Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 7 : Dia Wanitaku !


__ADS_3

"Bukankah calon menantu kita sangat tampan," ucap Veronica Kuncoro sambil meletakkan secangkir kopi di meja ruang tamu.


"Apa gunanya tampan kalau hanya berasal dari keluarga yang tidak jelas." ketus Purwadi menanggapi perkataan istrinya, Purwadi terlihat kesal, dia hanya membolak-balik surat kabar yang sedang berada di tangannya.


Veronica hanya diam menanggapi perkataan suaminya dia lalu duduk tepat di samping suaminya.


Purwadi lalu melempar surat kabar yang sedang dia baca ke meja. "Aku tidak mengerti apa yang ada di kepala ayahku, bagaimana mungkin dia mengangkat anak tidak jelas asal usulnya menjadi kandidat penerus keluarga," ucap Purwadi dengan nada ketus.


"Apakah di matanya aku benar-benar tidak dianggap!" sahut Purwadi yang bertanya kepada dirinya sendiri.


Beberapa tahun lalu Purwadi sempat menduduki posisi CEO di perusahaan yang rencananya akan dipimpin oleh Tristan. Namun setelah beberapa saat menjabat, kondisi perusahaan semakin buruk, hal itu yang membuat Subroto menunjuk Bisma Kuncoro yang merupakan Kakak Purwadi, untuk menggantikan Purwadi sebagai CEO.


Purwadi sendiri ditunjuk masuk ke dalam direksi, walaupun di atas kertas dia dipromosikan, dia merasa kesal karena dia tahu bahwa dia berikan posisi itu hanya karena dia adalah anak pemegang saham kedua terbesar di grup Tirta Baskara Grup, dari segi kinerja Purwadi dianggap tidak becus dalam mengurus perusahaan.


Bisma Kuncoro sendiri adalah anak yang diadopsi oleh Subroto, Ketika Subroto dan mendiang istrinya tidak memiliki anak, mereka mengadopsi Bisma yang pada saat itu berumur 2 tahun, ternyata setelah beberapa bulan akhirnya istrinya hamil dan lahirlah Purwadi.


Setelah ditunjuk untuk memimpin perusahaan yang hampir hancur di tangan purwadi, Bisma menunjukkan kinerja yang memuaskan, perusahaan yang dipimpin olehnya semakin membaik, beberapa tahun di bawah kepemimpinannya perusahaan itu menjadi salah satu perusahaan yang cukup di pandang di Indonesia.


Namun beberapa saat lalu, Bisma Kuncoro terbukti melakukan penggelapan dana perusahaan. Bisma berusaha mengelak, namun bukti berkata lain.


Subroto marah dan kecewa kepada Bisma Kuncoro, Subroto memecat Bisma dan menghapusnya dari keluarga Kuncoro.


Tentu saja Bisma tidak melakukan tindakan tercela itu, itu semua adalah rekayasa dari Purwadi yang dibantu oleh orang-orang kepercayaannya untuk melengserkan Bisma.


Dengan begitu dia bisa menguasai perusahaan dengan omzet ratusan milyar itu, Namun Purwadi kembali kecewa, ketika Subroto ternyata menyerahkan perusahaan dengan omzet ratusan milyar itu ke Tristan, anak bawang yang tidak jelas asal usul keluarganya.


"Sabar sayang, bukankah nanti Tristan akan menjadi menantu kita?" ucap Veronica kepada suaminya.


Purwadi langsung menoleh ke arah istrinya, dia tahu jika ada maksud lain dari perkataan yang baru saja diucapkan istrinya.


"Bukankah jika Tristan menjadi CEO di tempat itu, kita bisa menyetelnya seperti boneka?" sambung istrinya dengan tersenyum jahat kepada suaminya.


Seperti mendapat angin segar, ekspresi wajah Purwadi kembali bersemangat. "Haha ... benar istriku, lagian orang tua busuk itu sudah sakit, entah berapa lama lagi dia bertahan, ketika dia sudah tidak ada, aku tinggal menendang Tristan seperti aku menendang Bisma," ucap Purwadi diselingi tawa sambil menepuk-nepuk bahu istrinya.


"Mereka berdua sama-sama berasal dari keluarga tidak jelas, sudah sepantasnya mereka bernasib sama," sahut Veronica yang disambut tawa suaminya.



Tristan dan Gea sudah tiba di Cafezoid, begitu turun dari mobil Gea langsung menggandeng tangan Tristan dengan mesra, Tristan juga tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, menurutnya wajar saja Gea bersikap seperti itu, toh Gea juga adalah tunangannya.


Begitu masuk, 3 orang gadis menyambut mereka, Gea juga langsung melambaikan tangannya ke arah dimana ketiga gadis itu duduk, dia lalu menarik tangan Tristan dengan lembut untuk mempercepat langkah mereka.


Ketiga gadis itu bernama, Dini, Fika dan Dewi, mereka bertiga mempersilahkan Gea dan Tristan duduk. Setelah itu mereka mulai memperkenalkan diri kepada Tristan.


"Gila Gea! Tunangan kamu tampan sekali!" seru dini kepada Gea tanpa berusaha menyembunyikannya. Kedua sahabat Gea juga mengangguk mengiyakan perkataan dini.


"Dia pasti keturunan bule, matanya sangat indah," ucap Fika yang juga mengagumi ketampanan tunangan Gea.


"Ahh ... Gea kamu beruntung sekali," ucap Dewi.


Mendengar pujian dari ketiga gadis di depannya, Tristan hanya bisa tersenyum, dia bingung harus bagaimana menanggapi pujian dari ketiga gadis itu.

__ADS_1


Gea tersenyum bangga, Gea merasa puas dengan pujian yang diberikan sahabatnya kepada Tristan.


"Dia pastinya anak keluarga kaya raya," ucap Dini bertanya kepada Gea mengenai status Tristan.


"Hei tentu saja Tristan anak keluarga kaya," balas Dewi, "Tidak mungkin keluarga Kuncoro menerima orang yang tidak jelas asal-usulnya," sambung Dewi sambil menoleh ke arah Dini.


"Jadi bisnis apa yang dijalankan keluarga calon suamimu?" tanya Fika kepada Gea, kedua temannya juga langsung menoleh ke Gea, menunggu jawaban yang akan diberikan Gea.


"Ohh ...itu ...," ucap Gea sambil terbata-bata, "Tristan berasal dari Amerika, keluarganya menjalankan usaha kuliner di sana, dan sudah memiliki cabang di beberapa tempat di Amerika," sambung Gea dengan nada yang sedikit kikuk.


"Wahh luar biasa ...,"sahut ketiga teman Gea secara bersamaan sambil menoleh ke arah Tristan yang langsung dibalas senyuman olehnya.


Tristan sendiri ingin tertawa mendengar jawaban Gea dan juga ekspresi teman-teman Gea, dalam hati dia berkata "Sejak kapan keluargaku menjalankan bisnis di Amerika."


Setelah itu ketiga teman Gea, kembali memberikan banyak pertanyaan kepada Gea, dari mulai rencana menikah, tinggal di mana setelah menikah, sampai berapa jumlah anak pun mereka tanyakan kepada Gea, Gea sendiri terlihat meladeni satu-persatu pertanyaan dari sahabatnya.


SedangkanTristan hanya mengangguk, dan sesekali berkata iya menanggapi pertanyaan yang seperti tidak ada habisnya, dia menyerahkan kepada Gea untuk menjawab rasa penasaran dari sahabatnya.


Ketika Gea dan sahabatnya sibuk berbicara, dari arah pintu masuk terlihat tiga pemuda yang mungkin berumur 25 tahun, masuk dan langsung menuju ke tempat Tristan.


Melihat pria yang baru saja masuk, Gea terlihat kaget dan langsung berdiri dari tempat duduknya, begitu juga dengan teman-teman Gea yang ikut terkejut melihat sosok pria yang menghampiri mereka.


"Devan?" ucap Gea kepada Devan yang sudah berdiri di samping meja mereka.


Tristan tentu saja langsung menoleh ke arah Gea.


"Hai Gea, apa kabar sayang?" balas pria itu kepada Gea


Tristan melihat pria itu sambil mengangkat satu alisnya. "Sayang?" tanya Tristan, dia lalu menoleh ke arah Gea yang sudah terlihat panik.


"Devan, mengapa kamu berada disini?" tanya Gea kepada Devan yang sedang menatap Tristan dengan arogan.


"Hei aku dengar kamu sedang jalan bersama tunanganmu, tentu saja aku datang untuk menyapa dan berkenalan dengan tunanganmu," balas Devan dengan nada angkuh.


"Aku ingin melihat sosok orang yang telah membuat kamu meninggalkanku" ucapnya yang lagi-lagi menatap Tristan dengan tatapan angkuh. "Ternyata hanya bocah bau kencur, aku heran dengan pilihan kakekmu," sambungnya sambil menoleh ke arah dua pria di belakangnya yang langsung disambut tawa oleh kedua pria itu.


"Menarik ...," gumam Tristan dalam hati sambil menyilangkan kedua lengannya.


"Devan kita sudah putus, aku sudah tidak mencintai kamu lagi!" sahut Gea sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Hah? bukankah kamu berjanji kepadaku akan menolak rencana perjodohanmu dengan anak bau kencur ini!" sahut Devan yang sudah terlihat marah.


Gea semakin terlihat panik ketika Devan mengatakan hal tersebut.


Tristan sendiri masih duduk dalam diam, dia terlihat sedikit tertarik dengan kata MENOLAK yang baru saja dikatakan oleh Devan, dia juga tidak berusaha melerai Gea dan Devan, menurutnya itu hanya dua mantan kekasih yang sedang terlibat pertengkaran.


"Devan diam!" sahut Gea yang juga mulai terlihat marah.


"Kamu meninggalkanku demi anak yang tidak jelas asal-usulnya ini? kamu kira aku tidak tahu latar belakang tunanganmu?" sahut Devan sambil menunjuk Tristan dengan suara kencang.


Mendengar itu, Gea sudah tidak bisa menutupi ekspresi terkejutnya, dia tidak menyangka jika mantan kekasihnya mengetahui sebanyak itu.

__ADS_1


Sama halnya dengan ketiga sahabatnya, melihat ekspresi Gea, mereka yakin jika Gea sedang menyembunyikan sesuatu.


Tristan tentu saja juga ikut terkejut, sepengetahuan Tristan, yang mengetahui itu hanya keluarga Gea, jadi Tristan mengambil kesimpulan jika ada seseorang di antara keluarga Gea yang menyampaikan hal itu kepada Devan.


"Bagaimana Devan bisa tahu hal itu," gumam Gea dalam hati.


"Devan aku mohon berhenti," ucap Gea dengan nada memelas.


Di pikiran Gea saat ini, percuma berdebat dengan Devan, jika semakin diteruskan, Gea takut jika sahabatnya semakin curiga dan akhirnya mengetahui, jika dia berbohong tentang latar belakang Tristan kepada mereka.


"Baiklah, tapi kamu harus menemuiku untuk menyelesaikan hubungan kita secara baik-baik." balas Devan kepada Gea.


Gea menoleh ke arah Tristan yang masih duduk terdiam, Gea berpikir mungkin Tristan takut, apalagi Devan datang bersama dua temannya, oleh karena itu Gea merasa Tristan tidak akan marah dan akan mengerti jika dia menyetujui permintaan Devan untuk bertemu dengannya.


"Baiklah," ucap Gea sambil mengangguk, dan benar saja, ternyata Tristan tidak melarangnya, Tristan masih tetap diam dan tidak menanggapi hal itu.


Devan juga berpikir hal yang sama, dia merasa jika bocah tunangan Gea sepertinya ketakutan dan tidak berani berbicara. Oleh karena itu terbesit di kepalanya sebuah ide untuk mempermalukan Tristan di depan teman-teman Gea.


"Oke Sayang ...," balas Devan sambil mengulurkan tangannya untuk menyentuh dagu Gea, Gea juga terlihat tidak menghindar, Gea hanya berharap Devan segera pergi dan meninggalkan mereka.


Namun tepat sebelum menyentuh dagu Gea, dengan posisi yang masih duduk di kursi, Tristan menangkap tangan Devan dan meremasnya dengan kuat, hal itu membuat Devan meringis kesakitan, dengan mata melotot dan kepala yang sedikit dimiringkan, Tristan berkata "Apa yang ingin kamu lakukan?"


Tentu saja itu membuat semua orang terkejut, sejak tadi ketika Devan dan Gea berdebat Tristan terlihat tidak peduli, namun saat ini Tristan terlihat sangat marah, tatapannya saat ini penuh dengan aura membunuh.


Tristan lalu berdiri, dan menatap wajah Devan.


"Sejak tadi kamu berbicara dengan Gea, aku tidak pernah ikut campur, menurutku kalian memang perlu menyelesaikan masalah diantara kalian dan aku tidak berhak untuk ikut campur dalam hal itu.


Namun saat ini kamu sedang melanggar batas, saat ini status Gea sudah berbeda, ketika kamu masih bersamanya, kamu bebas menyentuhnya, namun saat ini Dia Tunanganku! Dia wanitaku! jadi ketahuilah tempatmu,


Tristan terus meremas tangan Devan.


Devan terlihat kesakitan dia berusaha menarik tangannya namun tidak berhasil, Tristan sendiri tidak berniat melepaskan tangan yang mencoba menyentuh wanitanya.


Kedua pria yang dibawa oleh Devan mendekat, Gea sendiri sempat terperanjat karena melihat Tristan yang tiba-tiba bertindak seperti itu, tapi ketika melihat dua orang yang dibawa Devan mulai mendekat, Gea langsung segera memeluk lengan Tristan.


"Tristan ... sudah," ucap Gea dengan nada memohon.


Mendengar permintaan Gea, Tristan langsung melepas tangan Devan, bukan karena Tristan takut jika harus bertarung dengan ketiga orang itu, dia hanya menghargai permintaan dari tunangannya.


Begitu terlepas, Devan ingin menyerang Tristan, namun Gea menghentikannya.


"Devan! .. .kumohon berhenti!!" Lagi-lagi Gea kembali memohon kepada Devan.


"Ah ... sial!" ucap Devan sambil memukul meja yang berada di depannya, dia lalu menatap Tristan dan berkata "Kamu beruntung bocah, jika bukan karena Gea, aku pasti akan menghajarmu sampai babak belur, l" ucapnya dengan marah sambil berbalik pergi meninggalkan tempat itu bersama kedua temannya.


Tristan tersenyum sinis mendengar ucapan Devan, dalam hati dia berkata. "Hah justru kamu yang beruntung."


Setelah Devan keluar dari Cafe, Gea lalu menarik lengan Tristan dengan lembut dan memintanya kembali duduk.


Ketiga teman Gea masih diam, mereka masih terlihat kaget dengan kejadian yang baru saja terjadi.

__ADS_1


Orang-orang yang tadi menonton juga sudah kembali ke aktifitas mereka masing-masing walaupun beberapa di antara mereka masih terlihat berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke tempat Tristan dan Gea.


Setelah kejadian itu selama beberapa saat suasana di antara mereka terlihat canggung, namun dengan berjalannya waktu, suasana dapat kembali cair.


__ADS_2