
“Halo,” kata Yono menjawab panggilan teleponnya.
“Selamat pagi Pak Yono, Namaku Jonathan Presiden Direktur dari Bank Dana Cempaka,” kata Pria itu memperkenalkan dirinya kepada Yono.
Yono tampak kebingungan, dia tidak mengerti mengapa Presdir dari Bank Dana Cempaka menghubunginya langsung.
“Maaf, ada perlu apa Anda menghubungiku?” tanya Yono.
“Ini tentang masalah utang Pak Yono di Bank Dana Cempaka.”
“Hah... aku sudah bilang sebelumnya, tolong berikan aku waktu,” keluh Yono dengan wajah tertunduk lesu.
“Ah, sepertinya Pak Yono salah paham, tujuan aku menghubungi Pak Yono untuk menginformasikan jika utang Pak Yono di kantor kami sudah lunas, aku sebagai presdir Bank Dana Cempaka juga meminta maaf atas perlakuan yang kurang menyenangkan dari penagih kami selama beberapa bulan terakhir ini," kata Jonatan.
"Tunggu, Pak Jonathan tidak sedang bercanda 'kan?" Yono sangat terkejut mendengar ucapan Jonathan, dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, dia kembali mengkonfirmasi ucapan Jonathan.
”Pak Yono, mana mungkin aku bercanda tentang hal seperti ini, beberapa hari ke depan aku akan meminta salah satu bawahanku untuk menemui Pak Yono dan menyerahkan surat rincian pelunasan.”
“Ba… Baik Pak Jonathan,” balas Yono dengan suara terbata-bata.
“Ada apa suamiku?” Adelia tampak sangat cemas, dia melihat suaminya tercengang setelah menerima panggilan telepon dari pihak Bank Dana Cempaka.
“Itu….” Yono masih mencerna semuanya di kepalanya, dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, dia terlihat kesulitan untuk menjelaskannya kepada Adelia.
Yono melirik Tristan yang menatapnya sambil tersenyum, dia ingin menanyakan kepada Tristan terkait pembicaraannya dengan Bank Dana Cempaka, namun belum sempat dia berbicara, teleponnya kembali berdering.
Yono kembali mengecek ponselnya, kali ini panggilan yang masuk dari Bank lain tempat Yono meminjam uang.
“Selamat pagi Pak Yono, Aku Andri presiden direktur dari Bank....”
Ekspresi Yono sama persis ketika dia menjawab panggilan dari Presdir Bank Dana Cempaka, dia juga terlihat sangat terkejut.
Mata Yono mulai berkaca-kaca, dia beranjak dari duduknya dan membalikkan badannya membelakangi putri kecilnya dan Tristan.
Tak banyak kata yang di ucapkan Yono, hanya kata Iya, baiklah dan terima kasih yang terlontar dari mulutnya dengan suara bergetar.
Begitu dia mengakhiri panggilan teleponnya, ponselnya tiba-tiba kembali berdering, mata Yono semakin menggenang, telepon yang masuk lagi-lagi dari seorang Presiden Direktur Bank yang lain tempat dia meminjam uang.
Pembahasan mereka pun sama, Presdir Bank yang menghubungi Yono juga menyampaikan jika utang yang dimiliki Yono di tempatnya sudah lunas, dan seseorang akan dikirim untuk menyerahkan surat rincian pelunasan.
Ponsel Yono terus berdiring, panggilan masuk berganti menjadi panggilan masuk lainnya, semua yang menghubungi Yono adalah presiden direktur dari Bank tempat dia meminjam uang. Semua presiden direktur yang menghubungi Yono mengatakan jika utang yang dimiliki oleh Yono telah lunas.
__ADS_1
Yono tidak bisa lagi membendung airmatanya yang langsung tumpah membasahi pipinya, sambil menjawab telepon yang terus masuk, dia menjaga suaranya yang bergetar agar tidak terdengar aneh oleh orang yang sedang berbicara dengannya melalui telepon.
Adelia menghampiri Yono, dia dapat melihat airmata suaminya yang mengalir deras, setelah kedatangan teman lama suaminya,
dia kembali mendapati suaminya yang selalu terlihat tegar menangis berderai airmata.
Adelia memandangi wajah Yono, dia merasa sedikit aneh ketika melihat ekspresi wajah suaminya, walaupun Yono sedang menangis, ekspresi wajahnya malah terlihat sangat bahagia.
“Trisha apakah kamu bisa bernyanyi?” tanya Tristan, dia mencoba mengalihkan perhatian Trisha dari Yono yang sedang menangis.
Trisha mengerutkan dahinya, wajahnya terlihat sangat menggemaskan saat menatap langit-langit rumah Yono sambil berusaha mengingat lagu yang bisa dia nyanyikan.
“Aku tahu lagu sayang semuanya,” seru Trisha sambil tersenyum.
“Benarkah? Bisakah kamu menyanyikan lagu itu untuk paman?”
“Bisa Paman!” jawab Trisha bersemangat.
Trisha mulai bernyanyi , dia menyanyikan lagu ciptaan Bu Kasur yang berjudul sayang semuanya.
Yono yang baru saja selesai menerima panggilan dari beberapa Presdir Bank, mulai menjelaskan kepada istrinya yang terlihat sangat cemas.
“Satu-satu aku sayang ibu....” Suara menggemaskan Trisha menggema di ruang tamu kediaman Yono, keceriaan tergambar dengan jelas di wajahnya ketika menyanyikan lagu itu.
Mereka berdua lalu menoleh ke Tristan yang sedang menggendong Trisha, mereka ikut mendengarkan putri kecil mereka bernyanyi dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat bahagia.
“Dua-dua juga sayang ayah....”
“Tiga-tiga sayang adik kakak....” setelah menyanyikan bagian ini, Trisha langsung terdiam, dia kembali mengernyitkan dahinya.
Yono, Adelia dan Tristan sontak memandangi wajah Trisha yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
“Ada apa sayang, mengapa kamu berhenti?” tanya Tristan.
“Paman, aku tidak punya adik kakak,” kata Trisha.
Tristan tersenyum mendengar Trisha yang merasa, jika lirik lagu itu tidak sesuai dengan kondisinya yang tidak memiliki saudara.
“Oh Iya, siapa nama paman?” tanya Trisha dengan mata berbinar-binar.
“Nama paman Tristan,” jawab Tristan sambil mencubit pelan pipi Trisha yang terlihat menggemaskan.
__ADS_1
Trisha menganggukkan kepalanya beberapa kali, dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat percaya diri, dia kembali mengulangi lagu yang baru saja dia nyanyikan.
“Satu-satu aku sayang ibu....”
“Dua-dua juga sayang ayah....”
“Tiga-tiga sayang paman Tristan....”
“Satu dua tiga sayang semuanya....”
Tristan terlihat sangat terkejut mendengar Trisha menambahkan namanya ke dalam lagu itu, dia kembali mengangkat Trisha dan berkata, “Kamu memang anak yang pintar Trisha,” seru Tristan sambil tertawa.
Yono dan Adelia merasa sangat terharu, putri mereka yang selalu menanyakan tentang keluarga besarnya, terlihat sangat bahagia, mungkin putrinya menyangka jika Tristan adalah pamannya dari keluarga besar orang tuanya.
“Sayangku, sebenarnya siapa teman lamamu ini?” Adelia semakin penasaran dengan identitas Tristan, setelah kedatangan Tristan, masalah utang piutang suaminya di Bank yang hampir mencapai 200 Milyar langsung lunas.
Dia sudah bisa menebak jika pria yang sedang menggendong putrinya adalah orang yang berada di balik semua itu.
Yono terdiam, dia tampak ragu menjelaskan identitas Tristan kepada Istrinya.
Tristan yang juga bisa mendengar pertanyaan Adelia langsung menoleh ke Yono, “Ceritakan saja, hanya tinggal masalah formalitas sampai akhirnya kalian bergabung dengan keluargaku,” kata Tristan sambil tersenyum, dia lalu kembali tertawa bersama putri kecil Yono.
Yono mengangguk pelan, dia menoleh kepada istrinya, “Istriku, bukankah sudah kukatakan jika aku menganggap dua orang sebagai bintang keberuntunganku?” tanya Yono.
Adelia mengangguk pelan, “Iya, nama Trisha juga diambil dari nama kedua orang itu ‘kan? Aku sudah mengetahui jika kata ‘Sha’ diambil dari nama Tiysa, namun aku tidak mengetahui yang satunya,” jawab Adelia.
Dia lalu teringat dengan lagu yang baru saja dinyanyikan oleh putri kecil mereka.
“Paman Tristan..., jadi kata ‘Tri’ diambil dari nama Tristan?” kata Adelia sambil memandangi Tristan yang sedang tertawa bersama putrinya.
Yono mengangguk, lalu berkata “Dia adalah salah satu bintang keberuntunganku yang telah mengubah diriku menjadi pria yang lebih baik,” kata Yono sambil tersenyum kepada istrinya.
Setelah itu Yono mulai menceritakan identitas Tristan kepada istrinya.
Adelia sudah terkejut ketika suaminya mengatakan jika Tristan adalah cucu dari Hartono Prabaswara, salah satu keluarga terkaya dan terpandang di Indonesia.
Namun dia semakin terkejut ketika suaminya mengatakan jika Tristan juga adalah penerus utama keluarga Yaroslav, salah satu keluarga terkaya di dunia yang jarang tampil di muka umum.
Penjelasan suaminya benar-benar membuatnya terdiam dan tidak bisa berkata-kata. Suaminya bahkan mengatakan jika dia tidak mengetahui dengan pasti sekaya apa Tuan Muda yang akan menjadi bosnya itu.
Namun melihat Tristan yang masih bisa tertawa dengan putrinya setelah membayar lunas utang-utang suaminya, Adelia bisa memastikan jika identitas Tristan memang bukanlah orang sembarangan.
__ADS_1
__