
Oscar baru saja selesai melakukan pertemuan untuk membahas rencana mereka menjatuhkan keluarga Prabaswara bersama Lingga, Winata dan Purwadi secara jarak jauh.
Saat ini dia sedang menuju ruang tamunya untuk menunggu beberapa orang yang akan datang ke rumahnya.
Dia sedikit kesal karena teman-temannya tidak mendukung keinginannya untuk membalas perbuatan Tristan kepada putranya, untuk itu dia diam-diam menghubungi salah satu rekannya yang merupakan keluarga mafia yang cukup di pandang di kota tempat tinggalnya di Italia.
Beberapa saat kemudian, dua orang yang mengenakan setelan jas hitam tiba di rumah Oscar, mereka berdua adalah orang yang diutus untuk mendengar permintaan Oscar.
“Jadi siapa yang harus kami musnahkan?” tanya salah seorang dari mafia itu.
Oscar merogoh saku jasnya untuk mengambil foto Tristan, dia lalu meletakkan foto itu di atas meja.
“Namanya Tristan, tidak ada yang spesial darinya, latar belakang keluarganya juga biasa saja, aku rasa ini akan menjadi pekerjaan yang mudah untuk kalian,” kata Oscar.
Salah satu dari mereka mengambil foto yang berada di meja, mereka berdua lalu memandangi foto Tristan, “Aku perlu memberitahukan ini kepada pimpinan kami, kami akan memberi kabar secepatnya terkait dengan permintaanmu.”
Oscar mengangguk pelan dan berkata, “Aku mempercayai kalian.” Dia kembali merogoh saku jasnya dan mengeluarkan selembar cek lalu menyerahkannya kepada mereka berdua.
Setelah menerima cek dari Oscar, kedua orang itu langsung pergi meninggalkan kediaman Oscar.
__
Selama tiga bulan terakhir bisnis Yono tumbuh dengan pesat, karena itulah selama tiga bulan terakhir ini Trisha Motor yang sudah merajai bisnis mobil mewah terus merekrut karyawan baru.
Saat ini Tristan sedang berada di ruang meeting, dan mengajar 28 karyawan baru yang nantinya akan di tempatkan di showroom Trisha Motor yang tersebar di seluruh Indonesia.
Selama tiga bulan terakhir ini, memberi pelatihan dan materi kepada karyawan baru sudah menjadi rutinitas Tristan di pagi hari.
Saat sedang memberikan materi kepada karyawan baru, tiba-tiba ponsel Tristan berdering.
Dia segera mengecek ponselnya yang dia simpan di atas meja.
“+39?” kata Tristan dalam hati ketika melihat panggilan video dari nomor dengan kode negara Italia.
Tristan langsung mengakhiri meeting hari itu, dia meminta para karyawan baru untuk bergabung dengan Tiysa dan karyawan Yono yang lebih senior untuk mendapatkan bimbingan tambahan dari mereka.
Setelah itu Tristan pergi menuju ruangannya dan menjawab panggilan video yang masuk.
__ADS_1
“Tuan Muda Tristan, ini aku Luciano,” kata Pria itu memperkenalkan dirinya.
“Luciano?” Tristan tidak mengenali pria itu, dia terlihat mengernyitkan alisnya memandangi wajah pria yang sedang melakukan panggilan video dengannya.
“Aku bawahan Tuan Muda Gino, salah satu dari 21 orang yang kemarin datang ke Indonesia,” jelas pria itu.
“Oh, aku sudah mengingatmu, jadi ada apa kamu menghubungiku,” tanya Tristan yang akhirnya bisa mengingat Luciano yang beberapa bulan lalu datang ke Indonesia.
“Tuan Muda, aku ingin memberitahu Tuan Muda, jika salah satu keluarga mafia yang melayani keluargaku di Italia baru saja menerima permintaan pembunuhan dengan bayaran yang cukup fantastis.”
“Lalu?” tanya Tristan.
“Dua orang itu menunjukkan foto target mereka kepadaku, ternyata target mereka adalah Tuan Muda Tristan,” kata Luciano menjelaskan.
“Hahaha, kurasa aku sudah tahu siapa yang ingin menggunakan jasa mereka,” Tristan tertawa terbahak-bahak dia bisa menebak jika Oscar yang sudah menyewa jasa bawahan Luciano untuk balas dendam kepadanya.
“Jadi apa perintah Tuan Muda Tristan? haruskah aku meminta bawahanku untuk memusnahkan keluarga Oscar?” Dengan wajah serius, Luciano meminta instruksi selanjutnya dari Tristan.
“Jangan, kamu tidak perlu melakukan itu, malah sebaliknya, aku ingin bawahanmu berpura-pura sedang melakukan pekerjaan itu, minta bawahanmu mengatakan kepada Oscar jika bawahanmu sedang memantau pergerakanku,” balas Tristan sambil tersenyum.
“Baiklah Tuan Muda, aku akan melakukan perintahmu,” jawab Luciano.
“Kak Tristan!” Widy dengan cepat menyambar ponsel yang sedang di pegang Luciano, lalu mengarahkan kamera ponsel itu kepadanya.
“Sayang tunggu...,” Luciano tampak berusaha merebut kembali ponsel miliknya yang sedang di pegang oleh Widy, dia takut jika Tuan Mudanya tersinggung dengan tingkah calon istrinya itu.
“Luciano biarkan saja,” kata Tristan yang tertawa kecil melihat tingkah pasangan muda itu.
“Baiklah....” Luciano bernafas lega karena Tristan tidak terlalu mempermasalahkan, sikap calon istrinya.
“Kamu hmm.” Tristan mengerutkan dahinya dia tampak berusaha mengingat nama dari wanita pilihan Luciano.
“Widy Kak, Namaku Widy,” balasnya sambil tersenyum.
“Ah, Iya aku ingat sekarang,” jawab Tristan.
“Kak, aku ingin mengabari Kak Tristan, Jika minggu depan kami semua akan melangsungkan pernikahan,” ucap Widy dengan penuh semangat.
__ADS_1
“Wah, aku ucapkan selamat kepada kalian berdua... tunggu, kami semua?” Tristan tampak kebingungan dengan kalimat yang baru saja Widy ucapkan.
“Iya Kak, kami semua, akan melangsungkan pernikahan secara bersamaan, 21 pasangan pengantin akan menikah di tempat yang sama, kami para wanita menyebutnya nikah massal ala sultan, hahaha.” Widy tertawa ketika menyampaikan itu kepada Tristan, Luciano yang berada di sampingnya ikut tertawa mendengar perkataan calon istrinya.
Tristan pun sama, dia tertawa mendengar perkataan Widy, dia tidak menyangka jika para wanita muda itu memutuskan untuk mengakhiri masa lajang mereka bersama-sama.
“Kalau begitu aku mengucapkan selamat kepada kalian semua,” kata Tristan sambil tersenyum.
“Tidak, kami tidak mau Kak Tristan hanya mengucapkan selamat, kami ingin Kak Tristan juga hadir di acara pernikahan kami,” balas Widy.
“Aku juga sangat ingin hadir di acara kalian tapi...-“
“Aku sudah mengirimkan pesan kepada Kak Tiysa untuk memintanya datang menghadiri pernikahan kami, dia juga sudah berjanji untuk datang di pernikahan kami dengan calon suaminya,” kata Widy memotong ucapan Tristan.
“Tiysa? Kamu tidak mengatakan yang tidak-tidak ‘kan?” Tristan terlihat panik ketika mendengar jika Widy sudah mengirimkan pesan kepada Tiysa. Dia takut Widy memberitahukan identitasnya kepada Tiysa.
“Tentu saja tidak, Kak Tristan sudah memintaku dan teman-temanku untuk menjaga rahasia tentang identitas Kak Tristan, mana mungkin aku memberitahu Kak Tiysa tentang itu.”
Tristan bernafas lega, “Baiklah, aku berjanji akan hadir di pernikahan kalian bersama Tiysa, asalkan kalian bisa menjaga janji kalian untuk merahasiakan identitasku,” kata Tristan.
“Tentu saja Kak,” jawab Widy.
“Jadi di mana kalian akan melangsungkan pernikahan massal kalian?” tanya Tristan dengan nada bercanda.
“Di Rusia,” jawab Widy.
“Di Rusia?” Tristan sangat terkejut mendengar jawaban Widy, dia tidak menyangka jika Widy dan teman-temannya akan melangsungkan pernikahan di Rusia.
Dia juga harus mencari alasan yang tepat agar bisa berangkat ke Rusia bersama Tiysa, tanpa membuat Tiysa curiga sama sekali.
“Iya Kak, kami akan melangsungkan pernikahan kami di Rusia, tepatnya di taman indah yang berada tepat di samping rumah Kak Tristan di Rusia,” jelas Widy sambil tersenyum bahagia.
“Di Rumahku?” Tristan menepuk jidatnya sendiri, dia tidak menyangka jika mereka akan melangsungkan pernikahan di taman rumahnya di Rusia.
“Apakah Kakekku menyetujui rencana kalian?” tanya Tristan kembali.
“Iya, minggu lalu kami semua mengunjungi Tuan Vladimir untuk memperkenalkan diri kami sebagai calon istri pria yang melayani keluarga Yaroslav, saat itulah kami bertemu Sofia adik Kak Tristan, dia meminta kami untuk melangsungkan pernikahan di kediaman keluarga Yaroslav, dengan bantuan Sofia kami semua mendapat izin dari Tuan Vladimir untuk melangsungkan pernikahan kami di taman indah kediaman Kak Tristan,” jawab Widy.
__ADS_1
Tristan kembali menepuk jidatnya, dia tidak menyangka jika Kakeknya bahkan memberi izin kepada para wanita muda itu untuk melangsungkan pesta pernikahan mereka di taman kediaman keluarga Yaroslav, dia juga tidak menyangka jika adiknya adalah orang yang menyarankan itu kepada mereka.