Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 21 : Pria Bernama Hendra


__ADS_3


“Terima kasih Dian,” ucap Tristan kepada Dian yang telah membantunya merapikan Dasinya


Dian mengangguk menjawab ucapan Tristan sambil tersenyum.


Mereka berdua sedang bersiap-siap untuk menuju kantor, hari ini rencananya Perusahaan yang kemarin berhasil mencapai kesepakatan jual beli, akan mengirimkan staf mereka untuk memproses transaksi itu.


Dian kembali melihat kamar dengan tarif 42 Juta semalam itu, kamar ini menjadi saksi bisu jika dirinya sudah menghabiskan malam bersama Tristan.


Walaupun tidak terjadi apa-apa diantara mereka, Dian tetap senang, dan Dian akan terus mengingat waktu yang dia habiskan bersama Tristan menjadi kenangan terindah seumur hidupnya.


“Pak Tristan bisakah ini kubawa pulang?” tanya Dian, sambil menunjukkan Piyama yang semalam dia pakai kepada Tristan.


“Tentu saja, jika kamu sangat menyukai itu, aku akan meminta pihak manajemen hotel untuk menyiapkan beberapa lembar lagi,” jawab Tristan.


“Ah ... tidak pak, aku hanya menyukai piyama ini,” kata Dian sambil menunduk malu.


Tristan sedikit kebingungan. “Iya, bawa saja,” balas Tristan disertai senyuman yang menghiasi wajahnya.


“Terima kasih Pak Tristan.” Dian tersenyum lalu memasukkan pijaya tadi ke dalam tasnya.


Dian meminta piyama itu tentu saja bukan karena menyukai desain dari piyama itu, namun karena piyama itu menjadi kenang-kenangan berharga ketika dia menghabiskan waktunya bersama Tristan.


Setelah mereka bersiap, Tristan mengajak Dian untuk makan bersama dengan manajemen Hotel.


“Bisakah aku mengetahui nama Nona Muda?” tanya salah satu pria asing pengelola hotel yang saat ini sedang makan bersama Dian dan Tristan. Pria itu juga menyerahkan kartu namanya kepada Dian.


“Nona Muda? Ahh ... itu bukan-” Dian menjadi panik mendapat panggilan seperti itu. Dia tidak ingin pihak Hotel salah paham tentang hubungannya dengan Tristan.


Dian langsung menoleh ke arah Tristan, namun ketika dia melihat Tristan, Tristan hanya tersenyum dan berkata


“Ambil kartu nama itu, suatu saat kamu pasti akan membutuhkannya."


Menurut Tristan, dalam dunia bisnis, koneksi juga merupakan hal yang penting, dan Tristan tahu jika orang yang sekarang diberikan kepercayaan untuk mengelola hotel keluarganya di Indonesia, pastilah orang yang memiliki jaringan koneksi yang bagus.


Dengan mendapatkan koneksi seperti itu, akan menjadi hal yang menguntungkan untuk Dian.

__ADS_1


Sedangkan untuk panggilan nona muda yang di sematkan kepada Dian, Tristan tidak terlalu ambil pusing, Dia sudah menjelaskan kepada Dian bahwa dia adalah tipe pria yang menghargai hubungan, dan itu dia buktikan semalam. Jadi Tristan merasa jika Dian tidak akan salah paham.


Dian tersenyum dan mengangguk, Dian lalu mengeluarkan kartu nama miliknya dan menyerahkannya kepada pria asing tadi.


Setelah itu mereka melanjutkan pembicaraan dengan berbagai topik sambil menyantap makanan.


__


“Apa Tristan sudah datang?” tanya seorang pria pada salah satu karyawan di kantor Tristan.


“Belum Pak,“ jawab wanita itu.


“Bagaimana dengan Dian?” ucap pria itu kembali bertanya.


“Sama Pak, Ibu Dian juga belum tiba.”


“Apa-apaan perusahaan ini, aku sedang membawa dokumen untuk transaksi 314 Milyar dan orang yang bertanggung jawab bahkan belum tiba,” keluh pria itu dengan sikap arogan.


Pria itu bernama Hendra, dia bekerja sebagai manager pembelian di perusahaan yang kemarin berhasil mencapai kesepakatan transaksi dengan Tristan.


Hari ini dia ditugaskan oleh perusahaannya untuk mengurus transaksi itu. Hendra juga berteman dengan Cakra dan Purwadi, karena merasa berteman dengan dua petinggi di perusahaan yang dipimpin Tristan, membuat Hendra merasa sombong, apalagi Hendra juga mengetahui jika Tristan adalah calon menantu dari Purwadi yang juga adalah kenalannya.


Salah seorang karyawan pria di tempat itu kemudian mengantar Hendra ke ruangan yang biasa di gunakan untuk menerima tamu.


Setelah karyawan itu pergi, Hendra memutuskan untuk mengirim pesan kepada Dian tentang kedatangannya.


__


Dian dan Tristan baru saja tiba di kantor, sesaat setelah turun dari mobil, Dian tiba-tiba menerima pesan.


[Hendra] Dimana kamu cantik?


Wajah Dian yang tadi tampak penuh dengan semangat, tiba-tiba menjadi lesu setelah mendapat pesan dari Hendra.


[Dian] Maaf Pak Hendra, aku baru saja tiba di kantor.


[Hendra] baguslah, aku sudah menunggu di kantormu, untuk membahas masalah transaksi yang kemarin baru saja deal. Aku benar-benar sudah bersusah payah meyakinkan pamanku agar transaksi itu berhasil, jadi aku menunggu hadiah dari kamu.

__ADS_1


Dian menghela nafas setelah membaca pesan dari Hendra, Dian tahu bahwa transaksi itu bisa berhasil berkat Tristan, dan sekarang Hendra sedang memanfaatkan keadaan dengan mengaku-ngaku sebagai orang yang telah berjasa.


[Dian] Hadiah? Maksud Pak Hendra?


[Hendra] Seperti yang sudah sering aku minta, hadiah yang aku mau dari kamu cuma satu, temani aku semalam di Hotel, kamu bebas memilih hotel yang kamu suka.


Dian terdiam beberapa saat setelah membaca pesan itu, Hendra memang sudah beberapa kali untuk mengajaknya tidur bersama, bahkan di depan Cakra, Hendra pernah secara terang-terangan mengatakan hal serupa, dan saat itu Cakra bukan hanya tidak membela Dian, Cakra malah ikut tertawa bersama Hendra.


Tristan yang sedang menunggu Dian membalas pesan, menjadi penasaran ketika melihat ekspresi wajah Dian.


“Ada apa Dian?” tanya Tristan.


“Oh, tidak apa-apa Pak,” jawab Dian singkat. Dian tidak ingin masalah ini diketahui oleh Tristan.


Ting !!


Sebuah notifikasi pesan kembali berbunyi.


[Hendra] Jangan-jangan kamu tidak mau memberiku hadiah, Dian kamu tahu kan siapa pamanku? Aku bisa meyakinkan pamanku agar membatalkan transaksi ini.


Membaca pesan yang baru saja masuk di ponselnya, Dian menjadi terkejut dan cemas, Dian tahu bahwa Hendra adalah keponakan dari Slamet yang menjabat sebagai CEO di perusahaan itu.


Walaupun Tristan kemarin berbicara dengan pemilik perusahaan, Dian tidak mengetahui hubungan antara Tristan dan James yang menjadi pemilik perusahaan itu.


Dian tahu bahwa dengan posisi paman Hendra, bisa saja transaksi ini dibatalkan, CEO bisa memberi saran kepada pemilik perusahaan tentang kebijakan yang akan di ambil oleh perusahaan, Dian mulai merasa was-was.


Dian takut jika langsung menolak tawaran Hendra, pamannya benar-benar akan memberi saran kepada pemilik perusahaan untuk membatalkan transaksi mereka.


[Dian] Nanti saja dibicarakan Pak Hendra, mari kita selesaikan dulu transaksinya.


[Hendra] Ok cantik.


Setelah itu Dian memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.


“Ada apa?” Tristan kembali bertanya karena merasa sikap Dian yang aneh.


“Oh ... itu dari Hendra pak, Dia manager pembelian yang ditugaskan oleh perusahaan Mr. James untuk mengurus transaksi yang kemarin dibicarakan.” balas Dian sambil berusaha bersikap tenang.

__ADS_1


Tristan menjadi semakin penasaran dengan pesan yang diterima oleh Dian, melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Dian, Tristan merasa jika itu bukan hanya tentang transaksi. Namun Tristan tahu jika dia tidak memiliki kewenangan untuk memeriksa dan bertanya lebih jauh tentang itu.


“Ya sudah, mari kita temui orang itu,” kata Tristan.


__ADS_2