Akulah Yang Memilihmu

Akulah Yang Memilihmu
Bab 66 : Pengacau Bernama Boby


__ADS_3

Setelah drama kejar-kejaran antara Tiysa dan Damar berakhir. Mereka semua tampak menyantap makanan bersama-sama, Kirana dan Tiysa memasak banyak hidangan untuk menyambut kepulangan Tristan, para pria yang berada di tempat itu terus memuji makanan yang dimasak Kirana dan Tiysa.


"Hei Damar, kamu nanti harus menceritakan mengenai sebutan Ratu Gengster yang disematkan kepada Tiysa," kata Tristan sambil berbisik kepada Damar yang duduk di sebelahnya.


"Iya, aku janji akan menceritakan hal itu kepada kamu, tapi jangan sekarang, apa kamu tidak lihat bagaimana calon istrimu menatapku?" ucap Damar sambil melirik Tiysa yang terus menatapnya dengan tatapan dingin.


Tristan ikut melirik Tiysa, dia dapat melihat tatapan tidak bersahabat dari Tiysa yang ditujukan kepada Damar.


"Baiklah," kata Tristan sambil tertawa kecil.



Beberapa saat kemudian, mereka semua telah selesai makan, Damar dan Tristan berinisiatif untuk mencuci piring bersama-sama, mereka berdua tidak ingin kembali merepotkan Kirana dan Tiysa, ini waktunya untuk pemuda mengambil alih pikir mereka.


"Bagaimana jika kamu memberitahu aku sekarang," kata Tristan sambil membersihkan piring yang berada ditangannya.


"Baiklah... gelar itu karena...."


"Ehem...." suara Tiysa sontak membuat keduanya kaget.


Ketika mereka berdua menoleh, Tiysa sudah berdiri dibelakang mereka sambil melipat tangannya di dada.


"Saudaraku berhentilah bertanya tentang hal itu, aku tidak mau pantatku menjadi samsak tendangan Tiysa," keluh Damar sambil berbisik-bisik.


Tristan tertawa kecil, Tiysa benar-benar tidak memberi celah kepada Damar untuk menceritakan mengenai sebutan Ratu Gengster yang disematkan kepadanya.


"Baiklah, kita akan mencari waktu yang tepat untuk mendiskusikan hal itu," bisik Tristan sambil menahan tawa.

__ADS_1


Dengan ekspresi wajah serius, Damar mengangguk beberapa kali mengiyakan ucapakan Tristan.


Sambil berbisik-bisik kedua Damar dan Tristan melanjutkan aktivitasnya, layaknya seorang mandor, Tiysa terus berdiri dibelakang mereka mengawasi pembicaraan keduanya.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua telah selesai, tepat sebelum mereka sampai ke halaman rumah, terdengar suara Suryo dengan nada yang cukup keras.


"Aku sudah bilang tidak akan menjual tempatku kepada kalian!"


Mereka bertiga sontak terkejut dan langsung berlari menuju halaman depan.


Tampak seorang pria sedang berdebat dengan Suryo, di belakang pria itu beberapa pria lainnya sedang berdiri sambil mengisap rokok.


Damar dan Tiysa langsung berhenti melangkah ketika melihat pria itu, Tristan yang sedang berjalan bersama mereka ikut berhenti karena merasa heran melihat ekspresi wajah Tiysa dan Damar.


"Boby, aku dan ayahmu dulu berteman, mengapa kamu melakukan ini," kata Bimo yang berusaha menengahi.


"Iya Boby, masalah ini bisa kita bicarakan baik-baik, kamu tidak perlu sampai membuat keributan," kata Bisma ikut menengahi.


"Boby sialan." Damar terlihat mengutuk sambil menahan amarahnya.


Sama dengan Damar Tiysa yang berdiri di samping Damar juga terlihat mengepalkan tangannya dengan raut wajah menahan amarah.


Tristan benar-benar dibuat terheran-heran melihat sikap mereka berdua. Mereka terlihat sangat marah namun seakan terpaksa harus menerima semua kelakuan buruk Boby kepada kedua orang tua mereka.


"Suryo, bagaimana jika kamu menerima permintaanku, aku akan mempersunting putrimu, dengan begitu, kamu akan menjadi ayah mertuaku dan aku berjanji tidak akan membeli tempatmu dengan harga murah," kata Boby sambil tertawa lepas.


"Kamu...." Suryo terlihat sangat emosi, Bisma yang berdiri disampingnya terlihat memegang tangan Suryo, dia tidak mau Suryo termakan provokasi Boby.

__ADS_1


Tristan mengangkat kedua alisnya, kelakuan Boby benar-benar sudah keterlaluan, ketika dia melangkah untuk menghampiri Boby, Tiysa langsung memegang tangannya.


"Tristan...," bisik Tiysa menahan Tristan.


"Damar, dan Ratu... kebetulan kalian berada disini," ucap Boby yang langsung menyapa Damar dan Tiysa dengan nada angkuh ketika melihat mereka.


"Ratu?" tanya Tristan penasaran karena Boby juga menggunakan sebutan itu kepada Tiysa.


"Dia dulu satu sekolah denganku dan Tiysa, saat itu dia tidak menonjol seperti ini, namun setelah mewarisi bisnis property milik ayahnya, dia mulai berubah dan bertindak semena-mena, dia bahkan tidak menghargai ayahku dan paman Bimo yang dulu bersahabat dengan ayahnya," kata Damar menjelaskan.


Walaupun sudah mendengar penjelasan Damar, itu belum menjawab rasa penasaran Tristan terkait sikap keduanya yang seolah tidak bisa berbuat apa-apa.


"Aku tahu kalian berdua menyembunyikan sesuatu," kata Tristan.


Damar menoleh ke Tiysa yang langsung menunduk mendengar perkataan Tristan, dia terlihat sangat berat memberitahu Tristan alasan yang membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa.


"Hah... Aku akan menenangkan diri di halaman belakang," kata Tristan sambil menghela nafasnya, setelah itu dia meninggalkan Tiysa dan Damar dan menuju halaman belakang kediaman Bisma.


Sesampainya Tristan di halaman belakang, dia segera mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Haris.


Tut...


"Iya Tuan Muda," jawab Haris.


"Pak Haris, beritahukan semuanya kepadaku," kata Tristan.


___

__ADS_1


Visual SMA 😅



__ADS_2