
Sambil merenggangkan badan Tiysa perlahan membuka matanya, semalam Tiysa benar-benar tertidur lelap, ketika kesadarannya berangsur kembali, .
“Tristan!” seru Tiysa dalam hati yang tiba-tiba mengingat kejadian kemarin.
Dia mengamati keadaan di sekitarnya, mencari sosok pria idamannya, namun dia tidak bisa menemukan keberadaan Tristan di kamar itu.
“Mimpi lagi?” keluh Tiysa lemas. Setiap dia berada di kamar ini, Tiysa pasti akan bermimpi bertemu dengan Tristan, hal itu yang membuat dia mengambil kesimpulan jika kejadian kemarin lagi-lagi hanya mimpi ataupun ilusi karena terlalu merindukan Tristan.
Namun ketika dia hendak turun dari tempat tidur, tangannya tak sengaja menyentuh buku novel yang tergeletak di sampingnya, dia mengecek buku itu dan menyadari jika itu adalah salah satu buku novel kesukaan Tristan, bantal kepala yang berada di sampingnya juga menandakan jika seseorang sudah tidur menggunakan bantal itu.
Dia langsung menoleh dan kembali memperhatikan kembali kondisi kamar, Gitar yang tidak tergantung di tempatnya, dan sebuah sweater bergaris di sofa yang tidak dia kenali langsung menarik perhatiannya. Ketika dia hendak turun dari tempat tidur, kakinya membentur tas berwarna hitam yang lagi-lagi tidak dia kenali.
Dengan cepat dia turun dari tempat tidur dan meraih sweater bergaris yang berada di sofa, Tiysa lalu mendekatkan wajahnya ke sweater itu.
“Tristan,” gumamnya dalam hati ketika mencium wangi parfum dari sweater yang berada di tangannya.
Walaupun sudah 5 tahun berlalu Tiysa tidak akan pernah bisa melupakan wangi aroma parfum Tristan, perasaan berbunga-bunga memenuhi hatinya, dia akhirnya sadar jika kemarin bukanlah mimpi.
Tiysa dengan cepat berlari menuju tangga, ketika sedang menuruni tangga dia dapat mendengar suara seseorang sedang beraktivitas di dapur.
Begitu dia tiba di lantai bawah dan menoleh ke dapur, jantungnya langsung berdebar cepat, matanya kembali berkaca-kaca, pria yang sudah dia nantikan selama 5 tahun berdiri menggunakan celemek berwarna merah dan sedang tersenyum kepadanya.
“Kamu....” kata Tiysa yang langsung berlari menghampiri Tristan.
“Wow... Nona Tiysa, hati-hati,” seru Tristan tatkala Tiysa langsung memeluk tubuhnya dengan erat.
Tiysa kembali membenamkan wajahnya ke dada Tristan, dia terus memeluk erat tubuh Tristan, menikmati aroma parfum tubuh Tristan yang telah dia rindukan, mungkin karena kemarin dia telah meluapkan semua perasaan sedih sampai tak tersisa kini dia tak lagi menangis seperti kemarin, perasaan bahagia dan senang mendominasi hatinya.
“Aku belum selesai memasak, bisakah kamu menunggu sebentar?” kata Tristan sambil mengelus rambut Tiysa.
Tiysa menggelengkan kepalanya, dia tidak mau melepas tubuh Tristan.
“Bagaimana caranya aku memasak jika kamu memelukku seperti ini?” tanya Tristan sambil tertawa kecil.
Kriukk!
Perut Tiysa berbunyi, semenjak pulang kemarin dia belum makan sama sekali.
“Lihat, bahkan perutmu protes karena butuh makanan,” ucap Tristan bercanda sambil tangannnya terus mengelus rambut Tiysa.
Tiysa mendongakkan kepalanya, dia memandangi wajah Tristan dengan wajah cemberut.
__ADS_1
“Kalau aku lepas kamu akan menghilang lagi,” kata Tiysa sambil memicingkan matanya.
“Aku tidak bisa menghilang, aku bukan mahluk tak kasat mata yang bisa melakukan itu,” balas Tristan bercanda sambil tertawa kecil.
“Tristan....” seru Tiysa manja sambil mencubit kecil punggung Tristan.
“Aww, baiklah... aku janji tidak akan pergi, jadi tolong biarkan aku melanjutkan pekerjaanku terlebih dahulu, sejak kemarin kamu juga belum mengisi perutmu, aku takut kamu sakit karena hal itu,” balas Tristan sambil tersenyum.
Tiysa mengernyitkan alisnya, dia tampak sedang memikirkan sesuatu, setelah beberapa saat dia melepaskan pelukannya dari Tristan.
Tristan tersenyum, dia mencubit pipi Tiysa yang masih memasang wajah cemberut, setelah itu dia berbalik dan hendak menuju dapur, namun belum sempat dia melangkah, Tiysa kembali memeluk tubuhnya dari belakang.
“Jika seperti ini kamu bisa kembali memasak,” kata Tiysa dengan suara manja.
Tristan kembali tertawa, “Baiklah... aku akan melakukannya sesuai dengan keinginanmu tuan putri,” kata Tristan sambil menoleh ke Tiysa yang sedang memeluk tubuhnya.
Tristan berjalan menuju dapur, Tiysa di belakang terus memeluk tubuhnya, Tiysa benar-benar menempel seperti perangko ke tubuh Tristan.
Tristan lanjut memasak, di belakangnya Tiysa memeluknya dengan perasaan bahagia, dia terlihat menempelkan kupingnya ke punggung Tristan, sambil tersenyum dia mendengar detak jantung Tristan yang terdengar begitu indah baginya.
Beberapa saat kemudian Tristan telah selesai, dia sedikit kesulitan untuk membawa makanan ke meja karena Tiysa terus memeluknya, dia berpikir sejenak lalu berkata, “Tiysa apakah kamu pernah menonton Discovery Channel?”
Tiysa mengangguk, “Iya, itu saluran televisi yang sering menampilkan satwa liar ‘kan? Jawabnya sambil terus memeluk tubuh Tristan.
“Tentu saja, monyet selalu membawa anaknya di punggung....”
“Tristan!” seru Tiysa manja sambil mencubit kecil perut Tristan, dia baru menyadari jika Tristan sedang menyindir dirinya yang terus menempel kepada Tristan seperti anak monyet.
“Hahaha, maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak bisa bergerak, bisakah kamu membantuku membawa ini ke meja makan?” tanya Tristan sambil tertawa lepas.
Tiysa tersenyum, dia mengangguk lalu melepas pelukannya dari tubuh Tristan.
Mereka berdua lalu terlihat membawa makanan yang dimasak Tristan dan menyajikannya di atas meja makan.
“Tristan... suap,” rengek Tiysa manja kepada Tristan. Dia teringat cerita Dian sewaktu Tristan menyuapi Dian di Golden Luxury Hotel, saat ini dia ingin bermanja-manja dengan pria pujaan hatinya.
Tristan tersenyum, dia begitu gemas melihat tingkah Tiysa, dia menarik kursinya mendekat ke kursi Tiysa, lalu mulai menyuapi Tiysa.
Sambil menyuapi Tiysa, Tristan bertanya tentang berbagai hal selama 5 tahun terakhir kepada Tiysa, sambil tersenyum Tiysa menceritakan semuanya kepada Tristan, bagaimana Dian menghiburnya ketika dia merasa putus asa, bagaimana semua mantan karyawan Tristan menghiburnya dan selalu menyemangati dirinya, bagaimana Yono terkena masalah karena melindungi Tiysa dan karyawan wanitanya, serta bagaimana dia bertemu Gino, pria yang selalu membantunya tanpa mengharap imbalan apapun darinya. Tiysa menceritakan semuanya kepada Tristan tanpa melewatkan satu hal pun kepada Tristan.
“3 tahun lalu Gina melanjutkan pendidikannya di Amerika, sejak itu aku tidak pernah lagi bertemu dengannya, sedangkan Dian telah menikah dengan Kakak sepupuku, dia sudah dikaruniai seorang putri cantik yang mereka beri nama Fika,” kata Tiysa menjelaskan.
“Benarkah?” tanya Tristan yang terlihat terkejut mengetahui kabar jika Dian sudah menikah dan memiliki seorang putri.
__ADS_1
“Iya, nanti kita berdua harus mengunjunginya, dia juga pasti sangat ingin bertemu denganmu,” jawab Tiysa.
Tristan mengangguk menyetujui perkataan Tiysa.
Setelah mereka berdua selesai makan, Tiysa melirik jam dinding yang berada tidak jauh dari tempatnya, dia merasa heran karena kedua orang tuanya belum bangun.
“Tristan, tunggu sebentar aku akan membangunkan ayah dan ibuku dulu, tidak biasanya mereka berdua telat bangun seperti ini, aku yakin mereka juga sangat ingin bertemu dirimu,” kata Tiysa, dia hendak beranjak pergi menuju kamar orang tuanya.
Namun belum sempat dia melangkah tiba-tiba Tristan memegang tangannya dan berkata, “Ayah dan Ibu sedang liburan di Jakarta, kemarin Damar yang mengantar mereka kesana,” kata Tristan sambil tersenyum.
“Oh, pantas aku tidak melihat mereka,” balas Tiysa.
“Eh....” Tiysa langsung menatap Tristan sambil mengernyitkan dahinya.
“Coba kamu ulangi apa yang kamu katakan barusan,” kata Tiysa mendekat.
“Di Jakarta?” Tristan menjawab.
“Sebelumnya!” seru Tiysa.
“Damar?” tanya Tristan sambil mengangkat kedua alisnya seolah tidak mengerti maksud Tiysa.
“Bukan itu, Tristan....” seru Tiysa manja sambil menghentakkan kakinya.
“Ayah dan Ibu?” kata Tristan sambil tersenyum.
“Kamu..., sejak kapan kamu memanggil kedua orang tuaku seperti itu... arrg, sudahlah....” seru Tiysa yang langsung dengan cepat duduk dipangkuan Tristan.
Sambil berhadap-hadapan di pangkuan Tristan, Tiysa langsung mencium bibir Tristan, dia melingkarkan lengannya di leher Tristan.
“Tristan... itu artinya?” tanya Tiysa dengan mata berbinar-binar.
Tristan mengangguk, dia lalu berkata, "Aku akan menjadikanmu istriku tahun depan, jadi bagaimana jawabanmu?” tanya Tristan sambil tersenyum mesra.
“Bodoh, untuk apa kamu menanyakan hal itu,” kata Tiysa yang lalu kembali mencium bibir Tristan.
Cup!
___
Cover Baru Akulah Yang memilihmu... 😊🙏
__ADS_1