahnya saat itu hanya kesedihan, ketakutan, dan juga ketidakberdayaan.”


“Itu terasa jika Tristan terpaksa melakukan hal itu walaupun dia tidak menyukainya, mungkin memang ada hal penting yang membuat dia terpaksa meninggalkan Indonesia.”


Mendengar penjelasan dari Suryo Tiysa langsung melepas pelukannya dari Kirana lalu berlari masuk ke dalam kamarnya. Gina yang melihat itu langsung berdiri dari duduknya dan menyusul Tiysa.


“Suryo, terima kasih... aku tidak tahu akan separah apa Tiysa menyalahkan dirinya jika dia tidak mendengar penjelasan darimu.”


“Sama-sama Tuan Bimo, aku berharap semoga Nona Tiysa bisa kuat dalam menghadapi masalah ini,” balas Suryo mengakhiri pembicaraan mereka.


Begitu masuk ke dalam kamarnya Tiysa langsung meraih ponselnya yang sudah dia non-aktifkan selama dua hari untuk menghindari Tristan.


Setelah ponselnya kembali aktif, dia langsung mengecek riwayat panggilan masuk, saat melihat nama Tristan dia langsung jatuh bertekuk lutut, airmatanya mengalir sederas-derasnya. Nama Tristan memenuhi riwayat panggilan tak terjawab di layar ponselnya.


Gina yang baru masuk segera memegang kedua bahu Tiysa dan menuntunnya ke tempat tidur.


“1,2,3,....” Suara isak tangis Tiysa terdengar memenuhi kamarnya sembari dia menghitung jumlah panggilan tak terjawab dari Tristan.


“421... dia menghubungiku sebanyak 421 kali, aku benar-benar sangat jahat kepada Tristan, aku bahkan tidak mendengar penjelasannya aku....” Tiysa tertunduk tak bisa menyelesaikan kata-katanya. Seakan tak ada habisnya, airmata Tiysa terus mengalir disertai suara isak tangis yang memilukan hati.


Gina yang melihat Tiysa seperti itu juga turut menitikkan airmata. Dia ikut merasakan kepedihan yang di alami Tiysa.

__ADS_1



__ADS_2