
“Dian, ke ruanganku sekarang.” Devan berseru memanggil Dian dengan tatapan yang terlihat menjijikkan.
Cindy berusaha menahan Dian, dia tahu jika Cakra dan Devan akan berbuat sesuatu yang buruk kepada Dian.
Dian tersenyum dan berkata “Tidak apa-apa, aku akan mempercayai Tristan, aku yakin dengan apa yang Suryo baru saja ucapkan.”
“Tapi Dian....” Cindy masih berusaha untuk menahan Dian, namun Dian melepaskan tangan Cindy yang sedang memegang lengannya, dia lalu berjalan menuju Devan yang sedang berdiri di depan ruangannya.
Beberapa karyawan pria terlihat bersiap-siap, jika terdengar teriakan dari Dian, mereka semua akan langsung masuk ke ruangan Devan.
“Dian... Cindy....” Suara seorang pria yang terdengar asing memanggil nama mereka.
Dian dan semua karyawan yang berada di tempat itu langsung menoleh ke arah suara yang memanggil nama Dian dan Cindy.
Mereka semua terkejut saat mengetahui pria yang memanggil Dian dan Cindy adalah Ranu Prabaswara, dia adalah orang yang memimpin perusahaan Tirta Indo Coal yang juga merupakan bagian dari Tirta Baskara Group.
Cakra yang juga mengetahui identitas Ranu langsung berlari untuk menyapa Ranu.
“Selamat siang Pak Ranu.” Cakra yang memang karyawan tipe penjilat langsung mencari kelakuan baik di depan Ranu.
Semua karyawan yang berada di situ bisa melihat sikap Cakra yang begitu menjijikkan.
“Siapa kamu?” tanya Ranu.
“Aku Cak-”
“Apakah telingamu bermasalah? Bukankah aku memanggil nama Dian dan Cindy? kata Ranu yang tidak ingin menggubris basa-basi dari Cakra.
Cakra langsung terdiam, dia tidak berani lagi berbicara.
Dian dan Cindy yang sempat terperangah karena melihat Cakra diperlakukan seperti itu perlahan menghampiri Ranu.
“Yang mana Cindy?” tanya Ranu.
Cindy mengangkat tangannya dengan gugup.
“Hans...,” kata Ranu memanggil karyawan pria yang ikut bersamanya.
Hans memberikan tumpukan berkas kepada Cindy.
“Tolong bagikan itu kepada semua karyawan, biarkan mereka membaca isinya terlebih dahulu, aku akan menunggu jawaban kalian di sini.” kata Ranu, dia lalu duduk di kursi yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri.
“Iya Pak,” jawab Cindy.
Cindy melihat tumpukan berkas yang berada di tangannya, matanya langsung terbelalak ketika melihat tulisan yang tertera di berkas itu.
__ADS_1
Tumpukan berkas yang dipegang Cindy adalah Surat Perjanjian Kerja untuk setiap karyawan yang ada di tempat itu.
Cindy lalu memanggil beberapa karyawan untuk membantunya membagikan Surat Perjanjian Kerja sesuai dengan nama yang tertera pada masing-masing surat. Hanya Cakra dan Devan yang tidak mendapat bagian Surat Perjanjian Kerja.
Suasana menjadi hening selama beberapa saat, semua karyawan membaca isi Surat Perjanjian Kerja yang mereka dapatkan dengan mata berbinar-binar, Cakra dan Devan terlihat kebingungan mereka berdua juga penasaran dengan isi berkas yang dibagikan oleh Cindy.
“Aku rasa kalian semua sudah membaca isi surat itu, jadi pertanyaanku hanya satu, apakah kalian semua setuju?” tanya Ranu sambil berdiri dari duduknya.
Secara bergantian karyawan yang berada di tempat itu mengatakan jika mereka menyetujui isi dari surat yang dibagikan kepada mereka.
“Baguslah, hari ini kalian bisa beristirahat, besok pagi kalian bisa menemui bagian HRD di perusahaanku.”
Semua karyawan bersorak gembira, mereka juga mengantar Ranu sampai di pelataran parkir.
“Maaf Pak Ranu aku tahu ini terdengar lancang, apakah kedatangan Pak Ranu ada hubungannya dengan Pak Tristan?” tanya Dian.
Semua karyawan langsung terdiam mendengar pertanyaan dari Dian, mereka juga penasaran apa yang membuat Ranu Prabaswara orang yang dikenal jarang tampil di depan umum sampai turun tangan untuk melakukan perekrutan karyawan.
Ranu tersenyum dan berkata, “Iya, Tristan yang merekomendasikan kalian kepadaku, dia bahkan menjamin kemampuan kalian, dengan melihat perkembangan Tirta Wira Perkasa selama 6 bulan terakhir itu sudah lebih dari cukup untuk menunjang perkataannya,” jawab Ranu. Tak lama kemudian mobil Ranu terlihat meninggalkan tempat itu.
“Bukankah adik kecil kita sangat luar biasa?” tanya Cindy sembari memeluk Dian.
Dian mengangguk dan berkata, “Dia selalu berpikir dua sampai tiga langkah lebih dulu dari pada orang lain, dia benar-benar luar biasa.”
Devan dan Cakra hanya bisa saling menatap, hari ini seluruh karyawan yang bekerja di Tirta Wira Perkasa secara beramai-ramai mengundurkan diri dari perusahaan itu.
Waktu menunjukkan pukul 11 Malam, Dian dan semua karyawan yang pernah di pimpin oleh Tristan baru saja selesai mengadakan pesta. Mereka betul-betul meluapkan kegembiraan mereka karena bisa diterima oleh perusahaan yang jauh lebih besar dari Tirta Wira Perkasa.
“Cindy bagaimana jika malam ini kamu menginap di apartemenku?” tanya Dian sembari berjalan menuju mobilnya bersama Cindy.
“Hah... aku kira kamu tidak akan menawarkan itu kepadaku,” jawab Cindy bernafas lega.
“Aku juga akan memperlihatkan beberapa koleksi andalanku kepada kamu,” kata Dian yang sudah tiba di mobilnya.
“Koleksi apa?” tanya Cindy sambil mengernyitkan dahinya karena penasaran.
“Masih rahasia, tapi aku jamin kamu akan tercengang melihat koleksi berhargaku,” jawab Dian, setelah itu mereka berdua masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu.
Selama dipimpin oleh Tristan, kondisi ekonomi Dian dan karyawan lainnya semakin membaik, hanya dalam 6 bulan, semua karyawan Tristan sudah memiliki kendaraan dan juga tempat tinggal pribadi.
Itu semua berkat kinerja mereka yang sangat luar biasa sehingga bonus yang mereka terima juga menjadi gila-gilaan.
Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah tiba di apartemen Dian, Cindy terlihat sudah sangat tidak sabar melihat koleksi yang Dian ingin tunjukkan kepadanya.
“Jangan terlalu terburu-buru, malam masih panjang, lebih baik kita membersihkan badan dan berganti pakaian terlebih dahulu.” Kata Dian sambil menyiapkan baju ganti untuk Cindy.
__ADS_1
“Baik bos,” celetuk Cindy sambil memberi hormat ala militer kepada Dian.
Setelah itu secara bergantian mereka menggunakan kamar mandi untuk membersihkan diri lalu berganti pakaian.
Cindy menggunakan piama berwarna putih dengan motif buah stroberi, sedangkan Dian menggunakan piama sutra yang dia ambil dari Golden Luxury Hotel.
“Mana koleksinya?” tanya Cindy penasaran.
Dian meraih ponselnya dan membuka galeri foto, setelah menemukan foto yang dia cari, dia menyerahkan ponselnya ke Cindy.
Mata Cindy terbelalak dengan mulut terbuka ketika melihat foto yang terpampang di layar ponsel Dian. Itu adalah foto Tristan yang tidak mengenakan baju sehingga badan atletisnya terlihat dengan jelas, walaupun di foto itu Tristan masih menggunakan celana panjang foto itu sudah cukup untuk membuat Cindy tercengang.
Dian tertawa melihat ekspresi wajah Cindy, ini memang pertama kalinya dia menunjukkan foto yang dia ambil ketika bersama Tristan di Golden Luxury Hotel.
“Dian... ini....” kata Cindy sambil bolak-balik menoleh ke Dian dan layar ponsel yang berada di tangannya.
“Coba gulir layar ponsel itu dan lihat foto di sebelahnya,” kata Dian sembari mengangkat kedua alisnya.
Cindy mengikuti apa yang Dian sampaikan dan dia kembali terkejut melihat foto berikutnya yang ternyata masih foto Tristan, namun kali ini dia mengenakan piama dengan warna biru gelap.
“Dian bagaimana kamu mendapatkan foto-foto ini?” tanya Cindy yang terus menatap layar ponsel Dian.
Dian tertawa dan tidak menjawab pertanyaan Cindy.
“Astaga..., aku tahu piama ini, aku pernah melihatnya di salah satu situs berita yang saat itu memberitakan tentang hotel mewah di Jakarta.” Cindy lalu memperbesar foto Tristan menggunakan dua jarinya.
“Golden Luxury Hotel!” teriak Cindy ketika melihat tulisan G.L.H di piama Tristan yang merupakan singkatan dari Hotel itu.
“Iya sayang, dan itu dikamar Presidential Suite yang bertarif 42 juta semalam,” kata Dian sambil menunggu reaksi dari Cindy.
“Wow,” balas Cindy dengan mata berbinar-binar.
Namun kekaguman Cindy tak bertahan lama, Cindy mulai merasa aneh dengan Dian yang mengetahui tentang kamar yang digunakan oleh Tristan dan juga tarif dari kamar itu, dia menoleh ke Dian dan memperhatikan piama yang dipakai oleh Dian. Matanya menyipit tajam ke tulisan kecil yang berada di ujung bawah baju Dian.
“Golden Luxury Hotel?! Seru Cindy ketika membaca tulisan kecil yang tertera di baju piama Dian. Dia sudah bisa menebak jika Dian dan Tristan sudah menghabiskan waktu bersama-sama di kamar itu. Dengan cepat Cindy langsung menerkam Dian dan mulai menggelitik tubuh Dian.
“Apa yang kalian lakukan saat itu?” tanya Cindy sembari menggelitik pinggang Dian.
“Aku tidak mengerti apa yang kamu tanyakan,” jawab Dian sambil tertawa.
__ADS_1
Seperti itulah mereka berdua menghabiskan malam di apartemen Dian, setelah melalui berbagai masalah bersama-sama hubungan mereka menjadi semakin dekat.